Chapter 3
Udara Batam di dini hari terasa lembap dan lengket, sangat kontras dengan pendingin udara kabin yang baru saja ditinggalkan Karina. Di pelataran bandara yang mulai sepi, ia menyeret kopernya dengan langkah gontai.
Di sampingnya, beberapa pramugari lain tampak bercengkerama ringan, namun Karina memilih untuk tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dari kejauhan, ia melihat barisan pilot melangkah tegap. Di tengah mereka, Devran Mahendra tampak menonjol. Sambil mendengarkan celoteh Erick, mata elang Devran tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah punggung Karina.
Ia melihat Karina melambaikan tangan saat Ririn dijemput oleh sebuah mobil hitam milik pamannya. Kini, Karina berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang berpijar kuning pucat, menanti taksi yang tak kunjung datang.
Devran menuju ke area parkir khusus kru senior. Tak lama kemudian, sebuah mobil sport mewah berwarna abu-abu metalik menderu pelan, membelah keheningan malam.
Mobil itu berhenti tepat di depan Karina. Kaca jendela turun secara elektrik, menyingkap wajah tampan Devran yang tampak segar meski baru saja melakukan penerbangan malam.
"Masih nunggu?" tanya Devran, suaranya berat namun lembut. "Taksi jarang lewat jam segini di area ini, Karina. Ayo, naik. Aku antar ke hotel."
Karina terkejut, jantungnya berdebar bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa waspada yang akut. "Terima kasih, Kapten. Tapi saya sudah memesan taksi lewat aplikasi. Sebentar lagi sampai," bohongnya halus.
"Jangan keras kepala. Ini sudah hampir jam empat pagi, loh." Devran mendesak, tangannya masih santai di atas kemudi.
Karina mulai cemas.
Tiba-tiba, sebuah lampu kuning menyala di kejauhan. Sebuah taksi kosong meluncur pelan. Karina seolah melihat malaikat penyelamat. "Itu taksi saya! Permisi, Kapten. Terima kasih tawarannya," seru Karina sedikit berteriak agar sopir taksi mendengarnya. Ia segera masuk ke dalam taksi tanpa menunggu jawaban Devran.
Devran hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Bukan cewek gampangan," gumamnya.
Bukannya langsung menuju tujuannya, ia justru memutar kemudi, perlahan mengikuti mobil taksi itu dari kejauhan, memastikan Karina sampai dengan selamat.
Taksi berhenti di pelataran sebuah hotel bintang lima yang menjadi rekanan maskapai. Karina turun, membayar tagihan dengan sisa-sisa tenaga, lalu menyeret kopernya masuk ke lobi yang megah namun sunyi.
Di saat yang hampir bersamaan, mobil Devran berhenti tepat di depan pintu lobi. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet dengan gerakan cepat, seolah sedang mengejar sesuatu.
Di meja resepsionis, Karina tampak sedang berdebat kecil dengan petugas. Wajahnya yang pucat karena kelelahan kini tampak memerah karena kesal.
"Mohon maaf, Mbak. Semua kamar sudah penuh. Kami mengalami lonjakan tamu karena pembatalan beberapa penerbangan lain semalam," kata petugas itu dengan nada sopan namun kaku.
"Tapi saya kru Samudera Airline. Saya udah capek banget, tolong... satu kamar saja," mohon Karina, suaranya hampir pecah. Kepalanya berdenyut memikirkan Ferdi di Jakarta dan rasa lelah yang menghunjam tulang.
"Hanya tersisa satu kamar Suite, Mbak. Dan itu sudah atas nama Kapten Devran Mahendra," petugas itu menambahkan.
Tepat saat itu, Devran muncul di samping Karina. Ia meletakkan kartu identitasnya di meja dengan santai. "Kunci kamar saya," ucapnya singkat.
Karina segera menggeser posisinya, menjaga jarak dari Devran dengan gerakan gugup. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sembab.
Devran meliriknya sebentar, melihat bagaimana bahu wanita itu merosot lesu. Ia menerima kunci kamarnya, lalu berbalik menghadap Karina.
"Belum ke kamar?" tanya Devran pura-pura tidak tahu.
"Penuh, Kapten. Saya... saya mau cari hotel lain aja," jawab Karina pelan, meski ia tahu mencari hotel lain di jam begini hampir mustahil.
Devran terdiam sejenak, menatap Karina yang tampak begitu rapuh di bawah lampu kristal lobi yang mewah. Rasa iba dan ketertarikan yang sulit ia jelaskan bergejolak di dadanya. "Pakai kamar saya aja. Saya bisa ngurus hal lain nanti. Kamu butuh istirahat, Karina."
Karina mendongak, matanya membelalak tak percaya. "Tapi Kapten, itu nggak mungkin..."
"Udah ambil aja," potong Devran tegas. Ia menyerahkan kartu kunci itu ke tangan Karina. "Saya nggak mau ada kru yang pingsan saat bertugas besok gara-gara kurang tidur. Sana istirahat."
.................................
Karina melangkah masuk ke dalam kamar Suite yang sangat luas dan mewah. Aroma terapi lavender segera menyambutnya, memberikan sedikit ketenangan. Ia merasa sangat bersyukur sekaligus sungkan.
Tanpa membuang waktu, ia menuju kamar mandi, melepaskan seragamnya yang menyesakkan, dan membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya, menghapus segala kepenatan hari itu.
Sepuluh menit kemudian, Karina keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi (bathrobe) putih tebal yang disediakan hotel.
Namun, langkahnya terhenti seketika. Jeritan kecil lolos dari bibirnya saat ia melihat sosok pria di dalam kamar itu.
Pria itu berdiri membelakanginya, tanpa mengenakan atasan.
Punggungnya yang lebar, atletis, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, terlihat jelas di bawah cahaya lampu redup. Laki-laki itu sedang meletakkan jam tangannya di atas meja.
"K-kapten Devran?!" seru Karina panik, segera berlari kembali ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Jantungnya berpacu seperti genderang perang. Wajahnya terasa panas membara.
Tok... tok... tok...
"Karina? Kamu udah selesai?" suara Devran terdengar tenang di balik pintu.
Karina membuka pintu sedikit, hanya menampakkan matanya. Ia melihat Devran kini berdiri di depan pintu kamar mandi, masih bertelanjang dada, menampakkan postur tubuh yang bisa membuat wanita mana pun terpana. Namun bagi Karina, ini adalah bencana.
"Ngapain Kapten masih di sini? Tadi katanya kamar ini buat saya!" suara Karina bergetar karena marah dan malu.
Devran tersenyum tenang, sama sekali tidak merasa terganggu. "Saya bilang kamu boleh beristirahat di sini. Saya nggak bilang kalo kamar ini buat kamu. Nggak ada hotel lain yang buka, Karina. Saya juga manusia yang butuh tidur. Saya mau mandi sekarang, tolong gantian."
"Kapten mau jebak saya, ya!" tuduh Karina, suaranya meninggi. "Kapten sengaja melakukan ini, kan? Kasih kunci trus pura-pura baik, padahal cuma mau menjebak saya!"
Karina keluar dari kamar mandi dengan emosi yang meledak, mengabaikan fakta bahwa ia hanya mengenakan jubah mandi. Ia merasa dipermainkan. Harga dirinya sebagai istri Ferdi-meski hubungan mereka sedang dingin-terasa diinjak-injak.
"Oke! Kalo Kapten nggak mau pergi, saya yang pergi sekarang!" seru Karina sambil mencoba melewati Devran.
"Tunggu, kamu salah paham!" Devran mencekal lengan Karina, berusaha menahannya agar tidak keluar ke koridor dengan pakaian seperti itu.
Karina menarik lengannya dengan paksa, "Lepasin!"
Karena lantai yang sedikit licin akibat tetesan air dari rambut Karina, ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang, menarik Devran bersamanya. Keduanya terjatuh ke atas ranjang king size yang empuk.
Posisi mereka sangat dekat, Devran berada di atasnya, menahan tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Karina.
Napas mereka memburu. Selama beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar.
Mata Karina terkunci pada mata cokelat gelap Devran. Ada ketegangan yang menyesakkan, sebuah tarikan magnetis yang berbahaya. Aroma tubuh Devran yang maskulin menyerbu indra penciumannya, membuatnya bingung dan takut secara bersamaan.
Segera, mereka bangkit dengan canggung. Wajah Karina merah padam, sementara Devran berdehem berkali-kali, berusaha menetralkan suasana.
"Maaf... aku nggak bermaksud," ucap Devran pelan. "Aku yang pergi. Kamu tetap di sini."
"Nggak bisa, Kapten! Saya yang salah sudah menuduh yang bukan-bukan. Saya aja yang pergi," sahut Karina cepat, air mata mulai menggenang karena rasa malu yang luar biasa.
"Jangan bodoh, Karina! Kamu mau keluar pakai baju mandi?"
"Saya akan ganti baju di kamar mandi!"
"Nggak usah pergi, nanti kesusahan cari hotel. Saya bisa istirahat di mobil."
"Tapi... Kapten."
Cekcok itu terhenti seketika saat terdengar suara sensor kartu kunci berbunyi. Bip.
Pintu kamar itu terdorong terbuka dengan kasar. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan gaun merah yang elegan, wajahnya yang cantik kini tampak sangat menyeramkan dengan ekspresi kemarahan yang dingin.
Renata Masayu.
"Mampus!"
Devran segera menarik lengan Karina menuju kamar mandi. Bisa fatal jika Renata melihat Karina. Mungkin Karina tidak tahu, seberapa berbahaya CEO maskapai itu.
