Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 nyanyian

Hari berganti hari, waktu terus berlanjut, hampir dua minggu Aldan dan Saira saling kenal. Saira juga sudah tidak heran lagi dengan sikap menyebalkan Aldan, ia sudah cukup terbiasa. Ia juga sedikit mengurangi sikap juteknya. Tak jarang saat minggu pertama mereka kenal, mereka sering adu mulut.

Seperti ....

"Ini minuman gue, kenapa lo minum?" Saira berteriak kesal ketika minumannya seenak jidat diminum oleh Aldan.

"Gue abis olahraga, capek, mau minum. Nih gantinya,” Aldan sesantai itu menjawabnya, ia juga menyerahkan uang ganti rugi pada Saira. Sedangkan, Saira sangat kesal dengan tingkah Aldan saat ini.

"Lo tau nggak sih gue capek ngantrinya!!!" teriak Saira sembari menghentakkan kakinya, rasanya ia mau menendang muka Aldan saat itu juga. Sayangnya Aldan keburu kabur.

Atau kejadian ini,

"Gue mau jalan sama temen gue, lo nggak perlu ikut!" ujar Saira kesal, Aldan terus mengikutinya sampai ke mall. Bahkan cowok itu juga mengajak kembar dan Bintang.

"Gue juga mau jalan sama lo, ayo," Aldan langsung menarik tangan Saira, kembar dan Bintang ditinggal dengan dua teman Saira. Mereka berempat akhirnya terdampar di bioskop. Sedangkan, Saira dan Aldan sendiri mereka bermain di Timezone

Atau kejadian ini juga,

"Gara-gara lo kesiangan, kita jadinya telat!" Saira berujar kesal, ia menatap gerbang sekolahnya yang sudah ditutup. "Besok gue nggak mau dijemput sama lo lagi!!!"

Aldan sama sekali tak menggubris, ia malah mengajak Saira ke belakang sekolah, mereka masuk lewat belakang hanya saja harus menaiki pagar. Saira naik lebih dulu, "Jangan ngintip! Gue sumpahin mata lo bintitan!" ucap Saira dan yang Aldan lakukan hanyalah menurut mengiyakan.

Untuk sekarang ini mereka sudah berkurang dalam hal adu mulut. Namun, hari ini Aldan kembali membuat ulah, seolah tidak bisa membiarkan Saira tenang sedikit pun.

Kesal. Kesal. Kesal.

Rasanya Saira ingin memukul wajah Aldan sekarang juga, lelaki itu dengan seenak jidat menculiknya ke barbershop, Aldan bilang ingin potong rambut. Sebenarnya Saira tidak ingin menemani tapi iming-iming yang diberikan Aldan benar-benar menggoda, donat. Iya, lagi-lagi donat, Saira akui ia selalu kalah kalau bujukannya sudah donat.

Menyedot minuman yang sempat ia beli tadi sambil memainkan ponselnya. Aldan masih potong rambut. Kira-kira baru lima menit ia duduk, tapi sudah sangat bosan. Daripada bosan, ia lebih baik berfoto ria, juga memfoto Aldan kemudian kirim ke grupnya yang diisi oleh Nami dan Ratu.

Ting!

Ponsel Saira berbunyi, itu pasti dari kedua sahabatnya, mereka pasti sedang heboh kemana dirinya dibawa Aldan.

Ratu : P

Ratu : lo di mana Ra?

Namira : lagi kencan yaaaaa

Saira mendengus sebal, apa? Kencan? Ngada-ngada si Nami.

Saira : Astral ini nyulik gue buat nemenin dia potong rambut

Ratu : Ganteng gitu dikatain astral, astaghfirullah , lo harus banyak bersyukur Kak Aldan naksir lo, beruntung lo ra

Namira : Tau nih, cewek di luar sana banyak yang ngantri buat jadi pacar Kak Aldan

Saira mendengus sebal, apa-apaan kedua sahabatnya ini. Saira sedikit kesal mendengar fakta bahwa Aldan memang banyak yang menyukai.

Ck, Saira menggelengkan kepalanya menepis pikiran ngawur. Kalau dipikir-pikir dilihat dari samping, Aldan memang benar-benar tampan, hidungnya mancung. Saira melihat hidungnya yang mungil, ia memencet-mencet ujung hidungnya. Kalau ia sama Aldan, itu berarti bisa memperbaiki keturunan.

PIKIRAN MACAM APA ITU, HEH!?

"Udah selesai, cuma sebentarkan. Gimana penampilan gue?"

Terlonjak kaget, ia mendongak menatap rambut baru Aldan, benar yang dibilang dua sahabatnya, Aldan tambah ganteng.

Namun, Saira itu tsundere, seperti, "Sama aja, enggak ada perubahan,” dia mengucapkan itu sambil memalingkan wajahnya dari Aldan. Tanpa Saira tahu bahwa Aldan melihat rona merah di pipinya. Tangan Aldan otomatis mencubit pipi Saira gemas.

"Selain donat yang bikin lo pelit, ternyata lo pelit juga ya kalau muji orang,” ucap Aldan.

Saira cemberut.

"Yuk, katanya mau donat,” Aldan langsung mengajaknya keluar dan memasuki toko donat yang sebelahan dengan tempat potong rambut. Berbeda beberapa toko.

Itu toko donat yang kemarin mereka datangi dan sekarang mereka datangi lagi. Sepertinya Saira perlu memikirkan untuk tidak lama-lama pendekatan dengan Aldan, kalau perlu secepatnya untuk pacaran biar ia tidak perlu lagi menyisihkan uangnya untuk membeli donat. Lagi dan lagi Saira menggelengkan kepalanya yang terisi pikiran ngawur.

