Bab 13. LEARN
Lembar demi lembar materi aku bolak balik damn mencoba menyerap initisarinya. Ah! Ini menyebalkan! Membaca materi tanpa penjelasan dosen itu bukan hal yang mudah ternyata, mungkin ini yang di sebut sebagai karma ketika aku mengatai Pak Andrew adalah dosen yang membosankan.
Sebenarnya aku masih cukup beruntung memiliki Lexi yang dengan senang hati mengirim semua materi dan buku catatan, tapi tolong… belajar sebanyak ini juga bukan kegiatan yang menyenangkan. Setidaknya menurutku seperti itu.
“Gimana bisa masuk materinya kalau kamu ogah-ogahan gitu?” kakak menghampiriku dan berdiri bersandar di samping meja belajar. Aku menegakkan badan, melihat ekspresinya dengan malas.
“Banyak banget kak.. Lagian papa ga kira-kira kasi hukumannya.”
“Hlah.. bukannya lebih baik kayak gini dari pada kamu kena spanking…”
“Mendingan aku di spanking, langsung kelar.”
“Oke. Paaapaaaaaahhh” suara kakak lantang sekali. Aku bergegas berdiri dan menutup mulutnya meskipun aku harus berjinjit untuk melakukan itu, karena demi apapun kakak sangat tinggi semampai.
“Kakak! Apa-apa an sih!!”
“Katanya mau di spank, yaudah aku ngomong papah” ekspresi nya tanpa dosa. Menyebalkan!
“Dih, bukan gitu maksud aku… Kalo kakak ke sini cuma buat ngegodain & ngeledek mending keluar aja deh, Aletha lagi pusing” tu marah. Ya, aku marah.. Tapi kakak tidak pernah merasa kemarahanku adalah hal yang patut untuk ditakuti. Ia mendekat, mengusap pucuk kepalaku kasar dan melihat materi ku lebih detail.
“Mau dibantuin ngga? Jangan marah-marah dong” dan senyum memikat itu kembali. Siapa yang tidak takluk dan meleleh melihat itu? Aku mengangguk tanda sudah menyerah untuk mempelajari ini sendiri.
Kakak mengambil kursi dan mengambil tempat untuk duduk di sebelahku. Ia menatap dengan serius setiap paragraph dan penjelasannya di sana. Ia kemudian mengambil sebuah pen dan kertas, menggoreskan seuatu di sana.
Jujur saja aku lebih tertarik untuk melihat ekspresi serius kakak dibanding dengan apa yang ia tulis di atas kertas itu. Ia nampak berfikir, sesekali dahinya berkerut dan alisnya nampak menyatu. Dari samping sini, aku bisa menelusuri tulang rahang kakak, ke dagu dan naik ke mata tajamnya. Mata yang selalu membuat aku takut ketika ia marah, membuat aku merasa bersalah ketika ia kecewa, dan membuatku adalah wanita paling berharga ketika ia menatapku begitu dalam.
Begitu banyak ekspresi yang kakak tunjukkan, dan aku bisa menghapal semuanya. Kenapa? Karena kadang kakak juga masuk ke dalam mimpiku. Mimpi konyol yang sering terjadi saat aku kecil dimana kakak akan menjadi superhero yang melindungku, melawan anak-anak brandal sialan itu.Yahhh meskipun bisa dibilang kelakukanku juga seperti berandalan menyebalkan jika aku nakal.
“Jadi, kamu bisa pakai flowchart ini jika kamu merangkum semua proses, dari sini, per bagian dan prosesnya bisa kamu jelaskan tentang spesifikasi mesin, input outputnya, dan parameter apa saja yang akan di ambil….” Aku masih terlalu terpaku melihat kakak. Ia menyebalkan memang. Tapi aku yakin dengan sangat, kakak adalah orang yang paling menyayangi aku selain papa dan mama.
“Kamu dengerin kakak ngomong ngga?” Lamunanku terhenti. Dan mengerjap beberapa saat untuk memfokuskan dan mencoba menerka apa yang kakak jelaskan. Aku melihat ke dalam kertas dan pen yang ia pegang, menelusurinya dan membacanya perlahan. Semua seperti lebih sederhana dibanding aku harus membaca penjabaran yang ada di materi ini.
“Denger kaaak… akan butuh waktu buat memahami…”
“Bilang aja ngga ngedengerin dari tadi, Ngeles mulu kaya angkot. Heran” aku hanya tersenyum memamerkan barikan gigiku di depan kakak.
“Dari sini udah paham belom? Coba kamu buat studi kasus yang A nanti kita pindah ke bab yang lain… aku yakin, soal yang papa kasi ngga akan se-sederhana ini?”
“Hah? Emang ia kak?” aku hamper tidak percaya. Papa kan bukan dosen.
“Dih, kamu meng-underestimate papa? Ini mata kuliah industry, kamu kira papa sekarang sedang mengelola bisnis apa?”
“Banyak” kataku polos. Kakak memutar mata.
“Ya, tapi ini konsep dasarnya. Flowchart ini ngga cuma bisa dipakai untuk di produksi, tapi semua aspek indstri, ini bagian dari perencanaan. Kamu kuliah kemana aja? Bolos mulus sih!!!”
“Kan kan mulaiiii…”
“Kakak sih jujur,,”
Dan begitulah seterusnya kakak mengajariku. Aku mulai berpikrian bahwa kakak sangat cocok untuk menjadi dosen, kenapa ia tidak mengajar saja? Buktinya aku lebih paham dijelaskan oleh kakak dibanding dengan dosen aku di kampus.
Tapi… jika kakak jadi dosen, ia akan digandrungi semua mahasiswi kampus, dan AKU TIDAK RELA. Kak Arman adalah kakak ku dan akan selamanya akan menjadi kakakku!!!
