Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. RUDE

“Kaakkk” kataku mulai dengan suara memelas, aku tahu ini tidak akan berahkir baik. Dan lecutan itu datang

“OW! Kakak! Sakit….” Aku kira aku tidak akan menangis, tapi setalah lecutan yang entah ke berapa aku meremas sofa dan air mataku mulai keluar.

“Dari mana kamu?” Pertanyaan itu dating lagi. Seperti biasa, kakak tidak menghentikan tangannya untuk menyiksaku.

“AH! Dari… dari nonton OW! Basket kak. AHH! Kakak pleaseee” aku mulai menggerakkan pantat mungilkuku, mencoba menghindari tangan kakak.

“Kenapa bisa pulang jam segini?”

“Jadi.. OW! Aletha nganterin AAHH!! Temen pulang teruss.. AH! Please kak, sakit, please… maaf AHH!! Aletha pulang larut OW! Stop kak, please” sekarang kaki ku mulai bergerak-gerak, dan kaka dengan cepat mengunci dengan kakinya. Great! Aku tidak bias bergerak sekarang.

“Oke, dan kamu tetep aman meskipun pulang pagi?” Ini pertanyaan jebakan. Kakak mengistirahatkan tangannya di punggungku, memberikanku kesempatan untuk menjawab, dan aku… berpikir. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku, aku sibuk merasakan panas di pantatku dan apa yang akan aku katakana pada kakak. Satu-satunya yang terdengar adalah isakan ku.

“Jawab Aletha, kakak bias menunggumu semalaman” katanya mehadiahi 1 lecutan lagi.

“OW! Mmm ngg nggak kaaak..tadi.. mmm Aletha digodain or orang…” isakan ku masih belum berhenti dan aku sudah mencoba menjawab sebisaku.

“Jadi enak digodain? Besok mau diulangi lagi?”

“Nggak kak!”

“Good. Sekarang, katakana lagi apa salahmu yang lain?” Apa?! Ada yang lain? Bukankah kita sedang membicarakan pulang di pagi hari dan aku yang tidak mengabari?! Bukankah hanya itu? Oh Man, ayolah aku sudah tidak bias berpikir, mataku sangat berat karena menangis dan mengantuk secara bersamaan.

“Kakak akan membantumu mengingat adek kecil…” dan lecutan itu dating lagi.

“OW! Kakak! Bukan gitu caranya!! AHHH! Oke oke.. AAHH!!! Aku…” mmm berfikir Aletha, kenapa di situasi seperti ini otak ku sama sekali tidak berguna, astaga. Cepat, selamatkan pantat malangmu!!

Oh ya, aku tahu

“OOWWW!! I’m being rude kak AAHH!” dan kakak menghentikan siksaannya.

“Kakak tidak pernah berharap dapat jawaban seperti itu tadi dari mulutmu Aletha. Kakak tidak akan menghukumu seperti ini jika kau menjawab dengan jujur dan baik. Kakak hanya khawatir kemana kamu hingga selarut ini, dan khawatir jika ada sesuatu hal yang tidak diharapkan terjadi padamu.” Ahh kakak, kenapa tidak bilang dari awal. Jadi aku bias menghindari tangan besi kakak.

Tapi, ya.. aku sadar dengan penuh bahwa mungkin aku berlaku tidak sopan pada kakak, Aku terlalu paranoid jika kakak menghukumku karena aku pulang selarut ini. Tapi alih-alih menyelamatkanku, aku malah berahkir di pangkuan kakak dan sesenggukan.

Kakak benar. Aku terlalu ceroboh. Jika saja pria-pria yang menggodaku sangat nekat untuk mendekatiku, apa yang akan terjadi padaku?! Aku kembali membayangkan wajah dan senyuman menggoda yang mereka berikan padaku, bulu kudukku meremang. Atau bagaimana jika tidak ada ojol yang mau menjemputku, aku terpaksa harus jalan atau… menghubungi kakak!

Menghubungi kakak, akan selalu menjadi pilihan terahkir jika aku melakukan sebuah kesalaha yang sudah aku sadari sepenuhnya, Tapi akan menjadi pilihan pertaman ketika aku berada dalam situasi yang tidak baik. Kakak akan selalu ada, entah untuk melindingku, memarahiku, menjailiku, atau menghukumku.

Kakak membantuku duduk, mengusap air mataku dan mengoleskan sejenis lotion di pantatku. Ia memelukku di pangkuannya, tempat terbaik setelah aku dihukum.

“Kakak tidak bermaksud menyakitimu bocah…” aku mengangguk, mengerti.

“Maafkan aku ya kak”

“Iya, kamu sudah di maafkan” dan aku tenggelam dalam didi bidangnya, menikmati kehangatan tubuhnya dan mendengar dengan jelas degup jantungnya. Aku tidak mendengar lagi apa yang kakak katakana setelah itu, semua menjadi gelap seketika.

Pasti ada di benak kalian bahwa kakak melakukan kekerasan padaku. Ya, ia memang keras, tangannya dan pukulannya ke pantat mungilku. Tapi, cara seperti ini cukup membuat aku tahu apa kesalahanku dan tidak akan mengulanginya. Percayalah, mereka pernah melakukan sesuatu hal yang “lebih manusiawi” tapi aku kembali mengulanginya. Mungkin memang pada dasarnya aku adalah seorang yang pembangkang dan tidak pernah mematuhi aturan. Aku akan terus meperjuangkan pendapatku, mencari alas an alin jika aku merasa itu adalah hal benar, aku baru akan berhenti menjawab mereka ketika aku sadar bahwa aku memang salah.

Childish? Egois? Kepala batu?

Ya, itu aku

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel