Bab 8 Mungkin Salahku
Talak? Aku masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Mas Dandi. Bagaimana mungkin dengan mudahnya dia menjatuhkan talak padaku. Apa salahku? Salahkah bila aku mencoba memberikan pendapatku, mengatakan apa yang perlu kukatakan, menyampaikan beban yang menyesakkan dadaku?
Tidakkah Mas Dandi mencoba menempatkan diri jika dia berada di posisiku makan dia akan melakukan hal yang sama? Apakah aku sebagai istri yang telah mencoba melakukan yang terbaik harus menerima penghinaan sedemikian rupa?
Aku kemudian tersadar. Aku segera bangkit. Aku butuh penjelasan atas apa yang kuterima. Aku tidak ingin hanya menjadi pelampiasan amarahnya. Aku berhak tahu kebenarannya. Kebenaran bahwa aku layak dijatuhi talak olehnya.
“Mas, apa yang kamu maksudkan dengan menjatuhkan talak atasku. Apa kesalahanku hingga aku layak di talak olehmu, Mas?”
“Kamu mau tahu apa salahmu? Kamu durhaka! Kamu durhaka pada suamimu! Kamu tidak akan mencium bau surga dengan sikapmu yang seperti itu.” Mas Dandi menudingkan telunjuknya padaku.
“Bagian yang mana aku mendurhakaimu, Mas? Aku sudah mencoba menjadi istri yang baik selama ini. Aku menuruti semua yang kamu inginkan. Lalu, dimana letak kurangnya? Tidakkah kamu tahu bagaimana lelahnya jiwa dan ragaku selama ini dalam melayanimu, Mas? Tidak pernah sekalipun kamu menghargainya. Lantas, sekarang kamu mengatakan aku durhaka. Apakah itu pantas keluar dari mulutmu, Mas?”
“Kamu masih juga membantah? Mau kujatuhkan talak kedua untukmu?”
“Astaghfirullah. Apa yang membuatmu seperti ini, Mas? Kita masih bisa membicarakan ini dengan baik-baik. Bukannya dengan emosi. Mari kita cari jalan tengah. Kita masing-masing saling introspeksi. Biar tidak ada merasa dirugikan satu sama lainnya.”
“Ahhh. Sudahlah. Aku sudah muak denganmu!” Mas Dandi melengos dan segera meninggalkanku sendiri dengan derai airmata yang tak kunjung berhenti.
“Makanya, jangan sombong jadi perempuan. Belum apa-apa saja sudah sombongnya selangit. Berani dengan suami. Dosa, Hanum, Dosa. Durhaka kamu. Baru kali ini ibu ketemu anak menantu yang kurang ajar.” Tiba-tiba ibu mertuaku muncul dari balik pintu kamar mandi. Ternyata sedari dari beliau mendengarkan semua pertengkaran kami.
“Menyesal ibu menikahkan Dandi dengan kamu. Kamu tidak dapat diandalkan. Diluar sana masih banyak perempuan yang lebih baik daripada kamu. Lagipula siapa yang sudi dengan wanita sombong dan durhaka seperti kamu.”
Aku tidak menggubris apa yang dikatakannya. Aku lebih memilih memikirkan pernikahanku daripada ikut campur ibu. Namun kutatap mata ibu yang tengah mengawasiku. Ibu melengos saat melewatiku. Hatiku mencelos. Sehina itukah diriku dimata mereka?
Aku menggigit bibirku. Tak kurasakan lagi rasa sakit saat gigitan itu berdarah. Aku ingin mengejar Mas Dandi lagi, namun aku tahu itu percuma. Aku teringat dengan kedua buah hatiku yang tadi berada di kamar belakang.
Aku membuka pintu kamar itu, tampaklah Haydar dan Jasmine telah tertidur diantara mainan mereka. Tentu mereka merasa bosan karena harus ku kurung agar tidak mendengar apa kuributkan dengan ibu dan Mas Dandi. Aku merasakan sakit yang teramat sangat didalam hatiku, melihat kedua anakku menjadi korban keegoisanku. Seharusnya aku lebih memperhatikan mereka.
Kugendong Jasmine yang tertidur dilantai, kuletakkan di atas pembaringan. Kemudian kutepuk perlahan pipu Haydar. Dia belum memakan obatnya lagi setelah siang tadi. Dia membuka matanya perlahan.
“Abang, makan dulu Yuk. Terus kita minum obat. Biar abang cepat sembuh.” Haydar menganggukan kepalanya. Kemudian perlahan dia bangkit dari tidurnya dan duduk tepat dihadapanku.
“Ibu habis menangis, Ya?” aku tersentak mendapatkan pertanyaan itu. Segera kuhapus air mataku yang mengalir.
“Tidak, ibu habis cuci muka. Belum sempat dikeringkan dengan handuk.”
“Ohhhh. Abang kira ibu habis menangis. Abang disuapin makan disini aja ya, Bu. Abang masih mengantuk.” Haydar menguap dan mengucek kedua matanya.
“Iya, sekalian dengan adik, Ya. Tunggu disini sebentar.”
Aku segera berlalu ke dapur. Aku teringat bahwa tadi mengurungkan niat untuk memasak akibat pertengkaran kecil dengan ibu mertuaku.
Di dapur, sisa-sisa pekerjaanku saat menyiapkan makan malam masih berserakan dimana-mana. Aku ingin membersihkannya namun aku teringat bahwa kedua orang anakku belum makan malam. Segera aku mengambilkan nasi putih kemudian menggorengkan dua potong daging ayan yang telah kuungkep tadi siang.
Terdengar suara pembicaraan antara Mas Dandi dan Ibunya didepan. Tampaknya mereka sedang makan. Suara piring dan sendok yang berbenturan terdengar hingga ke dapur. Aku bersyukur bahwa aku tidak perlu menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Setelah selesai menggoreng dua potong daging ayam, aku segera membawanya ke kamar, menyuapi Haydar dan Jasmine. Juga untuk diriku sendiri yang belum mencicipi rasa sebutir nasi sejak tadi pagi. Tiba di kamar, Haydar telah meringkuk lagi melanjutkan tidurnya yang sempat terputus. Kubangunkan lagi dia. Jasmine juga terpaksa kubangunkan kembali. Kasihan dia akan merasa lapar bila tidak makan. Mereka berdua makan beberapa suapan hingga akhirnya mereka tidak dapat lagi menahan kantuk.
Kubiarkan mereka tertidur. Kuciumi mereka berdua. Lagi-lagi airmata mengalir dari kedua sudut mataku. Aku hanya memikirkan mereka berdua. Bagaimana jadinya bila akhirnya Mas Dandi menceraikanku. Bagaimana aku bisa merawat kedua anakku sementara aku tidak memiliki penghasilan.
Aku memikirkan kemungkinan terburuk terhadap pernikahanku dan Mas Dandi. Sungguh, aku tidak ingin diceraikannya. Aku masih begitu mencintainya. Aku magih ingin berbakti padanya. Mengapa semua ini tiada arti.
Akhirnya malam itu aku tertidur dengan posisi duduk bersandar tempat tidur dimana Haydar dan Jasmine terbaring. Dalam tidurku, aku masih menangisi sikap Mas Dandi. Ketidak adilan yang kudapatkan selama ini.
****
Pukul 05.00 terdengar suara masjid mengumandangkan adzan. Aku segera terbangun. Aku bangkit dari posisi tidurku kemudian melangkah menuju kamar mandi. Di kamar mandi, aku bercermin pada kaca yang terpasang. Tangisku semalam menghasilkan mata yang sembab dan kemerahan.
Aku kemudian mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Aku ingin bercerita pada pemilik hidup tentang gundah gulanaku, tentang kepedihanku juga tentang penderitaanku selama ini.
Selesai menunaikan sholat, aku kembali berkutat dengan pekerjaan rutinku. Ku mendengar langkah kaki yang berada di belakangku. Langkah kaki Mas Dandi. Aku pura-pura tidak mengetahui bahwa dia sedang mendekatiku. Kemudian dia berhenti tepat di sampingku.
“Mulai hari ini, kamu lebih baik angkat kaki dari rumah ini kalau kamu masih tidak berubah juga. introspeksi dan perbaiki perilakumu. Kamu sudah benar-benar kurang ajar. Baik pada suamimu dan ibu mertuamu sendiri. Aku akan beri kamu kesempatan untuk merubah perilakumu. Kalau ibu tidak bercerita tentu aku tidak tahu bahwa kamu sangat kurang ajar. Kamu perlu diberi pelajaran.”
Aku semula tidak ingin membahasnya. Namun, rasa kesal di dalam hatiku tidak meu diajak bekerja sama. Kuhentikan kegiatanku mencuci piring bekas makan semalam. Kubalikkan tubuhku berhadap-hadapan dengannya.
“Sepertinya memang aku selalu salah di matamu, Mas. Kamu hanya melihat kesalahanku yang bernilai setitik daripada semua perbuatanku demi kamu dan demi keluarga kita. Kalau memang mas ingin aku introspeksi, ada baiknya mas juga melakukan hal itu. Apakah mas selama ini sudah menjadi pria dan suami yang baik bagi istri dan anak-anakmu?”
“Kamu sungguh keterlaluan, Mas. Kalau saja aku tidak memikirkan Haydar dan Jasmine, sudah kutinggalkan kamu. Aku tidak akan mau kembali lagi untuk hidup bersamamu!”
Keberanian yang kumiliki entah berasal dari mana. Yang jelas, aku telah meluapkan semuanya. Aku tidak ingin ditindas lagi. Aku tidak ingin diperlakukan menjadi babu lagi. Mungkinkah surga bagiku sudah begitu menjauh?
****