Mata Saira langsung berbinar cerah, ada varian rasa baru, Saira harus mencobanya. "Gue mau yang ini, yang ini, yang ini, blablabla...."

"Bungkus ya, Mba,” pinta Aldan.

Cukup banyak varian rasa yang Saira pilih, bisa dibilang itu hampir tiga box. Aldan menggeleng maklum merasa tidak heran lagi. Saira sudah tidak sabar melahap semua donatnya, ia terkikik bahagia.

"Al, sabilah yang sering deh traktir gue donat,” Saira tertawa kocak sembari menepuk-nepuk pundak Aldan.

"Itu maunya lo, duit gue abis ntar gue diomelin Mami." Aldan masih mengurus pembayaran donat Saira.

"Gue udah ngerjain tugasnya kok. Datanya udah ada di Novan, lo minta ke dia aja."

Senyum Saira meluntur, ia mendengar suara yang baru saja lewat itu. Familiar. Sontak ia langsung menoleh dan melihat cowok yang membawa box donat sambil teleponan. Kaki Saira akan melangkah, tapi tangannya diraih dan digenggam oleh Aldan.

"Udah selesai, yuk,” Tarik Aldan dengan lembut.

Pandangan Saira mencari cowok tadi, sampai di luar toko tidak ada, sepertinya sudah menghilang jauh. Apa itu hanya kebetulan suaranya mirip?

"Al," panggil Saira.

"Kenapa?"

Mereka berhadap-hadapan, "Dalam hitungan ketiga, yang kalah sampe mobil duluan, kudu ngabulin permintaan yang menang. Satu, dua, tigaaa!!!!” Saira langsung berlari kearah mobil Aldan.

Kekanakkan, Aldan langsung menyusul Saira sedikit berlari. Ia tak menyangka, menyukai perempuan yang sikapnya masih seperti anak kecil, tapi benar-benar menggemaskan kalau Saira yang lakukan.

*

Menaruh box donat di atas meja depan teras rumah Saira. Aldan sudah sampai mengantarkan Saira di rumahnya, bahkan sampai depan pintu. Saira mengembungkan pipinya, kedua jari telunjuknya menyatu. Aldan yang melihat itu sontak menyubit pipi chubby Saira.

"Manis, please, jangan gemesin terus."

"Ih, sakit!” Saira menepis tangan Aldan. "Lo kalah tadi, jadi harus ngabulin permintaan gue,” lanjutnya.

"Apa?"

"Nanti gue pikirin permintaannya, lo mau mampir dulu atau mau langsung pulang?" tanya Saira.

"Pulang aja deh, takut dicariin Mami,” jawab Aldan.

"Iya deh anak Mami."

Aldan kembali mencubit pipi Saira, "Dimakan ya donatnya biar pipinya tambah lucu, gemesin banget,” Tangan Aldan tak berhenti menguyel-uyel pipi Saira. Sang empu menepuk-nepuk tangan Aldan dengan brutal.

"Sakit, jangan cubitin pipi gue terus. Tanpa lo suruh juga donatnya bakal gue abisin."

"Iya percaya. Yaudah gue pulang dulu ya, dahhh, Manis."

Aldan melambaikan tangannya, memasuki mobil lalu pergi meninggalkan kediaman Saira. Saira langsung masuk kedalam rumah. Ia bersandar pada pintu yang baru saja ia tutup, memegangi dadanya yang berdebar tak karuan. Ini kenapa sih? Ia juga mengibas-ibaskan tangannya ke wajah, merah pasti. The power of Aldan.

*

Setelah makan malam, Aldan duduk sembari memangku gitar, memetiknya pelan. Matanya memandang taburan bintang di langit, tapi saat matanya menatap bulan di mata Aldan si bulan seperti menampilkan wajah Saira yang sedang mengembungkan pipinya.

Di mana-mana ia kepikiran Saira terus. Otaknya sedikit muncul ide, ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera, Mengatur posisi, Aldan akan merekam dirinya bernyanyi dan berencana akan mengirimnya ke Saira. Semoga cewek penyuka donat itu menyukai video yang kirim.

Setelah selesai merekam, Aldan menonton videonya terlebih dahulu, ketika merasa sudah bagus langsung ia kirim ke Saira.

Aldan : Pendapatnya dong

Aldan terkekeh geli melihat tulisan pesannya. Tak berselang lama Saira membalas.

Saira : Apa ini?

Aldan : Coba dong ditonton

Belum dibalas, mungkin sedang ditonton. Aldan tak tahu saja Saira di kamarnya menonton video yang Aldan kirim dengan ekspresi yang benar-benar berlebihan, ia sampai menggigit bantal donatnya. Padahal ada donat yang aslinya.

"Keren,” gumam Saira. Ia menangkap layar dan ia kirim ke grup yang berisi kedua sahabatnya.

Saira : Gila, gila, gilaaaaaa

Setelah itu ia kembali ke ruang obrolannya dengan Aldan, ia mengetikkan sesuatu.

Saira : Ih, ganteng, nggak suka!!!

Aldan : Masa nggak suka sih:'(

Saira : Lagunya suka

Aldan : Kalau yang nyanyinya, suka nggak?

"Aaaaa, bundaaaaa!!” jerit Saira, ia sampai melempar bantal donatnya ke tembok, kasihan jadi pelampiasan.

Saira : Nggak!

Aldan : Nggak salah lagi ya?

Saira : Lo ganteng banget sih, heran

Di seberang sana Aldan melotot membaca pesan Saira, ia tersenyum lebar. Tangannya langsung mengetik cepat.

Aldan : Lo juga manis banget sih, heran

Saira : Gue emang manis, makanya lo suka sama gue yakan?

Aldan : Iya sayang lo emang manis banget, makanya gue suka lo

Bye, kewarasan Saira.

Bersambung....

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel