Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 5

Pagi itu, lobi Bandara Hang Nadim, Batam, mulai berdenyut dengan hiruk-pikuk manusia yang mengejar jadwal terbang. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui dinding-dinding kaca besar menciptakan siluet-siluet panjang yang bergerak sibuk.

Namun, di tengah keriuhan itu, langkah Karina terasa hampa. Ia menyeret koper kabinnya secara mekanis, sementara pikirannya masih tertinggal di kamar Suite Hotel Victoria.

Bayangan Kapten Devran yang menyeka air mata diam-diam di depan jendela terus menghantuinya, menciptakan rasa sesak yang tak seharusnya ada di sana.

"Karina! Tunggu!"

Sebuah seruan memecah lamunannya. Karina berhenti dan menoleh, mendapati Ririn berlari kecil menghampirinya dengan senyum lebar yang kontras dengan suasana hatinya.

"Pagi amat lo udah sampai bandara. Gimana tidurnya? Hotel kita oke, kan?" sapa Ririn riang, langsung merangkul lengan Karina dan mengajaknya berjalan menyusuri selasar terminal.

Karina hanya tersenyum tipis, berusaha mengimbangi energi rekan kerjanya itu. "Lumayan, Mbak. Cuma ya gitu, masih agak capek aja."

"Sama, gue juga. Tapi denger-denger hari ini kita balik bareng rombongan petinggi, jadi harus ekstra fresh," celetuk Ririn tanpa beban.

Langkah Karina mendadak melambat saat matanya menangkap sosok-sosok berseragam pilot di eskalator yang bergerak turun.

Di sana, di barisan depan, berdiri Kapten Devran bersama Eric dan beberapa pilot lainnya.

Devran tampak sangat berwibawa dengan seragam putihnya yang kaku, namun wajahnya tertutup oleh kesibukan jemarinya yang menari di atas layar ponsel. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah sekitar, seolah-olah ada dinding kaca tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia luar.

Karina terpaku. Ada rasa cemas yang merayap di dadanya saat melihat rahang Devran yang mengeras. Ia merasa berdosa. Seharusnya pikirannya hanya tertuju pada Ferdi, suaminya yang sedang berjuang di rumah sakit Jakarta.

Namun, kenyataan pahit yang ia dengar tentang nasib Devran semalam membuatnya sulit berpaling.

"Kar, lo dengerin gue nggak sih? Kok malah bengong liatin eskalator?" Ririn menyenggol bahunya, membuyarkan fokus Karina.

"Eh, iya Mbak, denger kok. Tadi cuma... cuma liat jadwal terbang di sana," bohong Karina gugup, segera membuang muka dan mempercepat langkahnya, berusaha mengubur perasaan aneh yang mulai tumbuh liar.

Satu jam kemudian, Airbus A320 milik Samudera Airline telah bersiap di landasan. Para penumpang mulai memasuki pesawat, mencari nomor kursi mereka dengan tertib.

Karina dan para pramugari lain berdiri di posisi masing-masing, memberikan salam dan bantuan dengan senyum profesional yang sudah terlatih.

Tiba-tiba, suasana di pintu pesawat berubah tegang. Aura dominasi yang pekat masuk bersama sosok wanita bergaun emerald yang tajam.

Renata Masayu melangkah masuk, diikuti oleh Hengki yang membawa tas kerjanya. Karina yang saat itu sedang membantu seorang ibu meletakkan tas di kompartemen atas, mendadak membeku.

Melihat Karina yang hanya berdiri mematung menatapnya, Renata berhenti tepat di depan wanita itu. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Karina dengan pandangan merendahkan.

"Ngapain bengong? Kamu di sini buat kerja atau buat jadi pajangan?" tegur Renata, suaranya tajam seperti silet.

Karina terperanjat, jantungnya seolah berhenti sesaat. "M-maaf, Bu Renata. Selamat pagi, silakan masuk," jawabnya buru-buru sambil membungkuk sopan, tak berani menatap mata sang CEO.

Renata hanya mendengus sinis lalu berjalan menuju kursi kelas bisnis, duduk bersisian dengan Hengki. Pemandangan itu sungguh menyesakkan.

Mereka berdua tampak begitu mesra, sesekali berbisik dan tertawa kecil seolah-olah tidak ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan dari sang suami sah yang berada di kokpit depan.

"Kar, fokus. Ada Bos di sini, jangan sampe bikin salah kalau nggak mau surat pecat turun hari ini juga," bisik Ririn memperingatkan saat mereka berpapasan di dapur pesawat (galley).

Saat pesawat sudah mencapai ketinggian jelajah, Karina harus melakukan tugasnya menyajikan minuman. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membawa baki berisi kopi panas menuju kursi Renata dan Hengki.

"Silakan, Bu Renata... Pak Hengki," ucap Karina lembut, meletakkan cangkir kopi di atas meja lipat mereka.

Saat Renata sedang sibuk dengan ponselnya, Hengki diam-diam menoleh ke arah Karina. Laki-laki itu memberikan kedipan mata yang genit dan menjijikkan.

Karina berusaha mengabaikannya, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan merayap di bawah meja, meraba pahanya dengan kasar.

Karina tersentak. Secara refleks, ia menepis tangan itu dengan kuat hingga baki di tangannya sedikit miring.

"Eh, apa-apaan kamu?!" seru Hengki tiba-tiba, berakting seolah-olah dia yang terganggu.

Renata langsung mendongak, matanya berkilat marah melihat keributan kecil itu. "Ada apaan sih?"

"Ini, Ren. Pramugari baru kamu ini kecentilan banget. Dia sengaja nyenggol-nyenggol aku pas lagi naruh kopi. Nggak sopan banget, kan?" fitnah Hengki dengan wajah tanpa dosa.

Darah Karina mendidih. "Itu nggak benar, Bu Renata! Tadi Bapak Hengki yang-"

Srrruttt!

Belum sempat Karina menyelesaikan kalimatnya, Renata menyambar cangkir kopi panas di hadapannya dan menyiramkannya ke punggung tangan Karina.

"Akhhh!" Karina menjerit tertahan, rasa panas yang menyengat langsung menjalar ke kulitnya. Ia memegang tangannya yang mulai memerah, air mata kesakitan dan penghinaan tumpah seketika.

"Berani kamu fitnah Pak Hengki?" desis Renata, matanya berkilat penuh kebencian.

Renata tahu betul Hengki itu mata keranjang, tapi egonya jauh lebih besar. Ia lebih memilih menyiksa orang lain daripada mengakui bahwa pilihannya sampah. "Pergi dari hadapan saya sebelum saya siram muka kamu sekalian!"

"M-maaf, Bu... maaf," isak Karina.

Dengan hati yang hancur dan tangan yang melepuh, ia berjalan cepat menuju bagian belakang pesawat, meninggalkan tawa kecil Hengki yang terdengar sangat puas.

....................................

Di dalam toilet pesawat yang sempit, Karina mengguyur tangannya dengan air dingin dari wastafel. Perihnya luar biasa, tapi jauh lebih perih harga dirinya yang diinjak-injak di depan rekan-rekan kerjanya.

Ia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya yang seolah terus dihantam badai tanpa henti.

Tiba-tiba, pintu toilet diketuk pelan. Karina buru-buru menyeka air matanya dan membuka pintu sedikit. Ia tertegun. Kapten Devran berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di tangannya ada sebuah salep luka bakar.

"Pake ini," ucap Devran singkat, menyodorkan salep itu. "Tadi saya lihat dari celah tirai. Maafin Renata."

Karina ragu sejenak sebelum menerima salep itu. "Terima kasih, Kapten. Tapi harusnya Kapten nggak perlu-"

"Hati-hati kalo kerja," potong Devran, suaranya terdengar sangat lelah, seolah-olah ia memikul beban seluruh pesawat ini di pundaknya. "Saya nggak mau kamu kehilangan kerjaan cuma gara-gara masalah kecil. Besok-besok kalau layani mereka, jangan lengah."

"Baik, Kapten."

Karina menatap salep di tangannya, lalu menatap siluet Devran yang mulai menjauh kembali menuju kokpit. Ada tanya besar di benaknya. Kenapa laki-laki setampan dan sehebat ini mau bertahan dalam pernikahan yang menjijikkan seperti ini?

Istrinya berselingkuh terang-terangan dengan bawahannya sendiri, dan Devran hanya diam?

Namun, Karina segera menggeleng. "Fokus, Karina! Ngapain mikirin mereka?"

Ia tidak punya hak untuk ikut campur. Fokus utamanya adalah kembali ke Jakarta, melihat Ferdi, dan bertahan hidup.

...................................

Di dalam kokpit yang dipenuhi pendar instrumen digital, suasana terasa sangat dingin. Devran duduk di kursi kapten, menatap kosong ke hamparan awan putih di depannya.

Pikirannya melayang pada kejadian di kabin tadi. Ia benci dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat lebih banyak untuk melindungi Karina. Renata dan Hengki, mereka benar-benar keterlaluan.

Eric, sang kopilot, berdehem pelan. Ia tampak ragu-ragu sebelum akhirnya bicara.

"Dev... gue tau ini bukan urusan gue. Tapi, Renata sama Hengki di belakang tadi... mereka bener-bener nggak tau tempat," ucap Eric hati-hati.

Devran hanya diam, tangannya mencengkeram tuas kendali dengan kuat hingga buku jarinya memutih.

"Maksud gue... semua orang di maskapai ini udah mulai bisik-bisik, Dev. Apa lo beneran nggak mau ngelakuin sesuatu? Hubungan gelap mereka itu udah keterlaluan," lanjut Eric lagi. Dia prihatin pada nasib pernikahan Devran yang tidak lebih baik dari nasib pernikahannya dan Vivian.

Devran menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh dengan keputusasaan. "Gue udah tau, Ric. Udah lama."

"Terus kenapa lo diem aja? Lo berhak cerai, lo berhak dapet hidup yang lebih baik!"

"Cerai?" Devran tertawa pahit, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Renata nggak akan pernah lepasin gue. Buat dia, gue ini bukan suami, tapi trofi kemenangan. Dia mau liat gue tersiksa seumur hidup sebagai bayaran atas masa lalu bokap gue. Selama gue masih napas, dia bakal pastiin gue tetep ada di bawah injekan kakinya."

Eric menghela nafas panjang lalu menepuk bahu Devran. Kenapa nasib pernikahan mereka benar-benar miris?

Devran kembali terdiam, menatap cakrawala yang luas namun terasa seperti penjara baginya.

Selama tiga tahun pernikahan, ia sudah berkali-kali mencoba mencari jalan keluar, tapi kekuasaan keluarga Masayu selalu berhasil menyeretnya kembali ke dalam lumpur yang sama.

Ia terjebak dalam Mahligai Dosa yang diciptakan oleh dendam, dan entah sampai kapan ia harus bertahan sebelum akhirnya benar-benar hancur berkeping-keping.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel