Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Emosi

Hanum adalah istriku yang polos, lugu dan bersahaja. Aku mengenalnya saat aku masih duduk di kelas 2 SMA. Hadi sahabatku adalah kakak kandung Hanum. Kemanapun aku pergi, akan selalu ada Hadi. Aku sering bermain di rumah Hadi. Dengan alasan sedang tidak ingin berada dirumah. Aku telah sering bertemu Hanum yang masih SMP. Wajah sayunya yang menyejukkan kerap kali menari-nari di pelupuk mataku. Ya, aku tergila-gila padanya. Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku. Aku takut akan kecewa dan Hanum tidak mau lagi bertemu denganku.

Hanya dengan melihatnya, aku sudah cukup merasakan bahagia. Tidak ada yang mampu mencuri hatiku kecuali Hanum. Karena Hanum adalah cinta pertamaku. Aku terus menjaga hatiku agar senantiasa tidak berpaling ke wanita lainnya. Aku ingin memilikinya, namun aku terlalu takut akan sebuah penolakan darinya.

Hingga akhirnya aku mengikuti tes CPNS bersama dengan Hadi. Bedanya Hadi memilih tempat dan lokasi penempatan di Sumatera sementara aku memilih diluar daerah, kupilih Jawa Timur. Kami berdua sama-sama lulus seleksi dan ditempatkan pada posisi yang kami lamar sebelumnya. Aku akhirnya harus hijrah ke Jawa Timur. Selama satu tahun aku hidup sendiri disana. Kemudian aku memberanikan diri pulang ke Sumatera, berniat untuk melamar Hanum. Dan ternyata jodoh mempertemukan kami. Kami bertemu di teras masjid kampus saat aku mampir untuk menunaikan sholat Zhuhur. Melihatnya sendirian, aku memberanikan diri mendekatinya.

“Hanum, apa kabarmu?” aku secara tiba-tiba mendatanginya.

“Baik. Maaf, Mas ini siapa?” Hanum bertanya dengan wajah bingung. Dia benar-benar telah lupa padaku.

“Aku Dandi, sahabatnya Masmu Hadi. Masak sudah lupa?”

“OH, Mas Dandi? Apa kabarnya, Mas. Maaf, aku sempat pangling. Lama kita tidak bertemu.”

“Iya. Apakah kamu sudah punya pacar?”

“Hah? Oh, belum. Kok tiba-tiba tanya begitu?” Hanum kembali terkejut mendapatkan pertanyaanku lagi.

“Alhamdulillah bila belum punya. Bila aku ingin melamarmu, apakah kamu bersedia menikah denganku?” Kali ini Hanum tidak kuasa menjawab pertanyaanku. Dia benar-benar terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba ini.

“Aku mencari istri, aku tidak ingin berpacaran. Kalau kamu bersedia, malam ini aku akan datang membawa kedua orangtuaku untuk menemui orangtuamu secara resmi.”

Dan malam itu, aku benar-benar mengajak kedua orangtuaku berkunjung kerumah Hanum. Rasa terkejut tidak dapat disembunyikan dari raut wajah kedua orangtua Hanum dan tentu saja Hadi, sahabatku.

Singkat kata, kami segera melangsungkan pernikahan secara sederhana. Kemudian aku memboyong Hanum ikut aku ke Jawa Timur. Hanum yang berbudi luhur, dan penurut tidak pernah sekalipun membuatku marah. Dia akan diam saja, saat menanggapiku yang terkadang emosi dan marah tanpa sebab. Hanum adalah istri solehah yang merupakan keberuntungan bagiku.

Tapi sejak aku mengenal Nola, aku tidak melihatnya sebagai istri yang solehah lagi. Aku lebih banyak menganggap dia sebagai pelengkap hidupku. Ibarat asisten rumah tangga yang wajib melayani tuannya.

Aku bersyukur dia tidak mengetahui perselingkuhanku dengan Nola. Padahal aku kerap kali beralasan perjalanan dinas hanya untuk menghabiskan waktu bersama Nola. Ya, aku adalah seorang pria yang kembali menemukan cintanya. Seorang Hanum seolah masih belum cukup untuk memenuhi dahagaku.

Aku seolah berada diatas angin manakala menyadari bahwa Hanum tidak mengetahui perselingkuhanku. Padahal bukan rahasia umum di kantor apabila aku sering bepergian bukan dengan Hanum. Mereka seolah tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada Hanum.

Hanum istriku yang polos, yang tidak pernah mengetahui segala aktifitasku selama diluar rumah. Aku memanfaatkan dengan baik kesempatan ini. Dia istri yang dapat dimanfaatkan. Namun pada akhirnya permainanku menimbulkan permasalahan buatku sendiri.

Siang itu, setelah selesai melaksanakan rapat Nola menghubungiku.

“Yang, aku hari ini libur. Aku tidak enak badan. Kamu temani aku, ya?” Suara manja Nola terdengar seakan menggelitik telingaku.

“Iya, setelah ini mas mampir.”

“Jangan lama-lama, Mas. Aku kesepian.”

Setelah membereskan berkas-berkas laporan yang masih berantakan, aku segera melajukan mobil dinasku menuju kerumah Nola yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari kantorku.

Aku tiba disebuah rumah bergaya minimalis bercat biru muda. Rumah yang kubeli untuk Nola dan rumah singgahku bila ingin menghabiskan waktu bersamanya. Tiba dirumahnya, aku disambut dengan pelukan dan ciuman mesra oleh Nola. Perlakuan yang tidak pernah kudapatkan dari Hanum. Itulah yang membuatku begitu merasakan kebahagiaan saat bersama Nola.

“Yang, kamu nginap disini saja ya. Ada yang mau kuberitahukan, berita gembira untukmu.”

“Berita gembira? Apa itu? Kalau menginap sepertinya tidak bisa. Haydar putraku sedang sakit. Lagipula ibu sedang dalam perjalanan kerumah. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka.” Jawabku.

Nola mendekatiku kemudian mendorongku kearah kursi sofa ruang tamu. Dia duduk diatas pangkuanku. Pandai sekali Nola mengambil hati dan perhatianku. Dia mulai bergerilya, menggoda dan menghujaniku dengan ciuman. Hal yang tidak pernah mampu kutolak. Nola yang dengan agresifnya selalu memulai untuk mengajakku berhubungan intim, dan dia berhasil mengendalikanku. Pelayanan prima yang selalu diberikannya saat bersama denganku.

Bahkan sejak mengenal Nola, aku tidak pernah menyentuh Hanum lagi. Tapi, itulah Hanum. Dia yang selalu menerima dan tidak pernah berkeluh kesah dengan segala perlakuanku padanya. Dia selalu menjadikanku raja.

Selesai melampiaskan hasrat kami satu sama lain, Nola berdiri menuju meja disamping tempat tidur. Sebuah alat tes kehamilan diberikannya padaku.

“Aku hamil, Mas. Hamil anakmu.” Nola tersenyum bahagia saat memperlihatkan alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua itu. Aku tersentak. Bagaimana mungkin dia bisa hamil.

“Bagaimana mungkin kamu bisa hamil, Yang.”

“Ya bisa saja dong, Mas. Kita tidak pernah menggunakan pengaman saat sedang bermain. Aku bahagia sekali, bisa mengandung anak kita. Aku ingin menunjukkan pada calon suamiku yang meninggalkanku bahwa aku bisa memiliki seorang anak.”

“Tapi kamu tahu ini tidak boleh terjadi, Yang. Kamu tahu aku sudah beristri dengan dua orang anak. Apa kata orang nanti bila aku memiliki anak lagi dengan orang lain tanpa hubungan pernikahan. Aku mau kamu gugurkan janin itu!”

“Mas, apa kamu sudah gila? Mana mungkin aku menggugurkan buah cinta kita. Bukankah kita melakukannya suka sama suka? Aku telah memberikan semuanya untukmu, Mas. Aku tidak mau menggugurkannya. Titik!” Nola kemudian menangis tergugu. Aku tidak kuasa melihatnya menangis, segera memeluknya. Aku tidak ingin menyakitinya, dia sangat berarti bagiku saat ini.

“Maafkan aku, Sayang. Tapi ini sangat berat untukku. Apa yang akan kita lakukan dengan anak ini dan hubungan kita?”

“Kamu ceraikan saja Hanum. Bukankah dia juga tidak bisa melayanimu di ranjang seperti aku melayanimu?” Nola berkata dengan kata-kata mengejutkan untukku. Aku tidak pernah berfikir untuk menceraikan Hanum.

“Tidak mungkin aku menceraikan dia, Yang. Dia adalah ibu dari anak-anakku. Dia juga adalah istriku yang sah. Aku tidak mungkin meninggalkannya.”

“Lantas, kamu lebih memilih dia daripada aku? Baiklah kalau begitu, lebih baik aku mati saja!” Nola berteriak sambil berlari keluar dari kamar. Kuikuti kemana dia pergi. Tiba di dapur, dia mengambil sebuah pisau dan mendekatkan bagian tajamnya pisau kelehernya. Aku terkesiap.

“Ini yang kamu inginkan, bukan? Kamu pilih aku atau dia!”

“Sayang, tolong lepaskan pisau itu. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Aku kurang apa, Mas. Aku mencintaimu, aku tidak mungkin bisa hidup tanpamu. Dan kini kebahagiaan kita telah hadir. Apakah kamu mau membunuhnya juga? Kamu tidak punya hati?”

“Sayang, ayolah. Kita bicarakan ini baik-baik.”

“Aku tidak butuh janji, Mas. Aku butuh kepastian. Lagipula sampai kapan kamu hanya akan menjadikanku simpanan? Aku juga punya hati. Aku juga ingin mendapatkan posisi yang sama seperti Hanum. Aku tidak peduli. Ceraikan Hanum!” pisau itu menggores hingga berdarah pada leher Nola. Aku semakin tidak sanggup mengendalikannya. Hingga akhirnya aku berlutut di hadapannya.

“Sayang, aku mohon. Mari kita bicarakan baik-baik. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan anak kita yang sedang kamu kandung.”

“Jangan beri aku janji-janji saja, Mas. Tunjukkan kalau kamu memang benar serius dengan ucapanmu. Tunjukkan kalau kamu benar ingin segera menjadikanku istrimu. Aku tidak mau menjadi yang kedua. Kamu tahu itu kan, Mas?”

“Iya, Sayang. Aku tahu. Tapi aku butuh waktu. Aku juga tidak mau kehilanganmu. Kalau aku hanya bermain-main saja denganmu, tidak mungkin kamu kuberikan fasilitas tempat tinggal beserta isinya agar dapat kamu manfaatkan. Aku bukan lelaki yang seperti itu, Sayang.”

Nola akhirnya terduduk. Pisau yang dipegangnya dilepaskannya. Aku memelukknya erat. Sungguh berat bila harus meninggalkan dan melepaskannya. Aku adalah seorang pria yang sedang jatuh cinta, yang tidak akan merelakan cintanya pergi. Kami menangis bersama sambil berpelukan. Bagaimana bisa aku akan meninggalkannya.

“Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan Mas? Apa jadinya aku bila tanpamu? Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Iya, Sayang. Begitupun aku. Kamu satu-satunya wanita yang kucintai. Aku bersedia mengorbankan siapa saja untuk mendapatkanmu.”

“Benar kan, Mas. Kamu janji?”

“Iya, aku janji. Berilah aku waktu untuk mengakhiri hubunganku dengan Hanum. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Aku hanya ingin hidup dan menua bersamamu. Kamu mengerti itu, bukan?”

Nola menganggukkan kepalanya kemudian mempererat pelukannya. Aku harus segera memutuskan siapa yang akan kupilih. Dan lagi-lagi, Nola mengajakku bermain. Kali ini lebih panas dan lama. Kami saling memadu kasih setelah pertengkaran yang menguras emosi dan airmata.

****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel