bab 2 Pria berkaos putih
"Bagai mana kalau kita nonton besok sore?" ajak Lily ketika sore itu dia singgah di rumah Lestari.
Tak ada lagi rasa kecewa dan sedih yang dirasakan Lestari, hatinya sudah mulai bisa melupakan Bagas, walau kadang memang selalu ada rasa rindu, geram sakit hati yang Lestari rasakan.
Tapi tak seperti kemarin kemarin, pertama dia menerima kekecewaan yang di berikan Bagas.
Sekarang hatinya mulai tenang.
Lestari bekerja seperti biasa, dan banyak menghabiskan waktu bersama Lili sahabatnya itu.
Rumah mereka memang berdekatan, walau pun tempat kerja mereka berbeda, tapi tak membuat hubungan kedua gadis itu menjadi jauh.
"Siapa takut, ayo pulang kerja kita langsung ke mall ya" jawab Lestari dengan senyum khasnya, memamerkan lesung pipi yang membuat orang suka bila melihatnya.
Mereka dekat sudah sejak masih kecil, sudah saling mengenal satu sama lain, di saat Lestari bersama Bagas pun, Lily masih menjadi sahabatnya.
Bila Lestari bertengkar dengan Bagas, Lily lah yang selalu menghiburnya, atau membantunya untuk berbaikan lagi.
Tapi ketika sekarang Bagas mempunyai cinta yang lain dan memutuskan Lestari, Lily tak mau membantu Lestari untuk membuat hubungan mereka biasa lagi.
Karena Lili tau, Bagas lelaki yang di cintai sahabatnya itu, sudah berterus terang tak lagi mencintai Lestari.
Dasar laki laki buaya, sudah ada yang baru lupa yang lama.
Laki laki tak tau di untung!
Apa sih kurangnya Lestari, gadis itu cantik, kulitnya putih, senyumnya menarik, dengan rambut nya yang tergerai panjang menambah kemolekan paras wajah nya, ada lesung pipinya.
Lestari sangat cantik, kadang Lily pun merasa iri pada Lestari.
Tapi, secantik Lestari tetap saja di sakiti laki laki.
Dan Lily bersyukur dia tak pernah di sakiti laki laki, karena dia belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta.
Baginya pacaran hanya menghabiskan waktu saja.
Padahal wajah Lili pun begitu menarik, kulitnya sawo matang, manis dan sedap dipandang, rambutnya sebahu, ada poni halus di depan kepalanya, tubuh nya tinggi semampai, lebih tinggi sedikit dari Lestari, bila tersenyum, akan nampak gigi yang berbaris putih di dalam mulutnya.
Entah mungkin Lily belum merasakan artinya jatuh cinta dan di sayangi oleh seorang laki laki makanya dia tak mau memulai hubungan dengan laki laki.
Lily memang masih polos.
Tak jauh beda usia mereka, memasuki 22 tahun saat ini
Tapi Lily memang belum pernah tau arti jatuh cinta.
Tapi kalau masalah menasehati, Lily memang jagonya, gadis itu lebih dewasa dari Lestari.
Lestari sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik dan sangat mengerti seperti Lily.
Gadis itu sudah berjanji akan menunggu sahabatnya di sebuah cafe kecil dekat mall yang akan mereka masuki.
Berkali Lestari melirik arlojinya, sudah lewat 15 menit dari waktu yang di tentukan, Lili belum juga datang.
Apa kah Lily tak bisa datang ya?
Karena kerjaan nya belum selesai?
Tapi siang tadi Lily sudah berjanji akan datang tepat waktu bertemu di cafe ini.
Sambil menunggu sahabatnya, Lestari memainkan ponselnya.
Tak ada satu pun pesan masuk dari Lily.
Rasa khawatir mulai menyelimuti Lestari, apakah Lily lupa?
Ah tak mungkin, baru saja siang tadi mereka bertemu untuk makan siang, dan Lily sudah sepakat menerima ajakan Lestari.
Lestari mengaduk aduk sedotan minumannya dalam gelas, tak sengaja sedotan itu mental kuat, mungkin dia terlalu keras mengaduk minuman dinginnya.
"Aduh! Hati hati dong mbak!" Bentak seorang lelaki yang melintas di meja Lestari.
Sedotan minuman yang keluar dari gelas Lestari mengenai baju putih yang dikenakan lelaki itu.
Lestari tergagap, dia membungkukkan tubuhnya, mengambil sedotan yang terjatuh di bawah kaki si empunya baju putih.
"Maaf mas, saya tak sengaja" jawab Lestari, wajahnya merah menahan malu.
Lelaki itu berlalu tergesa, entah sedang mengejar apa, Lestari menatapnya dengan sedikit geram, sudah minta maaf tapi tak ada respon dia dapat.
Lestari tak tahu sekotor apa minumanya terkena baju si lelaki itu, dia tak melihatnya, wajah si lelaki itu pun tak jelas dia lihat, hanya suara bentakan lantang yang tadi Lestari dengar.
Baru saja Lestari bangkit dari duduknya.
Seorang perempuan muda berlari ke arahnya.
" Tari! Tunggu!"
Lestari menoleh ke arah suara itu, ternyata Lily sahabatnya.
"Kamu sudah lama nunggu ya, sorry deh, tadi pekerjaanku agak banyak, jadi aku telat" Lily duduk dengan nafas masih tersengal.
"Kirain aku, kamu lupa" jawab Lestari menatap sahabatnya.
"Ayo kita beli tiket sekarang" ajak Lily cepat, dia melirik arlojinya.
"Yakin mau terus monoton?" tanya Lestari, menatap sahabatnya.
Lily mengangguk, dia berdiri dan menarik tangan Lestari masuk kedalam mall mencari gedung bioskop.
Antrian memag tak terlalu panjang, tapi ternyata film yang akan mereka lihat sudah mulai semenjak 15 menit yang lalu.
Lestari duduk di bangku ruangan tunggu, diikuti Lily.
"Gimana mau nonton film yang lain, apa mau nunggu jam berikut nya?" tanya Lestari.
Lily diam, wajah nya terlihat kecewa, dia menoleh ke arah sahabatnya.
"Maaf ya Tari, kamu gak jadi nonton filmnya"
"Gak apa apa Li, kan masih ada waktu yang lain, kalau kamu mau, kita bisa lihat di jam berikutnya" usul Lestari, mungkin harus menunggu sekitar 2jam kedepan untuk bisa melihat film yang sedang boming saat ini.
"Aku sih terserah kamu, kalau mau nunggu hari ini aku ayo aja, kalau lain waktu juga gak apa apa" jawab Lily, nafasnya masih terdengar memburu, mungki dia berlari untuk bisa menjumpai sahabatnya.
"Lain waktu aja ya Li, sekarang kita cari makan aja, aku lapar " usul Lestari.
"Ok!" Jawab Lili.
Pandangan Lestari tertuju pada sosok lelaki, memakai baju kaos putih, yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Gadis itu teringat pada sosok pria yang tadi membentaknya karena pakaiannya kena cipratan sedotan minuman, sewaktu di cafe tadi.
Pria itu terlihat sangat gelisah, mungkin dia menunggu seseorang di bioskop ini, atau menunggu pacarnya.
Lestari tidak begitu jelas wajah lelaki itu, tapi dia ingat baju yang dikenakannya.
Lily menarik tangan Lestari mengajak sahabatnya itu keluar dari tempat itu.
"Tunggu Li, aku mau minta maaf sama cowok yang berdiri di depan itu" pandangan Lili mengikuti arah telunjuk Lestari.
"Minta maaf apa?" tanya Lili heran.
"Tadi minuman ku kena baju dia, tapi pas aku mau minta maaf dia sudah pergi, tergesa gesa, rupanya dia sama mau nonton juga"jelas Lestari.
Berjalan ke arah lelaki berbaju putih itu.
Lily hanya diam, dia mengekor di belakang sahabatnya.
"Maaf mas, apa mas yang tadi bajunya kotor kena minuman ?" tanya Lestari memberanikan diri menegur pria itu.
Lestari melihat noda di baju lelaki itu, benar dia orangnya.
Pria itu belum menjawab pertanyaan Lestari, dia menatap wajah Lestari juga Lili bergantian.
"Oh, yang di cafe bawah tadi ya?" ujar pria itu rupanya dia baru sadar dan mengingatnya.
Lestari mengangguk.
"Gak apa apa mbak, maaf tadi saya bentak mbak, saya terburu buru" lanjut nya ramah tak seperti tadi dia berlalu dengan tergesa gesa.
"Sekali lagi maaf ya mas"ulang Lestari menganggukan kepalanya, tanpa menunggu jawaban darinya Lestari
membalikan badannya meninggalkan tempat itu.
"Mbak! tunggu!" teriak pria itu sontak menghentikan langkah Lestari dan juga Lily.
"Ada apa ya mas?" tanya Lestari heran, apa ada yang kurang permintaan maafnya sehingga pria berkaos putih itu menahan langkahnya.
***
