Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Niat Terpendam

Samudra Dirgantara.

Ia kini terduduk dalam lamunan panjang setelah Clara meninggalkan ruangannya dengan bercucuran air mata dan memerintahkan tiga pengawal pribadi untuk mengikuti kemana pun Clara pergi.

Ia tak peduli tindakannya dinilai berlebihan atau tidak berperikemanusiaan mengingat Clara masih dalam suasana tidak menyenangkan lantaran sang bunda tengah berada dalam perawatan intensif di rumah sakit pasca operasi jantung.

Tapi memang itulah yang harus ia lakukan. Tentu saja ia tak ingin ‘si pencuri’ itu melarikan diri tanpa tanggung jawab, karena itulah harus dijaga ketat.

Senyuman smirk pun terbit di wajahnya ketika mengingat pembicaraannya dengan Oma Julia, neneknya lima tahun lalu. Saat itu tepat dua bulan pasca kematian kedua orangtuanya.

“Untuk mendapatkan hak warisan kamu sebesar 50% saham PT Sun City Textile Industry, kamu diharuskan menikah lebih dulu dengan wanita baik-baik. Itu harga mati.” Ultimatum Oma Julia saat itu, sambil menunjuk dirinya dengan tongkat kayu yang menjadi kaki ketiga Oma sehari-hari.

“Tapi, Oma ... mana ada syarat warisan seperti itu?” Kala itu ia masih mencoba membantah.

Sangat tidak masuk akal, pikirnya. Yang lebih tidak masuk akal lagi, ia harus menikah?

Membayangkannya saja membuatnya bergidik ngeri. Mengikatkan diri pada satu wanita sepanjang usia, itu menakutkan baginya. Buang-buang waktu. Bahkan ia berpikir menikah adalah sebuah hubungan yang sia-sia.

Kalau hanya untuk kebutuhan bathiniah kelaki-lakiannya, selama ini ia sama sekali tidak perlu susah payah mencari wanita yang mampu memuaskannya. Hanya dengan kedipan mata elangnya, wanita mana pun langsung mendekati dan menyerahkan diri dengan pasrah.

Punya anak? Apalagi. Itu jauh lebih mengerikan.

Hidup melajang selama ini sudah membuatnya sangat bahagia. Ia bebas kemana pun tanpa direpotkan oleh anak kecil yang merengek dan merajuk minta perhatiannya.

Jadi untuk apa menikah?

Tapi sesungguhnya, ada satu alasan yang membuatnya berpikiran skeptis seperti itu. Sebuah alasan yang lebih menyakitkan yang berusaha ia tutupi dengan semua argumen tadi. Alasan yang membuatnya tak percaya bahwa cinta sejati itu ada.

“Itu memang bukan syarat hak waris, Tara. Tapi itu perintah mutlak Oma yang sudah tidak bisa diganggu gugat. Karena sudah Oma sahkan di notaris dan disaksikan oleh pengacara keluarga. Kamu harus tahu, Oma tidak ingin perusahaan ini layu tanpa penerus! Menunggu kamu berniat menikah bisa keburu kiamat, Tara,” sahut oma Julia dengan suara tegasnya. Wanita berusia 73 tahun yang masih tampak berkuasa itu kembali mengangkat tongkat kayu menunjuk ke arahnya. Sebagai bentuk penegasan bahwa permintaan Oma Julia itu tidak boleh dibantah.

Ia mendesah malas seraya menyugar rambut dengan gusar. Permintaan yang sangat berat baginya. Namun demi 50% saham perusahaan yang ia tahu keuntungannya begitu besar, akhirnya ia hanya bisa tertunduk tidak berani berbalas kata lagi dengan oma Julia. Ia tidak mengamini, tidak juga membantah. Ia memilih diam, sambil berpikir keras.

“Kalau kamu tidak ingin kehilangan 50% saham itu dan mengemis pekerjaan ke tempat lain, selambat-lambatnya dalam lima tahun ini kamu harus sudah menikah dengan wanita baik-baik. Bukan wanita asal-asalan. Apalagi para model dan artis yang kamu kencani berganti-ganti. Bukan dengan mereka. Ingat itu, Tara!” Oma Julia kembali memberi ultimatum tegas bagai bom atom Hiroshima yang meledakkan isi kepalanya. Lalu, begitu saja Oma Julia beranjak dari sofa dan meninggalkannya yang terpaku dengan perasaan gamang.

Saat ini ia tersenyum penuh kemenangan, setelah berhasil membuat Clara berada di antara dua pilihan yang ia buat sesulit mungkin. Penjara atau menikah dengannya.

Hanya dengan tepukan satu kali, dua ekor nyamuk mati. Hanya mendayung satu kali, dua pulau terlampaui. Dengan satu kesalahan fatal yang dilakukan Clara, ia akan mendapat dua keuntungan sekaligus. Mematahkan kesombongan Clara atas penolakan terhadap dirinya beberapa waktu lalu, yang membuat harga dirinya runtuh. Sekaligus meraih 50% saham PT Sun City dengan menikahi wanita itu.

Briliant, Tara!

Ia kini merasa berada di puncak dunia. Karena ia sangat yakin, Clara pasti akan memilih hukuman dengan tepat sesuai harapannya.

***

Clara Bella

Jemari lentiknya bergetar ketika meraba layar ponselnya. Lalu mengusap air matanya yang jatuh tepat di atas gambar wajah seorang pria muda yang tiba-tiba saja ia rindukan.

Sudah tiga tahun ini Arjuna-nya pergi ke luar negeri, mengejar pendidikan pasca sarjana di California, Amerika Serikat. Hanya tiga bulan pertama di awal perpisahan, keduanya saling berkirim kabar. Tapi selanjutnya, alat komunikasinya hening, malamnya sunyi, dan harinya sepi, karena tak ada lagi kata-kata mesra penuh kerinduan yang ia dengar dari Juna. Pria muda itu seperti hilang begitu saja. Tapi ia masih berpikir jernih, menduga hal yang mampu menghibur hati, bahwa kekasihnya terlalu larut dalam kesibukan sehingga tidak punya waktu untuk menghubunginya

Namun, tepat di enam bulan perpisahan mereka, saat ia membuka salah satu akun media sosial Arjuna Indra Pradana, tanpa sengaja ia melihat foto Juna bersama seorang wanita Asia. Dengan pose yang begitu mesra. Berlatar pantai yang indah, entah dimana.

Melalui foto itu ia bisa menangkap jelas kilau kebahagiaan terpancar dari mata Juna dan wanita yang tengah memakai bikini merah. Senyum lebar mereka, rangkulan tangan Juna di pinggang ramping wanita berkulit langsat itu, dan pipi yang saling merapat, semua itu membuat dunianya serasa runtuh menimpa kepalanya.

Ia terduduk lunglai di atas ranjang. Dengan tangan bergetar, ia memegangi ponselnya dan menatap nanar pada layarnya. Foto Juna bersama wanita yang sama, tidak hanya satu, tapi tidak terhingga dengan pose yang jauh lebih mesra. Bahkan ada foto yang memperlihatkan keduanya berada di sebuah teras balkon dengan kedua tangan saling bergenggaman, ditambah tulisan ‘Romantic dinner with special one’.

'Whooo! Great Couple!'

'Congrats, Bro.'

'What a beautiful girlfriend.'

Beberapa komentar yang sempat ia baca di bawah foto-foto itu membuatnya semakin penasaran untuk mencari tahu lebih jauh lagi. Lalu ia membuka akun profil bernama Bianca Mardova yang menandai media sosial Juna dengan sejumlah foto-foto mesra tadi. Saat itu juga air matanya langsung luruh berderai ketika membaca status 'Relationship' wanita itu. Di sana tertulis ‘Living together with Arjuna Indra Pradana.'

Jelas ia sudah dikhianati. Juna begitu lancangnya menyakiti hati. Memiliki kekasih baru, bahkan tinggal bersama dengan wanita itu. Lalu menjadikan dirinya sebagai kekasih yang dilupakan tanpa penjelasan.

“Tunggu aku, Bel. Nggak lama kok. Cuma tiga tahun,” pinta Juna saat itu, di malam terakhir mereka bertemu sebelum ia kembali ke Jakarta.

Lalu Juna mengecup keningnya yang berkeringat setelah Juna membawanya menuju puncak tertinggi kenikmatan duniawi. Ia mengangguk sambil tersenyum, lalu mendaratkan kecupan di bibir tipis pria muda itu.

“Belum pergi tapi aku sudah kangen kamu, Juna. Aku takut kamu di sana kenal cewek lain, terus ... “ rajuknya manja sambil mendekap ddada bidang Juna yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian tengah.

“Nggak akan, Bella sayang. Aku di sana cuma kuliah. Ingin cepat lulus, pulang ke tanah air, lalu mencari kamu ke Jakarta.” Tangan Juna membelai punggung mulusnya. Lalu menurun lebih ke bawah, dimana bagian bergelombang nan padat itu menjadi bagian favorite Juna.

“Jaga diri ya, jangan genit-genitan sama cewek bule. Awas!” Ia mendongak sambil melotot gemas.

“Justru kamu, tuh yang harus jaga diri. Punya pacar menggiurkan kayak begini, bikin aku sesak napas tiap hari karena cemburu, tau! Aku nggak mau tiba-tiba dengar kabar kamu jalan sama cowok lain. Bisa-bisa aku pulang ke Indonesia cuma untuk bunuh itu cowok,” sahut Juna begitu posesifnya.

Selama berhubungan cinta dengan Juna, ia sangat paham Juna memiliki sifat pencemburu yang berlebihan. Tapi ia suka. Ia diperlakukan bagai sebongkah permata yang begitu berharga, hingga Juna tidak akan rela siapa pun mencurinya.

“Okay, baby!

“Don’t call me baby, please! I’m not a baby. But, I can give you a baby if you want.” Juna merajuk, namun setelahnya mengerlingkan mata sambil tersenyum menggoda.

“Not this time, okay!” tukasnya seraya menyentuh bagian bawah Juna yang kembali menegang, lalu mengigit kecil pucuk hidung tegak Juna. Pria itu terkekeh geli, lalu membalas kelakuannya.

Tapi yang jadi sasaran Juna bukan hidungnya, melainkan daun telinganya. Membuatnya menggeliat manja, mengundang Juna membawanya ke nirwana untuk kedua kalinya.

Pagi harinya, keduanya saling berpelukan, berciuman, dan bersentuhan untuk yang terakhir kali. Setelahnya ia melangkah pergi sambil menatap Juna yang berdiri di depan lobby apartement yang mereka tempati untuk kembali ke Jakarta.

Tapi, mendapati sang kekasih sudah berpaling hati, membuatnya bertekad untuk tidak lagi mengharap pria itu pulang. Ia harus menerima kenyataan bahwa cerita manisnya bersama Juna hanya tinggal kenangan.

Sejak itu ia menyiksa dirinya sendiri dengan kesibukan. Bekerja, bekerja dan hanya bekerja. Perhatiannya sepenuhnya tercurahkan untuk ibunda seorang. Dan mulai menutup diri, juga ruang hati untuk semua laki-laki.

Lamunan panjangnya bersama Juna terhempas ketika kata-kata Tara serupa ancaman itu terngiang kembali di kepala. “Penjara atau ... menikah dengan saya.” Bagai dengungan lebah yang sangat mengganggu di depan telinga. Tak henti-hentinya mengetuk benaknya untuk berpikir keras.

Seperti jam pasir yang sebentar lagi surut di sisi atas, waktunya tak lama lagi untuk memutuskan. Tiga hari saja. Ia kini seperti menunggu detik-detik dieksekusi setelah keputusan hakim yang tak bisa lagi dikompromi.

Samudra Dirgantara. Nama yang penuh ketegasan tanpa batas dan kewibawaan seluas angkasa. Persis seperti karakter pemiliknya. Entah mengapa mendengar nama itu saja ia sudah bergidik takut. Terlebih ketika sepasang mata elang itu begitu mengintimidasinya, membuat nyalinya lenyap entah kemana.

Tapi ia juga tidak mengerti, pria dengan arogansi setinggi menara itu begitu digilai oleh para wanita. Apakah selera wanita jaman sekarang sudah bergeser dari sosok penuh kehangatan kepada pria berkarakter dingin tanpa senyuman? Entahlah, walaupun tampan dengan sejuta pesona, tapi yang pasti sosok Tara bukan seleranya.

Saat pria itu mengajaknya makan malam di suatu acara penting perusahaan, ia dengan tegas menolaknya. Bukan karena merasa tak pantas datang ke acara resmi yang dihadiri para petinggi negeri ini, tapi lebih karena rasa enggan membuka celah untuk pria yang terkenal hobi mengoleksi wanita itu.

Ia tahu, bukan kali itu saja Tara mencoba mendekatinya, tapi di setiap ada kesempatan pria itu selalu memberikan sinyal-sinyal perhatian. Seperti setiap meeting internal perusahaan. Ia selalu diperintah untuk duduk di samping pria itu dengan alasan ingin lebih jelas melihat data keuangan. Lalu, entah disengaja atau tidak, Tara menyentuhnya dengan punggung tangan atau pun kaki di bawah meja.

Atau pada saat mereka secara kebetulan berada dalam lift yang sama. Tara selalu berdiri tepat di sampingnya, bahkan merapatkan bahu padanya. Padahal lift itu tidak sarat penumpang sama sekali.

Meresahkan!

Modus murahan!

Dimatanya, tipe pria seperti itu hanya mengencani wanita untuk kepuasan bathin sesaat. Setelahnya, ditinggalkan begitu saja tanpa permisi.

Namun kini, pria itu seperti seorang pemburu yang mendapat hasil tangkapan luar biasa besar ketika melihat dirinya tersudut dan memaksanya memilih satu di antara dua hukuman yang sama menyulitkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel