Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Terpaksa

Clara Bella.

Gadis cantik berlesung pipi itu memandangi wajah sang bunda yang terlelap lemah di atas ranjang. Bola matanya yang memerah terlihat layu dan tanpa cahaya. Wajahnya yang biasa merona kini tampak begitu pias seakan tak ada darah yang mengalir di sana.

Genap sudah dua hari dua malam ia tidak memejamkan mata demi menjaga ibunda yang baru saja menjalani operasi serius karena jantung yang bermasalah. Tak digubrisnya rasa lapar yang begitu hebat melanda. Bahkan makanan yang dibeli pamannya dari kantin rumah sakit pun sama sekali tak disentuhnya. Kotak makanan itu masih tertutup rapat di atas meja.

Kondisi diri yang lunglai sama sekali tak ia pedulikan, baginya yang terpenting saat ini adalah kesehatan sang bunda pasca operasi yang menurut Dokter Harun berhasil mencangkok pembuluh darah baru di jantung bunda.

Namun, kata-kata optimisme yang digaungkan dokter specialist jantung itu tidak mampu meredakan rasa gundah dihatinya. Pasalnya, sudah dua hari ibu Sinta, bundanya belum juga sadarkan diri di ruang ICU. Walaupun kata Dokter Harun itu adalah hal biasa dalam proses perawatan karena efek anestesi yang masih ada, tapi tetap saja membuatnya tak tenang jika belum melihat bunda membuka mata.

Rasa lelah itu kini memaksa tubuhnya bersandar di punggung kursi di ruang tunggu. Sesaat ia mengerjap-ngerjap hanya untuk mengusir rasa perih di bola mata yang mulai menggigit. Niatnya, ia ingin tetap terjaga dan berada di sisi bunda ketika wanita setengah baya itu sadarkan diri. Namun ia tak kuasa menahan kelopak mata yang terasa begitu berat. Hingga akhirnya ia menyerah pada kantuk yang tak mampu lagi dibendungnya.

“Clara ....”

“Clara, bangun.”

Ia menggeliat masih dengan mata terpejam rapat ketika suara seorang laki-laki memanggil namanya disertai guncangan pelan di bahunya. Ia pikir ia sedang bermimpi, karena itu ia melanjutkan tidurnya.

Akan tetapi, ia terpaksa mengangkat kelopak mata, ketika suara itu berkali-kali memanggil namanya, bahkan dengan guncangan di bahu yang semakin kencang.

“Bangun, Clara. Ini ada yang cari kamu.”

“Om Adrian ...?” Suaranya berdesis parau ketika bola matanya terbuka setengah dan mendapati sang paman berdiri tepat di hadapannya.

Ia menggeliat lagi, meluruskan pinggang dan kaki yang terasa linu karena posisi tidur yang sama sekali tidak nyaman. Lalu duduk dengan kedua kaki bertekuk.

Pengar di kepala seketika menyergap, membuatnya berulang-ulang mengerjap demi mengumpulkan segenap nyawa yang lima belas menit lalu terserak bersama lelap.

Namun, tiba-tiba bola matanya membelalak sempurna ketika pandangannya dengan sangat jelas menangkap dua sosok laki-laki mengenakan jas hitam berdiri di belakang Om Adrian. Dua laki-laki yang sangat ia kenali dan untuk saat ini ... seharusnya ia hindari.

Bagai melihat malaikat maut yang datang menjemput, jantungnya mulai berdentum cepat, dan semakin hebat. Lalu perlahan beranjak menegakkan tubuhnya yang begitu lemah, seakan tanpa rangka.

“Selamat siang, Clara.” Salah satu pria itu menyapa dengan suara datar.

Ia tak dapat berkutik ketika pria setengah baya itu mendekat dan berdiri di sampingnya. Sedang pria yang satunya lagi, tetap berdiri di belakang Om Adrian sambil menatapnya dengan tajam. Sementara Om Adrian terlihat bingung seakan tengah mencari jawaban atas situasi ini lewat tatapan bergantian padanya dan pria di sampingnya.

“Se ... selamat ... siang, Pak ... Wahyu.” Ia membalas sapaan itu dengan terbata-bata karena rasa takut yang seketika melanda.

Kedatangan Pak Wahyu dan rekannya yang ia ketahui bernama Pak Santo, tentu saja bukan karena ingin mempertanyakan surat pengunduran diri yang ia ajukan ke personalia tiga hari lalu. Karena kedua orang tersebut tak punya wewenang untuk itu. Apalagi ingin menjenguk bundanya, sudah pasti bukan.

Tapi ia mulai menerka keberadaan keduanya saat ini karena ada sesuatu yang sangat serius. Yang pasti ia mencurigai sesuatu yang buruk akan menjeratnya tak lama lagi, akibat perbuatan ilegalnya terhadap perusahaan.

Yang menjadi pertanyaan besar di benaknya, bagaimana kedua orang pemangku jabatan cukup penting di perusahaan tempatnya bekerja ini tahu bahwa ia kini berada di rumah sakit ini. Karena selain Om Adrian dan Tante Vera, tidak ada orang lain lagi yang tahu bahwa bundanya tengah dirawat pasca operasi.

“Bagaimana keadaan ibu Anda sekarang?” tanya Pak Wahyu masih dengan nada bicara datar seraya melirik sekilas Om Adrian yang masih terpaku tak mengerti.

Ia tahu pertanyaan itu hanya sekedar basa-basi untuk menyamarkan situasi tak nyaman yang terasa begitu kental saat ini.

Ia mengangguk gugup, berusaha menerbitkan senyum kecil di sudut bibir. “Sedang di ICU ... dalam perawatan ... pasca operasi,” jawabnya dengan susah payah sembari menenangkan degub jantung yang tak karuan.

“Saya dan Pak Santo tadi ke rumah kamu. Kata tante kamu, ibu kamu sedang menjalani operasi jantung dan kamu menunggu di rumah sakit ini. Jadi ya kami ke sini.”

Sudah pasti, ia memang sedang dicari. Dan Tante Vera dengan polosnya mengatakan dimana ia berada saat ini.

Kembali ia mengangguk gugup dengan bola mata bergerak kesana kemari untuk menghindari tatapan Pak Wahyu yang penuh selidik.

Pak Wahyu menoleh sejenak pada Om Adrian di belakang punggungnya. “Bisa ikut kami sebentar, Clara?” Permintaan itu terdengar sebuah perintah mutlak bagi Clara.

Tubuh Clara seketika bergetar hebat, darahnya berdesir cepat. Tak perlu menerka-nerka lagi. Ia sudah memastikan bahwa dirinya kini berada di ambang kehancuran.

“Maaf, ada apa ini, Pak?” Om Adrian sepertinya sudah merasa ada sesuatu yang buruk mengintai keponakannya itu, sehingga merasa patut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

“Saya hanya ingin bicara dengan Clara, Pak. Ada urusan perusahaan yang harus kami ketahui dari Clara. Anda tenang saja.” Pak Wahyu berusaha merangkai kata untuk menenangkan Om Adrian yang sudah terlihat panik.

“Clara ...?” Om Adrian meminta jawaban darinya. Tapi ia hanya mengedipkan mata dan tersenyum kecil mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal jantungnya saat ini berdebar kian kencang.

Lalu, ia mengikuti langkah Pak Wahyu dan Pak Santo menuju salah satu sudut ruangan yang jaraknya cukup jauh dari tegaknya Om Adrian.

“Pak Dirgantara memanggil kamu ke kantor. Beliau ingin bicara sekarang juga.” Tanpa basa basi lagi, Pak Wahyu langsung saja mengutarakan maksudnya.

Ia merasa tak perlu bertanya lagi, karena sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan pimpinannya itu. Lebih tepatnya apa yang akan dilakukan oleh pimpinannya yang terkenal menyeramkan itu pada dirinya.

“Saya harus pulang dulu sebentar. Nggak mungkin saya menghadap Pak Tara seperti ini.” Ia menunjuk penampilannya sendiri yang hanya mengenakan celana jeans dengan aksen sobek di kedua lutut, t-shirt hitam ketat dan sandal rumahan.

Pak Wahyu dan Pak Santo saling bertukar pandang sejenak seolah saling meminta persetujuan.

“Baiklah, kami antar.” Pak Wahyu mengijinkan dengan syarat.

Ia pun mengangguk. Kemudian berlalu dari hadapan kedua pria paruh baya tersebut menuju Om Adrian untuk meminta ijin pulang dan meminta tolong pamannya itu untuk menjaga ibunya hanya beberapa jam saja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel