Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 1 Menata hati

"Kenapa kamu tega sama aku Bagas! kamu begitu mudah meninggalkan ku!" batin Lestari di antara Isak tangisnya, di usapnya air mata yang terus jatuh dari ujung netranya, Bagas cinta pertamanya semalam dengan tanpa alasan yang jelas memutuskan hubungan cintanya.

Entah apa alasan pemuda itu memutuskannya, kemarin sore ketika Lestari baru pulang kerja, dia melihat Bagas bersama seorang gadis manis, tangan si gadis itu melingkar mesra, Bagas tak menyadari jika Lestari melihatnya sejak lama.

"Tari maaf, kita harus putus aku tidak bisa bersama kamu lagi, jangan temui aku  diantara kita sudah tak ada hubungan apa apa lagi!"suara Bagas yang di dengar Lestari di ujung ponselnya sangat membuat gadis itu terpukul.

Lestari memang belum lama dekat dengan Bagas, tapi dengan sangat yakin akan kekuatan cinta mereka, Bagas mau pun Lestari selalu membicarakan rencana pernikahan mereka, padahal hubungan pun bisa di hitung bulan.

Hanya tangisan yang setia menemani Lestari, bahkan saat itu  bujukan Lily sahabatnya sama sekali tidak Lestari  hiraukan.

Gadis itu benar benar larut dengan kesedihan dan kekecewaan.

"Apa alasan mu memutuskan ku Bagas? apa aku bersalah padamu!? atau karena gadis yang kemarin sore bersamamu?" tanya Lestari meminta Bagas untuk menjelaskan apa alasannya sehingga memutuskannya.

Tapi pemuda itu hanya diam, suaranya pun lirih seolah olah apa yang dia katakan pada Lestari itu hanya lah gurauan.

Bagas sangat mencintai Lestari, mana mungkin mereka selalu menceritakan tentang pernikahan jika seandainya, Bagas tidak serius dalam menjalani hubungannya bersama Lestari.

Bukan hanya main main saja pada gadis cantik itu, dan sekarang sesuatu telah terjadi dia menang harus putus dari Lestari tanpa berani mengungkapkan alasan pada Lestari.

Begitu pengecutnya dia! rutuk Bagas untuk dirinya.

"Kamu bercanda kan Gas?" tanya Lestari mana mungkin kekasihnya itu dengan mudah memutuskannya, sedangkan selama ini Bagas sangat perhatian padanya, kasih sayang dan cinta lelaki itu sangat membuat Lestari tergila gila dan memutuskan untuk hidup bersama dalam pernikahan

"Tolong Bagas, jelaskan pada ku apa alasanmu sehingga tiba tiba saja kamu bilang putus!" nada Lestari sangat memelas, tapi tetap saja Bagas bungkam memberikan jawaban pada kekasihnya itu.

"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang Tari, maafkan aku!" Bagas mematikan ponselnya sepihak tentu saja membuat tangis Lestari kian menjadi, wajahnya di tutupi oleh bantal yang pasti sudah sangat basah karna terus menampung air mata Lestari.

"Tari buka!" Lily sahabatnya yang sejak tadi menggedor pintu kamarnya masih saja berdiri dan berusaha meminta Lestari untuk membuka pintu kamarnya.

Tapi tetap saja sahabatnya itu mengurung diri di dalam kamarnya.

Tak perduli teriakan dan ketukan pintu dari Lily sahabatnya.

"Pulang saja kamu Lily, aku tak mau di ganggu! Biarkan aku sendiri!" teriak Lestari lantang tanpa membuka pintunya, Kiki mengitari jendela kamar Lestari di depan rumahnya, sama! Jendela kamar Lestari pun tutup terkunci.

"Aku tak akan pulang sebelum kamu membuka pintu kamarmu!"ancam Lily berteriak keras dari balik jendela yang tertutup.

"Terserah kamu saja aku tidak perduli!"

bentak Lestari isak tangisnya masih saja terdengar, Lily tersenyum di balik pintu, dia sudah tahu sifat sahabatnya itu, sekarang saja dia meraung karena di putuskan oleh Bagas, besok lusa pasti sudah ada tawa lagi di bibir Lestari.

Seperti anak kecil saja! rutuk Lily dalam hati.

"Ya sudah aku pulang! Lagian apa untungnya nungguin orang nangis, buang buang waktu!" ujar Lily seolah olah dia akan pergi dari rumah sahabatnya itu.

Pintu kamar terbuka Lestari muncul menghampiri Lily, gadis itu menyangka sahabatnya sudah pergi, tapi ketika dia membuka pintunya Lily masih saja berdiri di depan pintu kamarnya.

Dasar Lily! dia pasti hanya mempermainkan ku saja, batin Lestari.

"Lihat mata kamu sampai bengkak gitu, gak ada kerjaan lain apa? nangisin cowok brengsek seperti Bagas!" Lily berusaha menghibur Lestari,

"Sekarang tambah lagi wajah mu itu di tekuk, udah lah Tari, gak usah kamu fikirkan lagi si Bagas, ingat umur neng, sedih boleh tapi jangan sampai berhari-hari gini dong kamu tangisin si Bagas!"

"Aku sangat mencintai Bagas Li" Lestari tetap tak mau mendengar usul sahabatnya itu

"Kenyataannya pacar kamu itu sudah gak cinta kamu lagi Tari! kok mau maunya kamu maksain perasaan dia"

Lestari terdiam.

Memang tak salah yang di katakan Lily.

Bagas sudah tak mencintainya, dia memilih pacar barunya.

"Aku harus bagai mana dong Li?" Tanya Lestari, mencoba tetap tenang walau pun suaranya masih terdengar sedikit gugup.

"Lupain Bagas, cari cowok lagi hahaha ... " Lestari tertawa di akhir kata yang di ucapkan.

Lestari memukulnya dengan bantal yang dia peluk sedari tadi.

Susah bicara sama Lily, dia bawaan nya selalu bercanda.

Tak pernah dia merasakan bagai mana sakitnya di khianati dan di putusin sama pacar.

Pantas dia jomblo terus mungkin dia tak mau patah hati atau ditinggal pacarnya pergi.

Lestari menggeser duduknya mendekati Lily, dia ingin memeluk tubuh sahabatnya itu, berterimakasih bila selama ini hanya Lili yang tau dan mengerti keadaan hatinya

Lestari belum menceritakan pada ibu atau adiknya, malu rasanya kalau mereka tau, pasti mereka mengatakan, seperti anak kecil saja putus cinta harus di tangisi.

Lili menoleh ke arah Lestari, rupanya dia faham apa yang di inginkan sahabatnya itu

Di peluknya tubuh Lestari, agar nyaman, Lily tahu Lestari sangat mencintai Bagas, tapi mau apa lagi, bila lelaki berhidung bangir itu lebih memilih pacar barunya,

"Sabar ya Tari, pasti masih banyak cowok yang lebih sayang sama kamu, yang tidak menghianati kamu, lagian untung saja kamu pacaran sama si Bagas kan belum terlalu lama!"

Lily mengusap lembut punggung sahabatnya itu.

Lastari mengangguk, tak ayal air matanya kembali membasahi pipi mulusnya.

Lestari melepaskan pelukannya, mengusap air matanya, dia pasti lebih sedih bila tak ada Lili di sampingnya,

Sahabatnya itu memang dari dulu paling mengerti keadaan nya.

"Tak usah ingat Bagas lagi, kamu harus bisa menilai, laki laki seprti dia itu tak baik buat kamu, buktinya dia tak bisa setia"

"Iya Li gak nyangka aja Bagas kok tega, nyakitin aku ya, padahal kamu tau sendiri gimana sayangnya dia sama aku"

"Sayang tapi kalau selingkuh buat apa, pastinya dia kan sudah lama punya pacar baru, kamumya aja yang gak sadar!"

"Bagas gak pernah berubah, cuma hari itu aja, kok bisa aku bertemu Bagas lagi sama perempuan, aku tak menyangka kalau itu pacar barunya".

"Syukur kamu ketemu dia sekarang, kalau kamu dikhianatinya sudah menikah gimana? Sakitmya tuh disini!" Lili menunjuk dada dan kepalanya lalu tertawa ngakak.

"Ih ... Kamu ngeledek terus, awas ya kalau kamu nanti putus cinta, aku bakalan ngetawain kamu tiap hari!" Ancam Lestari.

"Aku gak punya pacar, lagian aku tak mungkin disakiti,  hahaha ... " Lili tak berhenti tertawa, mau tak mau Lestari pun ikut tertawa, walau masih ada rasa sakit dalam hatinya.

"Kubur Bagas dalam dalam, biar lebih cepat melupakan, kamu tinggal cari ganti nya aja" Lily berkata tanpa beban, seolah olah begitu mudah mencari seorang pacar.

"Emang mudah nyari cowok! Kan harus pake perasaan'' jawab Lestari mencibir.

"Perasaan no dua, yang penting dapet pacar dulu!" Lili menimpali.

"Dasar kamu, so tau!" Bentak Lestari.

Terlihat ada senyum di bibirnya, walau hanya sedikit tersungging.

Menata hati itu tak mudah, tapi memang apa yang di katakan Lili benar.

Kenapa tidak mencari pengganti Bagas agar bisa cepat melupakan lelaki bangir itu.

"Cepat kamu mandi, kita jalan jalan cari angin!" Titah Lily, dia melangkah keluar meninggalkan kamar Lestari.

"Mata aku bengkak, malu aku jalan keluar" Jawab Lestari mematut dirinya didepan cermin.

"Pake kacamata hitam hahaha ... biar di sangka tukang pijit!"

"Lily! awas ya kamu!" Teriak Lestari.

"Ada apa sih teriak teriak Lestari!?"tanya  ibunya dari arah dapur.

"itu Lili Bu, bikin aku kesel terus!" Jawab Lestari, berjalan ke arah kamar mandi, usul Lili itu perlu di pertimbangkan, apa salahnya sore ini dia akan pergi mencari suasana baru.

Mencoba menata hati yang luka, siapa tau ada pengganti Bagas.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel