Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11. ESCAPE

Aku menguap untuk kesekian kalinya. Mata kuliah ini sangat membosankan, aku tidak pernah mengerti kenapa di jurusan ilmu pengetahuan seperti ini, ilmu tentang social perlu disisipkan, dan yang aneh adalah, itu mata kuliah wajib!!! Tak habis piker, sebentar lagi mungkin aku akan tertidur pulas di atas meja ini. Suara itu sayup-sayup lebih terdengar seperti dongeng disbanding dengan kelas kuliah. Aku harus menyelamatkan diriku!!!

Perlahan namun pasti, aku melipir dari barisan mahasiswa. Aku gambarkan pada kalian, ruang kuliahku bukan ruang kuliah yang seperti kalian bayangkan, seperti auditorium besar, dimana pintu akan bersandingan dengan dosen ketika mereka mengajar. Beruntungnya pintu ada berada di barisan paling belakang tempat duduk mahasiswa, sehingga sangat memudahkan akses keluar masuk tanpa harus menghadapi puluhan mata yang menanyakan “Mau kemana ni bocah?” atau tatapan dosen “Sedang apa dia keluar masuk”. Jadi, yahh bias dibayangkan, aku bias keluar dengan mudahnya.

Daaannn inilahhhh, udara luar yang aku rindukan dari 30 menit yang lalu. Oke, aku berlebihan, namun memang itu yang aku rasakan sekarang. Sekarang, mari kita pilih tempat untuk menghabiskan waktu. Mmm kantin? Bukan pilihan yang menyenangkan sepertinya, mengingat pilihan makanan dan tempat yang selalu penuh dengan mahasiswa jurusan lain. Oke, kita ganti tujuan… Bagaimana kalau aku pergi berjalan-jalan keluar, pesan saja taxi online atau ojek online yang bias membawa aku ke mall. Lumayan, sekalian cuci mata bukan? Great!!! Itu ide yang bagus..

***

Mall terasa selalu sangat ramai di sini. Banyak sekali orang-orang yang tidak hanya berbelanja, mereka mungkin memiliki tujuan yang sama denganku yaitu cuci mata, melepas kebosanan mendengarkan kuliah. Haha. Mungkin saja.

Aku duduk di sebuah coffee shop, mengambil tempat di dekat balkon di lantai dua, merasakan hembusan angin dari sini. Harus diakui bahwa angin pantai memang paling baik dan nyaman dibandingkan dengan udara atau angin apapun. Jika kalian bias mencium aroma laut dan air dan mendengar deru ombak di pantai, lain hal nya dengan di sini, kalian akan mendengar deru mesin, dan mencium aroma kesibukan semua orang.

Coffee latte, selalu menjadi andalan dan teman saat aku sedang ingin merenung seperti ini. Merenung? Bukan bukan.. Lebih tepatnya melepaskan kebosanan. Ahhh semuanya menyenangkan ketika ponselku bergetar dan nama Lexi terpampang di sana.

Lexi. Ia adalah teman kuliahku, kami cukup dekat, namun tidaak sedekat yang dipikirkan. Jika aku tidak menemukan Lexi ketika masa orientasi, maka sampai sekarang aku tidak akan pernah mempunyai teman.

Berbeda denganku, Lexi adalah seoarang yang sangat rajin untuk kuliah. Ia tidak pernah melewatkan kelas apapun, kuis apapun, tugas apapun dan ujian apapun. Dan ia lah yang menjadi sumber catatanku untuk saat ini. Hei, don’t blame me! Aku bukan memanfaatkannya, sebut saja kami adalah symbiosis mutualisme. Lexi rajin, yaaa benar. Namun untuk soal-soal perhitungan dan penjabaran, aku sering membantunya. Anggap saja kami saling menguntungkan untuk menyelamatkan nilai kami dari keburukan.

“Ya?”

“Aletha! Kamu dimana? Ahkirnya kamu jawab telpon aku” suaranya mulai panik. Satu lagi, Lexi adalah orang yang sangat mudah mendapatkan serangan panik.

“Kenapa?”

“Nggak kuliah? Kamu ngga masuk kelas Pak Andrew? Dia baru saja memberikan kita kuis!!!” kan kan… sudah aku ceritakan pada kalian sebelumnya. Jika sekali saja ia tidak mengikuti peraturan atau agenda dari kampus, ia akan merasa hidupnya tidak berguna.

“Terus?”

“Nilai itu bias bantu kita di ujian nanti.”

“Ahh paling cuma berapa persen aja kan?”

“75% Aletha!!!. Karena susahnya soal kuis ini mirip dengan soal ujian!!!” Gila!! Bobot yang lumayan nih. Sial! Kenapa di saat aku tidak ada, bantuan itu selalu dating? Yasudah, mau bagaimana lagi. Toh aku juga sudah di sini.

“Sekarang kamu dimana?”

“Ngopi.” Kataku santai. Aku bias merasakan Lexi memutar bola matanya. Seperti sudah hafal dengan kelakuanku serta sudah menyerah untuk menasehatiku.

“Aku tahu, kamu mau nyeramahin aku kan? Ayolah Lexi, dia dosen membosankan. Sangat membosankan. Hanya karena dia tampan bukan berarti kelas nya menjadi sangat menarik”

“Iya.. aku ngerti. Tapi kamu harus perhatiin lagi nilaimu Aletha. Lihat, hari ini aja kamu seperti membuang kesempatan bukan?” oke, Lexi memang seseorang yang mampu dan sangat bias berfikir lebih dewasa jika dibandingkan denganku. Tidak perlu menuntu pengakuanku, aku sudah menyadarinya.

“Oke Bu Lexi, saya tidak akan mengulangi lagi untuk kabur dari kelas.” Kataku setelah Lexi menyelesaikan pidatonya.

“Aku sangat khawatir kaj menghilang begitu saja. Aku sampai-sampai enghubungi kak Arman untuk menanyakanmu” Aku membelalak!. Lexi bodoh! Kenapa ia langsung menghubungi kakak! Bukan kah ia bias langsung menghubungiku?

“Kak Arman?! Kenapa kamu nggak nelpon aku dulu?!”

“Aku sudah coba, tidak kau angkat. Coba cek di ponsel kamu berapa kali miscall dari aku?” aku menjauhkan posel dari telingaku dan melihat notifikasi di bagian bar atas. Dan benar saja, Lexi sudah menghubungiku sebanyak 8 kali. Wow, mengejutkan sekali, kenapa aku tidak merasakan adanya getaran-getaran.

Ah sudahlah, aku menaruhnya dalam tas punggungku, mungkin terhalang dengan buku atau barang lainnya. Yang terbersit di benakku sekarang adalah, kakak pasti sudah mengira bahwa aku membolos kelas. Terimakasih Lexi!!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel