Bab 2
Huam. Ku regangkan tubuhku, ternyata pukul 7 pagi.
Oke, sekarang aku harus ngapain? Sekolah masih besok.
Rasanya benar-benar sepi, Daddy dan Momy sedang bekerja diluar kota.
Ya, ada sih pembantu ku. Namanya bi Mirna, dan juga pak Anto supir pribadi ku.
"Udah bangun non?" Tanya bi Mirna membuyarkan lamunanku.
"Udah bi" jawabku sambil melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Sebagai keseharian nya, bi Mirna membersihkan tempat tidurku yang sudah terombang-ambing bak kapal pecah. Tidurku adalah tipe yang tidur dari ujung kiri bangun di ujung kanan.
"masak apa bi?" Tanya ku pada bi Mirna yang sedang memasak, bau tumisan bawang merah dan bawang putihnya meraba raba hidungku.
"Lagi masak tumis kangkung non" Balas bi Mirna.
"Asik" aku berlari menuruni anak tangga, menuju dapur. Aku ikut membantu bi Mirna, agar cepat selesai.
"Mau ngapain non?" Tanya bi Mirna melihatku mengambil talenan yang baru dipakai.
"Mau bersihin bi, biar cepet selesai" jawabku.
"Nggak usah non, biar bibi aja yang beresin nanti" kata bi Mirna.
Tapi aku tak mempedulikan kata-katanya, aku biasa membantu bi Mirna memasak. Ya karena aku itu cewek, nanti juga berumahtangga.
Setelah selesai aku pun mengajak bi Mirna dan pak Anto makan. Mereka sudah seperti orang tua bagiku.
Eet dah buset! Gue baru inget anjiiiir, hari ini Lae ngajak gue jalan jalan.
Aku bergegas mandi dan berganti baju. Ku sisir rambutku yang sepanjang bahu.
"Leah!" suara yang menggelegar memecah keheningan rumahku.
Ceklekk, suara pintu kamar ku terbuka. Aku sudah menduga kalau itu memanglah Lae.
"Udah siap blom Le?" Tanya Lae sambil menepuk pundak ku, aku pun berbalik badan.
"Ga sopan ya anda!" Tegas ku pada Lae yang sudah berbaring di kasurku yang sudah dirapihkan bi Mirna.
"Gak, habis lu nya lama" jawab Lae sambil beranjak dari kasurku.
"Mau jalan-jalan kemana sih?" Tanya ku heran, karena Lae menggandeng tangan ku sambil berlari.
"Kita ke mall aja, aku mau makan es krim". Jelas Lae.
Dan kami pun sampai di mall yang Lae tuju. Ya melelahkan karena harus mengelilingi satu mall. Lae ingin es krim ditempat langganannya yang ada dilantai 4, sedangkan toko nya tutup. Jadi kami harus mencari yang sesuai dengan keinginan Lae.
Setelah 2 jam kami mencoba-coba, akhirnya Lae pun mendapat apa yang ia inginkan.
"Gak capek lo anjir?" Tanya ku melihat Lae yang membeli 5 eskrim dengan berbagai toping unyu.
"Gak" jawab nya sambil menjilat es krimnya.
"Udah siap belom lo besok sekolah?" Tanya Lae tiba".
"Udah sih" jawabku. Hati kecilku berkata besok tidak ingin sekolah.
Rasanya dadaku mulai sesak jika mengingat besok, seperti bad feeling.
"Ke woleyland yok!" Ajak Lae.
"Gas lah" seketika aku melupakan rasa sesak di dadaku.
Kami pun bersenang-senang. Mulai dari naik rollercoaster, kuda muter muter, terus yg tinggi" itu apa sih namanya, lalu juga main ayunan di taman woleyland.
Hingga kini sudah sore, sudah jam 15.00. Kami pun pulang, rumahku dan rumah Lae berjarak sekitar 10km. Jadi kami berbeda arah.
Sampai di rumah aku terkejut, mobil ortuku terparkir di bagasi.
Aku pun masuk, namun yang kutemui hanyalah bi Mirna yang sedang memasak. Aku terheran ketika melihat sayur yang tergeletak disepanjang meja dapur.
"Banyak banget bi sayurnya, mau pesta kah?" Tanya ku terheran-heran.
" Nanti ada tamu non" jawab bi Mirna sambil menumis bawang putih.
" Yaudah aku mau mandi dulu ya bi" aku berlari ke tangga meninggalkan bi Mirna.
"Iya non, dandan yang cantik ya" sahut bi Mirna yang membuatku penasaran.
Kini sudah waktunya makan malam, aku juga sudah menguncir rambut.
Aku menuruni tangga, melihat sekeliling. Ada yang salah, bukan pemandangan orang tua ku yang sedang duduk bersama di meja makan. Tetapi ada Leo dan orang tuanya.
Bak seorang putri, aku menuruni tangga dengan anggun. Nampak mata mereka menyambut hangat kedatangan ku.
"Lea, duduk sini" Daddy menyuruhku duduk tepat didepan Leo.
Jadi disini ada 6 kursi, ortu kami duduk terbatasi meja makan yang penuh dengan masakan yang menggugah selera.
" Silahkan dimakan jangan sungkan" ajak Daddy pada keluarga Leo.
"Iya, terimakasih loh kenapa harus repot-repot masak sebanyak ini. Toh kami tadi sudah makan" ujar papa Leo.
" Lama gak ketemu, makin sungkan aja ya kamu, hahahaha" biasa basa-basi bapak saya.
Aku tak sengaja bertatapan mata dengan Leo, dalam waktu 5 detik ada rasa aneh yang menyelimuti hatiku.
Hingga akhirnya kami sudah memakan hidangan yang disajikan.
"Jadi gini, papanya Leo pengen kalo kita bisa lebih dekat. Jadi aku sama papanya Leo ingin Leo dan Lea bertunangan. Untuk masalah pernikahan nanti saja setelah lulus. Toh kami juga sudah percaya kalau Lea anak baik, Leo juga sering main sama Lea. Jadi bagaimana pendapat kalian?" Ujar mamanya Leo.
Laksana terombang-ambing di lautan hampa, aku hanya diam menunduk kebawah.
Aku tak tahu lagi ekspresi Leo yang yang senang atau sedih. Aku tak ingin pertemanan 3L hancur.
"Kami setuju saja, tapi bagaimana pendapat Lea?" Tanya Daddy yang membuatku ketar ketir.
"Eemm" hanya itu yang keluar dari mulutku. Lalu aku pun mengangguk karena Daddy memberi isyarat agar mau menerima.
" Wahhh akhirnya." ucap mamanya Leo.
" Mah, Pah, om dan tante saya ajak Lea keluar dulu ya," pamit Leo.
Tanpa persetujuan dari ku, Leo menarik ku keluar menuju taman mini ku.
" Lea" panggil Leo dengan lembut nan manja.
"Apa?" Aku sudah bisa menebak alur nya.
" Lu mau gak kalo kita menikah?"
"Gue kasi tau satu hal, tapi lu janji jangan bilang ke Lae," aku menatap Leo dengan tajam.
"Iya gue janji, apaan?" Kelingking kami bersatu yang menandakan adanya perjanjian.
"Sebenernya Lae itu suka sama elo, gue gak mau ya kalo 3L hancur gara-gara masalah cinta. Lagian gue udah suka orang lain." tegas ku pada Leo.
Dari raut wajahnya terlihat bahwa ia terkejut dengan pernyataan ku.
" Gitu ya?" Dengan nada lemas Leo pun menghela nafas.
"Hem, jangan sampai Lae tau kalo kita dijodohin. Kita pura pura aja gak ada apa-apa" pintaku pada Leo.
"Yahhh, mau gimana lagi, kalo yang minta Lea gue si mau aja," pasrah Leo.
Kami pun berdiam menatap bulan sebagai saksi perjanjian kami. Aku selalu berharap kejadian ini dapat tertutup rapat, aku tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Lae padaku jika sampai tahu.
