Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 pertemuan

"Yang ini, yang ini sama yang ini."

Saira memekik gembira, matanya sangat berbinar seperti baru saja mendapatkan lotre, aslinya bukan itu. Akhirnya minggu ini ia bisa membeli donat kesukaannya. Sembari bertepuk-tangan ria, Saira menerima box berisi donat yang sudah ia bayar.

Keluar dari toko, Saira berhenti sebentar sembari membayangkan, bagaimana dengan memakan donat sambil melihat film? Hmm, sepertinya itu akan benar-benar menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan, kebetulan besok adalah hari sabtu. Ia akan melakukan movie marathon, ada banyak film yang sudah ia download tapi belum tuntas ia tonton, malam ini adalah timing yang pas.

Kakinya melangkah riang, pikirannya masih membayangkan film mana dulu yang akan ia tonton. Hmm, sepertinya memulai dengan film romantis itu boleh juga.

"Hihi, gue nggak sabar buat nanti malem,” gumamnya, tangan Saira meraih ponsel yang berada di saku rok seragam, ia berniat memesan ojol.

Brugh.

"Aaaw!!!"

Belum juga mengeluarkan ponsel, di depannya tiba-tiba terdapat pintu mobil yang secara mendadak membuka. Alhasil, pintu mobil itu tidak sengaja Saira tabrak cukup keras hingga membuatnya terjatuh terduduk di atas aspal parkiran. Box donat yang ia bawa pun ikut terjatuh cukup jauh darinya.

"Eh, sorry,” teriak orang yang baru saja keluar dari mobil itu.

"Bisa nggak sih kalau buka pintu tuh liat-liat dulu!" omel Saira.

"Maaf, nggak sengaja, beneran deh."

"Hmm jangan diulangi lagi," ucap Saira ketus, kemudian ia melirik box donatnya.

"Oh my god!" teriaknya histeris.

Saira menjerit tidak terima, donat kesukaannya ditabrak mobil yang baru parkir disebelah mobil orang yang menabraknya. Saira sampai melihat kebawah mobil itu, donatnya sudah tiada.

"Donat lo?" Cowok itu menunjuk box yang sudah berantakan.

"Gantiiii,” rengek Saira, "Donat kesukaan gue, nggak mau tahu! lo yang harus gantiin!"

"Kan bukan gue yang ngelindes donat lo,” Cowok itu mengelak, ia tak mau mengganti rugi.

"Tapi kan kalau aja lo nggak buka pintu sembarangan, gue nggak mungkin jatuh, donat gue nggak mungkin ikutan jatuh!" ucap Saira.

Cowok itu berdecak, ia langsung mencegat orang yang melindas donat Saira. “Eh, eh, Mas. Ganti rugi. Mobil Mas ngelindes donat cewek ini."

Mas itu melirik ke bawah mobilnya, "Suruh siapa taruh donatnya di situ." Mas itu acuh dan langsung masuk ke dalam toko donat.

Mendengar Mas itu yang tidak mau bertanggungjawab, Saira menatap cowok di depannya dengan tatapan galak. Mata Saira memindai cowok di depannya ini dari atas sampai bawah, kok logo sekolah pada seragam cowok itu mirip seperti dirinya? Satu sekolah, huh? Kemudian matanya melirik kearah name-tag cowok itu.

"Ganti donat gue sekarang juga, Aldan!"

Iya, Aldan yang nabrak.

"Kok lo tau nama gue?"

"Trus itu gunanya apa tolol?" tunjuk Saira pada seragam Aldan.

Aldan melirik ukiran nama di seragamnya, ia meringis bisa-bisanya bersikap bodoh dihadapan perempuan. Ia menatap perempuan imut, manis, menggemaskan di depannya ini.

"Oke, nama lo siapa?" tanya Aldan, ketika melihat perempuan itu mengenakan sweater untuk menutupi baju seragamnya.

"Kok lo malah nanya nama gue sih, kan gue mintanya ganti rugi donat gue?" tanya Saira kesal.

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Aldan kenapa sih langsung ngegas nanyain nama. Ia menghela napas menenangkan dirinya, ia tidak boleh salah berucap lagi.

"Oke, Manis. Sekarang kita masuk ke dalam toko donat lagi, gue ganti donat lo yang udah ciuman sama aspal ini. Yuk." Abis itu Aldan langsung menarik tangan Saira memasuki toko Donat.

"Nama gue bukan Manis!"

"Tadi gue tanya nama lo siapa nggak dijawab, gue panggil manis sekarang lo protes, salah mulu deh,” keluh Aldan, ia sampai berhenti berjalan yang otomatis Saira juga berhenti mengikuti.

Saira diam, "Jangan panggil gue Manis, gue bukan gula." ucapnya pelan.

Entah kenapa Aldan tertawa kecil melihat cara bicara perempuan di depannya ini, lucu. "Terus gue harus panggil lo siapa dong?" tanya Aldan, sekalian kesempatan mengetahui nama perempuan di depannya ini.

"Saira, nama gue Saira."

Aldan tersenyum lebar, "Oke Saira, ayo gue ganti donat lo yang kelindes itu."

Mata Saira yang tadinya redup kini langsung berbinar, ia ingin semua rasa donat yang dijual di toko langganannya ini, kapan lagi bisa pilih sepuasnya. Kalau beli sendiri, ia harus berusaha menyisakan uang sakunya.

"Beneran?" pekik Saira.

"Beneran dong, eh, tapi ada syaratnya." Aldan tersenyum jail.

"Kok ada syaratnya sih?" Saira cemberut. Ia juga berpikir, kan cowok ini yang salah kenapa cowok ini juga yang mengajukan syarat.

Namanya juga Saira, kalau sudah berurusan dengan donat, ia akan lupa siapa yang salah dan siapa yang benar. Aldan mengambil ponselnya dari saku celana, lalu menyerahkannya ke Saira. "Mmm, apa? Buat gue ponsel nya?" tanya Saira. Aldan mendengus kesal, Saira sepertinya terlalu polos.

"Bukan, ketik nomor ponsel lo di ponsel gue, sekarang juga kalau mau gue beliin donatnya."

Kemudian, Aldan tidak menyangka perempuan di depannya ini langsung menyambar ponsel Aldan dengan senyuman gembira, tetapi Aldan sempat mendengar gumaman Saira seperti, "Donat, my babe, tunggu akuuu."

Aldan tersenyum kecil melihat keantusiasan Saira, "Nih, udah."

"Oke, c'mon."

***

Menyesal.

Satu kata itu yang sekarang Aldan rasakan. Aldan rasanya mau menangis saja, uangnya hari ini langsung hampir terkuras abis, itu semua karena cewek maniak donat yang duduk di sebelah nya ini.

"Ini rumah lo?" tanya Aldan sembari menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah bercat putih. Iya, sebagai rencana pedekatannya ia sampai menawarkan Saira untuk diantar pulang dan cewek itu langsung mengiyakan, katanya lumayan hemat ongkos.

"Hu'um." Saira menjawab sambil sibuk memakan donat, sepertinya sebelum jadwal menonton film donat itu akan lebih dulu habis.

Aldan mendengus sebal, Saira memang tidak tahu diri. Donat itu hanya dimakan olehnya tanpa mau berbagi.

"Mau dong donatnya,” ucap Aldan seraya mengintip box yang berada di pangkuan Saira.

Lihat saja Saira langsung bereaksi menggelengkan kepalanya heboh sambil menyembunyikan box donatnya. "Nggak boleh!"

"Sok aja sih, gue mah nggak doyan yang manis,” cibir Aldan.

Wow, tidak doyan yang manis katanya. Saira kan manis.

Saira mengedikkan bahunya tidak peduli, ia melepas seatbelt dan keluar dari mobil. "Makasih udah ganti rugi, hati-hati di jalan,” Kemudian menutup pintu mobil dengan keras sampai membuat Aldan berjengit kaget.

"Hehe, sengaja,” cengir Saira saat melihat reaksi Aldan. Lantas ia langsung berlari memasuki gerbang rumahnya.

"Gue udah masuk nih, jadi sekarang lo boleh pergi."

Sialan. Cewek itu benar-benar. Lagian tanpa diusir pun Aldan akan langsung pergi, untuk apa ia di sana. Membuang waktu. Aldan langsung tancap gas meninggalkan rumah Saira.

"Cewek tadi nyebelin, tapi ... Manis juga." gumamnya tersenyum kecil.

Katanya enggak doyan yang manis?

***

"Mami, tambahin uang jajan aku dong."

Iya, malam ini Aldan membujuk Mami nya untuk menambahkan uang jajan. Kalau saja uangnya tidak habis karena Saira, Aldan tidak mungkin gelendotan di tangan Maminya setelah makan malam.

"Apa? Abis buat apa kali ini kamu?"

Aldan meringis, kemudian ia menceritakan kejadian tadi sore. Mami nya tertawa kecil dan langsung menganggukkan kepala. Kalau sudah mengangguk, itu berarti ia sudah menyetujui permintaan Aldan. Aldan langsung bersorak senang. Kok gampang banget?

Setelah itu, Aldan langsung berlari menaiki kamarnya, merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Omong-omong, Aldan ini juga termasuk orang yang suka rebahan.

Ia mengambil ponselnya di atas nakas, membuka aplikasi chat dan melihat profil cewek sore tadi, Saira. Aldan tersenyum, ia langsung mengirimi cewek itu pesan. Tapi ia heran, centang dua tidak ada balasan apapun.

Kita beralih ke Saira yang ternyata sudah memulai acara menonton filmnya, ia sangat khidmat menonton film. Sampai gangguan yang tiba-tiba mendatanginya.

Ting!

Ting!

Ting!

Ting!

Ting!

Siara mengepalkan tangannya kesal, ia langsung mem-pause filmnya. Kemudian menyambar ponselnya yang sedari tadi berbunyi tidak berhenti.

"Siapa sih? Berisik! Ganggu aja." gumamnya. Ia mengernyit bingung, nomor baru, siapa?

Drrrt. Drrrt. Drrrt.

Nomor itu meneleponnya, Saira langsung mengklik tombol hijau. "Siapa sih? Ganggu orang lagi nonton film aja, awas aja kalau nggak penting?" cerocosnya.

Yang menelepon menjauhkan ponselnya dari telinga, berisik banget soalnya. "Ini gue, Aldan. Gue ganggu banget ya?"

"Pake nanya lagi, ganggu banget!"

Aldan bisa mendengar nada suara Saira sangat kesal, tapi ia justru gencar menggoda perempuan imut itu.

"Maaf deh, tapi masa lo nggak mau ngobrol sama gue, kan gue udah beliin lo donat. Lo tau nggak sih, uang gue abis tahu,” Aldan berucap sesedih mungkin, ia sedikit menahan tawanya.

Saira jadi kasihan, tapi kan, "Ih, kan itu salah lo yang nabrak gue, itu kan ganti rugi."

"Cih, ganti rugi apaan. Lo milih hampir semua rasa donat yang dijual di toko, apaan itu, gue bahkan ngebeliin lo lebih dari yang lo beli,” cibir Aldan, "Yaudah kalau lo nggak mau gue ganggu, gue tutup."

"Eh, eh, Aldan. Iya deh iya, makasih udah beliin gue donat,” Saira sampai bangun dari tidurannya, "Ambekan banget sih lo."

Saira kembali berbaring, ia langsung menyalakan filmnya kembali. Saira menonton sambil berteleponan, fix, mereka beneran seperti orang pacaran.

"Lo lagi nonton film ya?" tanya Aldan di seberang sana, soalnya Aldan samar-samar mendengar percakapan lain ditelepon ini.

"Hmm,"

"Filmnya seru ya?"

"He'em,"

"Lebih seru dari gue ya?"

"Iya, lebih seru dari lo, berisik deh!" jerit Saira, ia langsung mematikan sambungan dan mematikan ponselnya. Ia meraih donat yang sudah ia sediakan sedari tadi di dekat laptop, telepon dari Aldan membuat mood-nya jelek, ia harus mengembalikan mood-nya lagi.

"Emm, enak banget donatnya. Hihi, makasihhh Aldan,” pekiknya.

Aldan di seberang sana melongo tidak percaya, cewek itu seenak jidat memutuskan sambungan. Aldan mendengus sebal, Saira terlalu menyebalkan untuknya. Tapi juga manis dan cocok untuknya.

Bersambung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel