Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8. DRUNK

Arman mengendikkan bahunya menjawab tatapan bertanya dari ketiga orang di meja itu. Mereka terus membicarakan langkah ke depan yang hanya tinggal menghitung bulan. Sebenarnya pembicaraan itu hanya obrolan kasar, karena mereka tidak sedang berada pada kondisi formal dan mendukung sekarang. Mungkin pertemuan ini dimaksudkan hanya untuk memperkenalkan kedua belah pihak.

Pria ini. Devian menjadi seseorang yang sangat berbaik hati menawarkan biaya sekolah ke luat negri dengan cuma-cuma pada awalnya. Tapi Arman tahu, tidak ada yang 'hanya cuma-cuma' di sini.

Ia sudah tahu cerita itu. Semua cerita itu bahwa ia bukanlah anak kandung dari Lucas dan Aluna, melainkan anak sah dari pria brengsek di depannya ini. Arman masih belum tahu apa yang Devian inginkan darinya. Bukankah aneh, seorang yang telah membuang mu bertahun tahun kini kembali dan menawarkan kebaikan hatinya. Kenapa baru sekarang ia datang? Kemana selama puluhan tahun?

Jika pria tua ini punya maksud dan niat tersendiri, Arman juga memiliki misi sendiri. Jangan dikira Arman menerima tawaran itu dengan pasrah. Tidak! Arman punya rencananya sendiri.

Dan... meskipun ia ikut terlibat dalam pembicaraan itu, Arman tidak pernah bisa tidak melihat ke arah es krim itu disajikan. Kenapa bocah itu lama sekali? Saat itu ia ingin berlari mencari dan membelah kerumunan untuk mencari gadia itu. Tapi itu pasti nampak tidak sopan. Ia berusaha berkonsentrasi pada pembicaraan itu, dan hanya jawaban sekadarnya yang bisa ia berikan.

Mungkin Mr. Devian mengetahui gelagat Arman. Ia berdiri dan menyudahi pertemuan itu. Mereka saling bersalaman satu sama lain, dan Mr. Devian pergi. "

"Arman cari Aletha dulu pah..." Lucas dan Aluna mengangguk, nampak tidak fokus pada apa yang Arman katakan. Pikiran mereka sedang dipenuhi oleh kemungkinan kemungkinan yang terjadi.

Mr. Devian bukan orang sembarangan. Ia tidak pernah bertindak sembarangan pula. Ia terkenal kejam dan arogan. Ketika arogansi dan kekejamannya muncul bersamaan, tidak akan pernah ada yang berani untuk melawannya. Atau mereka akan hancur perlahan. Mungkin Arman adalah jalan atau bisa di bilang kunci.

Kunci yang menghubungkan mereka pada kebahagiaan atau kehancuran. Mereka tidak pernah mengerti.

***

"Aletha!" Arman membelalak begitu mendapati gadis kecilnya duduk di sebuah bar mini dengan minuman di tangannya. Ia dikelilingi lelaki yang yahhh berusia seumur jagung. Mungkin mereka bisa ke sini karena kekayaan orang tua mereka. Mereka memandang remeh pada Arman, meresa terganggu.

"Hei bung, cari gadis lain.." seketika itu, Arman melempar belati dari matanya. Namun nampaknya pemuda itu tidak mau mundur. Ia melingkarkan... ralat, hampir melingkarkan tangannya di pinggang Aletha sebelum Arman mencengkeram kerahnya, sedikit mengangkatnya, dan pemuda itu menjerit ketakutan.

"Pulang." Aletha terlalu bingung dengan semua ini. Mungkin karena reaksi dari minuman yang pria itu berikan padanya. Itu nampak seperti air putih, dan ia mengira itu adalah air soda pada awalnya.

"Tapi kak, mereka baik." mendengar itu Arman menatap Aletha tajam. Seperti ada kilat yang nampak di sana.

"See, dia lebih memilih di sini..." suara itu berhasil membuat Arman meremang. Ia mengatupkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Sebelelum ia melayangkan tinju, Aletha memeluknya dan turun dari kursi tinggi itu.

"Jangan kak, ayo pulang."

***

Kakak mencekal tanganku, sedikit menyeretku dari keruman itu, membawaku ke tempat parkir dan menekanku pada salah satu pintu mobil itu. Kakak terus menatapku tanpa berkedip dan membuatku ketakutan. "Apa yang aku bilang tentang persyaratan?!"

"Ma maaaf kak..."

"Maaf?! Kau tidak lihat bagaimana pria itu menatapmu?!"

"Di dia baik padaku." kakak mendengus marah.

"Baik katamu?! Aku akan tunjukkan bagaimana yang baik padamu... Kita selesaikan ini di rumah." ia membuka pintu mobil dan sedikit mendorongku masuk ke dalamnya. Beberapa saat kakak memutari mobil dan masuk ke dalam kursi kemudi.

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Tidak ada yang memulai berbicara. Mungkin kakak sedang sibuk mengendalikan api yang akan mencuar dari dalam dirinya, sedangkan aku sibuk menggulung gulung gaunku dan berdoa semoga kakak tidak terlalu marah.

***

"Dia meminum rose wine dengan kadar alkohol cukup tingggi tadi." Setelah sampai di rumah, Arman mengacuhkan Aletha. Ia ingin meledak sekarang. Bayangan pria itu berusaha merangkum tubuh Aletha dengan tatapan mesumnya membuat tubuhnya bergetar marah. Walau bagaimanapun juga ia adalah seorang kakak yang harus melindungi adik perempuannya! Seorang kakak? Ia tersenyum miring seakan mencemooh dirinya sendiri. Apakah ia bisa disebut sebagai kakak sekarang, bahkan hatinya pun berontak. Meminta lebih dari pada hubungan seorang kakak

Jujur, satu hal yang ia syukuri saat mengetahui bahwa ia bukaah anak dari Lucas dan Aluna adalah... dia dan Aletha tidak sedarah. Jadi wajar saja jika perasaan itu ada. Dan akan tetap ada. Karena sadar atau tidak, setiap harinya Arman memupuk rasa itu semakin banyak.

"Arman?! Kau mendengar papa? Kau melamun?" sedetik kemudian Arman tersadar. "Ia merasa bersalah?"

"Tidak. Belum. Ia masih bingung kesalahan apa yang dia lakukan. Dia cuma ketakutan karena aku sempat marah sama dia pah." Arman tahu papanya sedang berfikir dan sedikit mengangguk di seberang sana.

"Kalau begitu lakukan yang seharusnya kau lakukan nak." Arman terperanjat. Ia tahu arti dari kata kata itu. "Kenapa? Kau mulai menganggap dia bukan adikmu?"

"Papa yakin?"

"Bukannya dari dulu kau adalah wakil papa, Arman? Dia harus diberitahu apa kesalahannya." Arman mengangguk. Tidak biasanya ia merasa sungkan seperti ini. Mungkin papa benar. Ia meletakkan ponsel di atas meja dan beralih pada gadis yang membelalakan mata di depannya. Sejak kapan ia berada di sana?

"Kakak ngadu sama papa?!" ia menatap dengan marah yang bukannya membuat siapapun takut tapi justru akan tertawa.

"Siapa yang ngadu?" Arman menyandarkan dirinya di meja kecil di belakang tubuhnya, mencoba menikmatai tatapan garang dari gadisnya ini.

"Tadi kakak telepon sama papa kan? Bilang kalau aku..." Kata kata itu menggantung. Gadis itu kebingungan menyelesaikan kalimatnya membuat Arman semakin yakin bahwa ia belum menyadari apa yang sudah ia lakukan. Arman menaikkan sebelah alisnya, menuntut penyelesaian dari kalimat itu, dan sepertinya tatapan yang ia berikan memberikan efek cukup besar pada Aletha. Gadis itu gelagapan, entah apa yang ada di pikirannya "Maaf kak" ahkirnya hanya kata itu yang keluar

"Maaf?" Ia berusaha memancing. Berusaha membuat Aletha menyadari kesalahannya sendiri sehingga ia tidak perlu menghukum gadis itu seperti yang papa perintahkan. Tapi semua diluar harapannya, Aletha hanya dia dan menunduk.

"Jika papa di sini, ia tidak akan mengulur waktu untuk melesatkan tangannya pada pantat kecilmu. Kau tahu?" Aletha menggeleng, tidak setuju dengan pernyataan itu. "Sekarang ayo kita bawa pantat nakalmu itu ke kamar, jadi kita bisa selesaikan ini segera."

"Tap tapi kaaaakkk..." Arman menggenggam tangan Aletha dan menghelanya naik ke lantai dua rumah itu. Beberapa pembantu yang melihat hanya menganggukkan kepala tanda hormat. Mereka sudah biasa melihat ini, dan sudah tahu akan seperti apa ahkirnya nanti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel