Bab 5
Yang ku takutkan jika di gua adalah munculnya hewan buas.
Aku putuskan berjalan lebih jauh lagi dan berharap ada sungai. Tiba-tiba aku menangis dan berhenti.
Jangan temani anak pembawa sial itu, nanti kamu kena sial loh.
Jangan berbagi makanan dengannya, nanti kena sial.
Jangan dekat-dekat dengannya, nanti kena sial.
Jangan sentuh kami, dasar pembawa sial.
Jangan pernah kembali lagi dasar pembawa sial.
Tiba-tiba aku merasakan tekanan anak gadis kecil ini. Bisa disimpulkan dia terlahir dengan kepercayaan bahwa dia dilahirkan sebagai kutukan.
Aku menenangkan diri, dan mencoba melangkah walaupun masih rapuh. Tidak kuduga didepanku terdapat sungai yang mengalir, aku berlari menuju sungai tersebut.
Ketika sungai itu dihadapanku, aku bisa melihat pantulan bayangan ku. Ternyata gadis yang penuh dengan daki dan luka.
Sebelum meraih air aku melempar batu, tujuannya untuk mengetahui apakah ada hewan buas dibawah air itu. Setelah ku tunggu beberapa saat, akhirnya aku putuskan untuk meminumnya.
Rasanya segar sekali, manis dan juga dingin. Aku menceburkan diri dengan hati-hati agar tak terbawa arus, ku bersihkan lumpur yang menempel di setiap bagian tubuhku.
Kini badanku mulai bersih, memang tidak berkulit putih. Tapi kulit ini berwarna sawo matang yang membuat mukaku terlihat manis. Eakkk...
Aku sangat mengantuk, tapi bagaimana caraku untuk tidur. Dulu aku memiliki tempat tidur yang empuk, sekarang hanya beralaskan tanah.
Malam mulai dingin, aku mencari ranting pohon sebanyak yang aku bisa. Banyak daun kering yang berserakan, aku manfaatkan sebagai alas tidur.
Dan ranting tadi ku tancapkan sembari ku selip selipkan daun yang lebar untuk menutupi ku. Setelah merakit sebuah rumah dari ranting yang membentuk kotak, aku mencari bebatuan kecil.
Dengan sisa daun kering dan ranting aku berharap batu ini bisa memunculkan api, ku gesekan-gesekan dan akhirnya nyala secuil api.
Kini api itu kian membesar dengan sisa daun kering. Tubuhku mulai hangat karena api itu, bersyukur aku masih bisa hidup.
Baiklah aku harus mengatur rencana untuk besok. Arus sungai itu ke utara, bagaimana aku tahu? Tentu karena aku menemukan sungai itu di arah barat, jadi aku berjalan dari timur membelakangi matahari terbit.
Mungkin besok aku akan mengikuti arus sungai hingga menemukan sebuah suku, bukankah begitu? Secara, tempat tinggal di zaman dahulu lebih aman jika disebelah sungai. Sungai memberi banyak manfaat jika ada suku yang tinggal didekat sungai.
Baiklah sudah ku putuskan. Aku berharap bisa menemukan sebuah suku yang baik hati menerimaku. Ku padamkan api yang ku buat tadi, ku tatap cahaya bulan dan bintang.
Cahaya nya lebih terang daripada di kota dulu, bulan yang hanya separuh dan bintang yang bertaburan di langit. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
****
Cahaya matahari mulai mengusik tidurku, aku mencoba membuka mata. Tak jauh dari tempatku, kulihat ada pohon pisang yang sudah mati. Tetapi ada selembar daun nya yang masih hijau.
Ku ambil dan aku bersihkan, karena matahari sudah agak panas maka ku jemur daun pisang tadi agar layu dan lentur.
Sementara menunggu layu, aku membersihkan badan di sungai yang ternyata cukup besar. Pagi ini arusnya tidak terlalu kencang, aku bisa menyelam mengambil pasir dibawah sungai.
Ku gosokkan pasir itu ke setiap badanku, dan ya kulitku pun tidak terlalu kusam. Serasa cukup aku pun naik ke daratan dan mengecek daun pisang tadi, yupp sesuai dugaan ku.
Daun itu menjadi lentur dan mudah diatur. Kini ku sobek menjadi dua, yang satu bersama batang nya dan yang satunya hanya daun. Untuk yang ada batangnya aku lilitkan pada pinggangku, dan yang satunya untuk membawa sesuatu nanti.
Fungsi aku membawa yang hanya daun adalah untuk bisa dijadikan tas, aku mengambil batang tengah daun pisang lagi untuk dijadikan tali.
Tadaaaa aku menjadi gembel, awokawok. Mana jalan pake tongkat, fix ini mah cosplay gembel hutan.
Tapi gapapa lah yaaa, toh disini gaada yang liat. Baiklah mari kita mulai perjalanan hari ini. Matahari berada disebelah kanan ku, dan sungai yang aku ikuti arusnya berada di kiriku sekarang.
Berjalan tanpa alas, berlari tanpa batas. Anjaaaayyyy
Hei tunggu, jika ini dihutan liar bagaimana aku bisa memakan daging? Pasti rasanya hambar, kau tau kan kalau memasak daging itu pakai bumbu dari rempah-rempah. Tapi ini? Aku saja masih bingung mencari buah untuk dimakan, apalagi rempah-rempah.
Ayolah, ini terlalu luas. Aku bahkan tak tahu aku dimana. Lagian tidak ada benda tajam disini.
Aku terus berjalan sambil sesekali meminum air sungai itu, aku berharap ada buah yang bisa aku makan. Sebenarnya aku sedang berjalan didekat semak-semak yang ada beri nya, tetapi aku tak tahu jenis nya. Bisa saja aku keracunan jika memakan buah itu.
Setalah berjalan lama, aku pun lelah. Mana belum sarapan, ku putuskan untuk beristirahat di bebatuan yang diselimuti rumput. Sambil melihat sungai aku mencoba mengamati sekitar, barangkali ada pohon yang buahnya langsung bisa dimakan.
Setelah kurasa cukup istirahat nya, ku putuskan untuk berjalan lagi. Langkah demi langkah, cahaya matahari menyelimuti dinginnya tubuh ini.
Dari jauh aku lihat asap, yang terlintas pertama kali dalam benakku adalah suku yang sedang berburu. Ku coba mengintip dari balik sebuah pohon yang cukup besar.
Ternyata ada 3 laki-laki dewasa dan 2 anak laki-laki. Mereka sedang menyembelih seekor sapi yang besar, sekarang aku tak yakin sedang berada di hutan. Dalam pikiranku hanyalah tersesat disebuah zaman dimana belum ditemukan pakaian, para lelaki itu menggunakan kayu yang dililitkan tali. Tapi aku tidak tahu tali apa yang dipakai, karena jaraknya lumayan jauh.
Sial, salah satu anak lelaki itu menatapku. Dengan terkejut bercampur dengan takut, aku bersembunyi dibalik pohon. Rasa jantungku akan copot, gimana gak takut anj lah wong mereka bawa bambu yang ujungnya lancip.
Kudengar langkah kaki yang perlahan mulai mendekat, aku menutup mata karna terlalu takut. Hingga detik dimana aku akan memutuskan untuk lari, anak itu memegang tanganku.
Aku pun membalik kan badan dan melihat sosok yang memegang tanganku, tak ku sangka tangan kanannya membungkam mulutku. Matanya coklat terang, warna kulitnya yang sawo matang. Sempurna dalam kata manis.
Untuk beberapa detik aku menahan nafas karna mulutku yang dibungkam anak itu, tapi sesaat aku sadar dia lebih tinggi dariku. Mungkin dia lebih tinggi sejengkal. Perlahan dia melepaskan tangannya, aku pun menunduk.
" Dari suku mana kau!" Ucap nya lirih sambil menatap tajam mataku, aku hanya tersenyum kecut.
