Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

21.

Liu Xunyan tetap meninggal, meskipun aku telah menggantikannya menahan bencana selama setahun.

Tabib mengatakan bahwa penyakitnya berasal dari luka di hati, tidak ada hubungannya dengan bencana.

Sebelum wafat, dia meminta semua orang keluar, termasuk Li Xiuzhu, dan hanya meninggalkanku.

Melihatnya yang sekarat, hatiku terasa perih, "Maafkan aku."

"Kamu tidak perlu meminta maaf." Napas keluarnya lebih banyak daripada napas masuknya. "Aku tahu, dia menaruh hati padamu."

"Lalu kamu? Apakah kamu menaruh hati padanya?"

Aku mengendus hidungku, "Aku tidak tahu."

"Kalau begitu, berarti kamu menaruh hati. Jika tidak, kamu seharusnya langsung mengatakan kepadaku bahwa kamu tidak menaruh hati."

Liu Xunyan menebak isi hatiku dengan sangat tepat. Dia berbicara sendiri, menyampaikan kata-kata terakhirnya, "Aku kira, cinta yang dalam sejak muda dapat mengatasi segala kesulitan, tetapi tak kusangka pada akhirnya..."

"Aku iri padamu, memiliki tubuh yang begitu baik, bisa berlari dan melompat, tidak seperti aku yang setiap hari hanya berbaring di ranjang sambil minum obat."

"Kamu menaruh hati padanya, tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Perasaan memang tidak bisa dikendalikan. Seandainya aku tahu lebih awal, aku tidak akan menikah dengannya..."

"Sejujurnya, aku juga cukup menyukaimu. Hari itu kamu berlari menghampiriku dan menempelkan bunga di wajahku, ada sedikit tanah di atasnya, aromanya sangat harum, terasa hidup..."

"Sebenarnya, akulah yang bersalah padamu. Jika bukan karena aku, kamu tidak akan dinikahinya, orang tuamu dan adikmu pun tidak akan meninggal..."

Aku tidak mengerti apa hubungan kematian orang tuaku dengan dirinya.

Mengapa dia meminta maaf kepadaku.

Aku tidak sabar menanyakan apa maksud kata-katanya itu.

Namun sayangnya, sebelum Liu Xunyan selesai berbicara, dia telah mengembuskan napas terakhir.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Li Xiuzhu menangis.

Dia menangis dengan kesedihan yang teramat dalam, sama seperti diriku ketika mengetahui kematian orang tua dan adikku.

Dia begitu berduka, namun tidak mencintainya. Tidak mencintainya, tetapi tetap bisa bersedih sedemikian rupa demi dirinya.

22.

Li Xiuzhu mengatakan ingin menikahiku sebagai istri, tetapi Liu Xunyan baru saja meninggal, aku tidak ingin menikah dengannya.

Dia tetap memperlakukanku seperti sebelumnya. Setiap hari dia mengajakku melakukan banyak hal, katanya dia takut aku teringat urusan keluargaku.

Dia tidur bersamaku, memelukku dari belakang. Punggungku kembali terasa nyeri samar-samar, aku memintanya menjauh dariku.

Dia terus bertanya mengapa, hingga aku merasa jengkel dan akhirnya memperlihatkan punggungku kepadanya.

Li Xiuzhu terdiam lama.

Keesokan harinya, aku menerima sebuah hadiah besar.

Li Xiuzhu telah menguliti punggungnya sendiri, sepotong besar, utuh.

Dia memasukkan kulit itu ke dalam sebuah kotak dan memberikannya kepadaku. Di atas kulit itu terukir namaku.

Tulang punggungku terasa dingin, kedua kakiku gemetar tanpa henti. Li Xiuzhu yang tersenyum penuh kasih di hadapanku tampak begitu mengerikan.

Aku tidak pernah tahu bahwa dia bisa segila ini, membuatku merasa takut.

23.

Kaisar datang ke rakyat jelata dengan menyamar untuk melakukan inspeksi. Li Xiuzhu membawa keluarganya, yaitu aku, untuk menemani Kaisar berjalan-jalan.

Ini pertama kalinya aku melihat Kaisar. Rambut Kaisar sudah memutih.

Hari ini jalanan sangat ramai. Aku sedang memperhatikan tanghulu di pinggir jalan.

Tak disangka, tiba-tiba seseorang menerobos keluar dari kerumunan, membawa sebilah pisau dan langsung menusuk ke arah Kaisar!

"Lindungi Kaisar!"

Pengawal di sisi Kaisar berteriak, tetapi gerakan si pembunuh terlalu cepat.

Li Xiuzhu menarikku mundur satu langkah.

Aku hendak berbalik dan lari sejauh mungkin, tetapi entah dari mana tiba-tiba muncul seekor angsa besar, terbang dan menendangku sekali. Aku terhuyung, tepat menghalangi Kaisar.

Sialan.

Bukankah Liu Xunyan sudah meninggal? Untuk siapa lagi aku harus menahan bencana?

Li Xiuzhu memang membawa sial bagiku.

Peristiwa itu terjadi terlalu mendadak, dia pun tidak sempat menarikku.

Dengan mata kepala sendiri, aku melihat pisau itu menusuk tepat ke dadaku.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel