Bab 6
Saat itu, dia menundukkan kepala dan melihatku, di dasar matanya melintas sekejap rasa terkejut dan gembira.
Aku berjalan berlawanan arah dengannya. Di belakangnya adalah tandu pengantin berhias bunga, aku tahu pengantin perempuan di dalamnya adalah Liu Xunyan.
Hari ini Kediaman Marquis Chang Le sangat ramai, tetapi keramaian ini tidak ada hubungannya denganku.
Aku memanfaatkan malam yang larut untuk diam-diam membalik berkas perkara di kantor pemerintahan.
Lalu aku mendapati bahwa sama sekali tidak ada catatan tentang keluargaku.
Bukan karena mereka tidak mampu menangkap para perampok, melainkan karena mereka sama sekali tidak mau mengurusnya.
Bahkan mereka enggan mencatatnya.
18.
Aku pergi memohon kepada Li Xiuzhu. Di antara orang-orang yang aku kenal, hanya dia yang memiliki kekuasaan dan pengaruh. Jika dia turun tangan, kantor pemerintahan pasti akan menyelidikinya.
Aku berlutut di hadapannya.
Dia mengangkatku berdiri, "Aku akan membantumu."
Kemudian dia mengusap wajahku, "Hari-hari di sana tidak mudah, kembalilah ke Kediaman Marquis."
"Aku kembali untuk apa?"
"Kamu bisa menjadi selirku, Yan'er berhati lapang, dia tidak akan mempermasalahkannya."
Tidak, Liu Xunyan mempermasalahkannya.
Aku juga mempermasalahkannya. Aku tidak ingin menjadi selir Li Xiuzhu. Punggungku masih terasa nyeri samar-samar, aku tidak mampu berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku menolaknya, lalu dia mulai bernegosiasi denganku, "Aku akan membantumu jika kamu kembali ke Kediaman Marquis. Jika tidak, aku tidak akan membantu."
19.
Maka, aku kembali lagi ke Kediaman Marquis. Padahal aku tidak pernah menyetujui untuk menjadi selir Li Xiuzhu, tetapi semua orang memperlakukanku seolah aku memang selirnya.
Aku mendengar suara Li Xiuzhu dan Liu Xunyan bertengkar. Suara itu menembus halaman. Untuk pertama kalinya aku mendengar Liu Xunyan berbicara dengan suara sebesar itu, begitu keras hingga aku bisa mendengar kata-katanya dari sini.
"Kamu saja pergi mencarinya! Kamu begitu menyukainya, lalu untuk apa menikah denganku?"
"Aku juga tidak memberinya kedudukan apa pun, lalu mengapa kamu bersikap begini? Kamu sudah menjadi istriku!"
"Tetapi hatimu tidak bersamaku! Kamu membenciku karena aku tidak bisa berlari dan melompat! Kamu kira aku ingin memiliki tubuh seperti ini? Kalau kamu memang membencinya, kenapa tidak kamu katakan sejak awal? Kenapa kamu tidak mengatakannya!"
"Aku tidak membencimu!"
"Pergi!"
Ternyata sepasang kekasih masa muda pun bisa bertengkar hebat setelah menikah.
Aku mendengar suara pintu dibanting.
Tak lama kemudian, pintu kamarku didorong terbuka.
Li Xiuzhu datang mencariku dan memintaku menemaninya berkuda.
Aku tidak mau, tetapi dia berkata jika aku tidak menemaninya, dia tidak akan membiarkan kantor pemerintahan melanjutkan penyelidikan.
Akhirnya aku tetap berkuda bersamanya.
Itu pertama kalinya aku menunggang kuda. Dia berada di belakangku, angin menerpa wajahku, rasanya sangat nyaman.
Tiba-tiba dia menundukkan kepala dan mencium pipiku.
Aku berseru dengan ketakutan, "Apa yang kamu lakukan?"
"Ingin menciummu, maka aku menciummu."
20.
Aku kembali bersamanya ke Kediaman Marquis. Di dalam ruangan, dia menatapku dan berkata, "Hari ini kamu mendengar aku bertengkar dengannya?"
"Aku mendengarnya."
"Kalau begitu, apakah kamu sudah memahami perasaanku?"
Aku mengangguk, ingin menyingkirkannya, "Marquis, aku tidak pantas untukmu, sudahlah."
"Bagian mana yang tidak pantas?"
Aku menunjuk wajahku sendiri, lalu menunduk melihat tubuhku.
Namun Li Xiuzhu tidak memperdulikannya, "Lalu kenapa? Kamu merasa dirimu tidak cukup cantik?"
"Tapi aku tidak peduli. Bersamamu, aku merasa bebas dan nyaman, itu sudah cukup."
Aku balik bertanya kepadanya, "Kalau begitu, kamu juga mau membakar beberapa huruf di punggungmu?"
Dia tersenyum ringan, "Baik."
Dia tampak sama sekali tidak takut.
Keesokan harinya, dia memperlihatkan punggungnya kepadaku. Dia benar-benar membakar namaku di punggungnya.
Katanya, itu untuk menebus kesalahannya.
Benar-benar orang gila.
Namun tindakan gilanya itu membuat hatiku tanpa sadar bergetar.
Akhir-akhir ini Li Xiuzhu jarang pergi menemui Liu Xunyan. Dia selalu suka membawaku keluar. Dia membawaku menghadiri pertemuan sastra, membawaku menerbangkan layang-layang, membawaku naik perahu.
Aku pertama kali merasakan semua itu, semuanya terasa begitu baru.
Banyak sekali pengalaman pertamaku yang dijalani bersama Li Xiuzhu.
Li Xiuzhu menanam sebuah pohon di dalam halaman.
"Mengapa kamu tiba-tiba menanam pohon?" tanyaku.
Dia berdiri dan mengulurkan kedua tangannya kepadaku. Aku menepuk-nepuk tanah di tangannya hingga bersih.
Tatapannya dalam, seolah menyimpan ribuan kelembutan, "Ketika pohon ini tumbuh besar, kita pun akan menua. Saat itu, kita bisa berteduh dan menikmati kesejukan di bawah naungannya."
Kata-katanya membuat hatiku beriak-riak. Belum pernah ada seorang pun yang berbicara kepadaku dengan perasaan sedalam dan selembut ini.
