Bab 1
"Wina, pakai bajumu. Lily sudah menelepon dua kali."
Suara itu datar, hampir tanpa emosi, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan urusan bisnis yang melelahkan.
Mario berdiri di sisi tempat tidur, mengancingkan kemeja putihnya satu per satu. Gerakannya cepat, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia berpakaian terburu-buru setelah sebuah pertemuan rahasia.
Tidak ada pelukan perpisahan.
Tidak ada kecupan lembut di kening.
Hanya aroma parfum mahal yang kini bercampur dengan udara pengap kamar hotel.
Di atas ranjang, Wina menarik selimut putih sampai ke dagu. Matanya yang sembab mengikuti setiap gerakan Mario.
Punggung itu.
Punggung yang selalu ia puja.
Namun tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
"Hanya lima menit lagi, Mario," suara Wina serak. "Bisakah kamu duduk sebentar saja?"
Mario berhenti mengancingkan kemejanya.
Hanya satu detik.
Lalu ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
Jam Rolex itu berkilau samar di bawah lampu kamar. Hadiah ulang tahun dari Lily tahun lalu.
"Sudah jam delapan malam," katanya singkat. "Aku bilang padanya ada rapat direksi yang molor. Kalau aku telat lagi, dia akan curiga."
"Dia curiga... atau kamu yang takut?"
Kalimat itu keluar sebelum Wina sempat menahannya.
Mario akhirnya berbalik.
Tatapannya tajam dan dingin. Tatapan yang biasanya membuat para bawahannya di kantor langsung diam.
"Jangan mulai, Wina."
Nada suaranya berubah keras.
"Kita sudah sepakat dari awal. Kamu tahu posisimu. Dan kamu juga tahu siapa Lily bagiku."
Wina tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar lebih seperti retakan halus pada sesuatu yang sudah lama rapuh.
"Iya. Aku tahu."
Ia menatap lantai.
"Aku hanya selingkuhan."
Suara itu semakin pelan.
"Tempat pelarianmu saat kamu bosan dengan pernikahanmu. Sementara Lily adalah rumah yang selalu kamu tuju, tidak peduli sejauh apa pun kamu menyimpang."
Mario menghela napas pendek.
"Bagus kalau kamu sadar."
Ia berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemejanya. Matanya memeriksa pantulan dirinya dengan teliti.
Tidak boleh ada noda lipstik.
Tidak boleh ada helai rambut yang tertinggal.
Semuanya harus kembali sempurna sebelum ia pulang.
"Aku akan mentransfer uang untukmu besok," katanya tanpa menoleh. "Gunakan untuk apa saja yang kamu mau. Tapi tolong, jangan buat drama seperti ini lagi."
Lalu ia mengambil jasnya.
Pintu kamar hotel terbuka.
Dan beberapa detik kemudian tertutup kembali dengan bunyi pelan.
Namun bagi Wina, suara itu terdengar seperti palu hakim yang mengetok vonis terakhir.
Mario sudah pergi.
Beberapa menit kemudian, mobil Mario meluncur keluar dari area parkir hotel.
Lampu kota memantul di kaca depan, membentuk garis-garis cahaya yang bergerak cepat.
Mario menyalakan pendingin ruangan sampai suhu terendah.
Ia menarik napas panjang, seolah ingin membuang sisa kehangatan tubuh Wina yang masih tertinggal di kulitnya.
Di kantor, ia adalah CEO yang disegani.
Di rumah, ia adalah suami yang hampir sempurna.
Dan di antara dua dunia itu, ada Wina.
Sebuah rahasia gelap yang ia simpan rapi.
Ponselnya bergetar di dashboard.
Sebuah pesan masuk.
Lily:
Sayang, aku sudah masak sup iga kesukaanmu. Jangan terlalu capek bekerja. Aku menunggumu pulang.
Mario membaca pesan itu sebentar.
Ada sedikit rasa bersalah yang muncul, namun ia segera menekannya.
Ia mencintai Lily.
Sungguh.
Lily adalah wanita yang menemaninya sejak ia belum memiliki apa-apa. Wanita dengan keluarga terhormat, kecantikan yang elegan, dan kehidupan yang stabil.
Namun di dalam dirinya ada bagian lain yang haus pada sesuatu yang lebih liar.
Sesuatu yang tidak menuntut kesempurnaan.
Dan Wina memberikan itu.
Wina adalah candu yang ia tahu berbahaya.
Namun ia belum siap berhenti.
Sementara itu, di kamar hotel yang mulai terasa terlalu luas dan terlalu sunyi, Wina masih duduk di tepi tempat tidur.
Keheningan perlahan menelan ruangan.
Ia menatap bayangannya di cermin besar.
Rambutnya berantakan.
Matanya merah.
Ia masih cantik.
Setidaknya begitu kata Mario setiap kali mereka saling mendekat dalam gelap.
Namun malam ini kecantikan itu terasa murah.
Dengan tangan gemetar, Wina meraih ponselnya.
Ia membuka Instagram.
Jari-jarinya berhenti di satu akun yang sudah terlalu sering ia kunjungi.
Akun milik Lily.
Foto terbaru muncul di layar.
Lily berdiri di sebuah acara amal dengan gaun sutra berwarna champagne. Senyumnya anggun.
Di sampingnya berdiri Mario, merangkul pinggangnya dengan percaya diri.
Pasangan sempurna.
Seperti tokoh utama dalam cerita yang bahagia.
Caption di bawah foto itu berbunyi:
"My constant support. Terima kasih sudah selalu pulang ke rumah."
Air mata Wina jatuh perlahan.
Pulang ke rumah.
Mario memang selalu pulang ke Lily.
Tidak peduli berapa lama ia menghabiskan waktu di tempat lain.
"Aku bukan tujuannya," bisik Wina lirih pada kamar yang kosong.
"Aku hanya tempat singgah."
Dua jam kemudian, malam kota sudah semakin ramai.
Lampu-lampu butik mewah masih menyala terang.
Wina berjalan tanpa tujuan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah butik besar.
Ia tidak benar-benar ingin berbelanja.
Ia hanya ingin berada di tempat yang ramai, supaya pikirannya tidak terlalu berisik.
Namun takdir seolah memiliki rencana lain.
Pintu butik terbuka.
Seorang wanita keluar sambil membawa beberapa tas belanja bermerek.
Langkahnya anggun.
Rambutnya disanggul rapi.
Dan aroma parfum yang mengikutinya terasa sangat familiar bagi Wina.
Jantung Wina langsung berdegup keras.
Itu Lily.
Dunia seperti melambat.
Lily menoleh ketika menyadari seseorang sedang menatapnya.
Ia tersenyum sopan.
"Oh, maaf. Apa kita pernah bertemu?"
Suara itu lembut.
Begitu lembut sampai terasa menyakitkan.
Wina menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa.
Wanita ini.
Wanita yang suaminya baru saja memeluknya beberapa jam lalu.
Ada dorongan gila dalam dirinya untuk mengatakan semuanya.
Namun yang keluar hanyalah kalimat sederhana.
"Maaf... saya salah orang."
Lily tertawa kecil.
"Tidak apa-apa."
Ia menatap wajah Wina lebih lama.
"Wajahmu terlihat sangat sedih. Apa kamu baik-baik saja?"
Kebaikan itu justru terasa seperti pisau bagi Wina.
Jika Lily adalah wanita jahat, mungkin rasa bersalah ini tidak akan seberat ini.
Tetapi Lily terlihat begitu baik.
Begitu sempurna.
"Saya baik-baik saja," kata Wina pelan.
Lalu ia pergi sebelum air matanya jatuh lagi.
Malam semakin larut ketika Mario akhirnya tiba di rumah.
Lampu kristal di ruang makan menyala hangat.
Aroma sup iga memenuhi udara.
Lily sudah menunggunya.
"Ini enak sekali," kata Mario setelah suapan pertama.
Lily tersenyum puas.
"Tadi aku bertemu seorang gadis aneh di depan butik," katanya ringan. "Dia menatapku seolah aku ini hantu."
Sendok Mario sempat berhenti.
Namun hanya sebentar.
"Wajahnya cantik," lanjut Lily. "Tapi matanya sangat sedih. Seperti orang yang baru kehilangan segalanya."
Mario menunduk sebentar.
"Mungkin dia hanya sedang stres."
Lily menatap suaminya dengan lembut.
"Aku kadang berpikir... bagaimana rasanya hidup tanpa tempat untuk pulang."
Mario bangkit dari kursinya.
Ia berjalan mendekat, lalu mengecup kening Lily dengan lembut.
"Kamu tidak perlu memikirkan itu," katanya.
"Kamu punya aku."
Ia tersenyum tipis.
"Kamu adalah rumahku, Lily."
Lily memejamkan mata.
Merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Di saat yang sama, di apartemen kecil yang sunyi, Wina duduk di lantai dengan ponsel di tangannya.
Nama Mario masih terpampang di layar.
Ia ingin menelepon.
Ingin mendengar suaranya.
Namun ia tahu apa yang akan terjadi.
Mario akan marah karena ia mengganggu waktunya bersama Lily.
Akhirnya Wina mematikan ponselnya.
Malam ini ia akhirnya mengerti satu hal.
Di dunia Mario, ia bukan tokoh utama.
Ia bahkan bukan tokoh pembantu.
Ia hanyalah gangguan kecil. Dan gangguan seperti itu, cepat atau lambat, selalu akan dihapus. Ia juga sadar, dia hanyalah noise—gangguan kecil yang akan segera dihapus jika mulai terlalu berisik.
Ia hanyalah selingkuhan. Dan selingkuhan tidak pernah punya hak untuk bahagia di atas panggung yang sama dengan sang istri.
