Bab 7 Wanita Lain
Tubuh dan pikiranku terasa lelah. Pekerjaan yang seharusnya selesai harus dikerjakan ulang. Stress kian terasa memenuhi kepalaku. Beban pekerjaan yang semakin lama semakin banyak semakin membebaniku. Aku telah mencoba yang terbaik demi penyelesaian masalah pekerjaanku, namun sia-sia.
Tim Audit yang mengaudit laporan keuangan mengenai proyek pembangunan gedung di lingkungan dinas pendidikan menemukan beberapa kejanggalan dalam penggunaan dana. Aku telah melakukan kesalahan, yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik. Tim yang bekerja sama denganku juga sudah kuajak merundingkan masalah ini. Namun siapa sangka bila isi hati dan isi kepala tidak sama dan malah menjadi boomerang bagiku sendiri.
Pagi ini pukul 04.00 aku terbangun dari tidur. Aku segera mandi, kemudian berwudhu. Waktu sholat shubuh akan tiba sekitar 1 jam lagi. Setelah mandi, aku berganti pakaian di kamar. Kulihat Hanum tidur dengan pulasnya. Kuamati wajah sayunya, kubelai pipinya. Dia tampaknya lelah sekali. Semalam dia menemaniku mengerjakan laporan hingga larut malam.
Biasanya jam segini dia sudah bangun, namun kali ini kubiarkan dia tidur. Setelah berganti pakaian, aku menuju ke ruang kerjaku, melanjutkan mengerjakan laporan yang telah kuselesaikan tadi malam. Ternyata, laporannya banyak yang sesuai. Aku harus mengecek dan mengedit pekerjaanku semalam, dan itu tidak sedikit.
Waktu sholat subuh tiba, kutinggalkan pekerjaanku sejenak, untuk menunaikan sholat subuh. Setelah selesai sholat aku melanjutkan pekerjaan di ruang kerjaku tanpa ingat bahwa Hanum belum kubangunkan.
Aku terpaku pada berkas-berkas yang harus segera kulaporkan pagi ini. aku begitu stress dengan keadaan ini. Aku ingin marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Andai saja aku tidak bermain-main dengan kepercayaan yang dibebankan kepadaku. Seandainya aku tidak tergoda, tentu hal ini tidak akan menjadi boomerang padaku.
Aku mendengar suara bising di dapur membuatku pusing. Aku sudah mulai putus asa. Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruang kerjaku. Aku menuju teras yang berada di belakang rumahku. Aku ingin menghisap rokok dan menikmati segelas kopi yang selalu dihidangkan Hanum untukku. Dia adalah istri yang baik, yang sangat mengerti apa yang dibutuhkan suaminya. Tanpa diminta, dia akan menyediakan apa yang kubutuhkan. Aku beruntung memilikinya.
Namun saat aku tiba di meja tempat dimana biasanya dia meletakkan kopi terlihat kosong. Sisa-sisa puntung rokok masih belum dibersihkan dan berserakan di meja. Aku merasa seolah-olah kepalaku mau pecah. Aku ingin marah, namun kuurungkan niatku. Aku tidak tega memarahinya. Karena dia telah berbuat banyak dalam membantuku.
“Yang, kopiku mana?” akhirnya aku tidak mampu menahan lagi karena Hanum seolah tidak tahu bahwa aku telah bangun.
“Sebentar, pancinya masih dipakai untuk masak sayur, Mas.” Dia menjawab pertanyaanku.
“Gimana sih. Mestinya kalau pagi, buatkan dulu kopinya, baru masak. Cepat buatkan kopi dulu.” Aku semakin kesal mendengar dia menjawab tanpa mendahulukan apa yang kuinginkan.
Kuhempaskan tubuhku di kursi. Kubiarkan sisa-sisa puntung rokok di meja tanpa kubersihkan. Kepalaku masih saja terasa sakit. Kemudian tidak berapa lagi Hanum muncul dengan secangkir kopi di tangannya. Diletakkannya di meja tempat aku duduk. Langsung kuraih secangkir kopi itu, tanpa mengucapkan terima kasih padanya.
Kuhisap rokok yang telah kuhidupkan. Kunikmati sensasi tiap hisapan yang kuhirup. Disini adalah tempat dimana aku dengan bebas merokok. Aku tidak akan merokok didalam rumah karena akan membuat anak-anakku yang masih kecil terpapar asap rokok.
Aku masih memikirkan jalan keluar atas permasalahan yang kuhadapi di kantor. Penggelapan dana yang tidak sedikit. Aku meremas kepalaku. Semua jalan telah kucoba. Kalau saja aku lebih bijak, tentu tidak akan ada yang akan melaporkanku ke tim audit. Tangisan Jasmine yang berisik mengganngu ketenangaku. Sungguh aku bertambah emosi. Entah apa yang dikerjakan Hanum hingga membiarkan anak-anaknya bertengkar.
Seandainya saja aku tidak tergoda. Ya, aku tergoda dengan seorang wanita. Dia cantik, muda, menarik, bertubuh seksi dan tubuhnya senantiasa menebar wangi parfum mahalnya. Dia bernama Nola. Hal ini terjadi saat aku sedang dalam perjalanan dinas keluar kota. Kebetulan saat itu rekan kerjaku mengajakku makan malam. Dia membawa sekretarisnya serta.
Saat pertama kali aku bersalaman dengan Nola, hatiku serasa berdesir. Dia sungguh menarik. Setiap gerak tubuhnya yang luwes, tutur bahasanya yang menggoda seolah mendayu-dayu di telingaku. Aku terhanyut hanya dengan mendengar suaranya. Setelah pertemuan pertama itu, kami kembali bertemu keesokan harinya. Kali ini kami membahas kerja sama mengenai proyek yang berbeda namun tetap diambil oleh perusahaan temanku itu.
Pertemuan kedua ini merupakan pertemuan yang membuat duniaku berbalik 180 derajat. Awalnya dia hanya menghubungi melalui pesan chat yang menanyakan berkas yang harus dipersiapkannya. Kemudian obrolan itu berubah menjadi intens.
“Siang, Pak Dandi. Bagaimana dengan berkas-berkas yang harus kami lengkapi. Apakah perlu kami persiapkan sendiri atau dari pihak Pak Dandi yang menyiapkan? Saya Nola, sekretarisnya Pak Benny.”
Mendapat pesan ini sebenarnya telah membuat hatiku berdebar. Namun aku mencoba menanggapinya secara professional. Maklumlah, aku seolah menjadi seorang anak ABG yang dapat meluluhkan hati pujaan hatinya.
“Sebenarnya dari pihak kami sudah dipersiapkan. Tapi kalau mbaknya mau membuatnya sendiri juga tidak apa-apa.”
“Hmmm… Okelah kalau begitu, Pak Dandi. Saya coba diskusikan dulu dengan Pak Benny.”
“Oke. Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak Dandi. Oh ya, Pak Dandi kok belum tidur? Ini sudah jam 11 malam lho.”
“Belum nih. Masih ada yang harus diselesaikan. Lagipula, masih belum bisa tidur.”
“Lho, mikir apa kok belum bisa tidur? Mau ditemenin?”
Mendapatkan jawaban itu membuat jantungku semakin berdetak. Bagaimana mungkin dia dengan seberani ini memulai suatu percakapan. Aku tidak menggubris percakapan itu. Namun beberapa saat kemudian dia kembali mengirim pesan.
“Maaf, Pak Dandi. Saya bercanda kok. Sampai jumpa besok, Pak Dandi. Selamat malam.”
Aku merasa tidak enak dengan pesan yang dikirimkannya. Namun secara normal, aku kemudian berkhayal dengan fantasi liarku. Bisa saja dia mau bersamaku menghabiskan malam di kamar ini, hanya sekedar ngobrol. Bukankah dia juga sedang berada di kamar tepat di sebelah kamarku menginap? Iseng ingin ku tanggapi tawarannya.
“Memang mau temani saya disini? Apa Benny tidak marah?”
“Pak Benny kalau ada perjalanan dinas tidak pernah menginap, Pak Dandi. Beliau selalu pulang. Tidak bisa jauh dari istrinya. Kalau bapak berkenan, saya bisa menuju kamar bapak sekarang.”
Jantungku bergemuruh tidak karuan. Gayung bersambut. Bukankah aku hanya ingin ditemani saja. Toh tidak akan terjadi apa-apa diantara kami.
“Boleh, kesini saja. Kita bisa membahas mengenai berkas-berkas yang perlu dilengkapi sekalian.”
Lama, Nola tidak membalas pesanku. Seperti anak kecil yang tidak diizinkan bermain, aku merasa kecewa. Tiba-tiba terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. Aku segera menuju pintu kemudian membukanya. Nola dengan senyum manis menyapaku tepat didepan pintu kamar. Jantungku semakin tidak karuan. Tanpa diminta, dia segera masuk kedalam kamarku. Aku sedikit terkejut dengan sikap agresifnya. Aku sedang menutup pintu saat dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Menggunakan dress dengan bahu terbuka sebatas lutut membuatku menelan ludah. Aku memalingkan pandanganku darinya. Aku duduk di kursi yang berada disamping tempat tidur.
“Berkas-berkas yang perlu kalian persiapkan ada di dalam map ini ya, Mbak Nola.”
“Oke. Ternyata enak dikamar ini. Ada temannya. Dikamar sebelah saya sendirian, kesepian. Mau pulang, udah terlalu malam. Mau keluar, tidak ada temannya. Kasihan saya yang lagi jomblo.”
“Masak sih mbak Nola masih jomblo. Mbak Nola cantik, seksi, pandai bergaul, mustahil masih jomblo.”
“Calon suami saya melarikan diri, Pak Dandi. Padahal pernikahan sudah mau dilaksanakan minggu depan, dan undangan telah disebar. Mau bagaimana lagi. Dia tidak mau sama saya masak harus saya paksakan.”
“Malam ini saya boleh tidur disini, kan?”
“Silakan, biar saya tidur di sofa saja.”
Nola kemudian turun dari pembaringan dan menarikku keatas tempat tidur.
“Bapak tidur disini aja. Tidak apa-apa. Saya tidak akan melaporkan apapun pada Pak Benny maupun istri Pak Dandi.”
Dan malam itu adalah malam awal dari malapetaka yang kuhadapi sekarang. Aku seorang pria yang hanya mengenal sosok Hanum sebagai cinta pertama dan terakhirku. Kemudian kemunculan Nola yang agresif, yang manja, yang menjanjikan surge dunia bagiku. Aku tidak kuasa menolaknya.
Awalnya malam itu aku hanya ingin menjadi pendengar setianya. Yang mendengarkan permasalahan yang dihadapinya terkait calon suaminya yang telah melarikan diri. Namun kemudian percakapan kami lebih intens saat dia menangis dalam pelukanku. Pria mana yang dapat menahan hasratnya saat berada dalam rengkuhan wanita cantik yang seksi, yang menarik. Akhirnya, aku tidak kuasa menahannya. Aku bertekuk lutut padanya. Merampas madunya, merampas segala keindahan tubuhnya. Aku memiliki tubuhnya.
Aku khilaf. Aku telah mengkhianati Hanum. Aku telah mengkhianati cinta kedua orang anakkku. Aku khilaf. Segalanya telah terjadi. Aku tidak mungkin dapat memutar waktu kembali. Kembali kepada kesucian cinta Hanum. Aku adalah lelaki yang telah mendua. Aku lelaki yang tidak layak bagi Hanum.
****
