Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 akan coba mengejar

Saira heran ia pikir pertemuan buruknya dengan Aldan kemarin sudah cukup sampai lelaki itu mengantarnya ke rumah. Namun, Saira rasanya ingin memaki, kenapa kini mereka harus bertemu lagi? Posisi Saira kini sedang berada di toko buku, mumpung ia sedang berniat untuk belajar, makanya dia pergi ke toko buku. Niat belajar tapi melipir ke arah rak kumpulan komik.

"Loh, Manis. Lo di sini juga?" tanya Aldan heran.

Saira memicingkan matanya. "Iya! Kenapa? Nggak boleh?" cetus Saira, bibirnya sedikit mengerucut sebal.

"Siapa yang larang, bebas kali. Gue kan cuma terkejut ngeliat lo di sini,” balas Aldan dengan menyenderkan tubuhnya ke rak buku.

Sedikit terpesona dengan gaya menyender Aldan, Saira segera mengendalikan ekspresi wajahnya sembari menanggapi Aldan.

"Ohhh,” balas Saira dengan mata yang sibuk membaca sinopsis komik.

Aldan benar-benar heran dengan Cewek manis di depannya ini, apakah memang watak Saira seperti ini, huh?

"Lo kesini sendiri?" tanya Aldan sembari menatap intens wajah Saira dari samping. Sedangkan, Saira sama sekali tidak menggubris, ia sibuk memilih komik.

"Atau sama temen?" lanjut Aldan.

Lagi, tidak mendapat jawaban.

"Oh lo sendiri ya?"

Tidak mendapat jawaban lagi.

Aldan mendengus sebal. "Kemarin lo ke toko donat sendirian, sekarang ke toko buku sendirian, kenapa sendirian terus? Lo nggak punya temen ya?"

Saira langsung berhenti memilih komik, ia menoleh kearah Aldan. Dengan wajah dibuat menyebalkan, ia menyilangkan tangannya di depan dada dengan menatap Aldan tajam.

"Kemarin lo ke toko donat sendirian juga, sekarang lo ke toko buku sendirian juga, Kenapa sendirian terus? Lo nggak punya temen ya?" meniru ucapan Aldan, kemudian ia lanjut memilih komik.

Sial. Cewek ini malah membalikkan perkataannya. "Sorry ya, gue sekarang ke toko buku nggak sendirian, ya kali kayak lo yang nggak punya temen." balas Aldan secara pedas.

"Sorry ya, gue sendirian bukan berarti nggak punya teman,” balas Saira juga, ia membolak-balikkan komik yang sedang ia pegang.

"Lo pinter bange—"

"Aldan!"

Ucapan Aldan langsung terhenti ketika seseorang memanggil namanya, Saira pun ikut menoleh, mengintip seseorang yang terhalang tubuh Aldan.

"Oh sama ibu lo?"

"Mami cariin, taunya ketemu sama cewek ya,” ujar Mami Rina sembari menyilangkan tangannya di depan dada.

"Nggak sengaja ketemu, aku samperin deh," jawab Aldan melirik Saira.

Terlihat Saira yang memicingkan matanya. "Gue nggak berharap ya ada yang nyamperin gue!"

"Mi, kenalin ini cewek yang kemarin ngerampok uang aku di toko donat,” ucap Aldan dengan sengaja memperkenalkan dengan ucapan jelek agar Maminya ngomelin cewek di depannya ini.

Saira melotot, ia tidak terima. Apa-apaan ini!

"Heh, cowok jelek. Itu kan salah lo, ngebuka pintu mobil yang bikin anak orang jatuh ke aspal. Bikin donat gue kelindes mobil orang lagi!" ucap Saira sengit.

"Kan yang ngelindes orang lain bukan gue, yang bener aja!" balas Aldan.

Saira melotot, cowok di depannya ini benar-benar menyebalkan. Sontak saja, Saira langsung menendang tulang kering Aldan dengan keras.

Bugh.

"Aish, cewek bar-bar!!!"

"Kalau kemarin nggak mau ganti rugi, bilang!”

"Anarkis banget sih lo, cewek manis kek lo bisa kasar juga ya."

"Jangan salah, gini-gini gue sabuk item taekwondo,” sombong Saira. Padahal aslinya ia tidak mengikuti taekwondo sama sekali.

Mami Rina pusing sendiri melihat adu mulut keduanya, ini awal mau perkenalan kenapa merambah-rambah ke banyak hal. Ia sampai menganga tidak percaya, perempuan dihadapannya ini ternyata berani sekali menendang putranya tepat di hadapannya. Wow.

"Udah-udah jangan bertengkar, malu dilihatin orang,” lerai Mami Rina.

"Dia duluan yang mulai!" ucap mereka berdua bebarengan.

Mami Rina meringis malu, mereka bertiga sudah dilihatin banyak orang. Sontak, ia menarik keduanya keluar dari toko buku.

"Eh, Tante. Jangan culik aku!” jerit Saira.

*

Setelah kejadian di toko buku yang membuat Mami Rina malu setengah mampus, mereka akhirnya milih buat menenangkan diri di salah satu restoran.

Mami Rina menatap kedua orang di depannya ini bergantian ketika tatapannya bertemu dengan Saira, ia langsung tersenyum, "Kamu mau pesen apa? Silakan." Mami Rina menyodorkan buku menu pada Saira.

"Aku boleh pesen semua nya nggak?"

Aldan langsung melotot mendengar ucapan Saira, "A—"

"Bercanda,” potong Saira dengan mata yang melirik sinis kearah Aldan. Kemudian, ia langsung memilih menu makanan.

"Please ya, jangan diborong,” peringat Aldan.

"Gue tau diri kali,” ketus Saira, matanya masih sibuk memilih menu makanan. Tak berselang lama, ia menunjuk makanan yang ia inginkan.

Setelah memesan makanan, Mami Rina menatap keduanya dan tersenyum lembut kearah Saira. "Kamu umur berapa?"

"Mmm, Aku? 16 tahun, Tan."

"Sekolah di mana?"

"Satu sekolah sama dia,” ucap Saira menunjuk Aldan dengan dagunya. Mami Rina tertawa melihat sikap Saira.

"Kita satu sekolah? Ngaku-ngaku ya lo?!" tuduh Aldan.

Saira langsung melotot. "Ih enak aja! lo kemarin kan pake seragam sekolah, langsung tau gue."

"Oh iya,” cengir Aldan, "Kelas berapa lo?"

"Sebelas."

"Adik kelas gue dong lo. Eh, bentar-bentar gue baru tau kalau di sekolah gue ada cewek manis kayak lo,” ucap Aldan heran, sepertinya ia yang selalu tidak peduli kalau kedua temannya berbicara soal cewek.

"Baru tau? Kemana aja lo?" ucap Saira dengan ucapan mengejek, tangannya mengibas rambut lumayan panjangnya ke belakang, bergaya.

"Cih, narsis."

"Baru kali ini Tante ngeliat ada cewek berani nendang kaki anak Tante,” ucap Mami Rina tiba-tiba.

Saira meringis, ia juga merutuki tindakan di toko buku tadi. "Maaf ya, Tante. Abis dia nih ngeselin banget pake nuduh aku ngerampok duitnya di toko donat. Kan nggak gitu."

"Nggak papa, dia emang nyebelin. Sekalian aja tendang mukanya,” ucap Mami Rina. Sontak langsung disambut tawa bahagia dari Saira. Sedangkan, Aldan menatap Maminya tidak terima.

Makanan yang mereka pesan telah datang. Mereka menikmati makanan sembari berbicara banyak hal, yang paling banyak bicara sih Mami Rina dan Saira. Aldan bagian mendengarkan. Jauh lubuk hati Aldan, ia sedikit tersentuh bahwa mereka berdua langsung ditemukan secara tidak sengaja. Mata Aldan pun tak henti-hentinya mencuri pandang kearah Saira, Saira terlihat Manis dan menyegarkan. Sikap Aldan juga tak luput dari pandangan Mami Rina.

*

"Saira cantik ya, Al."

Sontak ketika mendengar pujian itu, Aldan langsung menoleh ke Mami nya dengan mata berbinar. "Manis juga kan, Mi?" tanya Aldan sembari menjalankan mobilnya.

"Iya, manis banget. Tipe kamu banget kan?"

"Apaan sih, Mami sok tau deh."

"Mami suka dia, kalau bisa kamu sama dia saja,” ucap Mami Rina santai.

Tapi tidak dengan Aldan yang langsung terkejut mendengarnya, sampai-sampai ia mengerem mendadak dan melotot tidak percaya kearah Maminya.

"Mami apaan sih, baru juga ketemu dua kali masa langsung suka gitu saja,” kata Aldan.

Mami Rina mengernyit heran, ia lupa anaknya ini susah untuk berkata jujur. "Jujur aja sih kalau kamu suka dia,” cibirnya. Mami Rina mendapatkan sebuah cengiran konyol Aldan.

"Mami harap kamu bisa lupain masa lalu, sekarang kalau emang kamu suka sama dia, kejar ya." pesan Mami Rina.

"Okay!" setuju Aldan sembari memukul setir mobil. Membuat Mami Rina berjengit kaget, apalagi Aldan memukul tepat di klakson, menimbulkan bunyi nyarin. Dapat ia lihat banyak pengendara yang terkejut di luar mobil mereka.

Mami Rina mencubit pinggang Aldan. "Malu-maluin terus kamu!"

"Aku bakal coba buat ngejar Saira dan bawa dia kedepan Mami dengan status kita yang pacaran. Inget itu baik-baik, Mi." ucap Aldan dengan lantang tanpa menggubris rasa sakit di pinggangnya, Aldan sangat bersemangat seperti memiliki energi kobaran api di sekeliling tubuhnya.

"Ditunggu anak jeleknya Mami. Awas ya kalau nggak berhasil, jangan guling-guling di lantai,” ucap Mami Rina, tangannya menjawil dagu anaknya

"Aku nggak pernah gitu ya!" elak Aldan.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel