Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12. CONSEQUENCES

“Terimakasih Lexi” kataku ahkirnya dalam telpon. Lexi terhenyak, ia sepertinya baru menyadari apa yang sudah ia lakukan.

“Aletha, maafkan aku.. Aku hanya khawatir terjadi sesuatu hal sama kamu” aku aku diam, aku mematikan ponselku tanpa mengatakan apapun.

Aku memang tidak terlalu dekat dengan Lexi, namun kurang lebih ia tahu bahwa kakak sangat-sangat super protektif padaku, dan akan marah dengan setiap kenakalan yang aku lakukan. Memang pada awalnya ia akan tertawa terbahak-bahak karena tidak percaya ada manusia sedewasa aku yang masih diawasi dan diperlakukan seperti bocah berumur 5 tahun. Bagaimana lagi? Aku tidak suka dan tidak mau untuk segera menjadi dewasa. Menurutku masalah mereka rumit. Lakukan saja apa yang mau kalian lakukan. Simple.

Jangan salah sangka terlebih dahulu, meskipun Lexi tahu kakak atau papa akan marah, ia tidak pernah tahu bagaimana cara mereka mendisiplinkanku, atau cara papa mendisiplinkan kakak. Aku tidak bias membayangkan jika Lexi mengetahuinya, bola mata nya akan terlepas mungkin atau mulutnya menjadi semakin lebar karena begitu puas menertawaiku. Jujur, itu hal yang memalukan sebenarnya.

Kalian pikir aku akan segera berkemas dan kembali ke kampus karena aku masih ada kelas yang harus ikuti atau pulang ke rumah setelahnya seperti anak baik-baik yang menghindari masalah? Oh tentu tidak. Aku bergegas sekarang atau nanti, aku pasti dalam masalah besar. Hanya tinggal menunggu nasib, apakah papa atau kakak yang akan menghadiahi aku dengan ceramah dan lecutan itu. Oh… aku sudah bias membayangkan akan berahkir seperti apa, dan bulu kudukku meremang. Ternyata bukan hal mudah untuk membayangkan sesuatu yang tidak menyenangkan meskipun hal itu pernah kita rasakan berkali-kali.

Jadi aku putuskan untuk tetap di sini hingga jam kelas aku berahkir pada hari ini. Biarlah masalah nanti menjadi urusan nanti. Bukankah nanti butuh tenaga yang cukup lumayan? Oleh sebab itu aku harus merefresh tenagaku, dan aku menyandarkan tubuhku santai.

***

“Sepertinya ada yang mau Aletha certain mah” suara papa tenang, senyumnya masih mengambang, dan sendok makan sudah tertelungkup bersilang di atas piringnya yang sudah kosong. Ya, kami sedang berada di meja makan sekarang, selesai untuk proses yang dinamakan makan malam. Aku menatap papa dan mama bingung. Apa yang mau aku ceritakan? Aku kembali menatap kakak, dan ia hanya terdiam dan mengendikkan bahu, pertanda ia juga tidak mengerti apa yang dimaksudkan papa.

“Apa sayang?” jawaban mama lembut.

Aku masih melihat papa. Meminta petunjuk apa yang harus aku katakan dan tetiba bayangan akan aksi ku siang ini melintas. Tunggu, kenapa jadi papa yang memulai pembicaraan ini? Bukankan tadi Lexi menghubungi kakak? Itu berarti yang seharusnya tahu lebih dulu adalah kakak.

Oh! Atau sebenarnya kakak sudah tahu dan mengatakannya pada papa. Dasar tukang ngadu! Aku melihat kakak dengan tatapan melotot yang tajam berharap kakak akan mundur dan mengakui kesalahannya, namun yang aku dapat hanya lah gelak tawanya.

“Mata Aletha kayak mau copot lihat deh pah…” dan aku menginjak kaki kakak sekuat tenaga.

“Aku tidak tahu menahu apa-apa gadis kecil…” kata kakak pada ahkirnya masih tidak mau mengakui kesalahannya. Ini tidak masuk akal jika papa tahu bukan dari kakak, siapa lagi yang memberitahunya?!

“Kog papa bias tahu?”

“Tahu apa?” tanya mama ahkirnya penasaran.

“Ia membolos kelas hari ini dan pergi ke mall” kata papa santai namun cukup serius untuk memandangku.

“Papa tahu dari siapa? Kakak kan pasti? Dasar kakak tukang ngadu!”

“Dih!” kakak menampakkan wajah tidak terima dengan sebutan itu.

“Papa lihat kamu ngopi di sana. Papa juga ada di sana, meeting dengan client untuk lihat project baru di sekitar sana” ah! Damn! Aku akan mengingat sampai ahkir hayatku bahwa aku tidak akan pernah ke sana lagi di jam kuliah.

“Tapi pah, kenapa papa tidak manggil Aletha?”

“Papa mau lihat, ngapai kamu di sana di jam seperti itu.”

“Kan Aletha kuliah pah, jam nya flexible.. Aletha lagi istirahat terus bosen di kantin dan pindah ke sana”

“Oke, jadi jam istirahatnya dari pagi sampai sore ya?”

“Siang pahh”

“Menjelang siang. Jam 10.30 belum termasuk jam istirahat Aletha. Dan papa yakin, kelasmu tidak akan sekosong itu karena kamu masih masuk di semester awal. Bener kata papa?” Oh ayolah tidak ada waktu dan tempat lain untuk membahas ini. Tolong ini di jam makan malam dan di atas meja makan ini. Haruskah hal seperti ini dibahas di sini?!

Aku diam

Papa diam

Kakak diam

Mama juga diam.

“Iya Aletha salah pah.. papah mau hukum Aletha ya?”

“Kenapa bolos Tha?” kata mama pada ahkirnya.

“Bosen mah, ngga masuk loh pelajarannya, dosennya ngga bias nerangin, dari pada aku ketiduran di kelas kan mending Aletha keluar. Lagi pula kalo kaya gitu, mending Aletha baca materi sendiri dah” bibirku sudah sangat lebih maju yang menggambarkan posisiku antara aku memang salah, namun aku tetap harus membela diri.

“Papa Cuma mau kamu belajar, setelah ini kamu pelajari materi kuliah kamu hari semuanya”

“Semua pah?” aku beri tahu hari ini ada 3 kelas yang tidak aku ikuti, dan tolong materi kelas itu bukan hanya selembar dua lembar.

“Iya.”

“Tapi pah, Aletha dapat materinya dari mana?”

“Kamu nggak punya temen?”

“Tapi pahhh itu banyaaa”

“Oke, 2 bab setiap materi”

“Apa? Tapi papaaahhhh”

“3 bab” aku diam. Aku paham betul, ini bukannya saat yang tepat untuk mendepat papah

“Oke oke.. Aletha akan belajar”

“Nanti selesai belajar, papa akan ngasi kamu studi kasus.”

“Apa?! Ini kan bukan ujian pah. Aletha bukan anak kecil lagi”

“Tapi kelakuan kamu menunjukkan kayak gitu…”

“Ahh papaaaaahhh” aku merajuk pada ahkirnya.

“Masih kurang materinya?” papa mengatakan semua itu dengan santainya tanpa ekspresi marah sedikitpun. Baiklah…

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel