Bab 5. PUNISHMENT
"Kamu dimana?" papa setengah berteriak sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku. Oke, as I said, rumah ini akan sangat damai hingga aku membuat ulah dan membuat papa marah.
"Aku pulang sendiri pah, sama temen." Well, aku lupa kalau papa memintaku menunggunya di kampus. Mampus!
"Sekarang dimana kamu?" okee ini sinyal tidak baik.
"Aku di lapangan pemuda pah." Dan papa langsung menutup teleponnya.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil hitam berhenti di pinggiran lapangan. Kaca kemudinya terbuka, dan aku bisa melihat siapa di dalamnya. Papa keluar. Dengan badan tegap dan mulut terkatup rapat. Matih aku.
Aku sudah menceritakan tetang papa pada kalian? Sepertinya belum ya? Okee aku beritahu. Papa adalah seorang pengusaha yang cukup baik. Ia dewasa, bijaksana, santun, apapun lah dari sisi baik seorang pengusaha. Papa juga sangat cinta pada keluarganya. Meskipun ia workaholic, tapi keluarga tetap di atas segalanya bagi papa. Ia selalu bercanda dan bergurau bersama kami setiap ada waktu luang. Karena itu aku dan kakak cukup menyegani papa. Papa jarang marah pada kami untuk kesalahan kecil. Tapi kalau papa sudah marah, ampunlah. Bumi gonjang ganjing mungkin.
Kalau aku bilang papa orang yang baik, bukan berarti beliau adalah orang yang perfect. Kadang kalau tingkat kenakalan kami di atas rata2, papa tidak segan-segan melayangkan tangannya. Sakit sih iya, tapi itu bukan jadi alasan aku benci sama papa atau yang sama papa lakukan. Karena memang yang salah adalah aku, seringnya sih begitu.
"Papa sudah bilang, tunggu di kampus kan?"
"Iya pah" aku cuma bisa menunduk dan mengangguk kecil.
"Terus kenapa ada di lapangan ini?" papa mengemudi dengan tenang, tapi aku tahu sebenarnya papa menahan api meledak di tubuhnya.
"Aletha lupa paaahhh. Tadi Aletha mau main basket sama temen Aletha."
"Kamu tahu kan ini acara penting buat papa Tha." Aku mengangguk lagi... Air mataku hampir keluar. Apa apan ini bahkan sebelum papa marah padaku, aku sudah ingin menangis? Dasar cengeng!
"Aletha minta maaf paaaaahh." Aku sedikit merengek tentu saja.
"Itu kenapa baju basah semua?"
"Tadi waktu main basket.... Hujan pah..."
"Oohh terus hujan hujanan sekalian gitu ya? Bagusss pinter banget kamu ya." Aku gelapan.
"Papaah jangan marah pah... Aletha minta maaf. Aletha nggak akan ulangi lagi."
"Kalau papa nggak diburu waktu, I will punish you now!" mendengar itu, mendadak jantungku berhenti, tenggorokanku tercekat, dan udara menjadi sangat kosong. Tolong tolong aku butuh bernafas!!
"Turun. Cepat temui mamamu, dan kita berangkat sebentar lagi." Aku segera bergegas turun, melakukan apa yang papa perintahkan. Karena jika saat ini aku nekat mengulur waktu, itu berarti bunuh diri!
***
"Selamat ya pah... Papah bisa memenangkan proyek besar itu." Mama mencium dan memeluk papa. Aku selalu suka melihat mereka seperti itu.
"Iya pah, Arman bangga. Keluarga mereka juga baik sekali. Kenapa proyek kaya gini di bicarakan di restoran bukan di kantor dengan laporan laporan?"
"Karena, tidak semua harus berjalan seperti yang umumnya terjadi, dan kita harus belajar dari itu." Papa melihatku, seakan berkata sesuatu tapi aku tidak bisa menerjemahkannya, akhirnya aku hanya bisa menunduk. "Ya kan Aletha?" aku mengangguk.
"Selamat ya pah..." aku mendongak dan melihat papa. Tidak ada siratan marah di sana, tapi kecewa. Aku sudah mengecewakan papa. Papa sedikit membungkuk dan melihatku.
"Rule still rule."
"Tapi pah..."
"Papa tidak menghukum mu tadi karena kita terburu buru. Kalau kakakmu melakukan hal sama, papa jelas akan menghukumnya juga kan Aletha.." aku hanya bisa mengangguk, dan diam.
"Tapi kan, nggak ngaruh kan pah? Aletha telat, tapi papa masih bisa dapat tender itu kan?"
"Bukan masalah tendernya sayang, tapi masalah etika. Kalau kamu punya janji ketemu sama orang dan kamu yang butuh, lebih baik kamu yang nunggu duluan, bukan kamu yang ditunggu. Ngerti?" aku mengangguk, penjelasan mama sedikit membuatku aku sadar kalau aku memang bersalah.
"Kalau kamu memang nggak mau ikut nggak papa sayang. Tapi ya ngabarin dulu. Kan papa sama mama jadi nggak nunggu kamu. Jadi nggak molor cuma karena kamu kan."
"Ya kan Aletha lupa mamaaaahh..."
"Emang kamu keburu kemana sih sampe lupa gitu?"
"Maen basket maaah."
"Tapi bajunya basah semua." Papa menambahkan dan aku langsung dapat bonus pelototan mata papa, aku beringsut.
"Kenapa basah?" mama melihatku bertanya-tanya. Semua diam, sebenarnya aku yakin papa dan kakak sudah tahu yang sebenarnya terjadi. Aku hujan-hujanan. Mau bagaimana lagi? Di tengah main basket hujan deras sekali, sekalian saja, Lagi pula aku sangat suka dengan hujan.
"Kamu hujan-hujanan?" kakak ahkirnya menjawab setelah hening beberapa menit. Aku Cuma diam, kenapa aku berasa diadili seperti ini?!
"Kamu tahu kan papa nggak suka dibohongi kan Aletha"
"Nggak kog pah, aku kehujanan..." aku sedikit mendongak, dan tertunduk lagi ketika bertemu dengan mata papa.
Mereka lebay! Ya... sangat berlebihan jika kalian membaca ini. Tapu tidak. Aku sangat menyukai hujan. Hujan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidupku. Tapi tubuhku berkata lain. Aku suka hujan memang. Tapi hujan bisa membunuhku, membuatku flu pada awalnya, pingsan dan ahkirnya masuk rumah sakit karena daya tahanku terus menurun.
Berulang kali bahkan setiap kalib hujan, keluargaku selalu menjauhkanku dari pintu rumah. Berjaga jaga agar aku tidak kehilangan akal sehat dan menyambut hujan dimana esok aku akan berbaring lemah di tempat tidur.
Aneh. Benar! Aku setuju dengan kalian. Aku juga tudak permah paham bagaimana aku bisa mendapatkan penyakit mengerikan ini.
"Kamu ini kebiasaan" mama pergi, menandakan mama tidak mau terlibat dalam urusan ini.
Kakak menyenggol tanganku, mungkin kakak ingin memberitahukan tanda bahaya dan menyuruhku mengatakan yang sejujurnya, tapi kalau aku bilang aku hujan-hujanan itu sama saja bunuh diri!!!
"Masih nggak mau ngaku?" papa menarik telingaku, hingga aku harus berjinjit dan memegang tangan papa yang menarik telingaku sesukanya.
"Aduuuh aduuhh pah, sakit sakit." Kakak melihatku dengan wajah datarnya, sepertinya ia sudah tahu akan berahkir seperti ini.
"Man, tolong ambilin balsem, koin, sama kemucing."
"Ke kemucing. Bu buat ap pa pah?" papa tidak menjawab. Tapi tanpa bertanya pun aku tahu fungsinya buat apa.
"Kakak please jangan ambil kemucing kak..." kakak melenggang pergi tanpa melihatku, aku kembali menatap papa.
"Papah please pah.. Please.... Ampun pah..." papa berjalan ke kamarku dan masih tetap menarik telingaku. Aku mau tidak mau mengikutinya sambil terus menggenggam tangan papa yang menarik telingaku.
"Papah ampun pah... Ampun pah. Please..." papa sesegera mungkin menengkurapkanku di atas pangkuannya.
"Papa Aletha minta maaf pah... Ampun pah, jangan hukum Aletha pake kemucing pahh.." belum apa-apa aku sudah sesenggukan di atas pangkuan papa. Beberapa saat kemudian, kakak masuk membawa pesanan papa.
"Ini pah..."
"Bawa sini kemucingnya Man." Mendengar perkataan itu aku panik dan mulai berontak dari pangkuan papa tapi semua itu sia-sia . Kuncian papa terlalu kuat.
"Iya pah iyaaaa Aletha ngaku, hujan-hujanan...." aku pikir setelah aku mengaku, papa akan membebaskan aku. Aku melihat sekeliling, kaka sudah hilang. Kapan ia pergi?! Cepat sekali.
Papa medengus. "Papa sudah tahu sebelum kamu mengatakannya, papa hanya minta kamu jujur. Papa kan sudah bilang kan papa nggak suka anak pembohong?" aku mengangguk, dan setelah aku sadar anggukanku tidak diketahui papa aku menjawab lemah 'iya'. Aku berusaha berdiri, tapi tangan papa menjatuhkan aku kembali untuk tetap tengkurap.
"Kenapa pah? Aletha kan sudah ngaku Aletha salah...."
"Rule is rule Aletha?" aku mulai lemas mendengar itu. Papa mulai menggulung bajuku ke atas dan aku pasrah. Bahkan papa mulai mengoleskan balsem ke punggungku, aku juga masih pasrah. Bagaimanapun juga aku akui aku salah.
Dan ini adalah hukumanku. Langganan. Jika tidak seperti ini atau minimal membuat badanku menghangat aku akan berahkir pucat esok harinya.
"Papa sakiit paahhh. Aduuuhhh." Aku mulai mengaduh setelah papa menggoreskan koinnya beberapa kali di punggungku.
"Pahhh. Aaahh... Please pah... Sudah sudah... Cukup. Owhhhh..." aku mulai meremas seprei dan memejamkan mataku.
"Sakit pah... Ahhh. Ampuuun. Aletha ga akan ulangi lagi pah. Sudah...." aku selalu mengatakan itu. SELALU. Tapi aku juga SELALU mengulanginya. Yahh seperti kau melihat lelehan es krim dan kau tidak bisa berhenti memakannya meskipun es krim itu akan membunuhmu perlahan. Seperti itulah kira-kira.
