Bab 3
Pukul 07.00 pagi. Matahari menyelinap masuk melalui celah gorden apartemen Kemang, menyentuh wajah Mario yang masih terlelap. Ia menggeliat, tangannya meraba sisi tempat tidur, mencari kehangatan kulit Wina yang biasanya menyambutnya dengan pelukan manja. Namun, yang ia temukan hanyalah seprai dingin yang rapi.
Mario membuka mata. Dahinya berkerut. "Wina?" panggilnya serak.
Sunyi. Tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi, tidak ada aroma kopi yang biasa gadis itu siapkan. Mario duduk, kepalanya sedikit pening karena wine semalam. Di atas nakas, ia menemukan sebuah tablet yang menyala, terhubung ke kabel pengisi daya agar tidak mati.
Di layar tablet itu, ada satu tombol "Play" besar di tengah video yang sudah terhenti. Mario mengerutkan kening, mengira itu adalah kejutan romantis atau mungkin video manja dari Wina. Ia menekan tombol itu.
Wajahnya sendiri muncul di layar. Sudut pengambilan gambarnya sempurna—dari arah bingkai foto di sudut ruangan. Video itu merekam segalanya. Percakapan mereka semalam, pengakuannya tentang Lily yang hanya dianggap sebagai "rumah" dan "kekuasaan", hingga kalimat kejamnya tentang Wina yang hanyalah "aksesori".
Wajah Mario memucat. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia mencoba mematikan tablet itu, namun sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar: “Sent to: Board of Directors, Keluarga Besar Utama, and 48 others.”
"Sialan!" teriak Mario. Ia segera meraih ponselnya, mencoba menelepon Wina. Nomor yang Anda tuju tidak aktif.
Ia mencoba menelepon asistennya di kantor. Saat panggilan terhubung, suara di seberang sana terdengar panik. "Pak Mario? Bapak di mana? Kantor heboh, Pak! Ada email massal masuk ke seluruh staf dan komisaris... isinya... isinya video Bapak dan seorang wanita di kamar. Dan ada dokumen lampiran tentang aliran dana perusahaan ke rekening pribadi atas nama Wina Natalia!"
Dunia Mario serasa berputar. "Blokir servernya! Hapus semua!"
"Sudah terlambat, Pak. Video itu sudah menyebar di grup WhatsApp internal. Dan... Pak, pengacara Ibu Lily baru saja sampai di kantor membawa surat gugatan cerai dan permohonan pembekuan aset atas nama perusahaan di bawah konsorsium keluarga Ibu."
Mario melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Ia segera memakai pakaiannya dengan serampangan, lari menuju parkiran. Ia harus pulang. Ia harus menemui Lily. Ia harus bersimpuh, menjilat kaki wanita itu jika perlu, agar Lily menarik kembali semua ini. Tanpa Lily, Mario hanyalah seorang pria ambisius tanpa modal sepeser pun.
Perjamuan Terakhir di Rumah Mewah
Mario sampai di rumahnya dengan napas terengah-engah. Mobil-mobil mewah terparkir di depan gerbang, namun bukan mobil relasi bisnisnya. Itu adalah mobil-mobil polisi dan kurator pengadilan.
Ia merangsek masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu yang megah, Lily duduk dengan tenang. Ia mengenakan gaun sutra hitam, tampak seperti janda yang sedang berkabung, namun wajahnya memancarkan aura kemenangan yang mematikan. Di sampingnya duduk ayahnya, Pak Utama—pria tua yang selama ini mendanai setiap langkah karier Mario—dan dua orang pengacara papan atas.
"Lily! Sayang, dengarkan aku!" Mario berteriak, mencoba mendekat, namun dua petugas keamanan segera menghadangnya.
Lily menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. "Kamu terlambat untuk sarapan, Mario. Sup iganya sudah dingin. Sama seperti pernikahan kita."
"Itu fitnah, Lily! Video itu editan! Gadis itu menjebakku!" Mario berlutut, air mata buaya mulai mengalir. "Aku dijebak karena persaingan bisnis! Kamu tahu aku sangat mencintaimu!"
Pak Utama berdiri, lalu meludah ke lantai tepat di depan wajah Mario. "Jangan sebut nama putriku dengan mulut kotormu itu. Aku memberimu segalanya—posisi, nama, harta—hanya agar kamu menjaga satu-satunya hartaku yang paling berharga. Tapi kamu malah menggunakan uang perusahaanku untuk memelihara pelacur?"
"Dia bukan siapa-siapa, Pa! Hanya selingan!" Mario meratap.
Lily bangkit, berjalan mendekati Mario. Ia berjongkok agar matanya sejajar dengan pria yang selama ini membohonginya. "Dia bukan pelacur, Mario. Dia adalah orang yang membantuku membuka mataku. Kamu bilang aku rumah? Kamu salah. Aku adalah pemilik tanah tempat rumah itu berdiri. Dan hari ini, aku menggusurmu."
Lily mengeluarkan sebuah map dari balik punggungnya. "Ini adalah bukti pengalihan saham. Karena kamu menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi—termasuk apartemen dan belanja bulanan selingkuhanmu—kamu telah melanggar kontrak pra-nikah dan kode etik CEO. Kamu dipecat secara tidak hormat. Dan rumah ini? Ini atas nama ibuku. Kamu punya waktu sepuluh menit untuk mengambil baju-bajumu. Hanya baju. Jam Rolex itu? Itu hadiah dariku, dan aku ingin itu kembali."
"Lily, kamu tidak bisa melakukan ini! Aku suamimu!"
"Bukan lagi," potong Lily tajam. "Oh, dan satu lagi. Wina mengirimkan pesan titipan untukmu." Lily menyalakan rekaman suara di ponselnya.
Suara Wina terdengar, tenang dan tanpa beban: "Mario, terima kasih untuk pelajarannya. Kamu bilang aku tidak boleh serakah, jadi aku memutuskan untuk tidak mengambil apa pun darimu—termasuk masa depanku. Selamat menikmati kesendirian di puncak duniamu yang kini runtuh. Jangan cari aku, karena aku sudah menjadi debu yang tidak akan bisa kamu tangkap lagi."
Mario meraung frustrasi. Ia mencoba menyerang Lily, namun petugas keamanan menyeretnya keluar dengan kasar. Ia dilempar ke aspal di depan gerbang rumahnya sendiri, di tonton oleh para tetangga kelas atas yang selama ini memujanya. Pria CEO yang gagah itu kini terlihat seperti gelandangan dengan kemeja kusut dan wajah hancur.
Skenario yang Tak Terduga
Satu jam kemudian, Lily berdiri di balkon kamarnya, melihat truk pengangkut barang membawa sisa-sisa peninggalan Mario. Ia merasa lega, namun ada kekosongan yang aneh.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan dari nomor baru.
“Dana sudah masuk ke yayasan yatim piatu di Bali atas nama Anda, Ibu Lily. Sesuai kesepakatan, saya tidak mengambil sepeser pun uang itu untuk diri saya sendiri. Saya hanya mengambil tiket pesawatnya. Terima kasih telah memberi saya cara untuk menebus dosa.”
Lily tersenyum tipis. Ia teringat percakapannya dengan Wina di kafe itu. Lily awalnya ingin memberikan uang besar agar Wina pergi, namun Wina menolaknya. Wina hanya meminta satu hal: bantuan untuk menghilang dan memulai hidup sebagai orang biasa tanpa bayang-bayang Mario.
Ternyata, musuh yang paling menakutkan bagi pria seperti Mario bukanlah istri yang marah, melainkan dua wanita yang berhenti saling membenci dan mulai bekerja sama.
Satu Bulan Kemudian: Karma yang Berisik
Mario duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan, wajahnya kusam dan rambutnya mulai memutih karena stres. Ia kini tinggal di sebuah kontrakan sempit di pinggiran Jakarta. Semua asetnya disita, namanya masuk daftar hitam perbankan, dan tidak ada satu pun relasi bisnis yang mau mengangkat telepon darinya. Ia adalah paria.
Ia membuka media sosial dari ponsel murahnya. Matanya tertuju pada sebuah postingan yang sedang viral.
Itu adalah foto Lily. Wanita itu tampak luar biasa cantik dalam balutan gaun merah, sedang memotong pita peresmian pusat rehabilitasi wanita yang ia dirikan. Di sampingnya, seorang pria muda yang tampak jauh lebih terhormat dan tulus dari Mario berdiri memberikan dukungan.
Mario menggeser layar lagi. Ia mencoba mencari akun Wina, namun akun itu sudah dihapus permanen.
Tiba-tiba, seorang wanita lewat di depan warung kopi itu. Ia memakai hijab sederhana dan pakaian yang sopan, membawa tas belanjaan pasar. Langkahnya ringan, wajahnya cerah, sangat berbeda dengan gadis sembab yang dulu meringkuk di bawah selimut hotel.
Mario tersentak. "Wina?" panggilnya dengan suara parau.
Wanita itu menoleh. Itu memang Wina. Ia menatap Mario selama beberapa detik. Tidak ada kebencian di matanya, tidak ada dendam. Yang ada hanyalah tatapan asing, seolah ia sedang melihat tumpukan sampah di pinggir jalan yang tidak layak untuk dikomentari.
Wina tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam sebuah mobil jemputan sederhana yang dikendarai oleh seorang pria yang tampak bersahaja.
Mario mencoba mengejar, namun ia tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur di atas genangan air hujan. Orang-orang di sekitar menertawakannya, menganggapnya sebagai orang gila yang mengganggu pejalan kaki.
Di bawah langit Jakarta yang mendung, Mario menyadari bahwa kehancurannya bukan karena Lily yang kejam atau Wina yang berkhianat. Kehancurannya adalah buah dari kesombongannya sendiri—merasa bisa memiliki segalanya tanpa harus menghargai apa pun.
Kini, Lily telah kembali ke takhtanya, dan Wina telah menemukan rumahnya. Sementara Mario? Ia hanyalah selingan di tengah jalan yang kini benar-benar telah selesai.
