Bab 6. DEVIAN
"Bangun wooiii banguuunn!!" aku hafal suara ini, suara besar yang membuat jantungku seketika berhenti, dan membuat mataku langsung terbuka lebar. Tapi tidak! Aku tahu ini tipuan kakak! Aku tidak akan menyenangkan hatinya kali ini.
"Bangun bocah... Ini sudah jam 8." see! Kau kira aku bisa di kibulin kak?! Hah! Never! Aku terus berpura pura tidur, dan berharap kakak segera keluar dan berhenti menggangguku!
"Terserah! Nanti berangkat sendiri ya"
"Aku nggak akan ketipu lagi kaaakk." aku rasa cukup untuk berpura pura tidur.
"Siapa yang mau nipu? Lihat..." kakak menunjukkan jam di kamarku, menunjukkan jam di ponselnya, jam di tangannya, dan jam di meja kecil di sebelah tempat tidurku. Aku membelalak
.
"Kakak! Kenapa nggak bilang dari tadi sih?!" aku setengah berlari ke kamar mandi. Aku harus cepat cepat. Jika tidak hari ini aku akan dihukum berdiri di lapangan karena aku sudah sering terlambat. Segera setelah aku mengenakan seragam dan menggendong tasku aku menuruni tangga, dengan terburu-buru pastinya.. Sampai di tangga terahkir dan BUKKK! kenapa selalu seperti ini?! Kenapa harus ada satu anak tangga lagi, dan aku tidak melihatnya. Sial! Setengah tertatih aku berlari ke arah dapur. Aku yakin setelah ini lututku akan memar. Aku tidak peduli, yang aku bayangkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa cepat sampai sekolah atau bagaiaman caranya bisa menghentikan waktu sebentar agar aku tidak terlambat!
"Hlo Aletha... Kog pakai seragam nak?" mama menolehku dengan wajah kebingungan, sedangkan kakak yang membantu mama memotong sayur diam diam cekikikan.
"Kan mau kuliah mah..." mama menggelengkan kepala dan menatap Kakak sebentar, lalu memandangku lagi.
"Ini hari Minggu sayang..." dan tawa kakak pecah! Ia tertawa begitu bahagianya, dan mama pun tersenyum. Apa?! Apa yang lucu ha?! Aku memelototi kakak yang masih terbahak bahak hingga tidak bisa membuka matanya sekedar untuk melihat wajahku yang memerah.
"Kakaaaaaaaakkkkk!" aku sedikit berlari menubruknya dan menghujani tubuh kakak dengan pukulan pukulan kecil yang aku berikan. Bukan kesakitan tapi kakak malah semakin tertawa, di susul tawa mamah.
"Aduh aduh Aletha.. Sudah sudah..." aku terus memelototinya dan kakak hampir kehabisan nafas untuk melanjutkan tawanya yang menjengkelkan itu. "Hei.. Matamu hampir keluar adek kecil..."
"Seneng kakak ngerjain aku melulu?" ia hanya mengacak rambutku, mencubit hidungku dan berkata dengan bangga
"Sangat senang" dan aku melanjutkan omelanku...
"Arman... Sudah, jangan ganggu adikmu terus, dan Aletha... Ganti bajumu sebentar lagi kita sarapan bersama." aku mengangguk dan melemparkan tatapan tajam pada kakak memberikan dua jariku ke mataku dan mengarahkannya ke kakak. Itu tanda bahwa urusan kami belum selesai! Kakak hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaanya.
***
Hari Minggu, ya.. Hari paling aku cintai sepanjang masa. Aku bisa bersantai di rumah, makan es krim sepuasnya dan yang paling utama adalah aku tidak harus pergi ke kampus. Yey! Rencanaku hari ini adalah... Mau nonton kartun sepuasnya!!! Aku sudah membayangkan posisiku di sofa dan melihat kartun yang aku suka dengan es krim di atas meja. Surga...
"Kenapa senyum senyum sendiri? Gila?" suara kakak langsung membuat senyumku hilang. Ia berdiri menjajariku, dan hanya melihatku. Apakah dia tidak tahu aku sedang mencuci piring bekas sarapan tadi?! Apa tidak ada niat untuk membantuku sedikit pun?
"Kakak ke sini mau ganggu apa mau bantu?"
"Ganggu lah. Pake nanya" aku mengerutkan alisku. Apa apa an...
"Aku bingung, perasaan di sini yang anak gadis itu kamu, tapi yang bantu mama masak malah aku." mulai lagi...
"Kan aku belum bangun kak"
"Makanya belajar bangun pagi. Atau harus aku bangunin?" membayangkan kejadian tadi pagi, kakak tertawa dan mengundang pelototan dariku. "Masih marah?"
"Menurut kakak?"
"Yaudah..." kakak terkesan tidak peduli, mengambil piring yang sudah aku cuci bersih dan mengelapnya dengan serbet. Tapi aku tahu ia sedang berusaha keras menahan tawanya. Ya begitulah jika kau punya seorang kakak laki laki, kemarahanmu adalah hiburan paling menyenangkankan baginya.
"Gimana keadaanmu Aletha?" suara papa tiba tiba muncul dari belakang, aku membalikkan tubuhku dan tersenyum.
"Baik. Terimakasih pah." papa turut tersenyum, siratan kecewa itu hilang dari mata papa. Bahagianyaaaa...
"Hari ini papa akan pergi dengan mama, kalian berdua di rumah ya..." sebelum aku sempat menjawab, suara kakak lebih dulu menyaut, sepeti klakson kereta api. Yah seperti itulah.
"Aletha bawa aja pah.. Kerjaannya marah marah melulu"
"Kakak tu duluan---" papa menggelengkan kepala dan mengusap rambutku. Dengan lembut papa mengecup dahiku dan tersenyum. Itu yang selalu membuat aku jatuh cinta pada papa. Tatapannya, senyumannya, kasih sayangnya...
"Papa dan mama tinggal dulu ya... Baik baik di rumah nak." mama sedikit mengeraskan suaranya di ambang pintu.
"Arman, jangan godain adekmu terus..." tambah mama sambil mengenakan sepatunya.
"Nggak janji mah." mama melihat kakak sejenak, dan kakak tertawa. Dia memang tidak pernah bisa serius, aku sedikit menyikut perutnya. Dasar kakak!
***
"Es krim nya buat aku ya kaaaaakkk" aku nggak yakin kakak dengar suaraku karena jarak dapur dan ruang keluarga cukup jauh.
"Asal bukan kulkasnya sekalian yang kamu habisin bocah!" setelah mendengar itu aku yakin kakak benar benar mendengar suaraku! Aku mengambil satu box besar es krim dan sendok. Sudah terbayangkan rasa vanila dan coklat yang meleleh di mulutku. Aku sedikit berlari ke ruang keluarga, bersiap menonton kartun. Aku tersenyum.
"Kamu mau apa?"
"Kakak nggak lihat? Mau makan es krim lah. Ganti kartun aja kak.." aku mengambil posisi yang sedari tadi sudah terbayang dalam kepalaku. "Geser ahh kakak..."
"Itu lutut kenapa biru?"
"Tadi pagi jatuh pas turun tangga..." kataku tanpa melihat kakak, terus mengulum sendok es krim dan menonton kartun di layar datar itu. Tiba tiba kakak memegang kakiku, di tangannya ada semacam krim yang digunakan untuk luka memar. Sejak kapan kakak memegang krim itu?!
"Kalau dibiarin besok pasti jadi ungu." ia meluruskan kakiku di sofa dan mengoleskan krim dingin itu.
"Aduh sakit kak!" meskipun mulutku masih tertutup oleh sendok es krim, aku masih bisa berteriak, rasa perihnya menyengat.
"Mungkin sedikit lecet." selesai mengeskan krim itu kakak menatapku. Menatap dalam dalam. Bahkan aku tidak bisa melanjutkan kegiatanku untuk mengulum sendok es krim itu. Ia melihatku seperti akan masuk ke dalam diriku, dan parahnya aku hanya bisa diam terpaku pada tatapan itu. Mata kakak berwarna kecoklatan. Kenapa aku baru tahu? Kakak mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bentuk mata kakak. Ada apa ini? Aku masih tidak bisa bergerak. Tatapan itu begitu mengunciku. Aku berdoa semoga kakak tidak mendengar detak jantungku yang begitu kencang. Aku memejamkan mata, mungkin kakak akan... Akan... Akan....
"Bagi es krimnya bocah, mulutmu sudah belepotan!" kakak mengambil sendok es krim dari mulutku dan mencolek bibirku yang penuh es krim. Entah kenapa ada sebersit sinar kecewa. Kakak memundurkan tubuhnya kembali, mengambil box es krim itu dan memonopoli untuk dirinya sendiri.
"Ihhh kakak!" ia tertawa bahagia, seperti biasa. Sial!
***
Aku sudah mulai merasa bosan, kenapa papa dan mama belum pulang juga. Semua kartun dan film sudah aku tonton, aku menguap beberapa kali tapi tetap saja tidak bisa tidur. Mungkin karena aku bangun terlalu siang.
"Bangun bocah... Ayo pergi." aku langsung membuka mataku dan terduduk di sofa.
"Kemana kak?!"
"Ikut aja." kata kakak datar, mematikan tv dan berlalu mengambil kunci mobil.
Beberapa saat kemudian kami sudah duduk manis di dalam mobil hitam yang melaju. "Kakak tahu aja aku bosen, laper juga."
"Bosen? Kamu sudah nonton 1 box film.... Dan tadi bilang apa?" kakak masih melihat ke depan dan sebelah alisnya terangkat.
"Laper? Satu box es krim juga sudah kamu makan sendiri bocah..." aku menggerutu.
"Iya iya... Aku tahu."
"Ntar mama pulang, lihat persediaan es krimnya habis, dimarahin hlo." o iya aku lupa... Mama biasa membuat es krim buah untuk kami saat ahkir pekan. Sepertinya aku harus benar benar minta maaf pada mama. Mungkin kakak sekarang akan mengajakku membeli es krim sebagai ganti yang tadi? Mungkin... Tapi kenapa harus sejauh ini?!
Beberapa saat kemudian mobil kakak terparkir di depan sebuah butik bergaya eropa. Semua dinding dan perabotnya berwarna putih dengan ornamen melengkung dan bunga bungaan yang manis.
"Papa menyuruhku membelikan dress untukmu." kata kakak tiba tiba di belakangku. Aku sampai hampir melompat karena tidak sadar sejak kapan kakak berada di sana. Mungkin karena terlalu asiknya aku melihat toko ini.
"Bikin kaget aja si. Kenapa beli? Di rumah ada beberapa dress." aku membayangkan beberapa dress selutut yang tergantung rapi di lemariku. Sangat rapi karena aku hampir tidak pernah memakainya.
"Maksudmu dress kekecilan itu?" pipiku merona, ya... Mama membelikanku saat aku masih SMP dan sekarang aku sudah kuliah. Mungkin karena pertumbuhanku terlalu cepat, atau karena dress itu menyusut.
"Ayo masuk..."
***
"Dia sudah saya beritahu..." laki laki paruh baya di depan Lucas tersenyum
"Bagus... Ia sudah cukup dewasa sekarang. Ia harus tahu siapa dirinya, dan aku rasa aku harus membayar kesalahanku." semua orang tersenyum, tapi tak urung semuanya sibuk dengan pikiran dan kekhawatiran masing masing.
"Apa kami tidak bisa bertemu dengannya lagi?" Aluna menatap suaminya cemas. Ia merasa separuh dari dirinya akan hilang. Ia tahu, ia tidak seharusnya menaruh hati sebegitu besar sejak awal mula. Tapi apa daya, ia adalah seorang wanita, seorang wanita yang sangat ingin menjadi ibu saat itu.
"Untuk beberapa saat.... tidak. Ia harus mengenal kami terlebih dahulu. Setelah semunya beres, aku akan berikan kebebasan baginya."
"Awalnya ia merasa sangat terkejut dan marah. Tapi entah kenapa ia bisa menyembunyikan semua itu dengan kebahagiaan. Atau memang ia bahagia... Kami tidak tahu." Devian menatap kedua suami istri itu menyelidik. Tatapannya tajam dengan mata coklat gelapnya. Sifat arogan terpancar dari dalam sorot mata itu. Membuat Lucas adan Aluna harus berfikir dua kali untuk berbicara.
"Mungkin ia bahagia karena aku menawarkan sekolah bisnis padanya. Darahku ada padanya, dan aku yakin setiap denyut nadinya, ia mencintai bisnis, bergelut dengan bisnis dan mengambil resiko bisnis. Aku pernah melihat ia berbisnis kecil di kampusnya, menjual jasa mencetak kaos, atau membantu menulis tugas ahkir." sepasang suami istri itu sedikit terperanjat.
"Anda tahu?" Devian hanya tersenyum miring dan menatap mereka tajam. "Tentu aku tahu, aku memang membuangnya dulu, tapi aku tidak pernah menelantarkannya." dan pembicaraan itu berlangsung seperti biasanya, seperti hanya membicarakan sebuah perjanjian bisnis. Tidak lebih. Namun masing masing menyimpan perasaan bergemuruh dan pikiran pikiran di dalam kepala kecil mereka.
