Bab 3 mulai pendekatan
Katakan Aldan memang benar-benar sangat gila padahal baru ketemu Saira dua kali dan bayangkan pagi-pagi sekali Aldan sudah datang ke rumah Saira, cowok itu beralasan ingin menjemput Saira dan berangkat bersama ke sekolah. Hanya Aldan yang baru kenal sudah berani seperti itu.
Lantas saja membuat Saira terkejut dan kesal bukan main. Sedangkan, Vira —Bundanya— dengan lapang dada menerima Aldan. Bagi Saira, Aldan adalah makhluk spesies yang menyebalkan.
Sedangkan, sang oknum sendiri kini tengah menyantap sandwich yang dibawakan Maminya. Menolak ketika ditawarkan sarapan oleh Bundanya Saira. Tentu, ia tahu diri.
"Lo ngapain kesini?" Saira berkacak pinggang.
"Jemput lo,” jawab Aldan dengan santai.
"Gue bisa berangkat sendiri,” ucap Saira.
"Nggak bisa, lo harus berangkat sama gue, Manis. Masa lo tega sama gue yang udah dateng pagi-pagi kesini."
"Disuruh siapa?" tanya Saira, "Nggak ada kan?! Duluan aja sono."
Aldan langsung menggelengkan kepalanya, menolak untuk duluan. Saira menatap Aldan sengit. "Gue nggak mau berangkat sama lo!" jerit Saira.
"Saira nggak boleh gitu, kasihan dia udah jauh-jauh dateng kesini. Kamu berangkat sama dia aja." ujar Bunda Vira sembari memberikan segelas susu putih ke Aldan.
"Makasih, Tante,” dengan sangat senang hati Aldan menerimanya. Iya, ketika menolak untuk sarapan, Bunda Vira menawarinya dengan susu.
"Tapi, Bun—" rengek Saira.
"Nooo, nggak ada tapi-tapian, hargai usaha orang." potong Bunda Vira dengan jari telunjuk yang bergoyang ke kanan-kiri.
"FINE!" putus Saira berteriak.
Aldan langsung bersorak senang, ia langsung meneguk habis susunya. Kemudian, berdiri, "Ayo kita berangkat."
Tapi ... Tapi ....
Beneran Aldan langsung speechless, ketika Saira mengeluarkan motor scoopy dari garasi rumah. Sedangkan, Saira tersenyum puas melihat reaksi Aldan.
"Ayo katanya berangkat,” ucap Saira, ia sudah siap di motor scoopy nya.
"Manis, yang bener aja kita naik ini. Naik scoopy warna pink, please deh. Lebih baik juga naik mobil gue, yok." bujuk Aldan sedikit mengerang frustasi tidak menyangka.
Bunda Vira menggelengkan kepalanya, ia tahu anak perempuannya itu tengah mengerjai Aldan. Umur Saira belum cukup dan juga belum bisa menaiki motor.
"Katanya lo mau berangkat sama gue, gue maunya naik ini. Kalau lo nggak mau, udah lo berangkat sendiri saja,” ucap Saira dibuat sesedih mungkin. Aldan mana tega melihat raut sedih Saira seperti itu.
"Oke, kita naik scoopy. Tapi bentar gue telfon orang rumah dulu buat ambil mobil gue,” ucap Aldan menyetujui, ia langsung meraih ponsel dan menghubungi orang rumah.
Tapi Saira yang langsung kaget mendengar Aldan menyetujuinya. Ia hanya berniat supaya Aldan berangkat sendiri. Kenapa jadi seperti ini. Untuk hari ini, sepertinya ia harus berangkat dengan cowok menyebalkan itu. Saira melihat Aldan yang berbicara dengan Bundanya, cowok itu tengah menitipkan kunci mobil, katanya akan ada orang yang mengambil mobilnya kesitu.
"Trus lo pulang nanti gimana kalau mobilnya di ambil?"
"Gampang gue bisa pesen taksi." jawab Aldan.
"Kenapa nggak dimasukin ke sini aja?" tanya Saira, maksudnya ke halaman garasi.
"Takut nggak muat."
Bugh.
Lagi, Saira menendang betis Aldan. Bunda Vira sendiri kaget melihat kelakuan anaknya. "Rumah gue emang kecil, nggak usah gitu."
"Ya ampun, manis, siapa yang bilang rumah lo kecil? Gue nggak bilang gitu, takut nggak muat tuh, kali aja Bunda lo nanti punya tamu bawa mobil, mobil tamunya mau ditaruh di mana kalau ada mobil gue?" ucap Aldan sembari meringis. "Sakit tau." lanjutnya.
R.I.P Aldan.
"Maaf,” ucap Saira sembari memalingkan wajahnya.
"Udah, yuk berangkat. Tapi gue nggak ada helm."
Saira langsung mengambilkan helm untuk Aldan. "Maaf ya warna pink juga, soalnya cuma ada helm nya Bunda sama gue doang sih. Coba dipake muat nggak,” ucap Saira memberikan helm bermotif pink polkadot. Aldan speechless lagi, kalau bukan demi Saira ia takkan mau seperti ini.
Bunda Vira tertawa sendirian di ambang pintu, sebenarnya ia ingin membela Aldan tapi ia tahu tujuan lelaki itu kemari pasti bukan hanya menjemput anaknya, yang ia lihat Aldan menyukai Saira.
"Ayo, Manis. Kita berangkat." Aldan menaiki motor scoopy itu. Selamat tinggal image cool Aldan.
"Ih, kan gue udah bilang, nama gue bukan Manis." Saira merengut sebal sembari menaiki motor.
*
Jika kalian pikir berangkat bersama akan dituai tatapan sinis dari banyak siswa yang menyukai Aldan, di sekolah ini berbeda. Justru mereka tertawa geli, ini momen langka di mana cowok tampan menaiki scoopy pink.
Bukankah menggemaskan?
Mereka berdua telah sampai diparkiran, Saira terkikik puas banyak yang melihat kearah mereka berdua. Selain Aldan yang menaiki scoopy pink, para siswa sedikit heran mengapa Aldan datang dengan cewek? Sontak itu membuat para siswa penasaran.
"Makanya lain kali jangan jemput gue kalau nggak mau berakhir kayak gini." ujar Saira sembari melepas helmnya, ia berkaca pada spion motor sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Aldan menatap Saira melas. "Kan gue mau jemput lo, emang salah ya?"
"Iya salah, orang baru kenal tiga hari udah berani jemput gue kerumah,” cerca Saira.
Dengan mengendikkan bahunya acuh, Aldan melepas helm yang membuat image cool-nya hilang ini. Aldan dengan cengiran bibirnya, ia menarik tangan Saira. Yang ditarik tak tinggal diam, ia berusaha melepas dengan cara meronta-ronta.
"Apa sih pegang-pegang, gue mau ke kelas!" jerit Saira tak tahu malu padahal mereka sudah menjadi pusat perhatian di parkiran.
"Ikut gue lah, ayo."
Tangan Saira tidak bisa lepas dari tarikan Aldan, kekuatan lelaki itu sangat susah dikalahkan. Demi tidak membuat tangannya lecet, ia pasrah.
"Gue mau ke kelas," ucap Saira lagi. Aldan hanya tersenyum kecil sembari menoleh ke Saira, ia masih tetap menarik tangan Saira.
"Aldan, gue mau ke kelas."
Senyuman Aldan tambah lebar ketika Saira memanggil namanya. Tunggu, Aldan mengernyit heran, bukankah ia lebih tua satu tahun dari cewek manis ini? Ia juga berada ditingkat akhir saat ini. Bukankah Saira seharusnya memanggil Aldan dengan sebutan Kakak?.
"Kakak." ucap Aldan sembari berhenti berjalan. "Panggil gue Kakak, gue Kakak kelas lo ya."
Saira langsung saja menghempaskan tangan Aldan, ia menatap Aldan dengan tatapan bengis, "Nggak mau!" ucapnya sembari menggelengkan kepala.
"Nggak sopan banget lo sama gue,” ucap Aldan, kembali menarik pergelangan tangan Saira.
Sangat menyebalkan, Aldan adalah makhluk menyebalkan. Hei, siapa yang lebih tidak sopan pagi-pagi datang ke rumah orang? Saira mengumpati Aldan dengan bibir yang meniru ucapan Aldan tadi.
"Nggak sopan banget lo sama gue,” Saira mengulangi perkataan Aldan tadi dengan nada suara yang cukup keras. Aldan tentu saja mendengar, ia terkekeh pelan.
"Ini kelas lo, benerkan?"
Aldan berhenti tepat didepan pintu kelas sebelas IPA dua, Saira mengerjap. Kepalanya mengangguk membenarkan. Aldan mengangkat kunci motor scoopy pink. "Kunci motor ada di gue, jangan pulang duluan ya Manis kalau nggak mau diomelin Bunda,” ucap Aldan sembari mencium ujung kunci motor lantas bersiul dan pergi meninggalkan kelas Saira.
"Orang gila,” gumamnya menatap tajam punggung Aldan yang menjauh dan berbelok menaiki tangga. Omong-omong, kelas sebelas di lantai dua, kelasnya Aldan di lantai tiga. Tunggu, Aldan tahu dari mana ia di kelas ipa dua ini? Dari parkiran Saira tidak bilang apa-apa soal kelasnya. Saira bergidik ngeri memikirkan itu. Ia harus tanyakan nanti.
*
Aldan berjalan dengan santai menuju kelas, sembari menyapa balik orang-orang yang menyapanya. Cowok tampan harus ramah. Ia masuk kedalam kelas, langsung disambut kehebohan tiga temannya.
"Mas nya naik scoopy pink?" tanya Adnan, salah satu temannya. Cowok ini langsung menggoda ketika menyadari kedatangan Aldan. "Berdua boncengan ama cewek udah kek Dilan ama Milea, haha." lanjutnya mengoceh. Yang langsung disambut nyanyian Afkan dan Bintang, mereka berdua menyanyikan ost dari film tersebut.
"Nggak usah ngeledek lo bertiga!" Aldan kesal, pasti bakal seperti ini, teman-temannya itu akan benar-benar meledekinya habis-habisan. "Kenapa emang kalau gue naik scoopy?"
"Ya nggak papa sih, nggak masalah." sahut Adnan.
"Siapa nih cewek yang berhasil naklukin hati seorang pangeran cendrawasih?" Afkan bertanya sambil menaik-turunkan alisnya. Omong-omong, Adnan dan Afkan ini kembar. Aldan sendiri kadang bingung mana Adnan, mana Afkan. Satu lagi temannya bernama Bintang Ramadhan. Seolah ditakdirin, abjad nama mereka urut dari A ke B.
Kalau Aldan adalah cowok yang tidak terlalu tertarik dengan cewek—tapi pernyataan itu langsung terpatahkan ketika bertemu Saira, beda lagi dengan Bintang, nah, dia ini orangnya humoris dan penyayang, banyak yang naksir.
Tak jarang perempuan yang menyatakan perasaannya kepada Bintang duluan. Huft, bukan hanya Bintang saja tapi ketiga temannya pun sama, intinya mereka berempat digilai di cendrawasih ini. Kakak kelas sebelum mereka pun banyak cowok gantengnya karena udah pada alumni, tinggal mereka yang sekarang lagi famous.
Perkenalkan kembar, Adnan ini dijuluki playboy-nya cendrawasih. Jangan heran kalau tiap hari dia gonta-ganti gandengan. Kemudian, Afkan dia ini sama petakilannya dengan Adnan, bedanya dia tidak suka punya banyak cewek, ribet. Dia ini dijuluki sunshine, ketawa nya indah banget beda banget sama kembarannya yang kalau ketawa menggelegar sambil mukul-mukul benda di sekitarnya.
"Ceweknya cantik, imut, sabilah gue embat,” ucap Bintang yang langsung dipelototi oleh Aldan. Kembar pun bersorak memanasi. Padahal Bintang saja tidak tahu wajah Saira bagaimana.
"Sabi-sabi, gue bakal nonjok lo tiap hari kalau berani ngembat punya gue!"
"Santai brooo! Nggak bakal gue tikung, gue punya tipe sendiri." ucap Bintang, ia sengaja menggoda Aldan, ingin mengetahui reaksinya.
"Lo nggak salah kan tadi pagi naik scoopy?"
"Nggak salah, gue emang berangkat bareng sama dia,” ucap Aldan menatap ketiga temannya dengan tatapan serius. "lo tau nggak sih itu cewek unik, gue jemput pake mobil malah maunya naik motor scoopy. Ngerjain gue itu cewek. Ckck, tapi dia manis, gimana dong?" lanjut Aldan mengoceh.
"Kapan lo deketnya? Kok kita nggak tau?" tanya Afkan.
"Tau nih punya cewek cantik nggak sharing-sharing." Ketahuilah ini yang berkata oknum Adnan.
"Ogah, biar gue simpen sendiri saja,” ucap Aldan, kemudian dia menjawab pertanyaan dari Afkan. "Dua hari yang lalu,” jawab Aldan tersenyum lebar. Ia langsung saja mulai menceritakan semua kejadian dua hari yang lalu dengan semangat menggebu.
"Donat ngebawa keburuntungan tuh, tunggu dulu lo lagi ngapain ke toko donat?" giliran Bintang yang bertanya.
"Itu sebenarnya gue mau ke tempat potong rambut, tempatnya kan sebelahan sama toko donat,” jawab Aldan.
"Itu cewek gimana menurut lo?" tanya Afkan seolah penasaran tanggapan Aldan yang katanya langsung suka pertama kali ketemu, disambut penasaran dari Adnan dan Bintang juga.
"Dia lucu, marah pun tetep kelihatan lucu. Tolongin gue, gue kayaknya udah fix naruh hati sama dia." ucap Aldan senyum-senyum sendiri.
Bersambung...
