Bab 5 bantu move on?
Lagi, Aldan menjemput Saira lagi. Padahal Saira merasa ia bisa pergi sendiri, Aldan kenapa bersikap seperti ini? Bukankah mereka baru saja kenal? Huft, Saira harus membicarakan ini semua.
"Gue bisa berangkat sendiri, Al,” Emang Saira itu tidak ada sopan-sopannya Aldan sampai menggeleng kepala maklum, cewek itu sampai saat ini belum juga memanggilnya dengan embel-embel Kakak.
"Gimana donat yang tadi malem gue kirim? Enak?" tanya Aldan tanpa menggubris pernyataan Saira barusan.
Wajah yang tadinya kesal langsung berbinar. "Ih, enak. Beli di mana? Tapi tetep donat kesukaan gue masih di toko donat yang kemarin."
"Masuk dulu, gue kasih tau nanti,” Aldan membukakan pintu mobil mempersilakan Saira masuk. Ia kemudian berjalan kearah kemudi dan masuk juga kedalam mobil.
"Tadi malem gue dateng ke acara temen gue yang baru buka usaha Kafe gitu, menu makanannya ada banyak, terus gue lihat ada donat yaudah gue beliin lo deh dan minta buat dikirim kesini,” Aldan tersenyum manis menatap Saira sebelum menyalakan mesin mobilnya.
Sempat terpaku karena senyuman, Aldan hari ini sangat kalem menurut Saira. Dilihat dari samping Aldan memang tampan, pantas teman sekelasnya banyak yang membicarakan cowok di sebelahnya ini.
"Jangan kayak gini, Al." Saira berucap tiba-tiba, ia menunduk. Jelas ia tahu maksud Aldan menjemput dan membelikannya donat. "Lo... Suka sama gue?" lanjutnya.
CKIIIT.
Sekaget itu Aldan mendengar pertanyaan Saira, tapi bukankah ia seharusnya tidak terkejut? Apa ia terlalu to the point? Heh, orang lain juga tahu kalau Aldan itu lagi suka sama cewek.
"Hati-hati dong. Kejedot nih." ringis Saira sedikit kesal.
"Aduhhh, ya ampun maaf, Manis,” Aldan sedikit panik, ia bahkan langsung mengusap lembut dahi Saira yang terpentok ke depan. "Makanya seatbelt-nya dipake atuh."
Wajah mereka jadi dekat karena Aldan masih mengusap-usap dahinya, Saira langsung memegang tangan Aldan dan menyingkirkannya dari dahi. Ia menatap Aldan dengan serius.
"Lo suka sama gue?" tanya Saira lagi.
Diam. Aldan tidak langsung menjawab. "Kelihatan banget ya?" Aldan menghela napasnya sejenak, "Sori, kalau lo enggak nyaman." lanjutnya.
Saira langsung mengerti, dia tersenyum manis. Tangannya masih memegang tangan Aldan yang lebih besar dari nya.
"Bukan gitu, kenapa lo suka sama gue?"
"Enggak ada alasan sebenarnya kenapa gue suka sama lo, gue langsung naruh hati saat pertama kita ketemu. Lucu ya. Tapi lo manis kalau lagi ngomel-ngomel kayak di toko donat kemarin,” Aldan tertawa mengingatnya.
Tangan Saira langsung menabok bahu Aldan, ia sedikit sebal. "Al, serius."
"Iya serius, enggak ada alasan. Gue langsung tertarik sama lo saat itu juga,” Aldan langsung memegang kembali tangan Saira.
"Walaupun lo belum tau semua tentang gue? Lo udah suka sama gue,” Saira mendongak menatap tepat ke mata Aldan.
"Sekarang kasih tau gue, semuanya. Tentang lo. Biar gue tahu,” ucap Aldan juga ia menatap lembut Saira.
Dengan segera Saira langsung melepas tautan tangan mereka, "Cepet jalan, keburu telat kita." Mengalihkan pembicaraan mereka.
"Gue tunggu,” ucap Aldan, ia langsung menjalankan mobilnya kembali. Tunggu yang Aldan maksud adalah tunggu sampai Saira siap menceritakan nya.
Diam-diam tangan kiri Aldan meraih kembali tangan kanan Saira, menggenggamnya erat. Tangan Saira begitu pas di tangannya, ia mengusap punggung tangan Saira dengan jempolnya. Sedangkan, Saira berusaha menahan teriakannya, hatinya berdebar mendapat perlakuan manis Aldan.
Aldan kenapa manis banget sih sikapnya hari ini. Batin Saira berteriak.
*
Sampai parkiran mereka berdua tidak langsung keluar, masih ingin berdua dalam mobil mungkin. Tangan mereka juga masih saling menggenggam, memberi kenyamanan satu sama lain. Saira menunduk, ia tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Al,” Saira mendongak dengan wajah memerahnya.
"Hmm," Aldan menatapnya sambil tersenyum, siapa yang tidak berdebar kalau ditatap segitu manisnya.
"Gue dulu punya cowok, dia pergi dan minta gue buat menunggu. Apa yang harus gue lakuin, sampai sekarang dia belum balik juga. Apa gue harus coba move on ke lo?" tanya Saira menatap lurus Aldan, ia hanya ingin Aldan yakin pada pilihannya.
Senyum Aldan langsung meluntur. Aldan pias. Ia terkejut mendengarnya.
"Belum... Putus?"
Saira menggeleng, bertanda belum.
"Lo kaget ya? Bukan bermaksud apa-apa, gue cuma mau beritahu lo. Kalau lo mundur dari sekarang silakan. Tapi kalau mau terus buat gue juga suka sama lo, tolong bantu gue buat bisa ngelupain dia,” ujar Saira.
Aldan masih terdiam. Merasa Aldan tidak memberinya jawaban sama sekali, ia melepas tautan tangan mereka. Menepuk pelan pipi kiri Aldan. Mungkin Aldan butuh waktu buat mikirin ini.
"Gue duluan ya, bye." Saira langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju kelasnya.
Bisa Aldan lihat dari sini, Saira memanggil cewek berambut panjang. Itu salah satu temannya yang Aldan tahu. Saira sudah menghilang menaiki tangga ke lantai atas. Sedangkan, Aldan masih berada di mobil, ia mengusap wajahnya tidak karuan. Apa ia harus berhenti? Ia langsung teringat dengan janji pada Maminya untuk perjuangin Saira.
Sebenarnya ia takut, takut Saira juga menjadi seperti perempuan yang Aldan dekati dulu, dekat dengannya tapi jadian sama yang lain. Sekarang, kasus kali ini berbeda. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kalau seandainya Saira tidak bisa move on?
*
"Nam, ini kayak gini nih bukan kayak gini,” Saira sibuk mengoceh sambil mengerjakan tugas, harus dikumpulin saat itu juga. Menyebalkan, bukan hanya dirinya yang heboh teman sekelasnya pun juga. Mereka harus menunda jam istirahat mereka dahulu.
"Maaf, maaf." Teman sebangku Saira, namanya Nami. Dia juga kelihatan fokus mengerjakan, sedikit terburu-buru karena ia tak mau jam istirahat ini terlewat. Mereka telah melewatkan jam istirahat pertama soalnya.
Tak berselang lama Saira selesai lebih dulu, ia menghela napas lega dan mengibas-ibaskan tangannya yang kebas karena menulis. Di susul Nami juga, mereka langsung mengumpulkan buku tersebut ke ketua kelas.
"Jangan dicontek loh, Di,” peringat Saira pada ketua kelas. "Yah, tau aja lo." jawab Dio.
Mereka berdua langsung ke kantin. Sedikit diceritakan, sekolah ini ada dua kantin, satu di lantai bawah dan satunya lagi di lantai dua. Kelas duabelas kalau mau ke kantin pun harus ke lantai dua. Sedangkan, lantai bawah, untuk kelas sepuluh dan terkadang guru-guru juga makannya di kantin situ. Otomatis ya, kemungkinan di kantin Saira bakal ketemu sama Aldan.
"Saira, lo belum cerita kenapa bisa deket sama Kak Aldan?" tanya Nami.
Nami ini juga imut, terkadang siswa lain pun heran kenapa mereka bisa berteman. Mereka berdua kelihatan kayak orang yang sama-sama polos, enggak cocok disatuin. Namun, nyatanya mereka temanan awet sampai sekarang. Nami pun terkadang menunjukkan sikap dewasa nya, tapi dalam situasi tertentu. Tapi satu sikap Nami yang membuat Saira sebal, cewek di sebelahnya ini terkadang lemot dan bego seketika.
"Gue ceritain nanti, lo sih kemarin enggak masuk."
"Ya maaf, Oma sakit sih, gue kan sebagai cucunya harus jenguk,” Nami mengerucutkan bibirnya lucu.
Kalau Saira ikutan kayak gitu, mereka kayak kembar lucu yang berjalan berdua ke kantin. Saira merapikan rambutnya, ia berkaca di layar ponsel.
"Pesenin gue dong, Nam. Biar gue cari tempat duduk, lagian si Ratu juga kenapa belum nongol. Biasanya tuh bocah kalau kita masuk kantin, dia udah duduk manis sambil makan pangsit,” Saira mengoceh, pandangannya mengedar mencari tempat duduk, kantinnya ramai banget.
Teman mereka ada satu lagi, Ratu namanya. Dia beda kelas dengan mereka berdua, sebenarnya kelas Ratu sebelahan sama mereka, cuma malas nyamperin aja lebih baik langsung bertemu di kantin. Mereka akrab udah terlalu lama, jadi terkadang malas mencari teman baru, bagi Saira cukup kenal dan kadang berbincang hal perlu saja. Mereka bertiga udah dari Smp berteman, tidak heran lagi kan.
"Heh, kata siapa gue belum nangkring kantin, sini bego. Pandangan lo kemana-mana tau enggak,” Suara itu tiba-tiba berucap bikin Saira sama Nami melongo, mereka tidak sadar kalau Ratu duduk dekat pintu kantin.
"Gue cariin, taunya deket sini lo,” Saira tersenyum kocak, ia langsung duduk di depan Ratu.
"Pesen apa, Ra?"
"Mau bakso, minumnya es rasa cokelat,” Saira menatap melas Nami, "Enggak usah masang muka kayak gitu, jijik." sahut Ratu bikin Saira merengut sebal.
Omong-omong Ratu ini youtuber loh, hampir seantero sekolah mengenalnya walaupun ia duduk di bangku kelas sebelas. Tak jarang, Saira dan Nami juga terkadang diajak membuat konten. Bukan jarang sih, pernah sesekali diajak bikin konten, kalau Ratu kehilangan ide untuk kontennya.
"Tunggu ya,” Nami langsung pergi memesan makanan, sebaik itu Nami pada Saira. Coba Saira nya, laknat, minta dibunuh.
"Lo tadi pagi berangkat lagi sama Kak Aldan?" tanya Ratu. Lantas dijawab anggukan oleh Saira.
"Tunggu Nami, sekalian aja ceritanya,” Saira menjawab sambil memainkan ponselnya. Ratu mengangguk mengerti.
"Kalau lo lagi nyari Kak Aldan, orangnya ada noh, pojok kantin bareng temennya,” Ratu berucap, sontak saja Saira langsung mendongak menatap sahabatnya itu. "Siapa yang nyari dia? Gue kan enggak bilang." jawab Saira.
Tak ayal mata Saira langsung melihat kehadiran sosok Aldan yang sepertinya sama sekali tidak menyentuh makanannya. Ia terlihat melamun, bahkan tak meladeni bercandaan dua temannya yang kembar. Apa ini gara-gara ucapan nya tadi pagi?
"Omong-omong, Kak Aldan ganteng gitu bersyukur kek lo yang ditaksir, reputasi nya di sekolah juga nggak terlalu buruk-buruk amat, ya palingan bolos kelas, telat, keluar masuk bk, itu pun cuma sesekali. Gue juga pernah denger kalau Kak Aldan itu orangnya romantis." ucap Ratu menatap Saira dengan senyum jailnya. Sepertinya ia sangat mendukung jika Saira bersama Aldan.
"Tau, gue juga nggak pernah tuh ketinggalan update cogan sekolah kita."
Tidak usah lama-lama bagi Nami memesan makanan, ia langsung mendapatkan dua mangkuk bakso dan dua minuman. Ia langsung duduk di samping Saira.
"Gue salah enggak sih, tadi pagi gue bilang ke Aldan kalau gue lagi nunggu cowok yang sampai saat ini belum kembali juga, trus gue bilang kalau dia mau terus lanjut suka sama gue, gue minta buat dia bantu gue move on. Salah enggak sih ngomong gitu?" ucap Saira.
"Lo ngomong gitu ke dia?" tanya Ratu, ia tak percaya, Saira mengangguk sebagai jawaban.
"Enggak salah sih, Ra. Mumpung masih awal kan, lebih baik dia tau, ketimbang udah di tengah-tengah dia langsung ragu nanti. Biarin dia mikir dua kali,” Nami menyahuti, ia langsung mengerti arah pembicaraan ini. Untuk situasi kali ini Nami sedang dalam mode tidak lemot.
"Kalau dia terus lanjut deketin gue gimana?" Saira bertanya seperti itu dengan begonya.
"Heh, sahabat gue yang penyuka donat. Ya lo move on dari cowok lo yang dulu, buat apa nunggu orang yang sama sekali enggak ngasih kabar, bikin muak saja,” ucap Ratu. Nami bahkan ikut mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lo yakinin hati lo deh, Ra. Enggak ada kejelasan kemana perginya cowok lo yang dulu itu. Apa yang perlu lo tunggu?" tanya Nami.
Saira terdiam mendengarkan ucapan kedua sahabatnya, ia tidak pernah bilang mengenai alasan dia pergi, ia hanya menyimpannya sendiri dan itu bikin kedua sahabatnya muak tapi... tidak ada salahnya kan mencoba untuk membuka hati buat orang lain? Ia takut, ia bimbang. Ia takut berujung menyakiti Aldan. Karena Aldan sebaik itu padanya.
Ting!
Sebuah pesan masuk.
Aldan Jelek : Mau donat?
Saira mau menangis, Aldan terlalu baik pada dirinya yang masih belum move on. Cowok itu sepertinya sudah membuat keputusan. Bunyi ponsel Saira langsung membuat kedua sahabatnya penasaran dan mereka terkejut melihat nama pengirim.
"Gimana dengan lo?" tanya Nami dan Ratu menatap serius Saira
Bersambung....
