Chapter 4
Fajar di langit Batam baru saja merekah, menyapu cakrawala dengan warna oranye yang pucat dan dingin. Namun, di dalam lantai teratas Hotel Victoria, suasana terasa mencekam, seolah-olah waktu berhenti berdetak.
Karina masih meringkuk di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, jantungnya bertalu-talu menghantam rongga dada. Setiap gesekan kain seragamnya dengan dinding terasa seperti suara ledakan di telinganya.
Di luar sana, di ruang Suite yang luas dan mewah itu, pintu utama terbuka dengan sentakan kasar.
Renata Masayu melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator. Matanya yang tajam dan dingin langsung menyisir setiap sudut ruangan, mencari satu celah, satu noda, atau satu helai rambut yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan harga diri pria yang berdiri di depannya.
Hengki, manajer maskapai sekaligus tangan kanan Renata, mengekor di belakang dengan senyum remeh yang menghias wajahnya. Laki-laki itu selalu menikmati momen-momen saat Devran, sang pilot idaman, dipojokkan seperti binatang buruan.
"Nggak nemu apa-apa, Ren?" suara Devran terdengar rendah, parau namun sarat akan kebencian.
Ia berdiri dengan dada bidang yang terbuka, otot-otot lengannya menegang saat ia menyandarkan diri di dekat wastafel luar, menghalangi pandangan ke arah kamar mandi.
Renata tidak menjawab. Ia berjalan mendekati ranjang, menatap alas kasur yang kusut masai-bekas insiden tergelincirnya Karina tadi.
Ia menyentuh seprai itu dengan ujung jemarinya yang berpoles kutek merah darah, seolah-olah sedang memeriksa barang bukti di tempat kejadian perkara.
"Ranjang lo berantakan banget, Dev. Main sendirian atau ada yang baru aja lari lewat jendela?" Renata berbalik, menatap Devran dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
"Inget ya, sekali aja gue liat ada perempuan di kamar ini, detik itu juga lo kehilangan sayap lo. Gue bakal pecat lo secara tidak hormat dan pastiin lo nggak akan pernah bisa nerbangin layangan sekalipun di negara ini."
Devran mendengus, tawa kering lolos dari bibirnya. "Lo tau betul gue nggak serendah itu, Ren. Lagian, bukannya lo bakal seneng kalau gue bikin salah? Itu kan makanan lo setiap hari, nungguin gue jatuh ke lubang supaya lo punya bahan baru buat ngerendahin gue di depan semua orang."
Renata melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma maskulin Devran yang bercampur dengan ketegangan. Ia menatap suaminya itu dengan tatapan kosong, tanpa cinta, hanya ada dendam yang terpelihara dengan rapi.
"Lo emang pinter, Dev. Tapi jangan lupa, pernikahan ini terjadi bukan buat bikin lo bahagia," Renata berbisik, suaranya tajam seperti sembilu yang menyayat.
"Setiap kali gue liat muka lo, gue selalu inget gimana nyokap gue nangis-nangis di depan bokap lo. Gue inget gimana nyokap gue tersiksa dalam mahligai hampa sama bokap gue cuma karena dia nggak bisa dapetin Wisnu Mahendra."
Di balik pintu kamar mandi, Karina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia tidak hanya mendengar rahasia besar, tapi ia mendengar bagaimana sebuah jiwa sedang dihancurkan secara sistematis.
"Gue bakal pastiin lo nggak akan pernah nemuin kedamaian, Devran," lanjut Renata dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. "Gue mau liat lo hancur pelan-pelan. Gue mau liat lo depresi sampe lo nggak kuat lagi narik napas. Gue pengen liat lo loncat dari balkon kamar ini, persis kayak nyokap gue yang milih mati karena gila gara-gara bokap lo."
Hengki yang sejak tadi berdiri di belakang Renata ikut angkat bicara, suaranya mengandung nada ejekan yang kental. "Lo denger itu, Kapten? Lo itu cuma alat. Laki-laki nggak guna yang kebetulan dinikahi sama Renata Masayu. Tanpa Renata, lo itu nggak lebih dari sampah yang nggak punya harga diri."
Devran mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dalam dadanya, namun ia sadar bahwa melawan Renata adalah kesia-siaan.
Wanita itu memiliki segalanya: uang, kekuasaan, dan kemampuan bersandiwara yang luar biasa di depan publik. Di hadapan dunia, mereka adalah pasangan sempurna, namun di balik pintu ini, Devran hanyalah alas kaki yang diinjak-injak setiap hari.
"Puas?" tanya Devran dengan suara bergetar karena emosi yang tertahan.
"Kalau udah puas menghina gue, silakan pergi. Gue butuh istirahat sebelum terbang lagi."
Renata tersenyum sinis, sebuah senyum kemenangan yang hampa. Ia berbalik, bersiap untuk meninggalkan kamar. Namun, sebelum Hengki melangkah keluar mengikuti bosnya, laki-laki itu berhenti tepat di samping Devran.
Ia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu yang membuat dunia Devran serasa runtuh seketika.
"Lo boleh bangga jadi pilot hebat di kokpit sekaligus suami CEO maskapai. Tapi jangan lupa, semalam gue yang nemenin Renata. Istri lo itu... bener-bener tau gimana cara bikin laki-laki puas," bisik Hengki sambil tertawa mengejek.
Hengki menepuk bahu Devran yang kaku, lalu melangkah pergi menyusul Renata. Suara tawa Hengki yang puas menggema di koridor hotel sebelum akhirnya pintu tertutup dengan dentuman pelan namun berat.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan. Karina perlahan membuka pintu kamar mandi. Langkahnya gontai, kakinya terasa lemas setelah mendengar semua kebenaran yang begitu pahit.
Ia melihat Devran berdiri mematung menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Batam yang mulai sibuk.
Devran tidak menoleh. Bahunya yang lebar tampak turun, seolah memikul beban seluruh dunia.
"Kamu bisa pergi sekarang, Karina," ucap Devran pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Pergi sebelum ada orang lain yang lihat kamu di sini."
"Kapten..." Karina melangkah setindak, niat hati ingin memberikan penghiburan, namun ia sadar bahwa ia hanyalah orang asing yang terjebak dalam badai rumah tangga orang lain.
"Saya bilang pergi," ulang Devran, kali ini lebih halus namun tegas.
Karina terpaku saat melihat pantulan wajah Devran di kaca jendela. Pria yang selama ini dianggap sebagai dewa bagi para pramugari, pria yang tampak sempurna dan tak tersentuh itu, kini sedang menyeka air mata yang jatuh di pipinya secara diam-diam.
Hati Karina berdenyut nyeri. Ia merasa iba, sebuah rasa yang tidak seharusnya ia miliki untuk pria yang bukan suaminya.
Karina menyambar tas dan kopernya, melangkah menuju pintu dengan hati yang hancur. Saat ia mencapai ambang pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Devran yang masih berdiri di sana, sendirian dalam kesunyian yang menyiksa.
"Saya nggak tahu harus bilang apa, Kapten. Tapi... makasih sudah menyelamatkan saya," bisik Karina lirih.
Devran tidak menjawab. Ia hanya terus menatap langit, membiarkan luka-lukanya menganga lebar tanpa ada yang bisa menyembuhkan.
Karina keluar dari kamar itu, menutup pintu dengan perlahan, seolah-olah sedang menutup sebuah babak gelap yang tak sengaja ia baca.
Di koridor hotel yang dingin, Karina berjalan dengan air mata yang terus mengalir. Ia memikirkan Ferdi yang sedang terbaring sakit di Jakarta, dan ia memikirkan Devran yang hancur di Batam.
Ternyata, di balik kemewahan seragam dan gedung-gedung tinggi, semua orang sedang berjuang melawan nerakanya masing-masing.
