Bab 10. ANOTHER SIDE
"Aku tahu kenapa Arman sangat senang mendengar informasi ini Thomas" pria tua itu hanya menatap Tuannya datar.
Thomas hanya berdiri di sudut ruangan seperti biasa. Mengamati setiap tanda tanda tubuh dari Tuannya. Ia adalah kepala pelayan di sini. Sudah tak terhitung berapa tahun ia melayani Devian. Ia bahkan menyayangi Devian seperti menyayangi anaknya, sahabatnya, temannya.
"Ia mencintai gadis itu. Ia menyadari perasaannya dan bersyukur perasaan itu memiliki sebuah harapan."
"Tapi gadis itu masih belum tau Tuan." Devian terkekeh kecil. Ia menerawang jauh kedepan.
"Ya. Itu rencana Arman. Ia belum siap memberitahukan ini. Biarkan saja. Itu juga akan menguntungkan untuk kita." ia tersenyum miring, simpul. Thomas tahu, Devian merencanakan sesuatu untuk putranya. Putra dari kesalahannya masa lalu. Putra yang sempat ia buang dan sekarang menjadi penentu nasibnya di keluarga ini. Ia membutuhkan Arman! Bukan sebagai anak, hanya sebagai kunci untuk membuatnya tetap bertahan di sini.
***
"Kamu ngapain?" aku menurunkan celanaku, memantulkannya ke cermin. Pagi ini badanku serasa pegal sekali, dan aku tidak bisa duduk dengan nyaman bahkan di atas tempat tidur empuk sekalipun.
Tanpa menoleh, aku tahu bahwa kakak masuk ke kamarku dan memandangiku dari pintu kamar.
Aku masih memutar badanku berusaha melihat bagaiamana keadaan pantatku. Tidak berbekas memang, tapi masih terasa sedikit nyeri.
"Iya lah. Kalo di elus beda cerita." ia menghampiriku. Berdiri di belakang dan berlutut. "Bungkukan badanmu ke depan."
"Kakak mau apa?" aku sedikit melotot, kaget, meskipun kakak tetap melihatku datar. Kakak sadar penolakanku dan ia melihatku dengan mata tajam. Itu seperti perintah yang tidak terbantahkan. Aku melakukan apa yang ia inginkan. Ia mulai mengusap pantatku dengan sejenis lotion yang menimbulkan rasa dingin di kulit. Lumayan...
"Better?" aku mengangguk
"Aku mau kentut kak..." kakak membelalak, menaikkan kembali celanaku
"Aletha! Itu nggak sopan." aku tertawa dan berlari menghindari kakak. Ia mendapatkan tanganku dan menarik tubuhku mundur. Beruntung di belakang kakak ada tempat tidurku, ia terduduk di sana dan aku terduduk di atas pangkuannya.
"Kamu mau main main ya?" ia menggelitikki pingganggku hingga aku meronta sementara kakak mengunci perutku.
"Ahahahahah stop kak stop... Sudah sudah" aku kelelahan hanya untuk tertawa lagi. Kami berdua terengah. Tidak. Hanya aku terengah sedangkan kakak tetap duduk diam. Tiba tiba ia memeluk perutku erat dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kakak kenapa? Ada masalah?" aku berusaha menengoknya tapi bukankah manusia tidak bisa memutar lehernya 180 derajat?
"Aku cuma..." kakak menghela nafas. Seperti ada sesuatu yang berat yang akan ia katakan.
"Sudahlah. Ayo turun. Bukannya kau hari ini kamu harus masuk pagi?" o iya aku lupa!! Aku beranjak masuk ke kamar mandi dan segera membilas tubuhku. Mandi semaksimal yang aku bisa.
Kakak sudah tidak ada di kamarku setelah aku selesai mandi, jadi aku bergegas bersiap seadanya di depan meja dan sedikit berlari turun. Aku melihat lutuku yang sedikit kebiruan. Kecelakaan kecil itu masih membekas di sana. Aku mengusapnya dan tersenyum. Sedikit merasa ada kehangatan menyelimuti dadaku saat mengingat kakak mengobati lutut ini dan ia... Ia seakan... Mau... Aku menggelengkan kepalaku tegas. Berharap kewarasanku segera kembali. Mana mungkin kakak mau menciumku?! Dia kakakku! Berfikir apa aku?
"Kog sepi? Papa sama mama mana?" kakak sudah sibuk membuatkan roti bakar untukku dan susu. Ya memiliki kakak pengangguran memang menguntungkan. Ia bisa selalu bersamamu, memasakkan makanan untukmu, mengerjakan pr mu. Sebenarnya ia bukan pengangguran dalam arti real. Ia hanya menunggu waktu wisuda, karena tugas ahkirnya sudah selesai. Lagipula, seharusnya kakak bisa menyuruh pembantu di sini untuk menyiapkan semuanya.
"Kamu lupa? Sudah tua?" aku mengerucutkan bibirku. Tinggal jawab aja apa susahnya sih? Aku kan juga lupa kalau papa dan mama tidak pulang semalam. Kakak menyodorkan sepiring roti untukku dan satu lagi untuknya.
"Pulang kuliah nanti, aku jemput."
"Kenapa?" aku sedikit mendongak. Roti di piring kakak masih utuh. Berarti dari tadi ia tidak memakan sarapannya.
"Aku mau culik kamu, terus buang kamu ke tengah laut mumpung papa dan mama lagi pergi..."
"Rese!" aku melahap potongan roti terahkir.
"Sudah? Yuk berangkat."
"Kakak nggak makan dulu?"
"Nanti. Mau dijemur di lapangan? Lihat jam berapa ini?" aku melirik jam di dapur dan sudah hampir terlambat! Sial! Kenapa kakak bilang baru bilang sekarang?! Aku setengah berlari menyeret kakak ke mobil.
