Bab 7. THIS MEETING
"Aku suka ini kak." aku mengenakan gaun biru muda yang cantik. Gaun ini tidak terlalu panjang, sedikit di atas lutut dengan model bahunya yang terbuka.
"Tidak. Pilih baju lain...." Kakak benar benar menilai. Ia melihatku dari ujung hingga ke ujung dan kembali ke ujung lagi.
"Tapi kaaaaak~ warnanya bagus... Dan kata James cocok di tubuhku..." seorang pria menghampiriku, pria yang sedari tadi memilah berjubal jubal gaunnya untuk dipaskan denganku. Aku akan mudah mengingat pria itu. Bagaimana tidak? Ia pria... Tapi ia berjalan seperti berjalan di tengah laut, turhuyung huyung oleh ombak.
"Ya... Dia terlihat sangat cantik..." katanya dengan nada yang sedikit melengking. Aku cukup bersyukur mendapatkan pembelaan darinya. Meskipun aku tidak yakin dia bisa mengubah pikiran kakak.
"James.. Benar itu namamu? Tolong ambilkan gaun dengan warna yang sama, tapi lebih tertutup." arogansi kakak entah dari mana kumat lagi. Aku menghela nafas. James sedikit tersenyum di sidut bibirnya dan menghelaku masuk ke dalam lagi.
"Pacarmu terlalu protektif sayang... Si tampan yang posesif" ia memilah baju sambil sesekali meliriku yang masih memajukan bibirku kecut. Baju ini sudah sangat serasi untukku. Tubuhku terlihat bagus dengan balutan gaun ini. Tidak, kakak bukan papa. Aku sedikit berlari ke luar dan melihat kakak masih duduk di sana dengan wajah sedikit bosan.
"Kakak. Aku mau pakai gaun ini."
"Aletha..." matanya menatap tajam seperti sirine yang menandakan aku tidak suka pemberontakan.
"Please kaaaakk... Bagus sekali..."
"Kakak bilang nggak. Nggak!" kakak tidak pernah berbicara dengan nada tinggi, hanya terus datar dan dingin. Membuat siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri. Tapi aku tidak takut. Aku suka baju ini, dan tetap akan memilih baju ini.
Sebelum kami sempat melanjutkan perdebatan ini, James datang dengan badannya yang meliuk liuk.
"Ternyata kau di sini cantik. Aku sedang mencarikan baju untukmu."
Suara itu sempat membuat kakak kembali menutup mulutnya. Aku yakin ia menyimpan sejuta alasan agar aku tidak memilih gaun itu. Ia mendengus, menghela nafas sejenak, menatap James dingin
"Baik. Kami ambil yang ini." dan aku berseri. James menatapku penuh pertanyaan, tapi tak urung ia ikut tersenyum di sudut bibirnya. Seperti biasa, seperti senyum centil yang menggoda. Bahkan aku yang perempuan saja tidak yakin bisa melakukannya.
Tidak butuh waktu lama, James menyiapkan baju itu dengan sangat sempurna, dan aku masuk ke mobil dengan menenteng tas itu. Well, ekspresi kami berbeda sekali. Jika aku penuh senyum, maka kakak sedang muram sekarang. Mungkin ia masih marah. Aku sedikit mencondongkan tubuhku padanya.
"Terimakasih ya kak..." ia hanya berdehem.
"Kakak marah?" ia menghela nafas lagi, aku rasa ia sedang merilekskan tubuhnya.
"Dengar Aletha, jujur ak benci melihatmu memakai baju itu karena aku tidak berani menjamin bahwa di acara papa nanti, kau akan bisa lepas tanpa tatapan menjijikkan dari pria pria yang ada di sana." aku sedikit berfikir. Kakak terlalu berbelit belit. Aku menghela nafas bergantian.
"Sekali ini aja kaak" aku masih merengek seperti anak bayi.
"Oke..." kata kakak pada ahkirnya setelah cukup lama ia berfikir. Aku menahan jeritan bahagia dari mulutku sampai kakak membuka mulutnya kembali "Asal nanti kau selalu bersamaku, jangan pergi jauh jauh. Get it?" aku tersenyum, berseri, dan membuat kelingkingku teracung.
"Janji pramuka!" dan kakak tersenyum lagi.
***
"Ini acara apa kak?" aku melihat sebuah gedung pertemuan yang besar. Mirip ballroom hanya saja ia tidak terletak di atas mall seperti biasanya. Gaya bangunan ini juga sepeti bangunan eropa pada zaman kuno. Banyak pilar putih yang menjulang, dengan warna cat putih gading. Rumput di sekitar sini pun ditata sedemikian rupa menjadi berbagai bentuk, dengan lampu lampu hias di bawahnya. Membuat semua tanaman itu nampak hidup dan berkilauan di malam hari.
"Entah. Kata papa kita harus bertemu seseorang di sini." kakak memberikan kunci ke pelayan dan menghelaku masuk. Ramai sekali di sini. Aku bahkan hampir tenggelam di antara kerumunan orang. Aku terus menggenggam lengan kakak. Bukan apa apa. Kakak benar. Aku takut hilang. Mengingat tubuhku kalah tinggi dengan kebanyakan orang di sini.
"Itu papa..." kakak mengajaku entah kemana aku tidak tahu. Terlalu banyak orang berjas sehingga aku tidak bisa melihat papa secara jelas sampai ahkirnya mama menghampiri kami dengan tangan terbuka.
"Kalian datang juga..." mama memeluk kami berdua, dan menelitiku dari ujung hingga ke ujung. Ada yang salah? Yang benar saja jika mama harus berdebat karena gaun ini seperti yang sebelumnya kakak lakukan. Itu akan sangat memalukan.
"Aletha... Ikut mama sebentar sayang, mama akan mendadanimu. Kau pasti kepayahan di rumah ya?" mama menghelaku menuju lantai atas. Menaiki tangga setengah melingkar yang sangat sangat besar. Aku hanya tersenyum melihat reaksi mama.
Kepayahan? Aku sudah berusaha berdandan semaksimal mungkin. Bahkan kakak saja tidak berkomentar jelek saat melihatku. Yaa mungkin kakak menahan tawanya. Tapi aku yakin, kakak tidak akan sejahat itu untuk membiarkan adiknya menjadi bahan lelucon di pesta sebesar ini.
Beberapa saat mama memolesku di kamar mandi yang harus aku ulangi beberapa kali pada diriku sendiri bahwa ini kamar mandi. Aku cukup ragu karena besarnya ruangan ini. Semuanya berlapis marmer mengkilat dan ornamen yang mengagumkan. Berkelas. Aku memaut diriku di cermin. Hampir tidak percaya bahwa itu adalah aku. Yang aku lihat hanya gadis remaja yang cantik dengan bibir merah muda, bulu mata lentik dan rona merah di kedua pipinya. Aku menyentuh hasil kerja mama
"Jangan diusap sayang. Nanti rusak...." mama berdiri di belakangku ikut melihat seorang gadis di cermin. Ia melihat hasil kerjanya dengan cukup bangga. "Anak mama cantik sekali... Sekarang, mari kita turun..." mama kembali menghelaku, sedikit menarikku tepatnya karena aku masih terpaku pada cermin itu. Entah karena efek lampu yang kekuningan atau memang wajahku berseri saat itu.
***
"Ini Tuan Devian... Dan ini... Arman." mereka berdua bersalaman seperti dua orang rekan bisnis, hanya beda generasi. Lucas menatap mereka berdua dengan gugup seperti menunggu bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Jadi bagaimana kuliahmu Arman?" pria paruh baya itu mulai memecah suasana yang dingin. Ia mempersilakan semuanya duduk di meja bundar itu sambil terus menatap Arman lekat lekat.
"Baik. Cukup baik." Arman menjawab, berusaha sesopan mungkin pada pria di depannya ini. Ia tidak pernah melihat pria ini, dan tidak pernah mengenal pria ini sama sekali. Jadi bagaimanapun juga ia harus tetap waspada bukan?
"Bagus... Kita akan mulai sering bertemu sekarang" pria itu melempar senyum pada Arman. Sebuah senyum dengan sejuta arti.
Beberapa saat kemudian seorang gadis turun. Seorang gadis yang sangat ia kenal, namun tampak berbeda sekarang. Seorang gadis, yang membuatnya melupakan semua masalah. Seorang gadis yang membuat setiap hari dalam hidupnya menjadi lebih hidup dan berwarna. Beberapa orang juga melihat ke arah gadis itu. Melihat ia menuruni tangga raksasa sedangkan ia begitu mungil dan kecil. Bahkan ada beberapa orang yang melihat gadis itu, bukan terpana, tapi tergoda. Arman memberikan tatapan membunuh pada pria itu. Tentu saja, pria itu tidak tahu karena sedang asik memperhatikan paha mulus di balik balutan gaun, dan tubuh mungil yang mulus untuk dilahap.
Dia memang cantik, bantin Arman. Tapi sekarang ia lebih lebih lebih cantik lagi.
Seperti ia sedang melihat seorang gadis dewasa yang pandai menata dirinya, atau mungkin ia jelmaan dari malaikat keras kepala dan cerewet? Arman maju beberapa langkah, menghampiri gadis itu dan menggenggam tangannya erat. Tidak lupa ia memberikan tatapan tajam bagi setiap pria yang berani menelisik gadisnya itu. Arman menghelanya sampai ke depan orang tua mereka.
***
"Ini Aletha, Putri kami..." papa memperkenalkanku pada seorang pria paruh baya yang aku akui ia tidak terlihat tua dengan setelan jas yang ia kenakan.
Sangat pas di tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang dan matanya... Coklat kehitaman. Aku seperti pernah melihat mata ini. Pria yang papa kenalkan namanya sebagai Devian itu mengulurkan tangannya dan tersenyum padaku.
"Aku tidak menyangka kau punya berlian yang kau sembunyikan Lucas..." ia tersenyum pada papa. Ini seperti pertemuan basa basi biasa. Yang aku tahu adalah, tugasku hanya tersenyum pada setiap orang yang menyapaku. Aku tidak mengenal mereka, dan mereka mungkin hanya tahu bahwa aku salah satu anak dari rekan bisnis mereka. Jadi let it flow. Nikmati saja hidangannya selain itu aku tidak peduli lagi.
Kakak, papa, mama, dan Mr. Devian mengobrol dengan asiknya. Mereka membicarakan sesuatu hal yang aku tidak tahu, bahkan tidak mengerti satu cuil pun dari apa yang mereka bicarakan. Seperti aku hanya mesin penghabis makanan di meja ini. But, its okey. Aku tidak pernah keberatan. Sampai ahkirnya aku melihat satu box berkilau, dimana ada es krim vanila di dalamnya. Itu magnet, you know. Aku perlahan beranjak dan menghampiri es krim itu.
Tiba tiba sebuah tangan menghentikanku. Kakak. Ia menatapku seakan ingin berkata 'Mau kemana kau?' aku mengendikkan bahuku
"Ambil es krim" meskipun aku tidak yakin suaraku terdengar, karena aku hanya berbisik, takut mengganggu pembicaraan papa, mama dan Mr. Devian. Tanpa basa basi kakak menarik tanganku hingga aku harus maju. Ia mendekatkan mulutnya di samping telingaku, dan berbisik
"Ingat persyaratan kita bocah".
"Aku hanya ambil es krim. Dan kembali ke sini untuk memakannya. Kenapa kakak tidak bawa tali atau semacamnya agar aku tidak lepas darimu kak?!" aku sedikit mengomel di sebelah kepalanya. Aku bersyukur mereka semua tidak bisa melihat apa yang aku katakan karena kepalaku tertutup oleh kepala kakak. Yang di omeli justru tersenyum miring dan melepaskanku. Aku berjalan setengah menghentakkan kaki. Apa apa an kakak?! Memalukan...
