Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1. PROLOG

Petikan gitar di pagi hari tidak akan bisa membangunkanmu. Suara televisi yang mengkoar koarkan berita politik tidak juga membangunkanmu. Salah satu hal yang ampuh membangunkanmu adalah kakak!

“Bangun bocah!” aku hanya menggeliat, dan menarik selimutku lebih tinggi. “Bangun!” kakak menarik selimutku dan melemparkannya menjauh.

“Apaan sih kak?” aku terduduk, mencoba membuka mataku yang demi apapun rasanya seperti mengangkat hal yang berat. Aku seketika membelalak saat melihat jam di dinding di depanku. Jam 8!! Sial! Aku kesiangan. Aku segera melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Ahh!! Aku terjerembab. Siapa yang menaruh buku di sini?!

“Kenapa kakak nggak bangunin aku lebih awal sih?! Siapa lagi yang taruh buku di sini? Bikin kesrimpet aja!”

“Aku sudah bangunin kamu dari jam 6. Kamunya aja yang tidur kaya mayat! Pake nyalahin buku lagi...” aku menggerutu dan melanjutkan perjalanan ke kamar mandi.

Sedikit bergetar memang, airnya seperti es. Tidak biasanya sedingin ini. Tapi aku tidak peduli, aku harus segera ke kampus. Ada hal penting yang harus di kerjakan. Aku bergegas menyiram seluruh tubuhku, aku tidak peduli aku mandi dengan bersih atau tidak ayau melakukannya dengan benar atau tidak, nanti sore juga mandi lagi kan? Beberapa menit kemudian aku keluar, aku melihat ke sekeliling kamar, dan kakak sudah hilang. Mungkin ia mulai bergabung dengan yang lain untuk sarapan. Aku sedikit berlari, memilih baju, mengenakannya, menyisir rambutku, membawa peralatan seperlunya dan memasukkannya ke dalam tasku.

Sedikit melompat aku menuruni tangga dengan tergesa gesa. But wait, sepi sekali di sini. Aku melongok ke bawah. Kemana semua orang? Jangan jangan aku sendirian di rumah, semua orang sudah meninggalkanku. Aku mencoba menuruni tangga lagi, lebih ke bawah lagi dan aku mendengar suara dari dalam dapur. Siapa itu?! Apa dia pencuri? Kemana semua orang?! Aku mendekat dan bhhaa!!!

Mama....

“Kamu ini ngagetin mama aja. Tumben sudah bangun, sudah mandi pula.” Aku sedikit mengerjap.

“Hlo papa mana mah? Kog rumah sepi banget?” Aku kira aku akan di tinggal sendirian di rumah, ternyata mama di dapur. Well, aku merasa sedikit lega.

“Belum bangun. Ini masih jam berapa sayang?” aku melihat jam di dinding dapur. Aku sedikit mengernyit, mencoba memperjelas penglihatanku. Jam 5? Jam 5?! Aku membelalak!!

“Ini bener jam 5 mah?”

“Iya. Kamu kira jam berapa?”

“Tapi tadi jam di kamar Aletha itu jam 8 mah... Pas kakak bangunin aku tadi__” sial!

“Kakaaaakk!!!” aku dikerjai lagi. Awas aja... Aku berlari ke kamar kakak, aku bersumpah aku akan menjitak kepalanya, mengahbisi tangannya yang usil. Dasar!

“Kakak keluar!” semua tenaga aku keluarkan untuk menggedor kamar kakak. Beberapa kali aku mencoba tapi kakak masih belum menampakkan diri. Pasti dia tertawa di dalam sana. Sial! Sial! Sial! Aku mundur beberapa langkah, bersiap akan mendobrak pintu itu. Saat aku mulai berlari dengan penuh persiapan, kakak membuka pintu dan BRUKK!!! Aku menabrak kakak. Kami jatuh bersamaan. Untungnya aku jayuh di atas kakak, jadi tidak begitu menyakitkan.

“Aduh... Ngapain sih kamu?” aku berusaha berdiri., dan langsung memelototi kakak.

“Kakak yang ngapain?! Ngerjai aku ya? Ini masih jam 5 kak!” kakak berhasil berdiri dan menatapku dengan senyuman. Benar kan! Ihh.

“Biar kamu belajar bangun pagi.” Kakak Beranjak dan meninggalkanku ke kamar mandi.

“Kakak mau kemana? Pembicaraan kita belum selesai!” aku menggedor pintu kamar mandinya, ia melongokan kepala dan menatapku masih dengan senyuman.

“Kalau begitu, ayo masuk, kita selesaikan pembicaraan di dalam.” Apa kakak gila?! Aku mendengus, aku tahu pipiku memerah. Sebelum kakak berhasil melihatnya aku mundur dan kembali duduk di tempat tidur. Menunggu kakak untuk membicarakan kelakuannya.

“Apa yang mau dibicarakan bocah? Gaya mu aja sok dewasa.” Kakak mengusap rambutnya dengan handuk, dan berjalan menghampiriku.

“Kenapa kakak tega membangunkanku sepagi ini?” Ia mulai menampakkan wajah menyebalkan, berpura-pura berpikir dengan sebelah alisnya terangkat ke atas. “Kakak! Dasar jahat!!!” aku memukul lengan besarnya, meskipun aku sadar, sekeras apapun aku memukulnya ia tidak akan kesakitan.

“Kamu mau menghajarku haa bocah? Sini kamu dasar bayi...” kakak menubrukku, sedikit menindihku hingga aku tidak bisa bergerak dan menggelitiki pinggangku. Aku meronta, tertawa terbahak bahak hingga aku merasa tidak mampu lagi untuk tertawa. Kakak sialan!

“Sepagi ini kalian sudah buat keributan?” kakak menghentikan siksaannya, dan kami pun menoleh ke pintu. Papa! “Ayo turun, apa kalian tidak kasian mama menyiapkan sarapan sendiri?” papa tersenyum. Ya, dia papaku. Lelaki pertama yang aku cintai. Orang pertama yang membuatku merasa nyaman dan aman. Ia jarang marah, seharunya begitu. Karena aku termasuk bocah bandel, jelas ia lebih sering marah padaku. Sedikit menyebalkan sih, tapi tidak bisa dibohongi bahwa itu kebanyakan memang salahku.

“Iya iya pah. Kakak nih rese!” aku menyingkirkan badan kakak dan beranjak pergi meninggalkan kamar.

“Arman, papa perlu bicara.” Samar Samar aku mendengar suara papa yang sepertinya serius. Dan setelahnya, aku tidak melihat kakak mengikutiku turun. Mungkin mereka memang membicarakan sesuatu yang serius. Masalah laki-laki mungkin. Mungkin. Tapi aku ingin tahu.. Kira-kira apa yang papa bicarakan pada kakak ya?

“Papa sama kakak lama amat. Keburu sup nya dingin nih mah.” Aku mulai merengek di meja makan.

“Sabar sayang... Keburu laper ya?” mama menggoda. Sebenarnya bukan itu sih. Aku hanya ingin tahu apa yang mereka bicarakan sampai selama ini. Apa mungkin pala marah pada kakak? Tapi kenapa marah? Kakak kan jarang nakal.

Beberapa saat kemudian aku lihat kakak dan papa menuruni tangga sambil tertawa dan mengobrol berdua. Sepertinya hal yang mereka bicarakan adalah hal yang menarik. Maksudku tidak seserius yang aku kira, maksudku tidak harus membutuhkan perhatian yang besar, maksudku... Ah lupakan.

“Kak... Kakak habis ngapain?” aku berbisik di telinga kakak saat kami semua hampir memulai sarapan.

“Mau tau?” aku mengangguk. Ia memberikan pertanda dengan jarinya agar aku mendekat. Saat aku mulai mendekat, ia menekankan telunjuknya pada dahiku dan mendorongku mundur.

“Anak kecil nggak boleh sok pengen tau!” sial! Aku mengerucutkan bibirku, dan memukul lengannya lagi.

“Aduh sakit... Ampun Aletha...” aku tahu itu sindiran, karena setelah mengatakan itu ia tertawa terbahak bahak. Sialan!

“Kakak ni hlo mah...” aku melihat mama dengan muka memelas.

“Arman... Sudah ah, ayo sarapan.” Kakak Menghentikan tawanya yang terlihat sangat puas. Tapi aku tahu sebenarnya kakak masih menahan senyum-senyum cekikikan. Awas aja nanti kalau sudah keluar dari rumah!! Aku akan intrograsi kakak sampai ngaku.

Beberapa saat kami menjalani ritual makan bersama, berdoa bersama dipimpin oleh papa, dan selanjutnya makan. Tidak butuh waktu lama untuk sarapan karena waktu terus berjalan. Benar kan?

“Aletha tadi bangun pagi-pagi hlo pah. Sudah mulai rajin sekarang....” mama tersenyum sambil memberesi beberapa piring di meja makan.

“Iya? Tumben. Ada apa bangun pagi?”

“Kakak sih pah. Dia bohongin aku. Katanya sudah jam 8.”

“Eh aku nggak bilang sudah jam 8 ya.”

“Tapi jam di kamarku jam 8 paaahh.”

“Hlah kog bisa gitu?” papa menahan senyum.

“Arman ganti.” Kakak mengatakan itu tanpa dosa. Ia hanya terus meminum tehnya sedikit demi sedikit.

“Tuh kan pah...” sebelum aku berhasil melampiaskan kejengkelanku pada kakak, papa memisahkan kami. Sial! Lihat saja, ini belum selesai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel