Bab 7 kantin
Sumpah kalau saja Aldan waktu itu tidak langsung berjanji pada Maminya, ia tak mungkin akan terus mengejar Saira seperti ini. Namun, ia juga sebenarnya suka pada Saira.
"Lo nggak ke kantin?" tanya Aldan.
"Maulah, cuma ini buku kudu gue balikin ke perpus dulu,” Saira melirik buku yang sedari tadi ia bawa dengan tangannya. Ia masih kesal karena ia yang terakhir selesai merangkum dari buku paket.
"Mau gue bantuin?"
"Maulah! Lo kan cowok, nggak tega apa ngelihat gue yang Manis ini bawa tumpukan buku? Nanti kemanisan gue ilang dong,” Saira mengerucutkan bibirnya lucu.
Aldan tersenyum kecil mendengarnya. "Sini gue bantuin."
Aldan mengambil setengah dari buku paket itu, tapi Saira menaruh yang setengahnya lagi ke Aldan.
"Kalau bantuin jangan setengah-setengah, yang ikhlas ya, Al,” cengir Saira.
Sial. Cewek imut ini selalu saja berhasil darinya. Aldan mau marah, tetapi selalu tidak bisa melihat cengiran Saira yang terlihat lugu.
Saira berlari kecil menuju pintu perpustakaan, untung Saira masih baik hati tidak meninggalkannya. Aldan tersenyum kecil, Saira memang orang yang tidak tegaan.
"Bu, ini saya mau ngembaliin buku paket, taruh di mana ya?" tanya Saira ketika dia menghampiri wanita penjaga perpustakaan.
"Taruh di situ, rak ketiga ya paling pojok."
"Oke makasih, Bu."
Saira dan Aldan langsung menuju rak yang ditunjuk. "Ini deh kayaknya, sama dari cover bukunya."
Kemudian Saira meraih buku paket yang di bawa Aldan dan langsung menaruh buku paket itu setengah sekaligus. Mungkin pengaruh tempat bukunya terlalu sempit, itu malah membuat buku yang Saira pegang hampir berjatuhan kalau saja Aldan tidak gerak cepat menahannya. Tangan kanan memegang buku paket, tangan kiri membantu menahan tangan Saira.
Aldan menatap tepat pada wajah Saira yang terkejut, ia langsung mengarahkan menaruh buku paket dengan hati-hati.
"Satu-satu Manis, jangan sekaligus. Coba taruh sini dulu, nanti taruhnya sedikit-sedikit."
"Maaf.”
"Iya nggak papa,” ucap Aldan dengan lembut.
Mereka menaruhnya dengan hati-hati, sepertinya Saira habis ini akan memasukkan kertas kedalam kotak saran agar rak diperpustakaan diperbanyak lagi. Udah sempit gini, bukunya juga banyak yang tidak tersusun rapi. Ibu penjaga perpustakaan ngapain aja?
*
Aldan dan Saira berjalan ke kantin bersama, Aldan yang kelas tiga memang sering main ke lantai dua untuk sekadar ke kantin dengan Kembar dan Bintang, tetapi setelah mengenal Saira, ia lebih sering menghampiri cewek imut itu dan ketiga sahabatnya pun memaklumi karena Aldan sudah mulai menjadi bibit-bibit bucin.
Tangan Aldan berusaha meraih tangan Saira ketika berhasil ia memegangnya pelan. Saira yang digituin, ia melepasnya pelan.
"Jangan pegang."
"Kenapa?"
"Lo nggak malu apa dilihatin banyak orang?"
"Siapa peduli?" Aldan mengedikkan bahunya tidak peduli, ia kembali meraih tangan Saira dan memegangnya lagi. Saira lepas lagi.
Aldan pegang lagi. Saira lepas lagi. Aldan pegang lagi. Saira lepas lagi.
Iya, begitu terus sampai mereka masuk ke kantin. Siswa lantai dua dan tiga pun pada awalnya terkejut melihat interaksi mereka tapi sekarang sudah tidak terkejut lagi. Mereka malah menikmati awal pendekatan mereka. Lucu. Aldan yang agresif mendekati Saira dan Saira yang tidak segan kadang memusuhi Aldan.
"Mau makan apa?"
"Lo mending sana ke temen-temen lo, gue juga mau ke temen-temen gue."
"Pesen dulu, mau makan apa?" tanya Aldan lagi, bikin Saira mendengus sebal.
"Mau bakso minumnya ice bubble."
Aldan langsung memesankan makanan yang Saira inginkan, tak lupa ia juga sama memesan makanan seperti Saira. Biar tidak ribet.
Tak berselang lama, mereka langsung mendapatkan makanannya. Aldan meminta nampan yang berbeda dengan Saira. Kemudian, ia langsung menyerahkan nampan berisi satu mangkuk dan ice bubble kepada Saira.
"Makan yang banyak ya, biar tambah Mbul. Gemes." Aldan mencubit pipi chubby Saira.
"Jangan cubit-cubit,” Saira merengut kesal tapi tak elak bahwa pipi nya merona.
"Iya nggak, sayang."
"Jangan panggil gitu." rengek Saira, tangan kanan menutupi wajahnya, tangan kiri masih memegang nampan.
"Harus manggil apa?" Aldan tersenyum jail menggoda Saira. Ia melepas tangan Saira yang menutupi wajah cantiknya itu.
"Panggil nama aja."
"Iya gue panggil sayang."
"Nggak boleh manggil gituuuu,” rengek Saira.
"Kenapa nggak boleh?"
"Ya nggak boleh."
"Iya kenapa nggak boleh?"
"Nggak boleh pokoknya!"
"Iya kenapa nggak boleh? Omong-omong tadi malem siapa ya yang bilang gue ganteng di chat?" tanya Aldan dengan wajah jailnya, ia juga mencolek dagu Saira.
"Lo belum berhak panggil gue gitu!" balas Saira, "Si-siapa yang bilang lo ganteng? Nggak ada tuh,” Saira memalingkan wajahnya yang penting tidak lihat muka jail Aldan.
"Tadi malem di chat, lo ganteng banget sih heran, pake emot gemesin lagi."
"Sorry, jari gue kepeleset,” Saira manyun.
"Kepeleset kok bisa gemes gitu ya typing-nya?" Aldan membawa wajah Saira untuk di tatapnya, ia menaik-turunkan alisnya dengan masih tetap mempertahankan senyum jailnya.
"Aaaa, Tau ah!" Saira menghentakkan kakinya kesal, ia langsung pergi menjauh dari Aldan.
Kemudian banyak juga reaksi cewek yang iri kepada Saira, ya, Saira begitu beruntung disukai Aldan.
*
Jam pulang sekolah sudah berbunyi, tetapi untuk kelas tiga mereka tidak akan pulang, mereka harus menjalani jam tambahan lagi setelah itu.
Aldan punya kesempatan bertemu Saira saat pagi hari, yaitu ketika ia menjemput dan jam istirahat. Kalau jam pulang, Aldan ingin Saira menunggu dirinya, tetapi ia tahu cewek itu pasti bosan. Yang jelas terkadang ia memperbolehkan Saira pulang dengan kedua temannya atau memesankan taksi online.
Aldan menghampiri Saira yang terlihat cemburut. "Kenapa kok lo mukanya nggak enak banget?" tanya Aldan ketika melihat Saira keluar dari kelas dengan wajah tidak mengenakkan.
Omong-omong, Aldan ini rela turun dari lantai tiga untuk nyamperin Saira ke kelas sebelas yang berada di lantai dua.
“Badmood saja,” jawab Saira.
"Kak Aldan bakal nganterin Saira?" tanya Nami. Aldan tersenyum kecil ketika mendengar Nami bertanya padanya.
"Seperti biasa gue nggak bisa nganter dia pulang."
"Gue bisa pulang sendiri," ucap Saira yang bikin Nami sama Aldan menoleh kearahnya. "Lo nggak usah repot-repot, Al. Lo sering jemput gue aja kadang gue nggak enak. Udah sana, jam tambahan lo pasti bentar lagi mulai,” lanjutnya, ia bahkan langsung pergi meninggalkan Aldan dan Nami.
Aldam memandang punggung Saira yang menjauh, Nami meringis tidak enak.
"Maafin Saira, Kak. Dia emang selalu gitu kalau lagi badmood. Soalnya tadi diomelin sama Miss Veronica abis-abisan dia." ujar Nami memandang Aldan dengan tatapan menyesal.
"Nope, gue ngerti kok. Lo pulang bareng dia kan?" tanya Aldan tersenyum kecil.
"Iya, kalau gitu aku susul Saira ya, Kak,” pamitnya.
Aldan mengangguk. "Eh, Nam. Bentar dulu gue mau nanya sama lo."
"Nanya apa? Soal Saira?" tanya Nami dengan tatapan lugunya.
"Bukan itu, gue mau nanya lo suka Adnan atau Afkan sih?" tanya Aldan diakhiri senyuman jail.
Pipi Nami langsung merona merah, ia menggelengkan kepalanya dengan heboh. Iya, Nami jadi dekat dengan kedua teman Aldan akibat tidak sengaja jalan bareng di mall waktu lalu.
"Ap-apaan sih, Kak Aldan, ngaco nih. Duluan ya, Kak." Nami langsung beringsut kabur, Aldan tersenyum melihat tingkah Nami.
"Pantesan kembar langsung naksir, imutnya sama kayak Saira."
Aldan berdecak kenapa ada cewek semanis dan seimut Saira, dia selalu kepikiran Saira terus.
Bersambung....
