Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 8 permintaan Lily

"Tari ibu bertemu Bagas lho, dia menanyakan kabar kamu" suara ibu Endah, membuyarkan lamunan Lestari.

Lestari menoleh ke arah ibunya, ada apa Bagas menanyakan lagi kabarnya, bukankah sekarang sudah ada yang baru  lagi pula sudah lama Bagas di hapus dalam ingatannya.

"Dia tanya sama ibu, apa kamu sudah punya pacar baru?" sambung Bu Endah, membuat telinga Lestari berdengung mendengar nama Bagas di sebut ibunya.

"Bilang saja sudah Bu, biar dia tidak menyangka cuma dia laki laki di dunia ini!" jawab Lestari sengit, Bu Endah hanya tersenyum miris, mendengar perkataan putrinya.

Perasan sakit hati dan kecewa kadang Lestari masih merasakannya.

Penghilangan Bahas tak bisa dia maafkan.

Mungkin saja yang di rasakan istri Rizal pun sepeti yang Lestari rasakan, mengetahui suaminya menyukai perempuan lain, dan dengan jelas mengejarnya, mengatakan ingin menjadi temannya.

Walau menjadi teman pun seharusnya itu tidak boleh terjadi, berteman dengan laki laki yang sudah jelas beristri akan menjadi fitnah dan masalah yang besar.

Bu Endah terdiam, dia masih sibuk dengan pekerjaannya, melipat baju kering yang baru saja dia ambil di jemuran

"Bu, Lily mau menikah" ujar Lestari, mendekati ibunya membantu melipat pakaian yang di kerjakan ibunya.

Bu Endah mengangguk, tanpa melihat wajah putrinya.

"Kalau Lily sudah menikah aku tak ada lagi teman dekat ya bu"suara Lestari sedih, tak bisa membayangkan bila sudah jauh dengan Lily

"Kalian bisa saling mengunjungi, lagian rumah Lili kan dekat"jawab Bu Endah mengerti akan kekhawatiran anak gadisnya.

"Kalau Lily di bawa pindah sama suaminya, gimana ya Bu?" tanya Lestari , susah ada dalam bayangan pikirannya, tak ada lagi sahabat yang selama ini sangat mengerti dirinya.

"Saling berkirim pesan kan bisa" jawab bu Endah datar begitu mudah menjawab tanpa merasakan apa yang Lestari susah membayangkan.

"Aku kapan nikah ya Bu?" tanya ku berkelakar, tiba tiba saja pembicaraannya berbeda dengan apa yang tadi di bicarakan bersama ibunya.

Bu Endah menatap Lestari, anak gadisnya ini memang sudah pantas bersuami, walau pum terbilang masih muda tapi ya namanya jodoh kan kita tidak tahu sudah ada yang mengaturnya.

Hubungannya dengan Bagas pun sudah kandas, walau belum berlangsung lama, lelaki itu menduakan cinta Lestari.

"Kenapa ibu menatap ku seperti itu?" tanya Lestari heran dengan tatapan mata ibunya, seperti yang sedang merasakan kesedihan dirinya.

"Ibu hanya ingin yeng terbaik buat kamu, entah siapa jodoh kamu, kalau sudah ada pasti kamu menikah" jawab Bu Endah tersenyum tipis.

"Iya sih Bu, lagian aku kan bercanda, aku tak mau dulu nikah cepat cepat, mau kerja dulu yang bener, lagian aku kan masih muda Bu, belum pantas menikah" jawab Lestari tertawa kecil.

"Teman kamu seumuran kamu ada yang sudah punya anak dua lho!"ujar Bu Endah melanjutkan melipat pakaiannya.

Benar juga sih teman sekolahnya dulu sudah ada yang punya anak dua, mereka memang rata rata menikah muda.

"Tari mau jadi wanita karir dulu Bu hehehe" Lestari terkekeh menjawab apa yang di katakan ibunya.

Siapa tahu jodohnya sudah menunggu dia hanya tinggal waktu saja dan yang jelas bukan pria beristri.

"Tolong kasih tahu adikmu ya, siram tanaman di depan" titah Bu Endah, wanita itu membereskan lipatan bajunya ke dalam lemari di kamar

Lestari beranjak memasuki kamar adiknya

Fatimah sendang asyik mendengar kan musik memakai headset.

Pasti kalau Lestari bicara tak akan terdengar oleh adiknya, satu satunya cara dia melepaskan dulu benda kecil yang menempel di telinga gadis remaja itu.

Fatimah menjerit karena kaget makanya sudah ada di sampingnya menarik handset di kedua telinganya.

"Apaan sih Mbak! bikin kaget aja" teriak Fatimah mulutnya langsung monyong merenggut karena terganggu kesenangannya.

"Kata ibu siram tanaman di depan teras" Titah Lestari pada adiknya, Fatimah memang selalu susah jika di suruh ibu, apa lagi mengganggu keasyikannya di kamar.

Tapi kalau Lestari yang meminta Fatimah tak akan bisa menolaknya, dia tahu bagai mana galaknya Lestari bila perintahnya lama di turuti.

Lestari beranjak dari kamar Fatimah, gadis itu duduk di kursi teras, biar sambil melihat kerja Fatimah menyiram bunga.

"Tari!" teriak Lily rupanya dia sengaja bermain ke tempat Lestari sekalian memberi tahu kalau mulai besok Lily sudah mengambil cuti untuk persiapan menikahnya.

"Selamat ya Li, aku bahagia kamu akhirnya sudah di beri jodoh yang langsung menikahi mu " Tari mengajak Lily duduk di kursi terasnya.

"Kamu harus jadi pengiring pengantin nanti  ya!" ujar Lily,

Lestari mengangguk, tentu saja untuk Lily, dia akan menjadi pengiring pengantin sahabatnya itu.

"Calon suami aku itu seorang duda di tinggal mati istrinya, untung dia tidak punya anak, usianya juga lebih tua 15 tahun dari ku" Lily mengatakan keadaan calon suaminya, tapi sekarang ini wajah Lestari tidak tampak sedih seperti pertama dia mendengar kabar akan di jodohkan, senyum dan candanya sudah kembali ada, mungkin Lily sudah yakin dengan pilihan orang tuanya.

"Yang penting dia jadi suami yang baik buat kamu!" Lestari mengusap punggung Lily, hatinya dari sekarang sudah mulai sedih mengigau Lily bila nanti sudah menikah

"Kamu juga aku doain cepat cepat punya pasangan lagi, aamiin" ucap Lily tersenyum.

"Iya aamiin Li, makasih" jawab Lestari dia mainkan doa Lily untuk dirinya.

"Oh iya bagai mana kabar Rizal kamu!?" tanya Lily tertawa Kelihatannya Lily sudah kembali menjadi Lily yang dulu, yang selalu banyak ngomong dan jarang cemberut.

"Ssttt ... kamu jangan keras keras sebut nama Rizal nya , kedengaran ibu atau Fatimah, aku malu masa kenalan sama pria beristri hehehe !"Lestari merapatkan jari telunjuk di depan bibirnya.

"Ups, aku lupa, maaf hehehe" Lili melirik ke dalam rumah melihat lihat siapa tahu ada Bu Endah.

Yang mendengarkan obrolannya bersama Lestari.

Jam dinding menunjukan pukul 4 sore.

Lestari menutup pintu rumahnya, dia menuju kamar, hanya untuk menunggu waktu sebelum dia membersihkan badan nya.

Lily langsung pamit belum bisa bercerita banyak pada sahabatnya.

Lestari lupa bertanya pada Lily,, apakah Bagas di undang datang di acara pernikahan Lili?

Kalau mantan kekasihnya itu datang, pasti akan membuat suasana hati Lestari  teringat kembali oleh sakit hati penghianatan Bagas.

Sampai saat ini pun, Lestari sebenarnya selalu mengingat Bagas, mengingat tentang rasa kecewanya pada pemuda itu.

Kalau Bagas datang bersama kekasih barunya, apa yang harus Lestari lakukan?

Cemberut atau membuang muka?

Dan Lestari tak mau itu terjadi, jadi lebih baik Bahar tak usah di beri tahu!

Tiba tiba saja Lestari ingat pada Rizal, bagai mana kalau dia pergi ke undangan pernikahan Lily bersama Rizal?

Tapi bila dia menghubungi Rizal, pasti pria itu merasa di butuhkan dan tidak akan mungkin menolak permintaan dari gadis yang dianggapnya sempurna di mata Rizal.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel