bab 7 pria beristri
"I-is-tri-mu,mas?"ulang Lestari, dia tak mau pendengaran nya salah.
Meneguk beberapa teguk minuman di hadapannya.
Agak kering kerongkongannya, Rizal memperhatikan tingkah gadis itu, mungkin Lestari terkejut mendengar kejujuran nya.
"Maaf mas, apa mas Rizal tidak merasa menghianati istri mas?" yanya Lestari, setelah dia merasa bisa menenangkan perasaan nya.
"Mas memang salah, tapi beberapa hari ini, mas merasa ingin kenal kamu lebih dekat, padahal cuma lewat chat aja, kamu kan selalu menolak bila di ajak mas bertemu" jawab Rizal.
"Tapi mas sudah beristri, bagai mana perasaan istri mas, bila mas ada perasaan kepada wanita lain, aku pun dulu sakit mas merasakan nya" Lestari menunduk.
Kembali teringat sakitnya ketika melihat Bagas dengan perempuan lain dan memutuskan cinta untuk lebih memilih kekasih barunya.
"Mas juga bingung Tari, apa mas bisa melupakan kamu, padahal mas juga tahu, sangat mudah untuk melupakan kamu, kita belum lama kenal"
"Lebih baik begitu mas, jangan sampai istri mas mengetahuinya, aku tak mau di sebut perebut suami orang, maaf mas"
Lestari memohon, lelaki itu tak bergeming, mungkin dia sedang berfikir.
"Tari, kita bisa berteman kan?" tanya Rizal ragu.
Lestari, merasa matanya berkunang kunang, kepalanya pening, tiupan angin sore tak membantunya menghilangkan rasa sakit yang tiba tiba saja dia rasakan.
"Tari, kamu kenapa ?" Rizal bangkit dari duduknya, melihat Lestari memijit pelipis kepalanya.
Lestari menolak bantuan Rizal, ketika lalaki itu akan meraih tubuhnya.
"Aku tidak apa apa Mas, lebih baik sekarang kita pulang" ajak Lestari, berdiri mengajak Rizal untuk meninggalkan tempat itu.
"Tapi, Mas masih ingin bicara sama kamu, Tari " tolak Rizal,
"Mas, kepala ku sedikit pusing, biarkan aku pulang, dan ... dan ... tak usah Mas menghubungiku lagi!" Ujar Lestari agak membentak lelaki yang ada di hadapan nya itu.
"Baik lah, Mas antar kamu pulang ya, takut nanti di jalan kamu kenapa napa" Rizal mengikuti langkah Lestari yang sudah berjalan meninggalkan tempat itu.
Lestari menghentikan langkahnya, dia menunggu angkutan umum yang lewat di depannya.
"Mas bawa mobil, tunggu lah di sini, biar Mas antar" tawar Rizal, kesempatan ini tak mungkin dia lepaskan begitu saja, dia harus tahu alamat rumah gadis yang telah merebut hatinya itu.
"Tak usah Mas, aku bisa naik angkutan umum" Lestari tetap menolak tawaran Rizal.
Sebuah angkutan umum berhenti tepat di depan Lestari, tanpa berkata apapun, gadis itu masuk ke dalam, meninggalkan Rizal yang berdiri mematung tanpa sempat mencegahnya.
Pupus sudah harapannya untuk mengetahui rumah Lestari.
Lestari merasakan pandangannya buram, mungkin pengaruh dari sakit kepala yang di rasakannya.
Kenapa nasibnya hanya bertemu dengan laki laki yang tak bisa menjaga kesetiaan cintanya, walau pun dia belum mengenal Rizal.
Tapi kejujuran lelaki itu membuat dia harus bisa menjauhi Rizal.
Bagai mana perasaan istrinya, bila tahu suami yang dia sayangi mendua cinta, walau pun Lestari belum mengatakan kalau dia suka pada pria itu, tapi sekarang perasaan benci mulai dia rasakan terhadap Rizal.
Rumah masih sepi, mungkin orang tuanya belum bisa pulang hari ini, apakah nenek belum sembuh dari sakitnya, ah menyesal Lestari tak ikut mereka, agar tak bisa bertemu Rizal.
Mungkin Lestari belum mengenal Rizal, tapi pertemuannya sore tadi, membuat hati gadis itu merasakan perasaan yang lain, mungkin kah ada rasa suka?
Tapi bila ingat dia pria beristri rasa suka pun berubah menjadi benci.
Melihat penampilan Rizal yang begitu sempurna di mata Lestari, tutur katanya yang selalu penuh dengan perhatian, membuat jantung Lestari berdebar lebih kencang disaat menatap Rizal.
Andai saja Rizal masih sendiri, mungkin Lesatari sudah menerima rasa suka lelaki itu, walau hanya untuk melupakan Bagas.
Lelaki itu beristri, itu yangembuat Lestari tak kan bisa menerima Rizal sampai kapan pun.
Sebuah mobil berhenti di depan pekarangan rumah Lestari, baru saja gadis itu melangkah masuk, untuk membuka pintu rumahnya, gadis itu menoleh melihat mobil siapa yang berhenti di depan pekarangan rumahnya.
Seorang lalaki turun dari dalam mobil berjalan perlahan menghampirinya.
Lestari tak dapat lagi menahan berat tubuhnya, lututnya begitu lemas, matanya tertuju kepada lelaki yang mendekatinya.
Ya Tuhan!
Itu Rizal.
Kenapa pria itu nekad mengikutinya.
"Aku ikuti angkutan umum yang membawamu, untung masih terkejar" Rizal tersenyum.
Lestari menghempaskan bokongnya di kursi teras, dia tak bisa berkata apa apa.
Hanya melihat Rizal dngan pandangan kaku.
Rizal berdiri di depan pagar rumah Lestari memandang sekeliling halaman Lestari yang lumayan luas.
"Rumah mu kelihatan sepi? kemana orang tuamu?" tanya Rizal, dia tetap berdiri di luar pagar, tak berani untuk masuk sebelum Lestari mempersilahkan nya.
"Mereka tidak ada mas, sedang ada keperluan, eh ... oh ... masuk mas" Lestari baru tersadar dan mempersilahkan Rizal untuk masuk walau hanya duduk di teras rumahnya.
Rizal menatap Lestari, mungkin gadis itu bertambah sakit kepalanya, karena masih terlihat pucat den meringis memijit pelipisnya.
"Mas gak lama, hanya ingin tau rumah kamu saja Tari, maaf mas sudah mengagetkan kamu, pasti kepalanya tambah pusing ya?"
Lestari tersenyum tipis, tak baik bila dia tidak sopan kepada tamu, tapi bila tamunya ini adalah Rizal, harus kah dia mengusir nya?
Ya memang kepalanya terasa bertambah berdenyut, karena kedatangan Rizal.
"Mas kok nekad ya, sampe ngikutin aku segala!" ujar Lestari suaranya agak keras.
"Mas hanya ingin tahu rumah kamu, lain waktu mungkin Mas bisa berkunjung lagi ke sini" jawab Rizal mengharap Lestari mengijinkan kesempatannya yang lain.
"Sebaiknya Mas pulang, istri Mas pasti menunggu di rumah, dan ... maaf Mas sebaiknya tidak usah datang lagi.
"Tari, Mas hanya ingin berteman, mungkin Mas bisa bertukar cerita dengan kamu"
"Maaf Mas sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi!" jawab Lestari agak ketus, gadis itu berdiri sambil menatap Rizal yang masih duduk di kursi teras.
Risal faham bila tatapan mata Lestari mengusirnya dengan halus.
"Baiklah Mas pamit,mudah mudahan Tari masih mau mengenal Mas, memang Mas tak bisa meyakinkan kamu, bila perasaan Mas ini tidak bohong, mungkin nanti Mas bisa menjelaskannya, kalau masih ada kesempatan kita untuk bertemu lagi" Rizal beranjak dari duduknya, memasuki mobil yang terparkir di depan pagar, setelah Rizal berlalu dan pergi, Lestari pun membuka pintu rumah dan langsung membaringkan badannya di atas ranjang, memikirkan semua yang baru saja dia alami.
Sore mulai menjauh, gelap mengintip membawa matahari yang akan kembali ke peraduannya.
Lestari masih berbaring di ranjangnya
Ketika Terdengar suara ribut di dalam rumah, rupanya ayah dan ibunya sudah kembali dari rumah nenek.
Suara Fatimah, adik perempuannya yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Atas pun ada di antara suara ayah dan ibu.
Ibu sudah pulang, gumam Lestari beranjak dari kamarnya, karena hari sudah akan masuk magrib.
Semenjak pulang bertemu dengan Rizal gadis itu langsung membaringkan badannya di atas ranjang.
Lestari masuk ke kamar mandi, membersihkan badannya dan mengambil air wudhu untuk shalat menjalankan kewajibannya, baru dia akan menemui ibunya.
***
