Bab 3
Putih, semua terlihat terang. Anehnya mataku tak silau dalam kebimbangan ini. Tiba-tiba aku terjatuh dalam kegelapan yang ama gelap. Saking gelapnya aku tidak bisa membedakan gelap ketika menutup mata ataupun ketika membuka mata.
Kring kring kring kring kring
Jam weker ku berbunyi, ku gosok mataku. Pukul 5 pagi, mimpi tadi menyeramkan. Aku memutuskan untuk tidur lagi, aku berencana tidak sekolah hari ini.
Tok tok tok
Sudah jelas itu bi Mirna yang mengetuk pintu, ku tarik selimutku. Aku mendengar pintu terbuka dan suara derap langkah, seakan akan ini adalah adegan di film horor.
Aku merasakan tangan kasar nan hangat bi Mirna menggoyangkan tubuhku agar aku terbangun.
"Non. Sudah jam setengah 6 pagi loh non, bangun ya. Nanti kalau terlambat gimana? Ini kan hari pertama non masuk SMA, jangan bolos loh non" bisa-bisanya bi Mirna membaca rencana ku.
Aku berpura-pura bangun, sambil menguap. "Iya bi"
Bi Mirna melangkah pergi, aku pun membersihkan diri.
Seragam SMA ini cukup bagus, aku lumayan menyukainya. Langkah ku berat ketika akan menuruni tangga, rasa sesak di dada ku semakin tak karuan.
Aku melahap sarapan yang sudah disiapkan bi Mirna. Roti dengan daging sapi impor yang enak.
" Permisi! Lea!" aku hampir tersedak ketika mendengar teriakan Lae.
"Berisik lo anj, ga ada sofan santuy nya lu" timpal Leo.
Aku hanya bisa mengelus dada ketika mereka mulai berdebat tentang hal sepele.
"Bi Mirna, Lea berangkat dulu ya" pamit ku pada bi Mirna yang sedang menyapu teras.
"Iya non, hati-hati" entah kenapa perasaanku ketika mendengar kata terakhir bi Mirna menjadi was-was.
" Pake mobil siapa nih" tanyaku sambil menengahi keributan mereka.
"Mobil gue lah, liat tuh cakep diliat" kata Leo sambil menunjuk pada mobilnya.
Leo duduk disebelah pak kusir yang sedang mengendarai mobil, sedangkan aku duduk disebelah monyet.
Kami bertiga bercanda ria disepanjang perjalanan ke sekolah. Hingga akhirnya sampai di depan sekolah, kami bertiga turun.
Terlihat gedung yang sangat besar, ramai dengan manusia.
"Eh kita kelas apa?" Tanya Lae, diikuti anggukan Leo.
"Kau liat tuh papan pengumuman ya brader en sister" jelasku pada mereka, ku paksakan senyum yg terlihat tidak ikhlas.
Mereka berdua terjun dalam kolam manusia, demi mengetahui kelas.
"Ka...ka...mi dapet kelas 10 b" kata Lae bersemangat. " Lu gak mau liat kelas apa gitu?" Tanya Leo heran karena aku sama sekali tidak beranjak dari tempat dimana mereka meninggalkan ku tadi.
" Nggak lah ya. Kita bertiga kan sekelas" aku menahan tawa ketika Lae dan Leo melongo.
"Emang lu tau dari mana?" Tanya Lae seakan tak percaya, biar raut wajahnya senang tapi aku bisa lihat matanya berkata bahwa ia sama sekali tak senang.
"Paman gue guru disini, aku minta 3L dikelas yang sama" jawabku pada Lae. Sambil berjalan-jalan, kami melihat gedung yang megah ini.
"Hore sekelas ama Leahhhh" ucap Lae tiba-tiba membahas lagi topik tadi.
" Masi mending ya lu, daripada gue ga ngomong kita sekelas. Harusnya sih gue kelas A" tegas ku tiba-tiba yang membuat Lae menatap sinis padaku.
"Heh diam!" Tiba-tiba Leo berhenti, aku menatap Lae yang masih menatapi punggung Leo.
Biasanya kami sepemikiran, aku merasa sekarang Lae hanya menganggap ku orang ketiga.
"Kantin dimana si anj, dari tadi jalan kaga nemu nemu" kata Leo membuyarkan lamunanku.
"Eh tuh dia kelas 10 C, pasti kelas kita ada di lorong sana" kata Leo sambil menarik tanganku, tapi tidak dengan Lae. Reflek ku tarik tangan Lae, tak kuduga ia melepaskan tangannya dariku.
Ku lihat dia menatap datar wajahku, mengerikan.
"Woy, Lae ketinggalan anjir" kataku pada Leo.
" Biar nyusul" kata Leo.
aku melihat keramaian seisi kelas. Aku terkejut ketika Lae sudah ada di sebelahku, dia masih melihat tanganku yg digenggam oleh Leo.
Aku pun mencoba melepaskan tangan tapi genggaman Leo terlalu kuat.
Untung aku melihat Kevin, aku ingin duduk dengan nya.
"Lea?" Tanya Kevin yang kebetulan melihatku, sungguh kebetulan yang sangat indah.
" Iya, lu duduk ama siapa? Ama gue yok" ajak ku pada Kevin.
"Yaudah sini aja enak tempatnya" kata Kevin yang duduk di bangku nomor 3 dari depan.
Akhirnya genggaman Leo bisa aku lepas, aku yakin Leo dan Lae sebangku.
Ternyata memang benar berdua, tapi kenapa Leo disebelah ku. Kevin ada disebelah kiriku mencium tembok, sedangkan kananku jalan dan juga Leo.
Aku bingung harus apa, karna kevin itu dulunya pernah membuatku jatuh saat di taman bermain, kejadian di SD.
Leo dulu tahu kalo kevin yang membuatku jatuh, makanya kevin minta maaf karena tak sengaja.
Kejadian lama sebelum ada Lae, masa-masa yang rumit. Aku harap ada kejadian ajaib.
" Lea, ke atas yuk cari pemandangan" ajak Lae tiba-tiba mengagetkanku.
"Ayok" jawabku.
Aku diberi tambahan pelajaran melukis, Lae membuat ku punya ide untuk menggambar sekolah dari atas gedung.
Tangganya panjang, dan tak terasa sudah sampai. Tapi jam masuk sudah berbunyi, aku ingin berhenti. Akan tetapi Lae malah menarik ku keatas.
"Leah, lu dijodohin kan sama Leo?!" Bentak nya di kesunyian pagi.
Aku hanya bisa menunduk, aku tak tau harus bilang apa.
" Jujur deh lu, gue tau kok" Lae berjalan ke depan ku yang membuat aku berjalan mundur, hingga aku menyadari aku sudah berada di pembatas.
Pembatas itu hanya sampai perutku tingginya, jika aku gegabah aku bisa jatuh.
" Lu ngomong apa sih gue ga paham" cuma bisa berkata demikian.
Gedung itu berbentuk L, sedangkan kami berada dipojokan.
Lae pun berjalan ke belokan menuju tangga, aku sudah melihat punggungnya yang sudah hilang.
Aku mencoba berlari karena ini sudah terlambat, aku terus menambah kecepatan.
Aku pikir ketika dibelokkan aku bisa menjaga keseimbangan, tetapi aku salah.
Ketika kecepatan lari ku mulai menurun karena akan ada belokan, tiba-tiba Lae ada di sana mengejutkan ku.
Kakinya terangkat dan membuat aku hilang keseimbangan, ditambah dengan lantai yang ternyata licin. Lutut kanan ku menabrak pembatas dan aku pun terjungkal.
Seketika tubuhku terbalik, dan kini aku menatap lapangan sekolah yang luas. Bukankah aku akan terbanting ke tanah? Dari lantai 3 aku bisa melihat dilantai 6 Lae hanya diam.
Sebentar lagi akan jatuh, bagaimana rasanya terjatuh? Aku ingat lagi Kevin pernah menjatuhkan ku di lapangan hingga kaki ku cidera.
Tapi ini, lantai 6 itu tinggi. Dan semuanya pun berubah menjadi gelap dan hening, bahkan detak jantungku terdengar.
