Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 5 baru kenal bilang suka

Ponsel Lestari berdering, Lily sahabatnya entah ada keperluan apa dia menelponnya sepagi ini.

"Tari, aku main ke rumah mu ya, kamu ada di rumah kan?" suara Lily terdengar di ujung ponselnya.

"Ada Li, kerumah aja kebetulan aku cuma sendiri kok!" jawab Lestari, gadis itu masih berbaring  di atas ranjangnya.

"Memang orang tua sama adik kamu kemana?" tanya Lily heran juga kalau di hari Minggu ini Lestari hanya sendiri di rumah, biasanya keluarga sahabatnya itu berkumpul karena memang hanya hari Minggu kah waktu kebersamaan mereka.

"Pagi pagi sekali mereka ketempat nenek ku Li, Fatimah juga ikut, nenek sakit lagi, maklum lah sudah tua, ibuku kan anak anak paling  besar dan nenek ingin dekat dekat sama ibu" jawab Lestari beranjak dari atas tempat tidur dan membuka jendela kamarnya.

"Ok, aku kesana sekarang ya!" Lily mematikan sambungan telponnya.

Sedang Lestari langsung menuju kamar mandi, subuh tadi dia sudah bangun ketika orang tua dan adiknya pergi ke tempat neneknya di kampung.

Sambil menunggu Kiky, Lestari menyeduh teh hangat manis dan membawanya ke depan teras rumahnya, meneguk perlahan lalu memainkan ponselnya.

Jarak rumah Lily hanya terhalang beberapa atap saja tidak terlalu jauh, Lily memang tetangga dekatnya.

Baru saja Lestari mengangkat gelas teh hangatnya ponsel yang dia letakan di atas meja berbunyi, dan nama Rizal terlihat di depan layar, gegas Lestari meletakan kembali gelas minumnya dan mengangkat panggilan pria itu.

"Halo!" sapa Lestari kebetulan sekali Rizal menghubunginya  akan dia tanyakan siapa wanita yang bersamanya semalam.

"Halo Tari, maaf nih ganggu ya, pagi pagi udah Mas telpon, habis semalam Tari gak ada balas lagi pesan Mas" suara Rizal

terdengar agak tidak jelas dan ada suara yang ribut di belakangnya.

"Maaf Mas, suaranya berisik jadi tidak jelas terdengarnya" ujar Lestari mencoba memperbesar volume di ponselnya.

"Oh ya maaf, ini Mas lagi di tempat pencucian mobil, sebentar mas jalan kedepan biar gak berisik" Rizal menjelaskan keberadaanya, pantas saja terdengar sangat berisik ternyata sepagi ini pria itu sudah keluar rumah.

"Bagai mana sekarang jelas kan suara Mas?" tanya Rizal setelah dia ada di tempat yang agak sepi.

"Ya Mas, sekarang jelas, maaf ada apa ya Mas kok tumben  pagi pagi menghubungiku?" tanya Lestari nada suaranya memang sedikit tidak bersahabat.

Mas ganggu ya telpon kamu sepagi ini?" tanya Rizal agak gugup karena mendengar suara Lestari yang agak kurang ramah.

"Engga juga mas, hanya heran aja, kok mas pagi pagi sudah menghubungiku" Lestari menjawab sambil melangkahkan kakinya ke arah dapur, menggambil satu toples cemilan yang selalu ibunya sediakan.

"Mas cuma mau bilang sama kamu, kalau Mas suka sama kamu!"

Kolintang!

Toples  yang di pegang Lestari hampir saja isinya tumpah, untung gadis itu masih bisa menahan agar tutup nya tidak terlepas.

Lestari sangat terkejut, mendengar ungkapan Rizal yang tanpa basa basi langsung mengatakan suka pada dirinya.

"A- apa mas?" Lestari terbata menjawab ucapan Rizal, tentu saja dia gugup, baru sekarang ini Lestari mendengar seorang pria menyatakan rasa suka dengan hanya beberapa kali bertemu, dan itu pun hanya kebetulan saja  mengenal lebih dekat pun belum dan sudah langsung mengatakan rasa suka.

"Mas suka sama kamu Tari! dari pertama  bertemu kamu di cafe itu!" lanjut Rizal suaranya terdengar biasa mungkin dia sudah lega karena sudah mengungkapkan perasaannya.

"Apa mas mabok pagi ini!? kok tiba tiba saja mengatakan suka sama saya, maaf Mas kalau mau bercanda bukan waktunya saya sibuk pagi ini!" Lestari mematikan ponselnya, jantung nya berdetak tak karuan.

Ponselnya kembali berdering dan Rizal menghubunginya lagi.

"Halo Mas, ada apa lagi? maaf ya saya sibuk" dengan cepat Lestari mengatakan hal yang sama yang tadi sia katakan pada Rizal sebelum dia memutuskan sambungan teleponnya.

"Ini jujur Tari, kamu pasti memang kaget kita belum kenal lama bahkan bertemu pun hanya kebetulan saja, tapi mas benar benar suka sama kamu!" Rizal tetap dengan perkataanya membuat Lestari tak bis berfikir jernih.

"Semalam mas bersama wanita pergi ke bioskop, dan sekarang Mas mengatakan suka sama saya, Mas tahu gak? Mas adalah laki laki yang paling g*la yang saya temui!" teriak Lestari lantang, dia harus tahu siapa wanita yang bersama Rizal semalam,  enak saja dia dengan mudah mengatakan suka, lantas siapa wanita yang bersamanya.

Bukan merasa senang bagi Lestari tapi malah merasa tidak di hargai oleh Rizal, dia anggap apa kalau hanya baru bertemu sudah mengatakan suka.

"Mas mau menemui mu, kalau kamu tidak keberatan, boleh Mas minta alamat rumah kamu, nanti Mas jelaskan di sana" pinta Rizal bertambah berani saja pria itu sudah minta nomor ponsel sekarang minta alamat rumah.

"Lain waktu aja deh Mas, hati ini saya sibuk!" tanpa menunggu jawaban dari pria itu Lestari memutuskan kembali sambungan telponnya.

Lestari menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak pagi pagi seperti ini kok sudah mendapat omongan yang tak jelas.

"Tari!" panggil Lily, sahabatnya itu sudah datang dia menenteng bungkusan di tangannya.

Lily tersenyum sambil menyerahkan bungkusan yang dia bawa pada Lestari.

Lestari melihat kedalam bungkusan itu, dua bungkus nasi uduk, diambil nya piring, kebetulan sekali dia memang belum sarapan, mereka pun menikmati sarapan tanpa banyak bicara.

"Maksih Li, kamu ngerti aja aku sedang lapar" ucap Lestari sambil membereskan  bekas sarapan dan menyimpannya di dapur.

"Aku juga kan sama belum sarapan hehehe, makanya aku bawa nasi uduk biar di makan bareng kamu!" jawab Lily meneguk minuman yang di berikan sahabatnya.

"Li, barusan Rizal nelpon aku, dia langsung bilang kalau dia suka sama aku" Lestari menceritakan pada sahabatnya kalau pria yang baru dia kenal itu menghubungi dan mengatakan suka dengan tiba tiba.

"Masa! kok ada ya cowok yang buru buru gitu, ketemu aja kan cuma karena kebetulan, kenal Deket aja belum, aneh tuh cowok!" jawab Lily sambil terkekeh menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Iya aku aja heran, dia minta alamat rumah ya gak aku kasih lah, katanya mau ada yang di omongin, aku kan langsung tanya siapa cewek yang bersamanya semalam" sambung Lestari, gadis itu menawarkan cemilan yang tadi hampir saja tumpah gegara mendengar ungkapan Rizal.

"Dia jawab gak, ngasih tau siapa cewek itu!?" tanya Lily penasaran dengan apa yang Rizal katakan.

Lestari menggeleng bibirnya mencibir.

"Ya udah gak usah kamu tanggapi, siapa tahu dia tuh cuma main main aja, cowok iseng, udah tahu punya pacar kok nembak kamu!" Lily menjawab di iringi tawa khasnya, Lestari tersenyum.

Dia pun memang sempat berfikir pasti Rizal cowok iseng yang gampang mengumbar kata suka walau pun pada permpuan yang baru di kenalnya.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel