Pilihan Tersulit
Clara Bella.
Suasana di ruangan bernuansa monochrome itu begitu menegangkan baginya. Bagaimana tidak, kini ia duduk tegak di hadapan Samudra Dirgantara, pimpinan tertinggi sebuah perusahaan textile ternama di tanah air, yang terkenal arogan dan selalu menggunakan kekuasan untuk berbuat apapun yang diinginkan. Sepasang mata setajam mata elang itu begitu mengintimidasinya. Bibir penuh dan sensual itu terkatup rapat seiring dengan raut wajah dingin mencekam.
Tanpa bicara pria berusia 35 tahun itu menyodorkan berkas-berkas ke tangannya. Kemudian beranjak dari kursi dan berdiri tepat di hadapannya sambil menyandarkan diri di bibir meja dengan tangan terlipat di ddada.
Ia menerima lembar demi lembar berkas itu dengan tangan bergetar. Walaupun ia sudah menerka dengan pasti isi di dalamnya hanya dengan melihat perihal surat bertuliskan Audit Internal, tapi ia harus membacanya juga.
Melihat nominal 500 juta yang ditandai warna merah tertera di bagian bawah surat tersebut, membuat kelopak matanya menurun perlahan, lalu terpejam. Ia menarik napas yang terasa begitu menyesakkan. Jantungnya memberontak tak tertahankan serasa hendak merontokkan tulang-tulang di dalam ddada. Ia merasakan sekujur tubuhnya gemetaran dibawah tatapan menghujam sang pimpinan dan dua anggota tim audit perusahaan. Pak Wahyu dan Pak Santo.
Tak sanggup lagi ia berkata-kata. Apa yang ia lakukan terungkap sudah. Kini ia hanya bisa pasrah menanti hukuman yang akan ia terima.
“Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan ini semua?” Suara berat Tara mulai terdengar. Walau datar namun baginya begitu menakutkan, bagai suara lonceng kematian, membuat seluruh persendiannya terasa gemetaran.
Berkali-kali ia menelan salivanya yang begitu mencekat lantaran rasa takut yang mencengkram dirinya terlalu kuat.
“Jawab, Clara.” Tara mendesak disertai tatapan tajam seakan ingin menerkam.
Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya panjang. Terlihat dadanya yang bergelombang itu naik dan turun perlahan. Itu mengundang bola mata Tara tertuju ke arah sana, memandangi salah satu keindahan yang dimilikinya.
“Maaf, Pak. Saya khilaf. Terus terang ... saya nggak ada maksud untuk mencuri uang perusahaan. Tapi keadaan saya mendesak. Saya ... butuh uang yang besar. Karena ibu saya ....”
Belum selesai ia mengucapkan kalimatnya yang terpatah-patah, tangisnya pun pecah. Ia tertunduk dengan tangan menangkup wajah. Bahunya berguncang. Isaknya mulai terdengar.
Penyesalan kini membalut dirinya. Namun ia sudah tak sanggup lagi berbuat apa-apa. Yang terngiang di kepalanya hanya ucapan dokter Harun satu bulan lalu. “Tak ada jalan lain, Clara. Ibumu harus segera dioperasi. Dan mohon maaf, untuk biayanya memang tidak murah. Sekitar lima ratus juta. Tapi kamu bisa tanyakan langsung pada pihak rumah sakit untuk lebih pasti.”
Saat itu ia benar-benar buntu. Otaknya tak sanggup lagi memikirkan cara untuk mendapatkan uang sebesar itu. Mobilnya sudah terjual tapi hasilnya sama sekali tidak cukup untuk membiayai operasi. Simpanannya di bank pun sudah terkuras untuk biaya pengobatan ibunya selama bertahun-tahun.
Meminta pada Om Adrian dan Tante Vera sudah pasti tidak akan berhasil, karena ia tahu keadaan mereka pun tidak lebih baik darinya. Ia sudah sangat berterima kasih karena selama ini sudah cukup merepotkan adik ayahnya itu dengan menempatkan bunda di rumah mereka.
Mengamati barisan angka-angka fantastis sejumlah transaksi perusahaan di layar komputer, terbitlah niat tidak baik yang menggelitik hatinya. Ia memahami celah untuk merekayasa angka-angka tersebut. Hingga ia berpikir mengambil sedikit nominal dari pembayaran tagihan untuk para suplier adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan biaya operasi sang bunda.
“Bapak-bapak, tolong keluar dulu. Saya ingin bicara sama pencuri ini,” perintah Tara pada Pak Wahyu dan Pak Sapto begitu menyembilu terdengar olehnya.
Pria itu menyebutnya pencuri?
Seakan ribuan jarum datang dari segala arah, menyusup kulit lalu merajam ulu hati. Sakit. Tak terjelaskan rasanya. Tapi ia sadar, ia memang pantas disebut pencuri, apapun alasannya.
Sepeninggalan dua anggota tim audit perusahaan itu, ia mengangkat wajahnya yang basah karena air mata. Berusaha menegakkan kepala dan menanggalkan rasa malu yang sejak tadi membelenggu. Ia menyerah. Pasrah. Dan siap dihukum. Bayangan pintu jeruji besi penjara sudah melambai-lambai di dalam benaknya.
Lewat ekor mata, ia melirik Tara yang kini berdiri semakin mendekat. Bahkan aroma maskuline yang menguar dari tubuh tegap itu tertangkap indera penciumannya. Tapi ia tak berani menatap wajah berahang tegas itu. Pandangannya lurus terpaku pada rak buku di belakang kursi kebesaran sang direktur.
Tiba-tiba, kursi yang ia tempati berputar perlahan. Dan berhenti tepat di hadapan Tara. Kemudian Tara membungkuk, mengurung dirinya dengan meletakkan kedua lengan kokoh itu pada lengan kursinya.
Ia terkesiap dengan jantung yang nyaris melompat. Terlebih saat sepasang mata legam itu menatapnya begitu tajam. Seperti pedang yang terhunus dan siap menebas kepalanya.
Wajah Tara semakin mendekat. Dan kini berada tepat di depan wajahnya. Hidung tegak pria itu pun nyaris menyapa pucuk hidungnya. Pipinya terasa hangat ketika napas beraroma mint itu menerpanya. Membuat bulu-bulu di sekujur tubuhnya meremang dan jantungnya kian berdentum kencang. Cara mengintimidasi seperti ini bisa membuatnya gila karena ketakutan.
“Kamu pikir hanya dengan pemecatan, kamu bisa terbebas dari hukuman?” Tara berkata dingin dengan tatapan sadis. Ia semakin bergidik ngeri.
“Sa ... saya akan mengganti ... uang itu, Pak.” Ia memberanikan diri buka suara. Karena niat itulah yang sejak beberapa hari ini ia pikirkan.
Tara menggeleng pelan sambil tersenyum licik. “Dengan cara apa?“ Pria itu menurunkan bola mata terarah ke dadanya. “Menjual diri? Mau berapa laki-laki yang akan kamu layani?”
Lagi-lagi, kata-kata yang terlontar dari lisan Tara sangat menyakitkan. Tapi untuk saat ini ia tidak bisa membantah. Hanya bisa pasrah sambil menahan air mata yang siap bergulir kembali.
“Sa ... saya ... akan bekerja disini .... Tanpa digaji. Sampai hutang saya ... lunas.” Ia berdesis seraya menatap bola mata Tara yang berkilat-kilat dipenuhi amarah.
Tanpa diduga, Tara tertawa pelan. “Omong kosong! 500 juta itu bukan jumlah sedikit, Nona. Apa bisa kamu tahan bertahun-tahun bekerja di sini tanpa digaji? Lagipula saya nggak akan sebodoh itu mempercayakan pencuri bekerja di sini lagi.”
Tangisan pun pecah kembali, namun tanpa suara. Ia biarkan air hangat itu mengalir di pipi. Tara jelas melihat itu. Sepertinya pria itu sangat puas memandangi bola matanya yang bening berselaput rasa takut, seakan berhasil membuktikan kekuasaan yang Tara genggam.
“Tapi, saya masih punya hati. Jadi, saya berikan dua pilihan hukuman yang lebih manusiawi untuk kamu,” lanjut Tara masih memaku tatapan tajam ke arah bola matanya.
“A ... apa, Pak?” Bibirnya bergetar hebat dengan rasa penasaran dan ketakutan yang saling berlomba memporakporandakan dirinya.
“Penjara. Atau ... “ Tara menyeringai buas.
Ia mendesah sambil terpejam. Menunggu kalimat Tara yang masih menggantung dilangit.
“Menikah dengan saya.”
Sontak ia terbelalak. Menatap lurus bola mata Tara. Seakan tak percaya dengan pendengarannya. Tapi tidak. Telinganya sangat jelas mendengar dua pilihan hukuman yang Tara anggap ‘manusiawi’ itu. Apalagi diucapkan tepat di depan wajahnya. Ia tidak mungkin salah dengar!
“Penjara ... atau ... menikah sama ... Bapak?” Namun begitu, tetap saja ia mengulangi kata-kata Tara. Memastikan Tara tidak salah ucap.
Tara mengangguk mantap. Lalu, pria itu menarik diri dan kembali bersandar di bibir meja sambil membenamkan dua tangan ke dalam saku celana. Dengan santainya pria itu menyilangkan kaki dan tersenyum penuh kemenangan.
“Tinggal pilih saja,” jawab Tara seraya menaikkan sebelah alis legamnya.
“Saya masih berbaik hati kasih kamu waktu selama tiga hari untuk memikirkan itu. Tapi jangan coba-coba melarikan diri! Orang-orang saya akan beredar 24 jam mengawasi rumah kamu dan ruang perawatan ibumu di rumah sakit.” Telunjuk Tara terarah lurus padanya.
Rasanya, ia ingin meledakkan tawa sekaligus menumpahkan air mata bersamaan. Menertawakan kebodohannya sendiri karena nekat menggelapkan uang perusahaan. Dan menangis karena kini ia berada di titik terendah kehidupan.
Manusia arogan di hadapannya ini benar-benar memamerkan kekuasaan. Menindasnya dengan menggunakan kesalahan yang terpaksa ia lakukan.
Sekarang ia harus memilih satu di antara dua pilihan yang sama berat. Jika dipenjara, kemungkinan ia akan mendekam selama 5 tahun dengan perkara penggelapan uang perusahaan dan pemalsuan dokumen. Dengan risiko jantung ibunya akan berhenti berdetak saat mendengar putri tercinta berada dalam tahanan.
Jika ia memilih menikahi pria sedingin kutub utara itu, ia pasti akan merasakan bagaimana sengsaranya terpenjara seumur hidup, dibelenggu oleh ikatan atas nama Tuhan yang sulit ia lepaskan.
