Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14. THIS PLACE

"Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu acara wisuda, surat kelulusan dan Anda sudah menjadi bagian dari kami." seorang pria tua di seberang sana berbicara dengan terperinci pada Arman melalui telepon genggamnya. Ia adalah asisten Devian. Ralat! Salah satu asisten Devian. Arman mengangguk mendengarkan penjelasan pria itu, ia cukup paham tapi belum bisa menerima semua informasi itu. Ia hanya sibuk berfikir bagaimana cara mengatakan pada...

"Siapa kak? Serius amat..." Dia. Gadis ini.

Bagaimana caranya mengatakan pada gadisnya ini? Bagaimana ia akan menghadapi tatapan menyipit yang sudah bisa ia bayangkan bahkan sebelum Arman mengatakannya. Belum lagi dengan pertanyaan memberondong dan tatapan kecewa dan sedih yang akan tercermin di manik matanya.

"Temen aku."

"Oh... Kita mau kemana kak?" Arman menoleh, tersenyum miring.

"Guess where..." dan ia menjalankan mobil dengan tenang. Sepanjang perjalanan Aletha banyak bercerita, tentang pelajarannya, sahabatnya, dosenya, dan semua setiap detik pada hari itu yang ia alami. Arman menghela nafas pelan. Ia akan sangat merindukan suara berisik ini. Merindukan setiap momen bersama adik kecilnya ini. Bagaimana mereka menghadapi setiap hal bersama, mengahbiskan setiap waktu hanya untuk menggodanya, membuat gadis ini mengomel tiada henti dan ahkirnya mereka berdua tertawa bersama. Oh… pikiran it uterus berkecamuk dan terlintas di pikiran Arman. Selamat! Sekarang tidak ada waktu kosong pun untuk tidak terpikirkan dengan gadis ini.

"Pantai!!!" Aletha berteriak sekencang kencangnya. Sepertinya itu bukan suara dari manusia karena Arman harus sedikit menutup telinga mendengarnya. Mungkin ketika mama hamil Aletha, ia ngidam sejenis pengeras suara... Mungkin… atau tidak sengaja mama menelan speaker kecil sehingga suara bocah sekecil ini bisa sekencang dan semelengking itu.

"Kenapa kita ke sini kak?" mata kecil itu menatap Arman dengan keheranan. Mungkin ia pikir, jarang sekali Arman mengajaknya ke sini dengan suasana damai. Biasanya mereka akan rebut dan bertengkar terlebih dahulu sebelum Arman mengabulkan keinginannya.

"Ya udah pulang..." belum sempat Arman mengatupkan mulutnya ia mendapatkan hadiah pukulan pukulan kecil di bahunya. Mungkin itu adalah tenaga terbesar yang Aletha punya untuk memukul seseorang. Bagaimana nanti kalau ia menghadapi bahaya, dengan preman preman kampus misalnya. Ya, itu memang terlalu ekstrim... tapi mengingat betapa ceroboh nya gadis ini. Pikirannya kembali bergelung gelung bingung.

Aletha memang sudah dewasa secara usia. Namun, tingkahnya sama sekali tidak mencerminkan itu. Ia sangat hobi meletakkan dirinya dalam bahaya. Contoh yang paling sering adalah hujan-hujanan. Ia akan melakukan itu dengan kesadaran penuh bahwa mungkin hujan bisa membunuhnya. Orang dewasa yang waras tidak akan melakukan itu, Arman yakin.

Karena itu sebenarnya sangat berat untuk mengatakan yang sejujurnya pada Aletha sekarang. Oke, selain karena perasaannya, ia lebih khawatir bocah kecil ini akan kehilabgan akal dan membahayakan dirinya sendiri.

"Aku suka pantai kak. Aku sudah berapa kali bilang sama kakak? Hahaha. Aku mencintai semua ini. Anginnya, dedaunnya, suara deburan ombak, air laut yang menggulung, dan..." dan kakak. Ia menoleh, tidak sadar memang, tapi tatapan itu langsung masuk ke dalam. Mereka saling bertatapan sejenak. Sejenak yang lama. Saling memandang dan meneliti satu sama lain. Saling memandang dan menikmati debaran jantung mereka. Saling memandang dan tenggelam satu sama lain.

"Maaf kak..." Aletha mundur. Ia mengedipkan mata cantiknya beberapa kali dan memandang lurus ke depan. Melihat hamparan air yang berlomba lomba menuju ke pasir pantai. Membuang ingatannya tentang tatapan kakaknya dan mencoba untuk bersikap sewajar mungkin, meskipun di dalam hatinya, jantungnya sudah meronta untuk keluar. Mungkin angin yang lewat bisa mendengar seberapa kencang degupan jantung itu.

Tatapan itu. Aletha pernah melihatnya beberapa kali pada Arman. Namun , kali ini terasa berbeda. Seakarang mereka ingin mengatakan suatu hal yang tidak bisa di ucapkan sekarang. Atau mereka saling mengirimkan sinyal yang tidak dapat dijabarkan dengan perkataan. Perasaan aneh yang seharusnya tidak terjadi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel