Bab 9. MY SWEET EXECUTIONER
Kakak menggulung lengan kemejanya seperti biasa. Sebenarnya kenapa? Kenapa kakak semarah ini? Karena aku meminun cairan hangat itu? Atau karena aku mengobrol dengan beberapa prang pria tadi? Tapi mereka sangat baik padaku. Mereka bahkan menawariku minum. Apa yang salah?! Mereka tidak berusaha memperkosaku atau merobek gaunku...
Kakak duduk di telian tempat tidur, sedangkan aku masih berdiri berkutat dengan alasan kenapa aku harus dihukum?!
Ia menatapku, seperti itu adalah sebuah perintah agar aku segera ke sana, memposisikan diriku seperti yang seharusnya, seperti sebelum sebelumnya ketika papa menghukumku. Aku terpaku. Pikiranku kini teralih dengan bayangan rasa sakit yang akan kakak berikan sebentar lagi. Bayangan tangan besar kakak akan beberapa kali mendarat membuatku sedikit kesulitan menelan ludah.
Kakak jarang menghukumku untuk kesalahan yang aku lakukan, biasanya papa yang melakukannya, dan kakak adalah pihak yang nantinya akan menghiburku. Ia hanya akan menghukumku saat aku benar-benar melakukan kesalahan fatal, yang nantinya akan mencelakaiku. Seperti membuat diriku sendiri hampir tenggelam karena terlalu gengsi untuk mengakui aku tidak bisa berenang misalkan
Tunggu, itu alasannya! Kakak menghukumku karena aku berbuat sesatu yang akan mencelakaiku! Tapi apa? Aku tidak sedang berada di kerumunan penjahat or something...
"Aletha..." lalu apa? Aku tidak pernah bisa melupakan cara kakak melihatku di pesta tadi. Di mata kakak ada api menyala. Ia bahkan seperti tidak segan segan membuat keributan di pesta itu, atau mungkin akan memukul pemuda itu di depan semua orang.
"Aletha..." ia seperti ingin meledak. Menahan semua api dan tombak di belakang matanya
"Jangan sampai aku memanggilmu tiga kali." dan kalimat itu berhasil membuatku tersadar. Itu sirine khas papa dan kakak ketika aku tidak mau menuruti perintah mereka. Aku kenal betul sirine itu, dan tahu betul apa yang terjadi jika aku tidak mematuhinya.
Aku melangkah maju dan menengkurapkan tubuhku di atas pangkuan kakak. Tidak menunggu lama, kakak mengunci kakiku dengan kakinya dan menekan punggungku dengan tangan kirinya.
"Aduh kak..." kakak mengernyit menatapku. Aku bisa merasakan tatapan mata kakak meskipun aku sedang tengkurap,
"Apa? Kita belum mulai."
"Aku nggak bisa gerak."aku berusaha membuka sedikit ruang dengan menggerak gerakkan tubuhku.
"Memang begitu seharusnya" dan tanpa permisi kakak melayangkan tangannya padaku.
"AHH! Sakit kak" ia melesatkan tangannya lagi, berusaha meratakan rasa menyengat dan panas akibat pertemuan telapak tangannya dengan pantatku yang malang.
"Ooooh! Sakit sakit kak... Oooowwwww!!!"
"Aaahh! Please kak... Please... Ooowww! Sakit! Ampun kak."
"Aku sudah memberikan persyaratan itu padamu Aletha" jangan anggap ia berbicara dan menghentikan apa yang tangannya lakukan padaku. Ia berbicara, benar. Tapi tangannya juga ikut berbicara. Aku mulai sesenggukan.
"I iya kak... Aletha... Cu cuma ambil... E es krimmm" aku tidak bisa bicara dengan lancar sambil terus menahan lecutan ini!!
"Es krim ada di meja tengah Aletha. Bukan di bar."
"Cwo Cwo itu... Me.. Mengajak ku mengobrol dan dan... AHH!! KAKAK! SAKIT KAK STOP.... PLEASSEEEE KAAAKK!!!" kakak menghentikan lecutannya, mengusap pantat panasku.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan kalau kakak terus memukul pantatku dengan brutal?!" aku memprotes. Tidak. Aku sudah merasa frustasi dengan rasa panas yang ditinggalkan.
"Baik. Jelaskan." kakak mendudukkanku di pangkuannya, kini aku bisa melihat matanya. Ia terus mengusap pantatku dan tatapannya padaku masih tajam. Kakak masih marah?
"Mereka mengajakku mengobrol, lalu kami berkenalan seperti biasa. Aku pikir dia bisa menjadi seorang teman yang baik. Aku cukup senag mengobrol dengannya. Ia mengajakku ke bar dan memberikanku minuman itu. Aku pikir itu adalah air soda biasa, dan saat aku tanyakan padanya ia tidak menjawab hanya tertawa kak." aku menunggu reaksi kakak. Ia hanya diam, terus menatapku dalam diam.
"Aku tidak tahu kalau minuman itu ternyata beralkohol. Apa kakak marah karena itu?" aku berusaha membaca mata kaka, tapi nihil. Aku hanya bisa menatapnya memelas. Bukan karena aku ingin meminta belas kasihan darinya tapi ini mata sembab, dan aku masih sesenggukan untuk menjelaskan semuanya. Jadi aku harap kakak benar benar mengerti dengan nada bicaraku yang kurang jelas.
"Tidak. Aku marah karena dia berani menyentuhmu! Dan kau, sangat sangat membantu dia mendapatkan peluang itu" ahkirnya kakak bersuara.
"Tapi dia orang baik kak." kilat api itu muncul kembali di mata kakak, membuat aku sedikit beringsut di pangkuannya.
"Orang baik? Orang baik macam apa yang berniat membuat seorabg gadis mabuk untuk keuntungan mereka sendiri?!"
"Apa maksud kakak?"
"Apa kau tidak melihat bagaimana ia melihatmu? Bagaimana ia menatap setiap senti tubuhmu? Bagaimana ia ingin melahapmu bulat bulat?" aku terhenyak. Aku tidak pernah melihat semua itu. Yang aku pikirkan hanya mendapat teman baru yang menyenangkan.
"Kakak aku aku tidak mengerti..."
"Karena kau masih polos bocah! Sangat polos... Kau tahu tujuan mereka memberikan minuman itu? Itu untuk membuatmu tidak sadar dengan apa yang akan dia lakukan. Ia... siapapun itu yang kau sebuat sebagai teman telah merencanakan untuk memanfaatkan tubuhmu!"
"Bagaimana kakak bisa tahu?!"
"Karena aku juga laki laki... Aku sudah katakan padamu jangan menggunakan gaun itu. Tapi kau dengan keras kepalamu itu berhasil membuat bajingan itu melirikmu! Aku bahkan muak melihat ia berusaha memelukmu, melingkarkan tangan kotornya di pinggangmu!" kakak menjelaskan semua itu depanku, dan aku hanya bisa terperangah. Jadi itu maksud kakak.
"A aku tidak tahu kaaakk" aku merasa bersalah sekarang. Aku memeluk kakak erat, meletakkan kepalaku ke dada bidangnya dan menangis di sana. Aku tidak peduli kemeja kakak akan basah setelah ini, persetan dengan semua itu!
"Aku bersumpah akan membunuh pria itu saat itu juga jika ia berhasil menyentuhmu."
"Maaf kak... Aku aku benar benar--" aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Aku merasa aku seperi kaset rusak jika aku terus mengulang kata 'aku tidak tahu' atau 'aku tidak berfikiran seperti itu'.
"Kau harus berhati hati bocah... Tidak semua orang adalah orang orang baik dalam arti sesungguhnya." ia membalas pelukanku, dan mengecup pucuk kepalaku.
"Apa kita harus melajutkan ini kak?" aku ragu. Sejenak kami berpelukan dan itu menenangkan. Mungkin sudah puluhan menit kami seperti ini, tapi aku berani katakan pada kalian bahwa ini hanya terasa beberapa detik saja.
"Kau masih merasa bersalah?" aku mengangguk. Ya. Aku masih merasa bersalah dan aku pantas mendapatkan ini. Jadi aku kembali tengkurap dan kakak melanjutkan kegiatannya.
"Maaf kak... A aku ng nggak a akan u ula ulangi la lagi..." penampilanku sudah berantakan setelah menahan panas dan sakit. Aku berusaha meronta dan berteriak tapi percuma.
"Aku sudah memaafkanmu bocah... Kemarilah..." kakak menidurkanku, memberikan posisi senyaman mungkin terutama untuk pantatku yang memerah. Ia memelukku, memberikan lengannya yang sduah basah karena air mata untuk menjadi bantalan kepalaku. Kakak selalu seperti ini. Menjajariku setelah aku mengalami masalah atau setelah aku dihukum papa. Itu cukup melegakan. Setidaknya kau tidak akan pernah merasa sendiri setelah kau dihukum habis habisan.
"Kakak... Tadi benar benar mengadu pada papa?" aku mendongak dan langsung bertemu dengan mata coklat kakak. Mata itu!! Itu mata Mr. Devian!! Hanya kebetulan atau memang mirip? Tapi aku juga memiliki mata coklat yang sama, hanya sedikit lebih terang.
Kakak menggeleng, di mata itu sudah tidak terdapat api atau belati atau parang atau benda tajam lainnya yang biasa kakak munculkan ketika ia marah. "Papa hanya memberitahu kalau papa dan mama akan menginap di luar kota. Mengurus tender baru papa, dan papa membutuhkan bantuan mama untuk itu."
"Terus?" aku bertanya semakin penasaran.
"Yaaa papa menanyakanmu, dan aku jawab sejujurnya..."
"Dan papa menyuruh kakak menghukumku?"
"Tidak. Kau menyuruhku mengkummu... Itu pantas kau dapatkan?" aku menghela nafas. Pertanyaan macam apa itu?
"Ya. Aku pantas mendapatkannya... Aku merasa aku perempuan yang---" kakak menempelkan telunjuknya padaku. Aku membelalak menuntuk penjelasan kenapa.
"Aku yakin kata kata yang kau keluarkan setelahnya tidak enak untuk didengar." kakak tersenyum. "Kau bukan gadis seperti itu. Ingat itu. Kau hanya dimanfaatkan. Jadi kau harus belajar agar tidak mudah di manfaatkan orang lain lagi. Am I clear?" aku mengangguk.
Kami bercerita banyak setelahnya. Aku senang seperti ini. Aku tidak pernah ingin beranjak dari sini, bahkan hanya untuk menggeser satu anggota tubuhku. Aku bisa merasakan hangatnya kulit tangan kakak, bisa mendengar degupan jantungnya, bisa merasakan hembusan nafasnya saat ia menyandarkan kepala di atas kepalaku, aku bisa memainkan kemejanya, menggulung gulungnya di telunjukku, atau memainkan kancing bajunya hingga mungkin kancing itu akan terancam lepas.
Bersama kakak aku merasa aman. Ia seperti tameng untukku. Bukan seperi malaikat pelindung bagiku. Dulu sewaktu kami masih kecil, aku sering di ejek oleh teman teman sekompleks karena aku di anggap anak siput yang tidak pernah berani keluar rumah. Lelet. Pengecut. Dan tebak apa yang kakak lakukan? Ia mengajakku bermain keluar sejak saat itu, semakin sering hingga mereka bungkam dan tidak pernah mengejekku lagi.
Atau seorang bocah laki laki yang dulu mendorongku hingga aku terjatuh, kakak menghampiri bocah itu dan membelaku di depan banyak orang. Dan masih banyak lagi. Aku sempat berfikir apa yang akan terjadi padaku jika kakak tidak ada di sampingku?!
