8. Cogan
Antara nasi goreng dan nasi biasa, Raesha bingung harus memilih yang mana. Ia selalu membawakan nasi goreng untuk Anugrah, dan ini sudah terhitung dua minggu. Kendati demikian, Anugrah tidak protes dan malahan menilai bahwa nasi goreng buatannya enak. Namun, dia berpikiran lain. Makanan berminyak tidak baik dikonsumsi terlalu sering, dan Anugrah memakannya setiap hari.
Sementara nasi putih, tidak ada rasanya. Apa ia harus kasih garam?
Raesha menghela napas, berkacak pinggang menghadap beras yang baru dicuci. Ini masih sangat pagi, bahkan Raefal belum bagun, dan matahari baru terlihat cahaya merah mudanya saja.
Persetan dengan rasa, kesehatan jauh lebih penting!
Mungkin membuat nasi uduk bisa menggantikan nasi goreng sederhananya. Toh jam kerja masih lama. Terserahlah dengan Anugrah yang akan menyukainya atau tidak.
"Masak enak, nih?"
Sudip hampir melayang pada kepala Raefal yang muncul secara tiba-tiba di sampingnya. Dia mengumpat, dan Raefal memperingatinya.
"Masih pagi, nggak baik bicara kasar," nasihat Raefal, membuat Raesha menggeram. Siapa dulu yang telah membuatnya jantungan? Dan lagi, memangnya selama ini masakannya tidak enak?
Lebih memilih mengabaikan Raefal yang mengamatinya sembari melepaskan sarung, Raesha kembali mengarau nasinya yang mendidih, lalu mengecilkan api saat dirasa nasi sudah mulai padat.
"Nasi uduk? Nggak biasanya." Raefal membuka tutup panci, dan ditepis oleh Raesha hingga tutupnya terjatuh ke lantai dengan suara berkelontangan yang keras, beruntungnya tak mengenai kaki Raesha. Jika kena, ia akan membakar sarung Raefal di tempat!
"Tuh, 'kan!" Raesha berteriak, kali ini berhasil melayangkan kain lap pada wajah Raefal, sampai pria itu protes sebab kainnya bau dan lembap.
"Nggak usah protes, Bang!" sergah Raesha, melotot pada sepupunya.
Raefal ini tipe pria yang menjaga image-nya di depan banyak orang, dan tak perlu repot-repot mengomel, tetapi jika dengan orang terdekatnya, Raefal seperti ibu-ibu di gerobak sayur.
"Pasti buat bosmu, 'kan? Enak sekali. Sampai kau repot-repot kayak begini." Raefal tak terima sepupunya lebih memperhatikan orang lain dibandingkan dirinya. Memangnya Anugrah itu siapa? Hanya bos saja. Bos yang seenaknya. "Kampr*t, tuh orang!"
"Masih pagi. Nggak baik bicara kasar." Raesha membalikkan kata-kata sepupunya, tetapi Raefal kembali mengeluarkan umpatannya sembari berbalik meninggalkan dapur.
"Sompr*t!" Lalu suaranya menghilang dari ruang keluarga.
Raesha menghela napas kasar.
Raefal dengan kecemburuannya tidak bisa disembuhkan.
***
Suasana lengang. Raesha menunggu reaksi Anugrah yang sedang mengunyah kudapan buatannya dengan harap-harap cemas.
Raesha tak hanya membawakannya nasi uduk, tetapi juga omelet dan banyak irisan tomat. Seperti biasanya beberapa menit yang lalu, Anugrah menagihnya tanpa kata. Namun kali ini, pak bos tak memintanya untuk menyuapi.
"Kenapa? Kamu mau?" tanya Anugrah, merasa heran dengan Raesha yang terus memperhatikannya.
Raesha menggeleng seraya tersenyum. "Saya sudah memakannya di indekos," jawabnya sopan.
Saat sarapan tadi, dia sudah memakannya bersama Raefal yang terus mendumal tentang bos Raesha: kenapa Anugrah bisa mendapatkan nasi uduk, sementara dirinya yang meminta pun tak dibuatkan. Bahkan omelet yang dibuat khusus untuk Anugrah, hampir dimakan sepupunya.
Anugrah mengerti, lalu kembali melanjutkan sarapannya.
"Umm ... Pak." Anugrah menoleh pada Raesha, lalu menyingkirkan sebutir nasi di sudut bibirnya setelah disadari. "Bagaimana?" Dia ingin tahu pendapat orang lain tentang masakan yang dibuat pertama kali olehnya, selain Raefal tentunya. Sepupunya, apapun makanan yang dibuatkan oleh Raesha, dirasa sama enaknya, tak ada yang tak enak, dan tak ada yang sangat enak.
Bingung, Anugrah mengerutkan alisnya. Bagaimana, apanya? Anugrah sungguh tidak tahu. Pertanyaan sekretarisnya begitu kompleks.
"Nasi uduknya," koreksi Raesha.
Oh ... jadi Raesha menunggu pendapatnya tentang masakan yang dibuat gadis itu. "Enak." Raesha sudah bersorak dalam hati mendengarnya. Dia sebenarnya belum pernah memasak nasi uduk. Pagi tadi, dia hanya mengingat apa yang ibunya pernah lakukan. Tak menyangka jika Anugrah akan menyukainya.
"Kamu itu sudah sangat cocok." Suara Anugrah terdengar setelah pria itu menghabiskan sarapannya. Mengambil teh hangat dan meminumnya, dia membereskan kotak bekal.
Cocok apa? Jadi pembantu? Raesha sudah siap protes sebelum Anugrah melanjutkan, "Cocok menjadi istri."
Senyum paksa menghiasi bibir Raesha. Bukan waktunya untuk tersipu, Anugrah sedang tidak merayunya.
"Calon saja belum ada, Pak," ujar Raesha jujur. Ingat, Anugrah sedang tidak merayunya!
"Kenapa belum ada? Mereka takut sama kamu?" Raesha meringis mendengar perkataan Anugrah. Secara tidak langsung, pria itu menganggapnya wanita yang menakutkan.
"Kalau begitu." Anugrah memberikan tas berisi kotak bekal kepada Raesha, dan diterima oleh gadis itu. "sama saya saja, gimana?"
Terbatuk-batuklah Raesha hingga melepaskan kotak bekal dari tangannya dan jatuh dengan dramatis. Anugrah sedang melamarnya atau melucu? Sungguh tidak tahu situasi!
Anugrah terkekeh. "Kamu unik. And i like it. Tapi tenang saja, tadi itu hanya bercanda."
Raesha menatap bosnya datar, sama datarnya seperti yang selalu pak bosnya lakukan. Bercandanya tidak lucu! Ada, ya, bercanda menawarkan pernikahan?
Jika saja memukul kepala bosnya itu halal, Raesha akan memukulnya dengan sepatu haknya. Si Anu, tetap menyebalkan!
Anugrah menyilangkan kaki kiri di atas kaki kanannya, lalu matanya melihat jam di pergelangan tangan kanan. "Jam kerja sudah dimulai empat menit yang lalu," ucapnya, kemudian matanya berganti menatap sekretarisnya. "Ada yang akan kamu sampaikan?"
Segera saja, Raesha membuka tasnya, mencari-cari sesuatu dalam tab, lalu memberikannya kepada Anugrah.
Selagi pak bosnya mengamati jadwal hari ini, dia membereskan meja kerja Anugrah agar terlihat rapi. Kemarin dia menemani bosnya lembur, melihat meja kerjanya yang agak berantakan pagi ini, membuat tangan Raesha gatal.
Anugrah mengangguk, dan memberikan tab kepada Raesha yang telah selesai pada pekerjaannya. "Ada lagi?"
"Ada perubahan jadwal pada pertemuan direktur, dimajukan menjadi besok." Anugrah mengangguk. "Saya sudah memesankan hotel dan tiket pesawatnya. Dari pihak Linehope, akan menjemput bapak di bandara. Saya sudah mengirimkan detailnya lewat e-mail."
"Begitu ...." Anugrah merapikan dasinya. Sekretarisnya memang bisa diandalkan. Sudah lama ini dia bekerja sendiri sampai kepalanya jadi pusing. Namun, sekarang, dia bisa lebih santai tanpa harus mengecek e-mail atau urusan di luar tugasnya. Anugrah akui, Raesha merupakan sekretaris yang lumayan berkompeten, walau kadang otaknya berpentium II.
"Kalau begitu, kamu tahu tugasmu selama saya pergi, 'kan?"
Raesha mengangguk paham. Dia tahu tugas sekretaris itu apa. Menggantikan posisi CEO selama bosnya pergi. Kendati itu merupakan tugas yang menurutnya berat, dia harus bisa melakukannya dan tak boleh mengecewakan Anugrah. Sebelum menjadi sekretaris direktur utama, Raesha sudah memikirkannya, dan siap menerima tugasnya.
***
Sore ini, Raesha menemani Anugrah berangkat ke bandara. Mengecek semuanya, sampai mengantarkannya di depan pintu masuk.
Beruntung, ada sopir yang mengantar keberangkatan mereka, sehingga saat pulang, Raesha tak perlu bingung. Dia tak bisa membawa mobil.
Baru kali ini Raesha melihat sopir keluarga Anugrah. Dia pria paruh baya yang memiliki kumis tebal dan beruban. Selama ini, Anugrah lebih memilih membawa mobilnya sendiri dibandingkan orang lain. Pikirnya, hal itu lebih nyaman.
Elvan dan Raefal sudah membuat berantakan meja dengan kulit kacang dan bungkus piza saat Raesha baru sampai di indekosnya. Selain itu, lantai jadi kotor akibat motor sepupunya. Dia sudah marah, ingin melemparkan tas berisi dokumen tebal pada kepala mereka. Dia sudah bekerja seharian ini. Haruskah ia bekerja lagi sebelum lembur?
Ber-istigfar, Raesha mengusahakan air wajahnya terlihat tenang.
"Oh .... kau sudah pulang." Elvan menunjuk kotak piza di depannya. "Tersisa satu. Buat kamu."
Dia belum makan. Sopir Anugrah sudah menawarinya makan di restoran, tetapi Raesha menolaknya dengan alasan mengerjakan tugas. Melihat ada sisa piza satu potong, langsung ia ambil dan bawa ke kamarnya. Namun, sebelum itu, dia berujar, "Indekos punyaku, ini. Harusnya, tamu bisa menghormati tuan rumahnya dengan menjaga kebersihan."
Dan terdengar samar-samar saat ia menutup pintu kamarnya. "Tenang ... Elvan yang akan membersihkannya."
"Kampr*t kau, Bang!"
Lumayan dapat piza gratis, walau nilainya berbeda jauh dengan ajakan sopir Anugrah. Toh dia memang harus segera pulang dan menyelesaikan tugasnya. Pak bos memang tidak kira-kira, menumpahkan tugas segunung padanya selagi pria itu mengikuti pertemuan. Apalah daya, dia hanya bawahan Anugrah.
Selagi mengunyah piza, tangannya mengeluarkan setumpuk dokumen dari dalam map, mengamatinya dengan teliti. Raesha hanya disuruh menghitung jumlah pada laporan tersebut, lalu mem-print-out-nya. Hanya setebal buku paket sekolah, sih, tak apa, tetapi ini setebal ensiklopedia. Bisa rontok rambut cantiknya!
Ponselnya bergetar di sampingnya. Sebuah e-mail masuk. Ia kira dari Anugrah, tetapi bukan dari pria itu. Dia membukanya, lalu membacanya. Lagi dan lagi, pertemuan dimajukan. Kali ini, dari Owletter Holding Company. Memintanya untuk membahas masalah kerjasama yang sebelumnya sudah didiskusikan oleh Anugrah dan pihak Owletter.
Inilah salah satu tugas sekretaris saat sang CEO sedang menjalani tugas lain.
Dan di sinilah ia berada: di restoran bintang lima yang sedang populer. Melangkahkan kakinya masuk, dia dihadang oleh pelayan, lalu mengantarkannya ke ruang VIP. Luar biasa! Raesha berasa menjadi orang penting. Atau memang dirinya sudah menjadi orang penting?
Seorang pria sedang menunggunya di meja dengan minuman anggur di atasnya, ketika Raesha berdiri di depannya, pria itu berdiri dan bersikap sopan dengan mengulurkan tangan.
"Saya baru tahu kalau Anugrah punya sekretaris baru." Pria itu berkata setelah pelayan meninggalkan mereka untuk membuat pesanan.
Tak tahu harus menanggapinya seperti apa selain tersenyum. Raesha selalu menilai orang dari penampilannya, walau dia selalu menggumamkan kiasan untuk tidak melakukannya. Pria di depannya tak kalah tampannya dengan Anugrah―tentu bosnya yang menduduki peringkat teratas―selain itu pula, dia pria yang ramah dibandingkan si Anu. Tak ada senyuman selain sebagai formalitas ketika pertama kali bertatap muka, tetapi wajah datarnya lebih manusiawi dibandingkan bosnya.
"Saya selalu dengar, dia menghentikan para sekretaris sebelumnya, atau bahkan mereka yang mengundurkan diri." Pria itu mengeluarkan fakta yang sudah Raesha dengar dari sumbernya. "Saya harap, kamu bukan termasuk dari mereka." Kali ini, pria itu tersenyum, menghilangkan wajah datarnya, membuat Raesha merona.
Tak ada niatan untuk mengundurkan diri, terkecuali dalam keadaan mendesak, seperti sikap Anugrah yang anehnya sudah setara dengan alien, mungkin?
Raesha terkekeh, lalu pria itu kembali melanjutkan. Selain ekspresi wajahnya, sikapnya juga berbeda dengan Anugrah. "Sudah berapa lama kamu menjadi sekretarisnya?"
"Dua minggu," jawabnya. "dan selama itu pula saya harus bersabar." Ups! Dia keceplosan. Merutuki dirinya sendiri sambil berharap semoga pria di depannya tidak melaporkannya pada Anugrah atas apa yang diucapkannya. Bisa gawat kalau si Anu tahu.
Namun, pria itu terkekeh, menghilangkan kesan datarnya seperti saat mereka berjabat tangan. "Dia memang selalu membuat siapa saja harus bersabar," katanya, seraya menyugar rambutnya, lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap Raesha.
Mendengar itu, membuat Raesha berpikir. Pria ini besar kemungkinan akrab dengan Anugrah. Bukan hanya sekadar rekan bisnis, tetapi juga sebagai teman. Atau hanya sebagai pencitraan?
Makanan sudah tersaji membuat Raesha tak bisa menahannya. Steak yang hampir sama dengan sebelumnya saat di pertemuannya saat itu. Terbayar sudah apa yang disesali sebelumnya.
Dia pria yang ramah, dan teman ngobrol yang asyik. Raesha menikmatinya tanpa menghilangkan sopan santunnya.
"Kamu sudah tahu, 'kan, pembahasannya?" tanya pria itu, setelah alat-alat makan dibawa pelayan, dan digantikan dengan kudapan penutup.
Raesha mengangguk. Owletter sudah memberirahukannya bahwa yang akan dibahasnya adalah kerjasama mereka untuk membangun sebuah perpustakaan, yang sebelumnya telah disetujui oleh Anugrah. Bosnya juga telah memberitahukannya lewat e-mail, bahwa pembahasan kali ini merupakan bahasan lanjutan.
Pria di depannya mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya, dan menaruhnya di atas meja. "Saya sudah membuatnya, tinggal persetujuan dari pihak Jumpfield."
Tulisan-tulisan di dalamnya membuat Raesha mengangguk mengerti.
"Sebelumnya, Anugrah menyanggah jika perpustakaan dibangun di dekat pasar," jelasnya. Raesha mendengarkan. "Lokasi yang strategis dan bisa dinikmati semua orang, selain pasar, di dekat taman kota. Ada bangunan kosong di sana, dan saya sudah mengurusnya."
Reza―nama pria itu―mengeluarkan lembaran kertas lagi dan menaruhnya di atas meja. "Saya sudah mengirimkan foto lokasinya, 'kan?" Raesha mengangguk. "Jadi, bagaimana menurut kamu?"
Dia sudah melihatnya. Menurutnya, lokasi yang dikirimkan begitu pas untuk membangun perpustakaan. Luas, dan dekat dengan keramaian. Lokasi yang strategis untuk menarik banyak khalayak ramai.
Mereka membahas lebih jauh lagi tentang kerjasama yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Desain interior, dan segala macamnya mereka bahas saat itu juga.
Membangun perpustakaam gratis bagi semua orang. Sama halnya seperti perpustakaan daerah, tetapi kerjasama ini memiliki salah satu tujuan selain tujuan lainnya: mengenalkan produk yang dikembangkan kedua perusahaan―dari bacaan, sampai pangan; untuk pangan sendiri, akan ada kantin dan kegiatan bazar yang diadakan setiap bulannya.
Pembahasan yang panjang itu, akhirnya telah selesai selama hampir dua jam. Dan kebaikan pak direktur Owletter tak sampai pada traktiran makan, tetapi juga tumpangan gratis. Raesha sudah menolaknya, hanya saja Reza bersikukuh untuk mengantarnya sampai kantor. Apakah Raesha harus menolaknya? Tentu saja tidak! Menolak rezeki itu sama dengan menolak jodoh (tegur jika Raesha salah).
"Nama kamu Raesha, 'kan?" Reza bertanya saat mereka turun dari mobil di depan teras gedung Jumpfield, dan berhasil menjadi perhatian banyak pegawai.
"Ya," jawab Raesha.
Seorang resepsionis menatap mereka secara terang-terangan di balik kaca, tetapi Raesha memilih mengabaikannya. Terserah apa kata mereka, ia hanya melakukan tugasnya.
"Kalau begitu ... sampai bertemu lagi, Raesha." Reza tersenyum, yang mana membuat Raesha terpaku, hingga hampir mengabaikan uluran tangan pria itu.
Rambut merahnya yang sama dengan sepupunya bergerak tertiup angin, tetapi tatapan Raesha tertuju pada sekitar mata pria itu yang sedikit hitam seperti memakai riasan atau kurang tidur. Meski begitu, pria di depannya tetap tampan dan ... memesona. Selamatkan Raesha dari kekaguman yang mulai muncul secara besar-besaran ini!
"Selamat bekerja," ujarnya, seraya tersenyum lagi sebelum memasuki mobilnya dan meninggalkan kantor, juga meninggalkan Raesha yang terpaku dengan jantung berdebar.
Ada apa? Mereka bahkan baru bertemu dua jam lalu.
Beginilah Raesha, tak bisa mengontrol jantungnya jika sudah dihadapkan dengan pria tampan. Terlebih lagi pria tampan yang ramah macam Reza.[]
