Bab 2. LATE
Bola itu masuk ke ring. Semua orang berteriak kegirangan termasuk Aletha. Ia berpelukan Bersama teman-temanya. Tim jagoannya menang!! Siapa yang tidak girang? Mereka saling berteriak bersautan merayakan kemenangan dan euphoria yang masih sangat terasa.
“Kan, apa aku bilang, mereka menang!!!” Aletha dengan sangat antusias berteriak, sedangkan temannya yang lain terus menganggung agungkan para pemain basket. Berbeda dengan Aletha yang menikmati permainan, teman-teman Aletha menikmati ketampanan pemainnya.
“Tha.. udah jam 11, aku pulang yah” kata seorang temannya yang tidak menikmati keduanya. Si kutu buku yang baik hati. Baik, karena ia dengan patuh mengikuti permintaan Aletha untuk menonton pertandingan basket meskipun ia tidak tahu apa itu basket. Tahu… tapi hanya teori saja.
Aletha mengaduk-aduk tasnya, berniat untuk memeriksa handphone nya, dan mati. Entah sejak kapan handphone itu lowbat dan mati begitu saja, pantas ia tidak mendengar notifikasi dari kakak yang biasanya mencarinya seperti anak ayam. KAKAK!! Mampus, ia pasti mencari Aletha.
***
Sepanjang perjalanan aku melihat jalan sudah sepi dan beberapa orang laki-laki berkumpul, tak ketinggalan juga mereka menggodaku dan bersiul sekaan aku akan tertarik pada mereka. Aku membuang muka melihat itu semua. Ternyata seperti ini jalanan ketika sudah sangat larut.
Beberapa saat aku melamun, dan membayangkan ngerinya orang-orang yang menggodaku tadi, motor yang aku tumpangi berhenti. Terlihat jelas rumahku yang bertengger di pinggiran jalan perumahan. Lampu ruang tamunya mati dan terlihat sepi dari dalam.
“Minta bintang limanya ya neng” Abang ojol menyunggingkan senyum paling manis. Aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya, sebisaku. Maaf bang, aku sedang sibuk mengontrol jantungku agar tidak berdebar-debar. Pasti aku dalam masalah besar jika aku tidak bisa kabur dari kakak ataupun papa malam ini.
Oke, bukan karena mereka mengekangku, tidak memperbolehkan aku bermain dengan teman-temanku atau sekedar menikmati hobiku, BUKAN. Aku hanya akan dalam masalah jika aku menghilang tanpa kabar, persis seperti orang hilang. Papa khawatir, dan mama panik. Bias-bisa besok pagi jika aku belum pulang, nama dan fotoku akan langsung terpampang di DPO (Daftar Pencarian Orang). Oke, maaf aku lebay, tapi.. kalian harus lihat sendiri.
Aku mengendap, membuka pintu utama, dikunci! Kita putar balik, aku mencoba berjalan sepelan mungkin masuk lewat pintu garasi, dan TERBUKA!! Thanks God. Ruangan masih sepi dan lampu sudah mati, sepertinya aman. Aku mulai masuk dan melenggang santai.
“Dari mana?” DEG! Jantungku terasa akan keluar dari rongga dadaku. Suara kakak! Ia menyalakan lampu di sebelahnya dan terlihatlah dia. Pria keren, eh maksudku pria seram dengan kaos lengan pendek dan celana kolornya, menyilangkan tangan seperti biasa dan memberikan tatapan tajam.
“Kakak… ngagetin aja.” Aku meringis tersenyum. “Belum tidur kak?” bersikaplah biasa Aletha, bersikap biasa, kataku dalam hati. Aku mencoba menenangkan diri, karena sekarang aku yakin dan percaya kakak sedang tidak ingin bercanda dan mempersiapkan serangannya.
“Kakak nanya, kamu dari mana?” Ia mendekatiku. Gawat.. gawat
“Mmm, jadi gini kak…”
Hening
Berpikir Aletha, berpikir…
“Bisa bilang ini jam berapa?”
“Jam 11 kak, masih jam 11.. kakak ih” ia diam, dan masih menatapku tajam, sepertinya ia sedang mengatur emosinya, dan sepertinya jawabanku tidak tepat melihat ia tidak mengatakan apapun lagi. Aku mencoba mencari jam dinding. Sial! Dimana jam dinding berada? Mataku terus memutari tembok rumah dan ini dia.. jam 1 pagi. Apa?
“Jam 1 kak. Tapi kak, waktu Aletha pulang, masih jam 11, mungkin jam nya rusak kak, Aletha yakin” Oke oke, dari lapangan basket aku memang pulang jam 11, tapi setelah itu aku mengantarkan temanku untuk pulang, mengobrol bersamanya, menceritakan semua hal di kampus dan… yaa, mungkin memang bukan jam nya yang rusak. Aku menghela nafas. Aku dalam masalah besar.
Kakak mendengus, seperti sudah biasa mendengar alasanku. “Kenapa HP nggak bias dihubungi?” kan.. kan… aku tahu kakak akan menanyakan ini.
“HP Aletha mati kak, lowbat.” Aku tertunduk, tidak berani melihat belati di mata kakak.
“Udahlah kak, Aletha udah gede, udah bisa jaga diri sendiri. Jangan lebay gitu ah. Kan Aletha ngga tahu kalo HP nya mau mati”
“Bisa kan ngabarin dulu sebelum pergi main?”
“Lupa. Kayak kakak nggak pernah lupa aja. Udah ih Aletha mau tidur lah” Aku melangkah pergi sebelum kakak mencekal tanganku. Aku piker dengan bersikap seakan aku sudah besar. Aku akan terhindar dari masalah dan dari sidang kakak.
“Attitude kamu dimana?” Ia menarik tanganku, sembari ia duduk di sofa, memposisikanku di atas pangkuannya, dan menghadiahi pantat mungilku beberapa lecutan. Untung saja, aku masih mengenakan celana jeians ku, jadi lecutan itu tidak terlalu berarti, meskipun sakit sih.
“Kakak yang ribet! Masalah kayak gini aja jadi gede, kan aku juga ngga sengaja pulang jam segini. Lagian aku baik-baik aja kan, selamat, dan utuh”
“Oke, kakak yang ribet. Lain kali jangan pulang jam 1 ya, lebih pagi aja, kamu kan jagoan nih, kalau ada preman yang mau mencelakai kamu, biarin aja, kamu bakal pulang selamat, jangan minta tolong ke kakak” Ia mulai membuka celana jeans ku dan menurunkannya. Ini tidak baik sepertinya. Aku berusaha menariknya dengan tangan kananku, tapi sia-sia, celana itu tetap turun ke lututku.
Aku tahu perkataan kakak adalah sebuah sarkasme.
“Kaakkk” kataku mulai dengan suara memelas, aku tahu ini tidak akan berahkir baik. Dan lecutan itu datang
