bab 6 Ternyata dia itu ...
Lestari memandang wajah sahabatnya, Lily memang tertawa lepas dan berkata dengan nada biasa, tapi Lestari tahu sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu padanya.
"Li kamu ada masalah ya? Kok wajah kamu ditekuk gitu?" tanya Lestari menatap lekat wajah sahabatnya.
"Tari, aku mau dijodohkan ... " jawab Lily dengan suara lirih.
"Di jodohkan, maksud kamu, kamu akan menikah?" tanya Lestari, meneguk teh hangat yang baru saja dia buat lagi, dua gelas untuk sahabatnya juga.
"Aku di jodohkan dengan anak teman ayah ku ... " Lily menjelaskan arti ucapan nya.
Lestari mengangguk anggukan tanda memahami apa yang di katakan sahabatnya.
"Terus masalah nya apa Li?" Lestari mengerutkan dahinya masih merasa belum jelas dengan penjelasan sahabatnya, masa hanya karena dijodohkan Lily sampai sedih seperti ini.
"Aku gak mau lah, belum tentu laki laki yang di jodohkan sama aku itu menyukaiku, atau aku suka padanya!"
"Kamu kan belum bertemu sama lelaki itu, berkenalan aja dulu, jangan langsung kamu terima!"
"Masalahnya, ayahku memaksa ku,untuk menerimanya" suara Lili terdengar kalut.
"Memang kapan ayah mu mau menjodohkan kamu nya?" Lestari bertambah penasaran dengan cerita Lili.
"Minggu depan Lestari!" dengan kesal Lily menjawab ketus matanya berkaca kaca.
Bola mata Lestari membesar, mulut nya menganga, terkejut mendengar apa yang Lily ampaikan, seminggu lagi?
Dalam waktu yang tak lama lagi, sahabatnya itu akan di jodohkan.
Lestari, tahu Lily tak akan pernah menyetujui perjodohannya, tapi dia pun mengenal Lily, gadis manis di hadapannya itu sangat penurut tak pernah membatah apa yang orang tuanya inginkan, termasuk perjodohan ini, pasti Lily tidak akan menolaknya.
"Kamu yang sabar ya, mungkin ini yang terbaik buat kamu Li" hibur Lestari berusaha membuat sahabatnya tenang.
Ponsel Lestari berbunyi.
Ternyata Rizal yang mengirimkan pesan pria itu tetap ingin bertemu dengan Lestari.
Gadis itu membaca pesan Rizal, yang sedikit memaksa memintanya menemui di tempat yang sudah dia beri tahu, kafe di mana dulu Lestari bertemu pertama kali dengan Rizal.
"Rizal mengajak ku bertemu" ucap Lestari, menoleh ke arah sahabatnya.
"Lelaki itu masih penasaran menemui mu padahal tadi sudah kamu tolak kan?"
Lestari mengangguk.
"Iya tadi aku sudah menolak memberikan alamat rumahku, sekarang dia mengajak ku bertemu di kafe tempat pertama kali ketemu waktu itu Li" jawab Lestari mengangkat kedua bahunya, sebenarnya malas juga menemui pria yang tidak jelas itu, tapi Lestari pun punya rasa penasaran ingin tahu siapa wanita yang semalam bersama Rizal.
"Ya sudah kamu temui aja dia, biar gak penasaran" usul Lily pada sahabatnya.
"Kamu mau ikut?"ajak Lestari penuh harap, siapa tahu Lily mau menemaninya menemui Rizal.
"Tidak Ri, aku masih merasa lemas dengan kabar perjodohan, rasanya tak ingin aku cepat cepat menikah, aku masih ingin kerja" jawab Lily menolak ajakan sahabatnya,
lestari pun membayangkan seandainya sahabatnya menikah, tak ada lagi teman dekat yang bisa menghibur dan menemani dia, pasti Lily menjadi berubah kalau sudah bersuami, bagai mana juga kalau seandainya suami Lily membawa Lily pindah dari rumah orang tuanya, ah ... Lestari pasti merasa sendiri.
Baik lah Rizal, aku akan menemui mu, akan aku tanyakan siapa wanita yang berjilbab itu langsung nanti, gumam Lestari, setelah Lily pamit pulang gadis itu pun bersiap untuk menemui Rizal di tempat yang sudah di jelaskan Rizal dalam pesannya.
Lestari melirik kembali arloji ditangan nya, hampir 20 menit gadis itu menunggu kedatangan Rizal minuman dingin yang di pesannya sudah hampir habis.
Pria itu belum muncul juga.
Tak mungkin Rizal membohonginya, tadi dia sudah mengatakan akan sampai dalam 10 menit, tapi ini sudah lebih dan Rizal belum datang.
Lestari tidak mau menunggu lebih lama lagi kedatangan Rizal, gadis itu akan beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf Tari tadi di perjalanan macet!" Lestari menoleh ke arah suara di belakangnya, ketika baru saja dia akan pergi dari tempat itu.
Rizal tersenyum sangat menawan, pria itu mengenakan kaos polos berwarna coklat muda, di padu dengan celana jeans, sangat serasi penampilannya, sepatu cat bertali membuat Rizal terlihat santai rambutnya yang ikal di biarkan agak semrawut, Rizal benar benar sangat tampan, dan Lestari baru menyadarinya.
Lelaki itu menghempaskan bokong nya, duduk di hadapan Lestari, membuat gadis cantik itu tersipu malu karena menatapnya tak berkedip.
"Maaf menunggu lama!" ucap Rizal, mengeluarkan satu bungkus rokok dngan pemantiknya.
Lestari masih menikmati karisma di wajah Rizal, menatapnya tanpa sadar, sampai tak mendengar apa yang di katakan Rizal.
"Boleh aku merokok?" tanya Rizal sebelum dia mengeluarkan batangan dalam tempatnya.
Lestari baru tersadar, menyembunyikan rasa malunya dengan meneguk minuman yang sebenarnya sudah tandas.
"Pesan lagi minumannya?" tawar Rizal tangannya melambai ke arah waiters yang berdiri di samping kasir, dengan membawa note kecil waiters itu menuliskan pesanan yang di sebutkan Rizal.
"Lestari, mas mau minta maaf karena tadi mas sudah berani mengutarakan isi hati mas" Rizal mengawali pembicaraannya, rokok yang sudah terselip di antara jarinya dia bakar dan di isapnya perlahan.
"Ya Mas, aku juga kaget, tapi kedatangan aku kesini, hanya ingin tahu siapa wanita yang bersama Mas kemarin malam" jawab Lestari memainkan ujung tali tas selempangnya.
"Oh itu ... ya nanti Mas kasih tau siapa dia "jawab Rizal dia tetap menikmati isapan rokoknya.
Pesanan minuman dan cemilan yang di pesan Rizal datang.
Rizal menawarkan pada Lestari, gadis itu mengangguk, di hadapan Rizal yang hanya berdua saja rasanya hilang semua kata kata Lestari.
Menunggu Rizal menjawab apa yang dia tanyakan begitu sangat lama, Lestari tahu kalau pria di depannya itu sedang memandangnya gak berkedip.
Wajah putih Lestari merona merah, malu sudah tentu tapi risih itu yang pasti, menutupi rasa malunya Lestari meraih belas minumnya meneguknya perlahan.
Rasa dingin di tenggorokan karena minuman yang ditelan sama sekali tak membantu mendinginkan perasaanya.
"Siapa dia Mas!?" desak Lestari, mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa sisa basah minuman di bibirnya.
"Sabar dong, Mas pasti jawab kok, sekarang jawab dulu yang Mas katakan tadi pagi" Rizal seperti mempermainkan perasaan Lestari, untuk menjawab siapa wanita itu, Lestari harus menunggunya.
*Uang mana?" tanya Lestari singkat.
"Mas suka sama kamu" jawab Rizal dengan cepat, Lestari ter batuk walau pun tak ada apa apa di tenggorokannya.
"Itu tak perlu aku jawab mas, karena bukan pertanyaan, itu hanya ungkapan perasaan Mas yang tidak perlu harus ada jawabannya" begitu cerdas Lestari mengatakan hal yang seharusnya memang demikian.
Perasaan suka Rizal padanya tak usah ada jawabannya.
Yang harus ada jawabannya itu adalah pertanyaan Lestari yang sudah dia lontarkan berulang kali.
Rizal terdiam mendengar ucapan gadis cantik di depannya, Lestari memang sangat cerdas, untuknya merasa sangat beruntung bila bisa mendapatkan perempuan secantik dan cerdas seperti Lestari.
"Baiklah akan Mas jawab pertanyaan kamu itu, wanita yang semalam bersama Mas ... dia istri Mas!"
" I-is-tri mas?" ulang Lestari terkejut, suara nya terbata bata.
Badannya bergetar dadanya terasa sesak.
***
