Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

9. Paksaan

Jam dinding imut itu berdetak secara konstan menemani aktivitas lembur Raesha. Malam ini sunyi sekali, bahkan suara dengkuran Raefal tak terdengar. Remang cahaya lampu mejanya membantu Raesha melihat tulisan pada kertas-kertas yang tersisa beberapa lembar di bawah dagunya. Malam ini, pak bos pulang dari sebuah pertemuan, besoknya Raesha harus melaporkan tugasnya kepada Anugrah.

Pukul setengah dua belas malam, mata sepetnya ia tahan, dan tangannya sesekali menggaruk kepalanya hingga rambutnya berantakan. Dia tak boleh menyia-nyiakan waktu, atau pak bos bisa marah!

Ternyata, tugas sekretaris CEO lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terlebih lagi menghadapi tamu yang tak diharapkan.

**

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" Raesha segera menghadang wanita yang dengan terburu-buru melangkahkan kakinya menuju ruangan Anugrah.

Bibir merah wanita itu mencebik kesal. Ada saja yang mengganggu harinya. Setelah tak mendapati kabar dari Anugrah, sekarang harus berhadapan dengan sekretaris belu-belai ini?

"Di mana Nugrah?" bentak wanita itu, berhasil membuat Raesha terkinjat. Dosa apa ia sampai kena bentak pagi ini? Dasar, wanita belut! Raesha ingin bekerja dengan tenang sampai gajinya memenuhi kartu ATM-nya.

"Pak Anugrah sedang ada di Bandung―"

"Ngapain dia di Bandung?"

"Ada pertemu―"

"Kenapa dia nggak ngabarin aku?!"

"Ya, saya tidak tahu, Mbak." Raesha mulai kesal. Memangnya apa urusannya jika Anugrah tak mengabari wanita itu? Dia bukan ibunya si Anu.

"Coba kau telepon!" Si mbak bar-bar membentak lagi hingga ludahnya menyembur. Melihat Raesha yang tidak melakukan perintahnya, sekali lagi dia membentak, "Ayo, cepat telepon!"

Dengan hati kesal dan serasa ingin mencakar wajah si wanita dedemit, Raesha mencari kontak Anugrah pada ponselnya, lalu menghubunginya secepat yang ia bisa karena tatapan tajam di dekatnya telah membuat dirinya harus bertindak demikian. Dan beruntunglah ... Anugrah langsung menjawab panggilannya.

"Ada apa, Raesha?" Suara Anugrah di seberang sana membuat telinga Xela yang tajam bisa mendengarnya. Secepat kilat ia merebut ponsel dari Raesha.

"Nugrah. Kenapa kamu―"

Tut ... tut ....

Panggilan terputus, wajah Xela menekuk marah sampai-sampai aura hitam berdenyar di sekelilingnya. Gawat ....! Jika sudah begini, Raesha-lah yang akan menerima akibatnya.

Namun, beruntung saat Xela hendak membanting ponsel miliknya, Raesha segera merebutnya secepat kilat. Kampr*t! Marah, kok, ke ponsel milik orang. Eat that! Anugrah saja tidak mau menjawab panggilan si dedemit, apa lagi ketemuan. Raesha sudah tertawa terbahak-bahak dalam hatinya hingga punggungnya bergetar.

"Tidak usah ketawa! Awas, kau, ya ...." Mata berlensa wanita itu melotot tajam pada Raesha, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan sekretaris Anugrah.

**

Selagi memikirkan itu semua, tiba-tiba ketukan pintu terdengar hingga membuat dirinya mengernyit bingung. Itu benar pintu indekosnya atau tetangga?

Ini sudah hampir tengah malam, siapa yang bertamu selarut ini? Atau hanya sekadar kucing nyasar? Hingga pikiran Raesha lari ke mana-mana bersama adrenalin yang tiba-tiba muncul. Bersikap apatis pun percuma saja, karena pendengaran dan pikirannya sudah mulai terkontaminasi oleh berbagai hal yang dapat membuatnya mengkerut ketakutan.

Tok ... tok ....

Sial*n!

Raesha makin ketakutan sampai kakinya pindah ke atas kursi dan memeluknya. Dia belum pernah melihat atau merasakan adanya hantu, tetapi akibat jejalan film-film yang pernah ditontonnya berhasil membuat Raesha seperti gadis kecil yang takut dengan jarum suntik.

"Mau apa kau!" Suara marah Raefal terdengar beberapa menit kemudian, berhasil membuat Raesha bertanya-tanya, siapa yang bertamu selarut ini. Jelas bukan hantu. Raefal akan langsung kabur jika mendapati kuntilanak tertawa.

Segera Raesha memeriksanya. Raefal masih marah, lalu sahutan suara yang dikenalnya membuat kaki Raesha berjalan cepat. Di sanalah Anugrah berdiri, lengkap dengan baju kerjanya yang agak berantakan dan tas di punggungnya. Sesaat ia mengira kalau di depan sana bukanlah Anugrah, tetapi wajah datar bercampur lelah itu telah menghilangkan halimun dalam kepala Raesha.

Berkali-kali ia mengerjap, tergeragap, dan pada akhirnya ia bisa menetralisasi dirinya dari keadaan beberapa detik lalu. Kenapa Anugrah pulang ke indekos Raesha alih-alih ke apartemennya? Ada yang tidak beres! Entah itu soal pekerjaan atau hal lainnya yang aneh.

Berjalan mendekat, Raesha menghentikan Raefal yang terus mengomel, lalu beralih menatap Anugrah dengan bingung. "Bapak baru pulang?"

"Saya bukan bapak kamu," protesnya, alih-alih menjawab pertanyaan Raesha. Suaranya sama lelahnya dengan apa yang terlihat. Pria itu telah mengalami hari yang berat.

"Aku mengomel panjang lebar, cuma ditanggapi bahasa alienmu. Sana pulang! Di sini sudah tidak menerima tamu di atas jam sepuluh malam!" Raefal juga protes, merasa kesal karena Anugrah tak kunjung menjawab pertanyaannya. Sia-sia, dong, dia berbicara panjang lebar, tetapi hanya ditanggapi dengan, 'Saya ada perlu', 'Mana Raesha?', atau 'Urgent!'

Lagi dan lagi Anugrah mengabaikan Raefal, membuat pria itu bersiap mencakar wajah menyebalkan di depannya, sarungnya sudah ia sampirkan di bahu, tetapi Raesha segera mencegahnya.

"Ada apa?" Raesha bertanya lagi, sembari melirik kakak sepupunya dengan tajam berharap pria itu lebih tenang dan memasang sarungnya dengan benar.

"Saya lapar."

Hingga Raefal benar-benar melemparkan sarungnya ke wajah Anugrah.

***

Selain Bumi yang berubah menjadi Saturnus, sikap pak bosnya juga aneh. Alih-alih langsung pulang ke apartemen atau mampir ke tempat makan yang buka 24 jam, Anugrah lebih memilih datang ke indekos Raesha. Beruntung wajah Anugrah selamat dari amukan Raefal.

Ketika ditanya kenapa Anugrah pulang ke sini, jawabannya membuat Raesha ingin guling-guling sampai membentur lemari. "Saya sedang malas jika langsung ke apartemen. Sepi. Kalau saya pingsan, bagaimana? Nggak ada yang ngurusin."

Apa peduli Raesha?! Kalaupun Anugrah pingsan atau tidak, bukan urusan Raesha selama pria itu pingsannya bukan di jam kerja! Duh ... Raesha ingin berteriak di luar indekos.

Raefal masih mengawasi Anugrah di samping kulkas saat Raesha membuatkan nasi goreng. Bahkan Saat Anugrah makan pun, mata Raefal tak lepas dari pria itu.

Kenapa di dunia ini ada makhluk semacam Anugrah? Bisanya merepotkan saja!

"Kamu belum tidur, atau terbangun karena saya?" Anugrah bertanya setelah menyelesaikan makannya, tetapi Raefal tetap mempertahankan posisinya: mengawasi Anugrah.

Hati Raesha berenang di lautan keringat saat mendengar pertanyaan Anugrah. Apa katanya? Sekarang, pria itu merasa bersalah? Tugas dari Anugrah tinggal beberapa lembar, tetapi si Anu mengganggunya dengan permintaan aneh. Haruskah Raesha melemparkan pak bosnya ke lautan?!

"Tidak. Saya sedang menghitung laporan yang Bapak―eh―kamu berikan," jawab Raesha. Kendati kesal, dia harus bisa menjaga sikap di depan bos.

"Oh ... saya mengganggu, ya?"

Menurutnya?!

Sabar ....

Raesha hanya tersenyum.

Raefal menepuk bahu Anugrah, lalu tersenyum. "Anda tahu ini pukul berapa?" Alis Anugrah terangkat. Tentu ia tahu. "Apakah Anda tahu jenis kelamin sepupu saya? Apakah Anda juga telah memikirkan maksud Anda datang ke sini?"

Anugrah siap marah, dan Raesha tahu itu. Ia juga marah―tidak. Ia hanya kesal. Anugrah datang ke sini dan mengganggunya hanya untuk makan. Jika pria itu merupakan orang yang tak punya, Raesha bisa memaklumi. Namun, Anugrah bahkan memiliki mobil dan apartemen mewah, ia bahkan mampu membeli makanan yang harganya lima juta.

Anugrah masih terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaan Raefal. "Lantas, Anda sudah menyadarinya?" Raefal menahan diri ketika mendapati Anugrah masih terdiam. Namun, ia tak bisa menahannya. "Woy! Aku bertanya!" gerung Raefal, ludahnya mengenai wajah Anugrah.

"Bang!" Raesha memperingati sepupunya yang suka marah-marah. Ini sudah malam, takut jika teriakan sepupunya dapat mengganggu para tetangga.

Menghela napas, Raefal berdiri dari duduknya. "Aku mengantuk. Sebaiknya kau cepat-cepat pulang." Lalu ia melenggang memasuki kamar Raesha.

"Bang, itu kamarku!"

Raefal berbalik, lalu mendengkus. "Tempatku penuh dengan bokong kalian. Kalau kau mau tidur, gelar saja tikar di lantai."

"Rajungan, Bang!"

Suara dengkuran terdengar beberapa menit kemudian. Abang sepupunya tidur lebih cepat beberapa menit setelah memejamkan mata. Coba saja kau tinggalkan ia di sofa dalam keadaan mata tertutup, saat kau kembali Raefal sudah tertidur. Segampang itu, tidak seperti Raesha yang susah untuk terlelap.

"Maaf, saya mengganggu waktu kamu." Anugrah menilik arlojinya. "Sebenarnya ... saya ingin minta beberapa hal."

Raesha mengernyit bingung. Beberapa hal? Dalam artian, tak hanya satu, tetapi lebih. Semoga saja bukan yang aneh-aneh―Raesha mengharapkannya. Dia terus berdoa.

"A-apa?" Setengah hati, ia menanyakannya.

"Besok siang, kamu ikut saya ke rumah orang tua saya. Dan ..." Raesha meneguk ludah kasar, menunggu kelanjutannya. Namun, Anugrah tak kunjung melanjutkan.

"Kenapa?" Walaupun Raesha enggan mendengar, tetapi dia juga penasaran. Siapa tahu sesuatu yang penting, yang tidak aneh baginya.

Anugrah menyugar rambutnya, melepaskan kancing kemeja teratasnya. Raesha yang sebelumnya memperhatikan, mengalihkan pandangan ke televisi cembungnya.

"Berpura-puralah jadi pacar saya."

"Apa?!" pekik Raesha, terkejut dengan ucapan Anugrah. Apa-apaan itu? Pak bosnya memang tidak bisa jauh-jauh dari kata aneh, seharusnya Raesha tahu itu!

Menjadi pacar, katanya? Pasti Untuk membatalkan pertunangan pria itu dengan wanita dedemit. Klise sekali! Memangnya tidak ada cara lain? Apakah dengan rencana semacam itu bisa membatalkan pertunangan? Rasa-rasanya, Raesha ingin lari-lari menelusuri gang.

"Jangan aneh-aneh, deh," dengkus Raesha, melupakan sopan santunnya. "Apa alasannya saya harus pura-pura jadi pacar kamu?" Dia bertanya walaupun ia sudah yakin dengan dugaannya.

"Kamu inginnya jadi pacar sungguhan?"

Raesha sungguhan melakukan yoga: duduk dengan kaki menyilang, memejamkan mata, lalu menarik napas dan mengembuskannya. Sementara itu, Anugrah melihatnya dengan bingung.

Sekretarisnya benar-benar unik.

Sabar .... Anugrah memang seperti itu. Tidak bisa diobati!

"Alasan kenapa harus saya, bukan orang lain," tuntut Raesha gemas.

Terdiam selama beberapa detik, Anugrah mengikuti posisi duduk Raesha―menyilangkan kedua kakinya, dan memandang gadis itu. Jari telunjuknya teracung tepat di depan wajah Raesha, hampir mengenai hidung gadis itu. "Pertama: kamu perempuan satu-satunya yang saya kenal." Lalu bertambah jari tengahnya. "Kedua: kamu sekretaris saya." Jarinya terangkat lagi. "Ketiga: kamu yang sering berbicara dengan saya."

Kali ini, Raesha mendengkus dengan keras seperti mengusir nyamuk yang tersangkut di hidungnya. Apa tadi?! Tarik saja tetangga apartemennya, Raesha memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada itu.

Anugrah menurunkan tangannya, masih dengan posisi yang sama. "Kamu hanya perlu berakting di depan keluarga saya, terutama kakek. Hanya untuk membatalkan pertunangan konyol ini. Setelah itu, selesai. Terkecuali, kamu bertemu mereka di tempat lain."

Sudah Raesha duga! Ini tentang pertunangan Anugrah dan wanita dedemit!

Tatapan Raesha datar, dan Anugrah menunggu jawabannya. "Tidak di depan wanita dedmit, 'kan?"

Anugrah menimbang-nimbang. "Xela juga."

Itu artinya, dia harus melakukannya hampir di setiap hari. Bukankah Xela sering mampir ke kantor mencari-cari si Anu? Tiba-tiba, Raesha bergidik.

"Kalau begitu, saya harus pulang." Anugrah yang hendak berdiri dicegah oleh Raesha.

"Saya belum menjawab 'ya', loh."

"Saya anggap kamu setuju."

"Tidak bisa gitu, dong!" protesnya. Enak saja. Apa untungnya bagi Raesha jika ia melakukan hal konyol semacam itu?

"Kamu butuh imbalan?" Raesha tersenyum menunjukkan deretan giginya ketika mendengar kalimat Anugrah. "Bonus bulanan 50 dolar."

"50 dolar hanya cukup buat beli bahan makanan saja. 'Kan, saya masak bekal buat kamu."

Ternyata sekretarisnya perhitungan juga. "Kamu bahkan kasih saya nasi goreng. Memangnya bawang harganya bisa sampai 25 dolar? Tidak, 'kan?"

Raesha meringis mendengarnya. Setengah marah, setengah malu. "Jadi kamu nggak terima saya kasih bekal nasi goreng terus?"

"Bukannya begitu―"

"Oke! Saya nggak mau buatin kamu bekal lagi." Wajah Raesha memerah, merasa kesal dengan Anugrah, sekaligus berharap dapat tawaran yang lebih menarik. Seharusnya pria itu berterima kasih padanya. Setiap bekerja, Raesha membuatkannya bekal, dan sekarang pun, pria itu dapat makan walau hanya nasi goreng sederhana.

"Oke! Tidak ada bonus bulanan. Tapi kamu tetap jadi pacar saya," balas Anugrah. Dia sedang butuh seseorang untuk menjalankan aksinya. Kalaupun Raesha tidak mau, Anugrah akan memaksanya.

"Kok begitu?" Raesha tampak tak terima. Bonus melayang, kenapa ia harus tetap menjalani lakonnya? Ikut drama sekolah saja dia dapat makan gratis, enak pula!

"Kalau begitu, 70 dolar. Kamu tetap membuatkan saya bekal. Terserah nasi goreng atau apa."

"Naikan, dong, Pak. 'Kan, peran saya sulit. Bagaimana kalau saya diserang mbak dedemit? Perawatan kulit mahal, Pak. Saya tidak mau lecet karena dicakar atau apa," oceh Raesha panjang lebar. Dia baru memikirkannya. Urusannya dengan Xela, itu artinya ia tidak aman. Tahu sendiri Xela seperti apa. Wanita itu lebih menyeramkan dari kuntilanak, wanita bar-bar yang tidak segan-segan melemparkan sepatu haknya pada orang lain.

"Kamu memanggil saya 'Bapak'. Potong sepuluh dolar, menjadi 60 dolar." Anugrah dengan semena-mena memotong harga. Hanya karena Raesha tidak sengaja memanggilnya 'bapak', dan Raesha harus kehilangan sepuluh dolarnya?

"Tidak bisa begitu dong, Pak―eh!" Raesha keceplosan lagi. Duh ... bisa melayang lagi bonus bulanannya.

"Dua puluh dolar. Bonus bulanan kamu dua puluh dolar."

Kenapa turun drastis?!

"Kalau begitu, saya menolak tawarannya."

"Tapi saya tetap membawa kamu ke keluarga saya."

"Dan saya tidak perlu berakting menjadi pacar Bapak."

"Gaji kamu dipotong 100 dolar."

Kampr*t!

***

Dan di sinilah Raesha sekarang, duduk kaku di sekitar keluarga pak bosnya, sementara hatinya terus berdoa dan tak berani menatap mata para lelaki yang terus menatapnya tajam―minus kakaknya Anugrah.

Di depannya, seorang pria tua berambut panjang mengamati Raesha. Walaupun Anugrah duduk di sebelahnya dan tengah menggenggam tangannya. Raesha tetap tidak bisa tenang. Rasa-rasanya, ia sedang dalam interogasi.

Istirahat makan siang ini, Anugrah segera menariknya menuju mobil di parkiran, mengabaikan tatapan heran para karyawan. Raesha sudah membahas masalah gajinya yang terpotong, tetapi Anugrah hanya bilang "gaji kamu tidak saya potong. Tapi kamu tidak dapat bonus bulanan." Raesha ingin sekali protes, tetapi ia takut jika Anugrah kembali memotong gajinya. 100 dolar bukanlah sedikit!

"Sejak kapan?" Suara Lesmana, kakeknya Anugrah, terdengar menyeramkan di telinga Raesha. Dia semakin menunduk, meremas tangan Anugrah yang masih di posisi yang sama.

"Seminggu yang lalu," jawab Anugrah santai, seolah-olah ini hanyalah obrolan pagi sambil ngeteh.

"Kenapa ibu tidak tahu? Kalau begini, 'kan, ibu sen―"

"Sri!" ancam Lesmana, menatap ibunya Anugrah dengan tajam. Wanita itu bungkam dan menciut di tempatnya.

Aura kakek tua itu benar-benar menyeramkan, bahkan melebihi aura kepala sekolah Raesha dulu.

"Kakek ke sini untuk membicarakan hubunganmu dengan Xela, bukan dengan sekretarismu." Lalu tatapan tajamnya beralih pada Raesha. "Tatap aku!" Raesha terkesiap, menurut menatap pria menakutkan itu sampai-sampai sudut matanya berkedut dan ingin menangis saat itu juga.

"Berani-beraninya kau memacari cucuku, sementara dia memiliki tunangan."

"Aku yang memacarinya, Kakek," sangkal Anugrah santai, seolah-olah ini merupakan pembicaraan santai yang diiringi candaan, lagi.

"Dan kau dengan tak malunya memacari orang lain. Pikirkan tunanganmu!" Lesmana menggeram, tangannya mengepal. Cucu yang satu ini sungguh susah untuk diajak bicara.

"Dia bukan tunanganku!" protes Anugrah dengan beraninya, suaranya mantap dan terdengar keren di kepala Raesha. Yang tadinya bernada santai, kini ia menggeram dengan suara berat. Dia sudah terang-terangan menolak tunangan konyol itu, tetapi kakeknya yang keras kepala tidak membiarkan Anugrah menolaknya.

Lesmana menghela napas kasar, merasa lelah dengan cucunya yang satu ini. "Terserah kau berpacaran dengan siapa. Yang pasti kau dan Xela akan menikah."

Keputusan sepihak tersebut tak hanya membuat Anugrah yang merasa keberatan, tetapi juga yang lainnya. Terutama Sri. Ia sedari awal menolak perjodohan konyol itu, tetapi sang mertua tidak bisa dibantah, membuat Sri ingin berenang di lautan. Menurutnya, Anugrah berhak memilih pasangannya sendiri, tidak dengan cara perjodohan.

"Itu tidak bisa diterima!" Anugrah memprotes lagi.

"Terserah! Aku tidak bisa mengingkari janji―"

"Kakek yang membuat janji, tapi kenapa harus aku yang kena?!"

Oh ... oh .... Terjadi perdebatan keluarga. Raesha tidak ingin terlibat masalah ini, tetapi mau bagaimana lagi, dia sudah terjebak. Anugrah memang sial*n! Seharusanya masalah keluarga diselesaikan sendiri, tidak sampai membawa orang lain.

"Jaga bicaramu!" gerung Lesmana, menahan untuk tidak meledak.

"Xela bahkan bukan anak kandung Ilman." Dan dengan tidak sopannya Anugrah menyebut nama orang yang lebih tua darinya tanpa sebutan yang sopan. Namun, begitulah Anugrah. Terlebih dia sedang emosi.

"Memangnya kau mau dijodohkan dengan Fandi?"

Seketika Anugrah bergidik. "Tidak!" Dia masih normal. Tidak mungkin ia doyan dengan sesama jenis. Amit-amit!

Raesha yang tak tahu menahu keluarga yang dimaksudkan, hanya terdiam menonton perdebatan. Yang ia tahu hanya Xela bukanlah anak kandung ayahnya saat ini.

"Kalau begitu, menikahlah dengan Xela!"[]

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel