Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Malam itu, Jakarta diguyur hujan yang tidak memberikan kesejukan, melainkan hanya menambah kelembapan yang menyesakkan. Di rumah besarnya yang berpagar tinggi, Mario tertidur lelap dengan satu lengan melingkari pinggang Lily. Napasnya teratur, seolah hati nuraninya setenang permukaan air di kolam renang mereka. Namun, di sisi lain tempat tidur, mata Lily terbuka lebar, menatap pendar lampu jalan yang menembus celah gorden sutranya.

Ada sesuatu yang mengganjal. Bukan karena ucapan Mario, tapi karena aroma.

Setiap kali Mario pulang terlambat dengan alasan rapat yang molor, dia selalu langsung mandi. Alibi yang sempurna: "Aku gerah sekali, Sayang." Tapi tadi, sebelum air pancuran menghapus segalanya, Lily sempat mencium sesuatu saat mereka berpelukan di depan pintu. Bukan parfum wanita yang menyengat—Mario terlalu cerdas untuk itu—tapi bau apak yang khas. Bau ruangan yang tertutup rapat, bau deterjen hotel yang murah, dan samar-samar, aroma mawar yang bukan berasal dari koleksi parfum Lily.

Lily bangkit perlahan, memastikan gerakan tubuhnya tidak mengusik tidur suaminya. Ia melangkah menuju ruang kerja Mario di lantai bawah. Di sana, di atas meja jati yang rapi, tergeletak ponsel kerja Mario. Lily tahu sandinya. Ia selalu tahu, tapi ia selalu memilih untuk tidak peduli. Selama ini, ia percaya bahwa kepercayaan adalah fondasi dari kelas sosial mereka. Menjadi istri pencemburu adalah tindakan yang "murahan".

Namun, wajah gadis di depan butik tadi terus membayanginya. Mata yang sembab, getaran di bahunya, dan cara gadis itu menatapnya—bukan dengan kebencian, tapi dengan rasa bersalah yang teramat dalam.

Layar ponsel itu menyala. Kosong. Mario selalu menghapus jejaknya setiap malam. Namun, Mario lupa satu hal: sinkronisasi otomatis pada aplikasi ojek daring yang ia gunakan untuk mengirimkan "hadiah" atau makanan.

Lily membuka riwayat pemesanan. Matanya menyipit saat melihat sebuah alamat apartemen di daerah Jakarta Selatan. Bukan alamat kantor, bukan alamat relasi bisnis. Pesanan rutin: martabak manis setiap Selasa malam, bunga lili putih setiap tanggal 14, dan obat pereda nyeri haid tiga bulan lalu.

Dada Lily berdenyut. Sakitnya tidak tajam, melainkan tumpul dan merambat, seperti racun yang masuk ke pembuluh darah. "Lili putih," bisiknya lirih. Nama yang sama dengannya, tapi diberikan kepada orang lain dalam bentuk bunga yang nyata, sementara dia hanya memiliki nama itu sebagai identitas di kartu keluarga.

Di apartemen kecilnya, Wina tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di balkon, membiarkan tempias hujan membasahi kakinya. Di tangannya ada segelas wine murah yang ia beli di supermarket bawah. Ia merasa seperti pencuri yang baru saja menyadari bahwa barang yang ia curi sebenarnya tidak berharga.

Ia mencintai Mario. Atau setidaknya, ia mencintai ide tentang Mario. Pria yang datang menyelamatkannya dari kebosanan hidup, pria yang membawanya ke restoran mewah yang sebelumnya hanya bisa ia lihat dari balik jendela kaca. Tapi hari ini, pertemuan dengan Lily mengubah segalanya.

Lily tidak terlihat seperti musuh. Lily terlihat seperti cermin dari segala hal yang tidak akan pernah dimiliki Wina: ketenangan, martabat, dan pengakuan.

Ponsel Wina bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Apartemen Kemang, Unit 12A. Saya tahu kamu di sana. Jangan pindah, jangan lari. Kita perlu bicara sebagai dua orang yang mencintai pria yang sama.”

Gelas di tangan Wina terlepas, pecah berkeping-keping di lantai balkon. Jantungnya serasa berhenti. Tidak ada nama pengirim, tapi Wina tahu pasti siapa pemilik pesan itu. Aura ketenangan yang terpancar dari pesan itu hanya bisa dimiliki oleh satu orang. Lily.

Keesokan harinya, cuaca Jakarta mendung kelabu. Wina menunggu di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut kota, tempat yang ia pilih karena ia yakin Mario tidak akan pernah datang ke sana. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak, tapi tangannya yang gemetar saat mengaduk kopi tidak bisa disembunyikan.

Pintu kafe berdenting. Lily masuk dengan setelan blazer berwarna krem yang sangat kontras dengan suasana kafe yang suram. Ia duduk di hadapan Wina tanpa diundang. Tidak ada teriakan, tidak ada air mineral yang disiramkan ke wajah. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.

"Kamu lebih muda dari yang saya bayangkan," Lily memulai pembicaraan. Suaranya tenang, hampir klinis.

Wina menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti berpasir. "Anda... sejak kapan Anda tahu?"

Lily tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Seorang istri selalu tahu, Wina. Hanya saja, terkadang kami memilih untuk menjadi buta demi kenyamanan. Tapi kemarin, saat aku melihatmu di butik... aku sadar bahwa kamu bukan sekadar 'hiburan' bagi Mario. Kamu hancur karena dia. Dan itu menggangguku."

Wina melepaskan kacamata hitamnya. "Saya mencintainya, Kak Lily. Saya tahu ini salah, tapi dia bilang—"

"Dia bilang akan menceraikanku?" potong Lily dengan tawa kecil yang menyakitkan. "Dia mengatakan itu pada selingkuhannya yang pertama tiga tahun lalu. Dan yang kedua dua tahun lalu. Kamu adalah yang ketiga, Wina. Atau mungkin keempat, aku berhenti menghitung."

Dunia Wina runtuh. "Ketiga? Tapi dia bilang saya satu-satunya..."

"Di dunianya, semua orang adalah 'satu-satunya' pada porsinya masing-masing," Lily merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. "Di dalam sini ada bukti transfer Mario ke rekeningmu selama setahun terakhir. Juga bukti kepemilikan apartemen itu yang sebenarnya atas nama perusahaan cangkang milik keluargaku. Secara teknis, kamu tinggal di properti yang aku bayar."

Wina merasa mual. Ia merasa seperti boneka yang talinya baru saja diputus secara kasar.

"Aku tidak ke sini untuk melabrakmu," lanjut Lily, suaranya kini sedikit melunak, meski tetap tegas. "Aku ke sini untuk menawarkan kesepakatan. Mario tidak akan pernah meninggalkan aku. Bukan karena dia mencintaiku setengah mati, tapi karena separuh saham perusahaannya adalah milik ayahku. Dia adalah pria yang mencintai kekuasaan lebih dari apa pun. Kamu hanyalah aksesori, Wina. Sama seperti jam Rolex di tangannya."

"Lalu kenapa Anda menemui saya?" tanya Wina dengan suara tercekat.

"Karena aku lelah," aku Lily, dan untuk pertama kalinya, Wina melihat retakan di wajah porselen itu. "Aku lelah berpura-pura menjadi istri sempurna untuk pria yang tidak punya hati. Aku ingin keluar, tapi aku butuh alasan yang cukup kuat untuk menghancurkannya di pengadilan tanpa membuat namaku tercemar."

Lily memajukan tubuhnya. "Bantu aku mendapatkan bukti perselingkuhan yang tidak bisa dia bantah di depan dewan komisaris. Berikan aku rekaman, foto, atau apa pun yang terjadi di kamar hotel itu. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu uang yang cukup untuk memulai hidup baru di luar kota ini. Jauh dari Mario. Jauh dari status selingkuhan."

Wina menatap Lily. Di depannya bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang. Dan Wina menyadari, dalam permainan ini, Mario adalah targetnya, Lily adalah pengaturnya, dan dia... dia hanyalah umpan.

"Kenapa saya harus percaya pada Anda?" bisik Wina.

Lily menatapnya dalam-dalam. "Karena jika kamu tetap bersamanya, kamu akan berakhir seperti aku. Menunggu di rumah yang dingin, menciumi bau parfum wanita lain di kemejanya, dan mati perlahan di dalam hati. Kamu masih muda, Wina. Jangan biarkan dia menghisap hidupmu sampai kering."

Sore itu, Mario menelepon Wina. Suaranya kembali manis, seolah ketegangan di hotel kemarin tidak pernah terjadi.

"Sayang, aku merindukanmu. Aku akan ke apartemenmu jam delapan malam ini. Aku sudah memesan makan malam mewah. I'll make it up to you, oke?"

Wina memandang ponselnya. Di sampingnya, di atas tempat tidur, terletak sebuah kamera kecil berbentuk kancing yang diberikan oleh orang suruhan Lily.

"Iya, Mario. Aku tunggu," jawab Wina datar.

Setelah menutup telepon, Wina berdiri di depan cermin. Ia memoles lipstik merah ke bibirnya—warna yang selalu diminta Mario tapi selalu dibenci Wina karena membuatnya tampak seperti wanita murahan. Ia merapikan rambutnya, lalu menatap matanya sendiri.

Kesedihan itu masih ada, tapi kini ada sesuatu yang lain. Kemarahan.

Ia teringat kata-kata Lily: Dia mencintai kekuasaan lebih dari apa pun.

Malam itu, Mario datang dengan senyum kemenangannya. Ia membawa botol wine mahal dan buket bunga lili putih—bunga yang kini terasa seperti ejekan bagi Wina.

"Kamu cantik sekali malam ini," bisik Mario, memeluk Wina dari belakang dan mencium lehernya.

Wina memejamkan mata, menahan rasa jijik yang tiba-tiba muncul. "Hanya untukmu, Mario."

Saat Mario membimbingnya menuju tempat tidur, Wina melirik ke arah sudut ruangan, ke arah kamera kecil yang tersembunyi di balik bingkai foto mereka berdua. Foto yang diambil di awal hubungan mereka, saat Wina masih percaya pada dongeng.

Mario mulai membuka kancing kemejanya, gerakan yang sama dengan yang ia lakukan di hotel. "Lily sedang ada acara reuni sekolah malam ini. Kita punya banyak waktu."

"Apakah kamu benar-benar tidak merasa bersalah padanya?" tanya Wina tiba-tiba, menahan tangan Mario.

Mario terkekeh, menarik Wina ke dalam pelukannya. "Sudah kubilang, dia adalah rumah, tapi kamu adalah petualangannya. Seorang pria butuh keduanya untuk tetap waras. Kenapa kita harus membahas dia lagi?"

"Karena aku ingin tahu... jika suatu hari kamu harus memilih, siapa yang akan kamu pertahankan?"

Mario berhenti. Ia menatap Wina dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, ia mencengkeram dagu Wina sedikit terlalu keras. "Jangan tanyakan hal yang sudah kamu tahu jawabannya, Wina. Nikmati saja apa yang aku berikan padamu. Uang, kemewahan, perhatian. Jangan serakah."

Wina tersenyum. Kali ini bukan tawa getir, melainkan senyum kemenangan yang dingin. "Kamu benar, Mario. Aku tidak boleh serakah."

Di saat yang sama, di sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari apartemen, Lily duduk dengan laptop di pangkuannya. Di layar itu, ia melihat segalanya. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan suaminya. Air mata mengalir di pipinya, tapi tangannya tetap stabil mengoperasikan perangkat perekam.

Satu per satu, topeng Mario terlepas di depan kamera.

Dua jam kemudian, setelah Mario tertidur karena kelelahan, Wina bangkit dari tempat tidur. Ia berpakaian dengan cepat. Ia tidak mengambil apa pun dari apartemen itu—tidak tas-tas bermerek, tidak perhiasan emas, tidak juga uang tunai yang tersisa di laci.

Ia hanya mengambil ponselnya dan kunci apartemen.

Di lobi, ia menyerahkan kunci itu kepada seorang pria berseragam yang sudah menunggu. Pria itu memberikan sebuah tiket pesawat sekali jalan ke Bali dan sebuah amplop berisi buku tabungan atas namanya.

Wina melangkah keluar ke udara malam. Hujan sudah reda, menyisakan bau tanah yang basah dan segar. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia bisa bernapas dengan lega.

Esok pagi, Mario akan bangun dan menemukan apartemen yang kosong. Dan di atas meja makan, ia tidak akan menemukan sarapan, melainkan sebuah tablet yang memutar video perselingkuhannya sendiri, yang terhubung langsung ke email seluruh dewan komisaris perusahaannya dan pengacara keluarga Lily.

Wina masuk ke dalam taksi yang akan membawanya ke bandara. Saat taksi itu mulai berjalan, ia melihat sosok Lily berdiri di trotoar seberang jalan. Wanita itu mengenakan kacamata hitam, meski malam hari. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik melalui kaca mobil yang bergerak.

Lily tidak melambai. Ia hanya mengangguk kecil. Sebuah penghormatan terakhir antara dua orang yang pernah terjebak dalam jaring laba-laba yang sama.

Wina bersandar di kursi taksi, memejamkan mata. Ia tahu jalannya ke depan tidak akan mudah. Ia memulai lagi dari nol, tanpa perlindungan Mario, tanpa kemewahan yang sempat melenakannya. Namun, saat ia melihat matahari mulai mengintip di ufuk timur, ia menyadari satu hal.

Ia bukan lagi hotel tempat orang beristirahat. Ia adalah perjalanannya sendiri. Dan kali ini, ia tahu persis ke mana ia ingin pergi.

Sementara itu, di rumah besar yang sunyi, Lily duduk di meja makan, sendirian. Di depannya ada dua cangkir kopi yang masih mengepul. Ia menunggu fajar, menunggu kehancuran yang telah ia susun dengan rapi, dan menunggu saat di mana ia akhirnya bisa menutup pintu rumah itu untuk selamanya—bukan sebagai istri yang dikhianati, tapi sebagai pemenang yang mengambil kembali hidupnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel