Bab 4. HAPPY FAMILY
Pagi harinya aku terbangun dengan seluruh badanku merasakn pegal luar biasa. Aku membuka mata dan melihat kamarku, seperti biasa. Matahri sudah meninggi, dan sudah terdengar beberapa suara kendaraan bermotor yang lalu Lalang.
Ini sudah siang.
Aku mencoba menurunkan kakiku, melihat sekeliling dan mengumpulkan nyawaku semaksimal mungkin. Ahhh, pundak dan pinggangku terasa sangat pegal saat ini. Pasti ini karena hukuman kakak semalam, aku akan membuatnya membayar dengan memijitku sampai sembuh. Aku berjalan perlahan ke kamar mandi, mengguyur kepalaku dengan air dingin dan mengusap seluruh tubuhku, berharap itu bias meringankan.
Kaos putih dan celana pendek kolor menjadi pilihan utamaku. Jujur aku tidak terlalu banyak mempunyai pilihan baju. Hanya beberapa warna dan beberapa model. Setelah sekiranya aku layak untuk tidak disebut tukang tidur, aku turun, mencari siapapun orang yang bias memberi aku makan.
“Mamaaaaaa….”
“Sayang, mama di sini…” suara mama berasal dari dapur. Oke, ini sinyal yang baik karena berarti mama sedang membuat makanan lezat. Mama tahu aja perut aku sudah tidak tertolong lagi. Aku sedikit berlari menghampiri mama, dan melihat ia sedang memanggang sesuatu.
“Mama, Aletha lapar…” Ia tersenyum dan mengambil sebuah piring di rak.
“Nih pirinnya, nasi dan lauk nya ada di sana, mama sedang buat sponge cake, nanti kita makan sama-sama ya” senyum mama memang tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Senyum yang mampu membuatku selalu rindu untuk pulang bahkan hanya untuk melihat mama menyambutku.
“Terimakasih ma” tanpa basa-basi aku menrima piring yang mama berikan, menyendok 1 sendok nasi, mengambil sayur dan lau, serta menuangkan air di gelas. Sedikit demi sedikit, nasi di piring itu pindah ke perutku dan semuanya sempurna. Aku tersenyum kenyang, sedangkan mama hanya duduk di seberangku dan melihatku makan.
“Kenyang?” aku mengangguk puas. Ia kembali beranjak untuk mengecek kue nya.
“Mama dengar semalam ada keributan”
“Keributan apa ma?” aku mengernyitkan dahi. Mengingat sejenak. Oh! Malam itu.
“Ihhhh kakak ngadu ke mama ya?”
“Bukan kakak nak, bibi yang dengar dari kamarnya.” Mama kembali duduk, meletakkan kue yang aromanya menguar ke sluruh ruangan dan melihatku penuh kasih saying. Aku terdiam. Jujur aku tidak ingin membahas ini. Kalian tahu? Ini memalukan.
“Mmm jadi”
“Coba ceritakan ke mama Aletha…” ahkirnya aku menceritakan semuanya, semua tanpa kecuali, tentu saja dengan tambahan bumbu bahwa kakak tidak berperikemanusiaan, tangannya seperti tangan besi, dan pantatku sudah tidak mampu menanggungnya. Biasa… untuk mencari simpati. Mama mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk tanda mama memahami apa yang aku ceritakan.
“Mama tidak menyalahkanmu atau kakak, tapi perlu diingat bahwa sekarang bahaya ada dimana-mana saying, bukan hanya papa atau kakak yang bias berurusan dengan bahaya, kita pun juga. Jadi kami berusaha menjagamu, dan kami harap kamu juga bias menjaga dirimu sendiri.” Mama mengusap pucuk kepalaku.
“Ahh susah ma!!.. Dikurung aja dia biar ngga keluyuran ampe pagi” Tiba-tiba suara kakak menginterupsi. Ia masuk dari pintu garasi, masih mengenakan jaket motor dan membawa helm nya.
“Apa’an sih?!” pandanganku seakan mengibarkan bendera perang.
“Lihat aja, hari ini dia bolos kuliah karena kesiangan…” kakak berjalan melangkah mendekati mama, mencium tangan mama, dan mengambil sejumput kue yang baru saja mama angkat dari oven.
“Cuci tangan dulu Arman!” mama memukul pelan punggung tangan kakak. Kakak hanya meringis, menunjukkan semua barisan giginya dan pergi ke wastafel.
“Ha?!” aku mencari jam dinding… jam dinding.. dan ya, benar saja ini sudah pukul 12 siang. Apakah aku tidur seperti orang mati?! Aku mengira ini hari libur, pantas saja dari tadi kakak tidak terlihat dimana pun, biasanya ia selalu merusuh.
“Bukannya ini hari libur?”
Kakak menghampiriku, menjitak kepalaku dan mengambil kue mama. Ia mengambil tempat di sebelahku dan menikmati kue mama.
“Eh, libur dari Hongkong! Lihat ini hari apa… “ kakak menunjukkan hari dan jam di handphone nya. Iya, ini hari Kamis.. Duh! Sial!
“Aduh!.. kenapa kakak ngga bangunin aku sih?”
“Nggak ahh, nanti kamu ngamuk lagi. Serem tau kalo kamu ngamuk kayak macan!!” kakak tertawa kecil. Aku tahu itu ejekan.
“Kakak sudah bangunin kamu saying.. mama juga tadi sudah coba. Tapi kayaknya Aletha capek banget yah ngga kebangun”
“Iyalah… oraang pulang jam 1 pagi” mendengar itu, aku menginjak kaki kakak di bawah meja sekuat tenaga.
“Aduh!” ia lebih ke kaget dari pada kesakitan, dan kakak tertawa lepas. Kakak Sialan!!!
***
Oke, satu lagi yang ingin aku sampaikan adalah, aku memang tidak suka belajar, Aku suka mengeksplore sesuatu yang lebih dinamis dibandingkan dengan harus duduk di kelas dan mendengarkan seseorang menjelaskan sesuatu padamu, ah aku tidak tahan. Namun, kabar baiknya adalah, nilaiku tidak buruk-buruk banget, tidak bagus banget juga sih. Hanya pas.
Itu sebabnya mungkin karena kebiasaan ku yang tidak seperti anak gadis pada umunya yang rajin, rapi, sopan, santun, dan teman-temannya, kakak sering sekali menggodaku dan menjailiku.
Tidak ada sehari pun kami lewati tanpa teriakan, candaan, ejekan, dan banyak hal lain. Kami seperti tidak pernah tumbuh dewasa. Kami bahkan bias meributkan hal kecil, perkara berebut es krim misalnya karena kakak terus menggodaku, atau hanya duduk di depan TV.
Aku tidak tahu apa yang mama dan papa pikirkan tentang kami, mereka tidak pernah protes terkait hal itu. Protes sih, hanya kadang-kadang jika memang kami sungguh sangat melampaui batas. Sepertinya kami adalah gambaran keluarga bahagia saat ini. Untukku khususnya. Aku tidak pernah membayangkan jika hidupku tanpa kehadiran mereka semua.
Ya benar BAHAGIA… tunggu saja sampai aku membuat onar atau sampai papa marah besar pada kami berdua. Rumah yang sedamai surge ini akan terasa seperti neraka. Trust me.
