Bab 4
Enam minggu telah berlalu sejak Wina melangkah keluar dari taksi yang membawanya menuju kebebasan. Di sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah, tempat di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai "selingkuhan CEO", Wina mencoba merajut kembali sisa-sisa hidupnya. Ia bekerja di sebuah toko buku tua yang tenang, menghirup aroma kertas lapuk yang jauh lebih jujur daripada parfum mawar mahal pemberian Mario.
Namun, kedamaian itu pecah pada suatu pagi yang lembap.
Wina berdiri di depan wastafel kamar mandi kontrakan kecilnya. Tubuhnya berguncang hebat, perutnya bergejolak seolah ingin memuntahkan seluruh masa lalunya. Rasa mual itu bukan berasal dari makanan basi. Itu adalah rasa mual yang konsisten, muncul setiap fajar menyapa, disertai dengan pening yang membuat dunia seakan berputar miring.
Di atas meja kayu yang retak, tergeletak sebuah benda plastik kecil dengan dua garis merah yang tajam. Dua garis merah.
Wina merosot ke lantai ubin yang dingin. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, namun tangisnya tidak pecah. Yang keluar hanyalah tawa kering yang mengerikan—tawa seorang wanita yang menyadari bahwa semesta memiliki selera humor yang sangat gelap.
"Kenapa sekarang?" bisiknya pada kesunyian. "Kenapa harus ada jejakmu yang tertinggal di dalam diriku, Mario?"
Penjara Tanpa Jeruji
Kehamilan ini bukan sebuah anugerah bagi Wina. Baginya, janin ini adalah hukuman mati yang tertunda. Setiap kali ia mengelus perutnya yang masih rata, ia tidak merasakan kehangatan keibuan. Ia justru merasakan kedinginan yang luar biasa. Ia membayangkan wajah Mario—pria yang mencampakannya, pria yang memandangnya sebagai aksesori—akan terduplikasi dalam mahluk kecil ini.
Wina teringat malam-malam di hotel itu. Malam-malam yang dulu ia anggap sebagai bukti cinta, namun kini ia sadari hanyalah transaksi ego. Ia teringat betapa bangganya ia saat memakai kalung berlian dari Mario, tanpa memikirkan bahwa setiap karatnya dibayar dengan air mata dan martabat wanita lain.
"Aku menjijikkan," gumamnya saat menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia kini benar-benar memahami arti kata karma. Mario memang sudah hancur, Lily sudah bebas, tapi Wina? Wina membawa "hantu" Mario ke mana pun ia pergi. Ia tidak bisa lari dari kenyataan bahwa ia pernah menjadi bagian dari penghancuran sebuah rumah tangga. Dan sekarang, ia akan melahirkan anak yang statusnya sejak dalam kandungan sudah dicap sebagai "anak haram" dari sebuah pengkhianatan.
Rasa sesal itu datang menghujam, lebih sakit daripada bentakan Mario. Ia menyesal pernah tergiur oleh janji manis pria beristri. Ia menyesal pernah merasa lebih "pemenang" daripada Lily hanya karena ia mendapatkan raga Mario di malam hari. Kini ia sadar, ia hanyalah pencuri yang tertangkap basah, dan janin ini adalah barang bukti yang tidak bisa ia buang.
Surat yang Tidak Terkirim
Suatu malam, saat hujan badai mengguncang jendela kontrakannya, Wina mengambil secarik kertas. Ia ingin menulis surat untuk Lily. Bukan untuk meminta bantuan, bukan untuk mengadu, tapi untuk meminta maaf yang paling dalam.
> "Kak Lily, jika Anda membaca ini suatu saat nanti, ketahuilah bahwa saya sedang menjalani neraka saya sendiri. Saya hamil. Dan setiap kali saya merasa mual, saya membayangkan betapa mualnya Anda setiap kali mencium bau saya di baju suami Anda dulu. Saya tidak meminta pengampunan, karena saya sendiri tidak bisa mengampuni diri saya. Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa kemenangan yang saya pikir saya miliki dulu, hanyalah fatamorgana yang kini mencekik leher saya."
>
Wina meremas kertas itu hingga hancur. Ia tidak akan mengirimkannya. Lily berhak mendapatkan ketenangan, dan berita kehamilan ini hanya akan menjadi polusi baru bagi hidup Lily yang sudah bersih.
Wina berdiri, berjalan menuju jendela. Di luar sana, ia melihat seorang ibu muda sedang menuntun anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu itu tampak sederhana, namun wajahnya memancarkan kehormatan. Sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki Wina. Seberapa keras pun ia mencoba memulai hidup baru, sejarah akan selalu mencatatnya sebagai wanita yang merusak kebahagiaan orang lain demi kesenangan sesaat.
Pertemuan Tak Terduga di Puskesmas
Beberapa hari kemudian, Wina memberanikan diri pergi ke Puskesmas setempat untuk pemeriksaan pertama. Ia duduk di kursi tunggu kayu yang keras, di antara ibu-ibu lain yang datang bersama suami mereka.
"Wah, mbaknya sendirian saja? Suaminya kerja di mana?" tanya seorang ibu paruh baya di sampingnya dengan ramah.
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti belati yang menusuk ulu hati Wina. Ia memaksakan senyum yang getir. "Suami saya... sudah tidak ada, Bu."
Secara teknis, ia tidak berbohong. Mario yang ia kenal sudah "mati". Mario yang ada sekarang hanyalah bangkai berjalan yang tidak berharga. Namun, kebohongan itu tetap menyisakan rasa pahit. Ia harus terus berbohong seumur hidupnya untuk menutupi noda hitam ini.
Saat namanya dipanggil, Wina masuk ke ruang periksa. Dokter melakukan USG. Di layar monitor hitam putih yang buram, Wina melihat sebuah titik kecil yang berdenyut.
Deg. Deg. Deg.
Suara detak jantung janin itu memenuhi ruangan. Itu adalah suara paling murni yang pernah didengar Wina. Dan di situlah ia benar-benar hancur. Tangis yang ia tahan selama berminggu-minggu akhirnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu di atas ranjang periksa, hingga suster harus memegang tangannya untuk menenangkannya.
Ia tidak menangis karena bahagia. Ia menangis karena merasa sangat jahat. Mahluk sekecil ini tidak bersalah, namun ia harus lahir dari rahim seorang wanita yang telah mengkhianati sesama wanita. Mahluk ini adalah darah daging dari pria yang tidak pernah menginginkannya.
"Maafkan Ibu, Nak," isaknya di tengah tangisan. "Maafkan Ibu karena telah memberimu ayah yang salah. Maafkan Ibu karena pernah menjadi wanita yang begitu buruk."
Bayang-bayang Masa Lalu
Keluar dari Puskesmas, Wina melihat sebuah koran bekas yang tergeletak di bangku taman. Di halaman bisnis, ada berita kecil tentang kebangkrutan total perusahaan keluarga Mario. Foto Mario terpampang di sana, sedang menutupi wajahnya dengan jaket saat keluar dari kantor polisi untuk pemeriksaan kasus penggelapan dana.
Wina menatap foto itu tanpa rasa kasihan sedikit pun. Ia hanya merasakan kemuakan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat.
“Wina, aku tahu kamu di Jawa Tengah. Aku tahu segalanya. Aku akan mencarimu. Kita mulai lagi dari awal, hanya kita dan anak itu. Aku tahu kamu pasti hamil, kan? Aku ingat kita tidak memakai pengaman di pertemuan terakhir kita di hotel. Kamu adalah satu-satunya hartaku yang tersisa.”
Darah Wina membeku. Pesan itu dari Mario. Pria itu sudah gila. Ia tidak sedang menawarkan cinta, ia sedang mencari mangsa untuk menemani kehancurannya. Mario ingin menjadikan Wina dan janin itu sebagai "pelarian" terakhir dari kenyataan bahwa ia telah kehilangan segalanya.
Wina segera mengeluarkan kartu SIM dari ponselnya, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke dalam selokan.
Ia tidak akan membiarkan Mario menyentuh hidupnya lagi. Jika ia harus menanggung hukuman ini, ia akan menanggungnya sendiri. Ia tidak akan membiarkan anak ini tumbuh dengan mengenal sosok pria yang menganggap wanita sebagai "aksesori".
Sumpah di Bawah Langit Sore
Wina berjalan kaki pulang menuju kontrakannya. Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna jingga yang menyakitkan. Ia berhenti di sebuah jembatan kecil, menatap aliran sungai di bawahnya.
Ia meletakkan tangannya di atas perut. Kali ini, sentuhannya lebih mantap.
"Kamu bukan jejak Mario," bisiknya tegas. "Kamu adalah kesempatanku untuk menjadi manusia lagi. Kamu akan tumbuh tanpa tahu siapa ayahmu, tanpa tahu betapa buruknya ibumu dulu. Aku akan bekerja dua kali lebih keras, aku akan menanggung malu, aku akan mencuci noda ini dengan keringatku sendiri."
Wina menyadari, penyesalan terdalam bukanlah saat kita tertangkap, tapi saat kita menyadari bahwa kita telah menghancurkan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Ia tidak bisa mengembalikan keutuhan rumah tangga Lily. Ia tidak bisa menghapus bekas luka di hati Lily. Tapi ia bisa memastikan bahwa pengkhianatan ini berhenti di dirinya.
Malam itu, Wina mulai mengemasi barang-barangnya lagi. Ia harus pindah. Lebih jauh lagi. Ke tempat di mana bayang-bayang Mario tidak bisa mencapainya. Ke tempat di mana ia bisa menjadi ibu yang sesungguhnya, bukan sekadar "selingkuhan" yang sedang bersembunyi.
Ia meninggalkan kontrakannya dengan satu tekad: Jika suatu saat nanti anaknya bertanya siapa ayahnya, ia akan menjawab bahwa ayahnya adalah seorang pria yang melakukan kesalahan besar, namun ibunya memilih untuk menjadi lebih besar dari kesalahan itu.
Wina berjalan menembus kegelapan malam, memeluk rahimnya dengan protektif. Ia tahu perjalanannya akan sangat berat. Ia tahu ia akan dicibir, dihina, dan kesepian. Tapi itulah harga yang harus ia bayar. Dan untuk pertama kalinya, Wina merasa lega membayar harga itu. Karena kali ini, ia tidak membayar dengan harga dirinya, melainkan dengan tanggung jawabnya sebagai seorang manusia.
