Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Berputar dan berputar, hingga kau merasa dunia mengelilingi mu.

Sekarang aku tidak bisa merasakan apapun, aku terombang-ambing di tempat yang begitu terang. Tidak ada gravitasi, tidak ada tempat untuk berpijak.

Samar-samar terlihat warna hijau yang makin memudar. Aku tak mendengar suara apapun, dalam terang kesunyian dan kebimbangan aku terhanyut dalam arus gelombang.

"Bangun! Cepat kau bangun. Dan pergi dari sini!" Aku mendengar suara keributan.

Ku buka mataku perlahan, betapa terkejutnya aku ketika melihat tangan kecil yang dekil ini adalah tanganku.

Ini tidak mungkin, semua itu hanya kebohongan pengarang. Tapi, ini begitu nyata.

Aku harus bangun dari tidurku, tapi aku malah melihat tubuhku diangkat oleh manusia berkulit hitam tanpa busana berambut keriting.

Oh tuhan... Dimana aku sekarang. Momy, Daddy, siapapun tolong aku.

Tubuhku terlempar ketanah dikerumuni banyak manusia tanpa busana, dari yang kecil hingga yang bertubuh besar dan kekar.

Aku mulai menangis, aku melihat mata mereka yang memiliki kebencian terhadapku.

"Usir dia!"

"Anak pembawa sial!"

"Suku kita akan kena sial jika memelihara kesialan!"

"Ayo usir dia!"

"Cepat usir, bukankah dia sudah setinggi pohon itu!"

"Aku jijik dengan pembawa sial itu"

Caci mereka, bahkan anak-anak kecil melempari batu kepadaku.

Kemudian aku melihat seorang laki-laki paruh baya yang kemungkinan besar adalah kepala suku.

"Tenang saudaraku, anak ini akan kita usir. Dan kau" sambil menunjuk kearah ku. "kau ingin hidup atau mati? Jika kau ingin hidup, pergilah dari kawasan kami dan menjauh dari suku kami. Kalau ingin mati, kami sudah siap mendorongmu dari tebing!" Aku yang tidak tahu apa apa memilih diam.

" Jawab!" Bentak nya padaku.

"Aku ingin hidup" kataku yang pelan.

"Bawa dia!" Suruh lelaki itu pada seorang laki-laki lain bertubuh besar. Aku pun di bawa melewati kerumunan caci maki manusia.

"Puja ruh batu"

"Pujaaaaaaaaa"

Mereka saling sahut menyahut, seakan aku adalah narapidana. Aku berjalan mengikuti lelaki besar itu.

Setelah berjalan cukup lama, lelaki itu mendorongku hingga aku terjatuh.

"Pergilah, jangan ikuti aku!" Lelaki itupun pergi meninggalkan ku di hutan.

Aku melihat sekeliling, banyak pohon besar. Atau, karena aku yang kecil? Tapi bagaimana bisa aku hidup jika tinggal disini, tanpa api.

Aku tak tahu di zaman apa ini, tapi aku berharap kalau bebatuan disini jika digesek bisa menghasilkan api.

Aku mencoba berdiri, dan melihat lihat pohon. Aku bahkan tak tau arah. Tunggu, aku tidak berpakaian.

"Ahh siall" umpat ku dalam hutan. Aku berjalan mencari sungai, untuk berjaga-jaga aku mengambil ranting kayu yang lumayan ringan tapi kuat.

Aku berjalan tanpa arah, tersesat dalam hutan. Aku takut jika diterkam hewan yang ada disini.

Matahari nampak di depan ku, aku yakin sedang berjalan menuju barat.

Aku berharap segera menemukan sungai, tapi aku juga takut jika ada buaya.

Perutku juga mulai keroncongan, aku lama berjalan dengan tubuh kecil yang rapuh ini.

Aku khawatir pada malam yang akan datang, bagaimana bisa aku berjalan tanpa api. Aku tak sadar menginjak bunga, aku tak tahu bunga apa ini.

Tapi bau bunga itu sangat harum, lebih harum dibanding parfum milikku dulu. Ku putuskan membawa salah satu bunga itu.

Setelah lama berjalan aku lelah. Ditengah keputusasaan ku, dari jauh kulihat pohon mangga. Aku pun Berlari-lari sambil membawa ranting dan juga bunga.

Sial sekali, pohon itu tinggi. Buahnya juga yang sudah matang ada di atas, bahkan ranting yang aku bawa tidaklah sampai. Dengan terpaksa aku harus memanjat, tapi beritahu padaku bagaimana cara memanjat. Selama ini aku hanya berada di rumah, bermain dengan boneka. Bagaimana bisa aku memanjat sebuah pohon. Arghh.... Rumit sekali.

  Aku pun mencoba memeluk pohon, berharap ada keajaiban terjadi. Tapi hasilnya nihil, sudah kuduga fiksi itu hanya omong kosong. Aku pun memegang erat pohon dengan kedua tanganku, sedangkan kakiku sedikit demi sedikit ku angkat. Kini sudah hampir setengah pohon ku capai.  Tak kuduga ketika kakiku ku naikkan sedikit, keseimbangan ku hilang. Aku pun terjatuh dan mengulang lagi, kaki ku yang tergores batang pohon yang kasar ku abaikan. Biarpun darahku mengalir dikit demi sedikit membuat rasa perih.

   Hingga akhirnya aku pun berada di atas pohon, ada rasa bangga dalam diriku yang berhasil naik pohon itu. Dan aku mencoba menaiki dahan yang sekiranya kuat menopang tubuhku, dan akhirnya aku mendapat sebuah mangga yang lumayan matang. Itu pun hasil aku meloncat dari dahan yang tadi ku pijak. Rasanya masam dan manis, karena belum terlalu matang juga.

   Baiklah sekarang aku sudah kenyang, aku butuh air minum. Menurut buku yang aku baca, air yang dapat digunakan untuk minum adalah air dari sungai yang mengalir. Aku pun melanjutkan perjalanan menuju matahari, atau kearah barat. Tapi tunggu, bagaimana caraku turun.  Ini terlalu tinggi jika tubuhku yang kecil ini mencoba terjun dalam kerumunan rumput. Baiklah, aku mencoba untuk turun dengan cara yang sama seperti tadi. Yup, teknik memeluk pohon. Bedanya, ketika turun aku sedikit demi sedikit meloncat kebawah dengan tetap memeluk pohon. Susah dijelaskan, tapi alangkah baiknya jika menyebutnya dengan teknik panjat peluk? 

   Baiklah, sekarang tongkat kesayanganku sudah berada di tangan kananku. Sedangkan bunga tadi aku tinggalkan bersama pohon mangga, ya sebagai bentuk terimakasih pada ruh pohon itu yang memperbolehkan aku memetik mangganya. Aku berjalan dan terus berjalan, tiada henti aku memohon agar ada sungai di depanku. Dalam kebebasan ini, aku merasakan dua hal yang bertentangan. Perasaan senang akan kebebasan ini dan juga perasaan takut terhadap hal-hal yang banyak belum ku ketahui.

  Aku terkejut melihat ada kelinci yang berlari sekilas di depanku, kelinci liar yang sungguhan. Sewaktu kecil aku hanya mendengar tentang cerita kelinci liar yang tidak nyata, kalaupun ke kebun binatang kelinci itu sudah jinak. Tampak liar sekaligus luar biasa, kelinci itu takut padaku.

   Oh iya bodohnya aku, kenapa tadi aku tidak membawa satu mangga lagi. Tidak ada pohon buah disekitar sini, hanya ada bambu dan pohon besar.

  Untuk berjaga diri bukankah lebih baik menggunakan bambu, hei ingat tidak ada pisau disini. Batu yang adapun kecil, memerlukan waktu lama untuk mengambil bambu dengan tenaga yang terbatas.

Untuk sementara ini aku lebih memilih menggunakan ranting tadi, sifatnya tidak mudah patah tetapi ringan.

Nampaknya langit mulai jingga, ku dengar suara serigala. Suaranya lebih bagus dibanding dengan yang di kartun, ataupun di film-film.

Sesegera ku harus mendirikan tenda, tapi aku tak punya apapun untuk dijadikan tenda.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel