Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rindu Setengah Mati

Arjuna Indra Pradana.

I have died every day waiting for you. Darling, don't be afraid. I have loved you for a thousand years.

I'll love you for a thousand more.

(Christina perry – A Thousand Years)

“I miss you, Bel.” Ia melirih sambil menatap langit senja Pasadena dari jendela apartementnya. Dari CD player-nya terdengar lagu yang selalu disenandungkan oleh Bella sewaktu mereka masih bersama. Itu lagu kesukaan Bella yang ia putar berulang-ulang setiap kali ia merindu.

Genap tiga tahun sudah ia terpisah dari Bella. Dan dirinya pun kini sudah berhasil meraih gelar Master of Science in Industrial Engineering (MSIE) di salah satu kampus tehnik ternama di California. Sesuai cita-citanya dan harapan keluarganya.

Sebenarnya ia ingin segera pulang ke tanah air dan secepatnya bertemu dengan gadis yang begitu ia rindukan. Namun rasa perih dan geram di hati datang lagi ketika mengingat Bella menutup semua akses komunikasi tanpa ia tahu penyebabnya.

Satu bulan setelah ia meninggalkan Indonesia, komunikasi dengan Bella masih hangat dan baik-baik saja. Kata-kata mesra penuh kerinduan mendalam masih terdengar dari lisan gadis pujaannya. Tiga bulan selanjutnya, komunikasi perlahan mulai merenggang, karena kegiatan kampusnya yang sangat menyita perhatian. Hubungan melalui telepon dan video call bisa dihitung dengan jari tangan dalam satu bulan. Itu pun tidak memakan waktu berjam-jam seperti sebelumnya. Tapi ia yakin Bella sangat pengertian. Itulah kelebihan pacaran dengan wanita yang lebih dewasa, tidak banyak tuntutan dan persyaratan.

Tapi setelah enam bulan berlalu, Bella benar-benar tak bisa dihubungi lagi. Semua akses komunikasi tertutup rapat untuknya. Yang ia sesalkan, Bella tidak pernah memberitahunya di mana gadis itu bekerja. Dengan alasan Bella tidak ingin konsentrasi kerja terpecah.

Ia mengerti, pekerjaan Bella memang menuntut perhatian penuh karena berhubungan dengan angka-angka dan data keuangan perusahaan. Sehingga ia menemui jalan buntu untuk menghubungi gadisnya itu.

Saat itu ia benar-benar bingung, tidak mengerti dengan keputusan Bella yang menghilangkan diri tiba-tiba. Hal itu sempat mengganggu konsentrasi belajarnya. Apalagi saat itu ia tengah menghadapi ujian semester pertama. Hingga ia berpikir, serumit inikah menjalin hubungan cinta jarak jauh.

Ditengah frustrasi yang melanda, Bianca datang mengisi hari-harinya. Sebenarnya ia sudah lama mengenal gadis cantik berdarah campuran Indonesia-Filipina itu. Sekitar tiga bulan setelah ia menginjakkan kaki di California. Gadis itu kuliah di kampus yang sama dengan jurusan berbeda. Bahkan keduanya sudah sering kali bepergian, mengunjungi tempat-tempat indah di California, menaklukan gelombang tinggi dengan berselancar di Laguna Beach, clubbing di club malam ternama, menyaksikan Rose Parade di sepanjang jalan Pasadena, dan menghadiri kegiatan kampus bersama-sama.

Benar yang dikatakan orang, bahwa seringnya bersama akan menimbulkan rasa suka. Begitu pun yang ia rasakan. Ia dan Bianca saling suka dan saling membutuhkan. Tapi hanya sebatas itu saja. Tak ada rasa cinta seperti yang ia rasakan pada Bella. Pergaulan bebas yang sejak dulu ia nikmati bersama Bella, terbawa sampai saat ini. Apalagi di Amerika, seolah kebebasan adalah dewa.

Setelah ia merasakan kenyamanan yang dihadirkan Bianca, ia mengijinkan gadis itu untuk tinggal di apartementnya. Bisa dibayangkan bagaimana ia melewati malam-malamnya bersama gadis itu dengan penuh kehangatan.

Meskipun begitu, bayangan wajah Bella tak serta merta hilang dari ingatan. Justru semakin menghantui ketika ia berada di atas tubuh Bianca. Ia sepenuhnya sadar, saat gelombang kenikmatan itu menerjang, hanya nama Bella yang ia lirihkan. Bianca pastinya mendengar. Tapi ia tak peduli dengan perasaan gadis itu. Karena ia tak sanggup membohongi diri sendiri atau siapapun, bahwa ia masih sangat mencintai Bella dan berharap bisa kembali bersama.

“Hmmm .... Honey ....” Ia merasakan sepasang lengan halus melingkar di pinggangnya. Lalu jari jemari lentik itu menyelusup ke dalam t-shirtnya dan meraba dadanya dengan sentuhan menggoda.

Ia menoleh sekilas dengan ekor mata. Kemudian kembali mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Dan membiarkan Bianca menggeliatkan tubuh di punggungnya.

Entahlah, sentuhan erotis Bianca yang selalu ia rasakan setiap waktu itu mulai membuatnya bosan. Begitu hambar, tidak ada lagi rasa yang mampu menggetarkan gairahnya.

Sebagai wanita yang sudah ahli menilai bahasa tubuh laki-laki, Bianca jelas merasakan ia tidak seresponsif dulu lagi. Tidak seliar saat pertama kali ia mengayun tubuh gadis itu dengan pesonanya. Datar. Bahkan terkesan enggan menanggapi.

“Kamu berbeda akhir-akhir ini, Juna,” lirih wanita itu tepat di depan telinganya. Suara Bianca jelas menunjukkan rasa tidak suka akan sikap dinginnya.

Ia meraih kedua lengan Bianca, lalu perlahan meleraikan dari tubuhnya. Tanpa memedulikan tatapan asing Bianca, ia melangkah menuju ranjang dan merebahkan diri di sana. Tangannya terlipat di belakang menopang kepala, dengan bola mata lurus menatap langit-langit ruangan.

“Aku akan pulang ke Indonesia setelah semua dokumen kelulusan dari kampus selesai.” Ia bergumam, seakan sedang berbicara pada diri sendiri.

Masih dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, Bianca menghampirinya dan ikut merebahkan diri di atas ranjang, tepat di sampingnya. Namun, lagi-lagi ia menunjukkan sikap penolakan. Ia memutar badan perlahan, memunggungi Bianca yang hendak memeluknya.

“Kamu tidak ingin bekerja di sini? Bersamaku? Peluang kerja untuk lulusan master seperti kamu itu besar, Juna. Sayang kalau dilewatkan.” Bianca berusaha membujuknya. Ia merasakan jemari halus itu menjalari bahu kokohnya.

“Nope! I have to go back to Indonesia. It’s boring here,” tukasnya malas, lalu beranjak dari ranjang dan melangkah menuju pintu balkon, lalu membukanya, membiarkan angin senja menyeruak masuk ke dalam kamar.

“Apa karena wanita ini yang membuat kamu ingin cepat pulang ke negaramu?”

Ia menoleh ketika suara Bianca terdengar meninggi. Dan ia terkesiap saat melihat selembar kecil foto di tangan Bianca. Ia mendengkus kesal, ketika ia tahu itu adalah foto Bella yang memang sengaja ia selipkan di dalam dompetnya selama ini. Dan Bianca dengan lancang mengeluarkannya tanpa ijin.

Dompet dan ponsel adalah benda paling privasi untuknya. Hanya orang-orang yang ia percaya boleh melihat atau memeriksa isinya. Sedangkan Bianca tidak termasuk salah satunya.

Sangat berbeda dengan Bella yang selalu menghormati privasinya, padahal Bella sangat ia ijinkan membuka dompetnya atau pun menggunakan ponselnya, tapi Bella selalu menolak.

“Benar, kan? Karena wanita itu sikap kamu padaku jadi hambar begini?” Bianca mendesak lagi. Itu membuatnya sangat tidak nyaman. Dengan kasar ia menyambar dompet dan foto itu dari tangan Bianca.

Sikap Bianca jelas jauh berbeda dengan Bella. Bahkan Bella tidak pernah sekalipun memaksanya untuk menjawab sesuatu yang sulit ia ungkapkan. Jika ia tidak ingin mengatakan apapun, Bella hanya diam dan menunggu. Sikap seperti itulah yang membuatnya merasa dihargai dan dihormati sebagai laki-laki.

“Iya!” Hanya itu jawaban tegas yang ia berikan sambil memasukkan kembali foto Bella ke dalam dompetnya. Dan itu cukup membuat hati Bianca terbakar dan membara.

“Kamu tidak bisa lupa sama dia, hah?! Lalu, aku ini kamu anggap apa selama ini? Hubungan kita ini apa artinya? Kita sudah tinggal bersama, melakukan semua bersama, bahkan aku pernah hamil anak kamu, dan kita gugurkan bersama. Apa kurang cukup pengorbanan aku, Juna?”

Serangan kata-kata yang Bianca tujukan padanya membuat amarah mencengkramnya begitu kuat. Gerahamnya menggeretak. Wajahnya menegang kencang, matanya menatap Bianca tajam, seakan hendak menelan tubuh wanita itu bulat-bulat.

“Hubungan kita sebatas suka sama suka, Bianca. Tidak lebih! Masalah kehamilan kamu, itu kemauan kamu untuk menggugurkannya. Aku pernah tegas melarang. Tapi kamu membantah. Dan sekarang kamu merasa berkorban?” Ia balas menyerang dengan suara tidak kalah meninggi.

“Shit, Bi! Don’t be childish!” Napasnya terdengar menderu karena kesal sambil menunjuk kasar ke arah Bianca yang sibuk mengenakan pakaian dengan berurai air mata. Perang urat syaraf di ruangan itu pun terjadi. Memekakan telinga dan membakar suasana.

“Jadi, aku ini cuma sebagai pelampiasan sakit hati kamu saja, begitu? Apa tidak ada sedikit pun rasa cinta kamu untuk aku, Juna? I’m in love with you!” Perasaan yang Bianca utarakan jelas bukan yang ia inginkan. Karena baginya perasaan cinta itu datang dengan tulus tanpa dipaksakan. Dan Bianca memaksakan itu padanya. Jelas tidak bisa.

“Arrgh! Bianca, please ....” Ia meremas rambutnya kuat-kuat, lalu menghempaskan pantatnya ke bibir ranjang seraya menatap Bianca yang menuntut jawaban dengan sorot mata memelas.

“Kamu sudah tahu jawaban aku, Bi. Aku nggak bisa jatuh cinta sama orang lain lagi.”

Bianca mengangguk-angguk dengan mendengkus sinis. “Kamu masih cinta sama perempuan itu. Masih berharap sama dia.”

Gadis itu menyusutkan isaknya sejenak dengan menghapus hidungnya yang basah. “Tapi, Juna ... apa perempuan yang tidak pernah menghubungi kamu itu pantas kamu harapkan? Mungkin saja dia sudah menikahi pria lain tanpa peduli sama perasaan kamu.”

Dugaan Bianca itu membuatnya terpaku. Antara mengiyakan dan meragukan ucapan Bianca itu. Bella wanita yang sangat cantik, lemah lembut, dan menggairahkan. Pasti banyak laki-laki yang berusaha mendekati.

Saat ia bersama Bella dulu, tidak satu dua kali ia nyaris baku hantam dengan laki-laki yang ia duga punya hasrat pada Bella. Setiap kali itu terjadi, Bela selalu datang padanya. Menenangkannya dengan sentuhan lembut, membuainya dengan pesona tubuh mulus gadis itu, dan melenakannya dengan ciuman hangat yang menggetarkan. Begitulah Bella yang selalu membuatnya merasa dicinta, dimanja dan begitu dipuja.

Tapi Bayangan Bella bersanding dengan pria lain seketika hadir di benaknya. Ketegangan yang sempat susut di wajahnya kini kembali tampak. Bersamaan dengan kepalan tangan yang siap menghantam.

Seandainya apa yang dikatakan Bianca itu terjadi, dia bisa gila. Mungkin saja ia bisa menjadi pembunuh hanya karena cinta.

“Fuck!”

Akhirnya meja kaca di samping ranjang menjadi sasaran tinjunya. Serpihan pecahan kaca itu menancap di buku-buku jari dan punggung tangannya. Hingga darah segar menetes dari sela-sela jemarinya.

Bianca menjerit histeris. Namun ia tak peduli.

“Damn! Gara-gara perempuan itu kamu seperti ini, Juna?”

“Jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku. Oke!”

Setelah mengatakan kalimat tegas itu pada Bianca, ia melangkah panjang keluar dari ruangan dan menghilang setelah mengempaskan pintu dengan kencang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel