Bab 10 Talak
Ponselku bergetar. Jam menunjukkan pukul 18.00. kulihat di layar “Ibu Tercinta” menghubungiku. Nola yang sedang bermalas-malasan di pelukanku kuberi kode dengan telunjuk di bibirku. Dia mengganggukkan kepala tanda mengerti.
“Assalamualaikum, Bu. Ibu sudah sampai?”
“Waalaikumsalam. Ibu sudah sampai. Tapi istrimu keterlaluan. Istrimu berani melawan ibu. Apa saja yang telah kamu ajarkan kepada istrimu itu. Dia sudah kurang ajar. Ibu belum disiapkan makan sedari tadi, dia malah tidur dan mengunci dirinya dikamar. Kalau begini terus, Ibu tidak mau lagi mengunjungimu.” Ibu bercerita panjang lebar padaku tentang Hanum.
Aku yang mendengar hal itu seolah shock. Tidak mungkin Hanum akan berbuat seperti itu. Aku tahu benar bagaimana Hanum. Dia istri yang taat, patuh dan sopan. Tidak mungkin rasanya dia akan berbuat hal yang rasanya bertolak belakang dengan sifatnya.
Terus terang, pada awalnya aku tidak mempercayai omongan ibuku. Namun, aku juga tidak bisa untuk tidak mempercayai apa yang ibu sampaikan. Aku mencoba menenangkan ibu.
“Masak sih bu, Hanum begitu.”
“Lantas, kamu tidak percaya sama ibu? Ya sudah, ibu pulang saja malam ini!” ibu mengancamku.
“Bukan begitu, Bu. Nanti Dandi coba hubungi dia.”
“Pokoknya ibu tidak mau tinggal disini kalau kamu tidak pulang. Ibu lebih baik tinggal di hotel saja. Kamu cepat pulang!”
“Bu, Dandi tidak mungkin bisa pulang. Ada pekerjaan yang belum selesai. Kalau dipaksakan mungkin sekitar jam 9 malam baru sampai.”
“Terserah kamu mau sampainya jam berapa, pokoknya segera pulang!” Ibu memutus telponnya. Aku mendengus kesal. Padahal rencana malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersama Nola. Tapi aku juga tidak mungkin mengabaikan ibu begitu saja. Aku perlu memastikan sesuatu. Segera kucari nomor Hanum di ponselku. Terdengar nada sambung, namun tidak kunjung ada jawaban. Kucoba berkali-kali hasilnya nihil.
“Siapa, Mas?”
“Ibu. Ada pertengkaran kecil dengan Hanum. Tapi rasanya tidak mungkin Hanum akan berbuat begitu terhadap ibu. Dia tidak akan berkata kasar bagaimanapun kesal dan marahnya dia pada orang lain.”
“Kamu kok membelanya, Mas?”
“Bukan membela, sayang. Tapi itulah kenyataan yang selama ini aku alami setelah bertahun-tahun kami bersama.”
“Kamu kayaknya tidak ikhlas bila ada yang menjelek-jelekkan istrimu, Mas.” Nola memanyunkan bibirnya.
“Bukan begitu, Sayang. Aku perlu memastikannya saja. Itu yang terpenting. Bukankah bila Hanum memang benar seperti apa yang ibu katakana itu semakin baik? Kesempatan untuk kita terbuka lebar.”
“Iyakah, Mas? Kamu bersungguh-sungguh?”
“Iya, Sayang. Aku pulang dulu ya. Ini demi kebaikan dan masa depan kita bersama.”
Meskipun dengan berat hati akhirnya Nola mengizinkanku pulang kerumah. Nola memelukku erat, aku kecup keningnya. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat pulang kerumah.
****
Perjalanan dari rumah yang ditempati Nola menuju rumah tinggalku dengan Hanum dan anak-anak berjarak ratusan kilometer. Butuh waktu sekitar dua jam untuk dapat tiba dirumah dengan kecepatan sedang. Sengaja tadi motor kutinggalkan di kantor. Aku membawa mobil dinas.
Aku masih memikirkan apa yang ibu sampaikan. Dalam satu hari ini saja, Hanum telah berulang kali kuminta melakukan sesuatu. Dan dia melaksanakannya dengan patuh, tanpa menolaknya sedikitpun. Sebenarnya dialah istri yang baik bagiku. Namun, rasa cinta ini sepertinya sudah tidak ada lagi untuknya. Aku memutuskan untuk meninggalkannya. Biarlah dia dan anak-anak kuberikan nafkah. Namun aku ingin segera mendaftarkan pernikahanku dengan Nola. Sulit bagi pegawai sipil sepertiku ini untuk berpoligami. Jadi, langkah yang tepat bagiku adalah menceraikannya. Aku tidak mau menambah beban pikiranku dengan ketidaknyamananku Hanum.
Mungkin saja semua permasalahan yang kuhadapi saat ini karena Hanum melayaniku dengan rasa tidak ikhlas. Mungkin saja ternyata dia mengomel dibelakangku. Atau mungkin karena sudah tidak menyenangkan lagi bergaul dengannya. Dia sudah tidak mampu memberikan kebahagiaan padaku seperti apa yang Nola berikan padaku. Ahh, aku sudah semakin merasa muak dengannya.
Kuparkirkan kendaraanku di pekarangan rumah. Kulirik arlojiku yang menunjukkan pukul 21.00. Teras rumah tampak gelap, lampunya belum dihidupkan. Kuketuk pintu rumah.
“Assalamualaikum.” Tidak ada jawaban.
“Assalamualaikum, Yang, Hanum, buka pintunya.” Terdengar suara langkah didalam rumah kemudian terdengar bunyi klik saat pintu dibuka. Wajah ibu muncul dihadapanku dengan raut wajah yang kusut. Tampak sekali ada kemarahan di wajahnya.
“Waalaikumsalam.” Ibu menjawab dengan bibir mencibir. Segera kucium punggung tangannya.
“Maaf, Bu. Perjalanan sedikit lama. Jalanan padat. Ibu sudah makan?”
“Boro-boro makan. Disuguhi minuman aja tidak. Istri macam apa Hanum itu. Ibu datang jauh-jauh dari Sumatera kesini untuk mengunjungi anak dan cucu-cucu ibu, eh malah dicuekin. Sekarang lihat saja sendiri. Anak-anakmu dikurung di kamar belakang, sedangkan Hanum berada di kamarmu sejak tadi. Tidak sudi rasanya ibu punya menantu seperti dia. Kamu kok betah sama dia.”
Aku terus mendengarkan apa yang dikatakan ibu. Ingin memastikan kebenaran apa yang dikatakan ibu, aku segera menuju kamar belakang. Benar, kedua orang anakku berada di dalam kamar itu, bermain sambil menonton televisi yang kuletakkan disitu hingga akhirnya tertidur di lantai.
Kudekati Haydar, kuraba keningnya yang menyisakan rasa hangat sisa demamnya siang tadi. Wajahnya masih tampak pucat. Aku mulai membenarkan apa yang dikatakan ibu. Amarah mulai mempengaruhiku.
Kulihat meja makan, kubuka tudung saji, memang tidak tersedia makanan sedikitpun. Kemarahan lagi-lagi kurasakan. Kulangkahkan kakiku menuju kamar kami. Pintu dikunci dari dalam. Kuketuk dengan sedikit keras agar segera dibukakan.
“Hanum, buka pintunya!” tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Hanum! Buka pintunya kubilang!” masih tidak ada jawaban. Kali ini kugedor lebih keras lagi.
“Hanum!!! Cepat buka pintunya!” kudengar langkah kaki menuju pintu kamar, dan Hanum muncul dari balik pintu. Wajahnya sembab, kedua matanya bengkak. Sepertinya dia baru saja menangis.
“Kamu keterlaluan! Istri macam apa kamu?” Hanum hanya diam dan menundukkan kepalanya saat mendengar aku memarahinya.
Semua omelan yang disampaikan ibu kusampaikan kembali padanya. Pada awalnya dia hanya mendengarkan saja. Namun pada saat kukatakan yang berhubungan dengan kedua orang anak kami, sepertinya melukai hatinya. Tiba-tiba saja dia menjawab dengan nada tinggi pula. aku terkesiap mendengarnya. Hanum yang lembut, yang halus dan sabar tiba-tiba dengan berani melontarkan kata-kata yang tidak pantas dikatakan kepada suaminya.
Aku mulai emosi. Kemarahan yang sedari tadi kurasakan kini mulai tidak terbendung. Hingga akhirnya kujatuhkan talak padanya. Dia terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku. Namun, aku sudah tidak lagi peduli padanya. Aku sudah muak. Aku lebih memilih ibuku daripada dia.
Toh seandainya aku menikah lagi, aku akan segera punya anak lagi dari Nola. Wanita yang saat ini selalu mengisi relung hatiku. Wanita yang saat ini sangat kucintai. Aku sudah memutuskan, aku akan memilih Nola.
Kutinggalkan dia begitu saja. Kulihat dia menangis lagi. Ada rasa kasihan melihatnya seperti itu. Namun, sepertinya aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku anak lelaki adalah milik ibuku. Bila seorang istri telah berlaku tidak sopan kepada ibuku dan melawan terhadapku, maka dia tidak dapat dipertahankan lagi.
Wajar bukan, bila aku jatuhi talak padanya? Dia sudah tidak mengharapkan ridho dari suaminya lagi.
****
