Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

7. Ampun ...!

"Nanti saya ganti ayam balado kamu." Telinga Anugrah tergelitik oleh gumaman Raesha tentang ayam balado yang belum sempat dimakannya. Yang terpenting Anugrah bisa terhindar dari wanita dedemit itu.

Buru-buru Anugrah berjalan ke tempat parkiran ketika melihat wanita yang dihindarinya, berlari tunggang-langgang di belakangnya. Sementara itu Raesha meringis merasakan pergelangan tangannya yang sakit. Percuma dia menghentikan Anugrah, selain tenaganya yang kuat, telinganya pun tertutup rapat.

Dia tak tahu menahu masalah mereka, terkecuali perjodohan. Raesha tak mau terlibat dalam masalah mereka, terlebih lagi hal semacam pertunangan, bisa-bisa hidupnya tidak tenang. Melihat sifat calon perempuannya saja sudah membuat Raesha bergidik ngeri, dan entahlah dengan keluarganya. Harap-harap dia tak terlibat lebih jauh lagi dengan masalah mereka.

Sampai di mobil, Anugrah segera mendorong Raesha memasukinya. Wanita dedemit sudah semakin dekat, segera saja Anugrah menyalakan mesin mobilnya, lalu berjalan meninggalkan parkiran diiringi teriakan yang membuat telinga orang-orang di sekitarnya pecah.

Wanita itu tentu sangat marah, melihat tunangannya pergi meninggalkan dirinya bersama wanita lain. Niat hati ingin berkencan, Anugrah malah membuat kegiatannya gagal.

Mobil Anugrah melaju normal di jalan raya. Tak ada perbincangan. Raesha sudah terdiam semenjak mobil meninggalkan area restoran, dan Anugrah tak perlu repot-repot membuka mulutnya. Pria itu fokus pada jalanan, suasana hening membuat Raesha menghela napas dan bergerak dalam duduknya mencari kenyamanan.

Tak tahukah dia sebenarnya tak nyaman dengan situasi seperti ini?

Terjebak dalam situasi yang membosankan dan tak nyaman selama lima belas menit, juga adrenalinnya yang berpacu, akhirnya mobil Anugrah memasuki sebuah tempat makan sederhana dengan tulisan "Rumah Makan Pak Tarjo" dengan berbagai gambar makanan yang membuat Raesha meneguk ludah.

Anugrah menepati janjinya. Walaupun ini tempat makan sederhana, dan harganya tentu sedikit lebih murah dibandingkan dengan restoran yang Elvan singgahi, Raesha tetap menyukainya. Tentu saja! Siapa yang menolak makan gratis? Ampun ....! Hanya orang kaya yang menolak gratisan.

Cumi pedas manis adalah pilihan Raesha, walaupun dia belum sempat makan ayam balado pemberian Elvan. Juga ketambahan nasi dan sayuran yang membuat Raesha bisa tidur nyenyak malam ini. Pak bosnya memang pengertian.

"Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Raesha." Anugrah membuka suara untuk pertama kalinya setelah meninggalkan restoran ketika Raesha hendak menyendok nasi ke piringnya.

Kegiatan Raesha terhenti, mengernyit bingung menatap Anugrah. Pertanyaan apa? Anugrah bahkan tidak membuka mulutnya selama meninggalkan restoran tadi. Yang ada justru pria itu yang belum menjawab pertanyaannya. "Pertanyaan?"

"Ya. Kamu dan Elvan sedang berkencan?" tanya Anugrah, tangannya menyendok tumis buncis sementara matanya tertuju pada Raesha.

Nasinya tidak juga sampai ke piringnya. Kali ini Raesha mengernyit lagi. "Tidak," jawabnya. "Elvan ingin curhat. Di indekos ada bang Raefal."

Anugrah mengangguk, dan akhirnya piring Raesha terisi nasi. Tempat makan ini ramai, hanya tinggal satu tempat lagi yang belum terisi. Interior ruangan yang sederhana, tetapi elegan, membuat tempat makan ini tampak berkelas dengan menyajikan menu makanan khas desa. Raesha akan mengingat tempat ini untuk meminta traktiran Raefal atau Elvan.

"Umm .... Pak―"

"Sudah saya bilang, saya bukan bapak kamu."

Mata Raesha berlari ke sana ke mari asal tidak pada Anugrah, bibirnya dikulum. "Saya boleh tanya?" Dia bertanya dengan ragu. Dia sangat penasaran sampai tidak bisa dipendam lagi, tetapi takut jika Anugrah marah setelahnya.

Namun, alis Anugrah terangkat, dan menjawab, "Silakan."

Menghela napas, Raesha melanjutkan, "Saya minta maaf atas kelancangan saya―"

"Ck! Sudah saya bilang, tidak usah formal," decak Anugrah. Ini di luar jam kerja, Anugrah pun menganggap Raesha bukanlah sekretarisnya, melainkan teman ngobrolnya.

"Bapak juga formal," protes Raesha.

"Bahasa saya memang begini, tapi nggak formal. Yang membuat saya risih, sikap kamu terhadap saya." Anugrah mengumpulkan nasi pada sendoknya. Dia lebih suka jika menggunakan kata saya daripada aku, dan menggunakan kata kau-aku pada orang-orang tertentu. Bukannya dia tak tahu bahasa kekinian, hanya saja dia sudah terbiasa berbicara dengan bahasa seperti itu.

Raesha mengangguk mengerti. Selagi menyaksikan Anugrah, dia kembali melanjutkan pertanyaan yang tertunda. "Begini .... Ini tentang mbak dedemit."―Mendengarnya, membuat alis Anugrah terangkat lagi―"Tunangan Bapak―eh, maksud saya, tunangan kamu," lanjutnya, diakhiri ringisan. Susah juga berbicara seperti biasa kepada Anugrah. Terasa aneh jika tak memanggilnya dengan sebutan formal.

"Dia bukan tunangan saya," balas Anugrah tak acuh, tangannya kembali mengangkut sayur pada piringnya. Wanita yang disebut dedemit oleh Raesha bukanlah tunangannya. Kakeknya-lah yang memaksanya, bahkan dirinya sudah menolak berkali-kali. Amit-amit jika ia sungguhan menikah dengan wanita itu!

"Tapi―"

"Sudah saya bilang, dia bukan tunangan saya. Mengerti?" Raesha mengangguk patuh. "Anggap saja dia cewek gila yang tergila-gila dengan saya."

Ampun! Ternyata Anugrah bisa mengatakan hal seperti itu.

Tiba-tiba saja, Anugrah meletakkan sendoknya sampai berbunyi. Tubuhnya condong ke arah Raesha, menatapnya dengan serius, membuat gadis itu gugup. Raesha bahkan bisa merasakan embusan napas pria itu pada wajahnya. "Kamu cemburu?"

Sendok hampir melayang pada wajah Anugrah. Selain aneh, si Anu juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Ampun!

***

Perut kenyang, mereka kembali diam. Anugrah segera mengantarkan Raesha pulang ke indekosnya, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Raefal mungkin sudah tidur, untuk itu Raesha menerima tumpangan Anugrah.

Tak ada kabar dari Elvan, tetapi ponsel Anugrah terus bermunculan notifikasi dari―yang katanya―tunangannya. Raesha bisa melihat betapa kesalnya Anugrah saat ponselnya terus berbunyi, hingga ia harus menonaktifkannya.

"Besok, kamu ada acara?" Anugrah bertanya, setelah lama hening, saat lampu lalu lintas berwarna merah.

Besok adalah hari minggu, tak ada pekerjaan di kantor kecuali mendesak. Kebiasaannya sebelum menjadi sekretaris adalah rebahan. Tentu di akhir pekan dia tak punya acara, terkecuali jika pak bos menyuruh dirinya bekerja.

"Tidak ada." Raesha sudah bersiap menerima titah yang harus dilakukannya besok. Namun, jika permintaannya aneh, Raesha angkat tangan―tunggu! Apakah ia bisa menolak?

"Kalau begitu, kamu ikut saya." Lampu berganti hijau, segera saja Anugrah menjalankan mobilnya.

"Ke mana?" Masih awas menunggu jawaban jelas dari Anugrah, Raesha merapalkan doa dalam hati.

'Semoga bukan ke apartemen pak bos. Aku tidak mau disuruh menyikat wc, atau apalah.' Raesha terus merapalkan mantra dalam hati.

"Ikut saja," ujar Anugrah.

"Tapi―"

"Kamu tidak ada acara. Jadi, nggak usah menolak."

Bibir Raesha dilipat ke dalam, dan tangannya mengepal menahan untuk tidak memukul Anugrah. Tidak di kantor, tidak di jalan, Anugrah sama saja: Anugrah tetaplah si Anu. Dia bukannya menolak, hanya saja dia ingin tahu ke mana Anugrah akan membawanya besok. Rumah makan? Mall? Raesha butuh jawaban!

Mobil Anugrah kembali berhenti di depan indekosnya―walau ia sudah menyuruh pak bosnya untuk menurunkannya di gang depan. Setelah mengucapkan terima kasih dan turun dari mobil, Raesha dibuat bertanya-tanya kala Anugrah juga ikut turun. Dengan santai, pria itu menyugar rambutnya dan tubuhnya bersandar pada pintu mobil. Begitu keren untuk dilihat lama-lama, tetapi tidak keren untuk jantung Raesha.

"Umm .... Saya ... masuk dulu," pamit Raesha, berdiri di hadapan Anugrah, sementara matanya berlari ke tanaman tetangga. Jika terus menatap Anugrah sementara pria itu terlihat memesona, kemungkinan bunga tidurnya akan kacau alih-alih indah.

Indekos sudah sepi, penghuninya sudah istirahat di dalam sana, atau hanya sekadar duduk-duduk menonton televisi. Raesha berharap, abangnya sudah tidur; jika tidak, Raefal bisa mengomel.

Sebelum Raesha berbalik, Anugrah berujar, "Besok, saya jemput jam sembilan."

Raesha mengangguk saja, walau ia masih bertanya-tanya ke mana Anugrah akan membawanya.

"Jangan lupa bawa bekal."

Mau piknik, sampai harus bawa bekal? Namun, Raesha tidak bisa menolak.

"Mau ke mana, kau? Membawa dia kencan?" Raefal muncul dengan tiba-tiba, mengagetkan Raesha sampai ia terkinjat. Abangnya memang titisan hantu! Kenapa pula dia belum tidur?!

"Bang―"

"Iya. Saya mau membawa Raesha kencan."

Bukan saatnya jantung Raesha berdebar mendengarnya. Anugrah hanya asal mengatakannya, dan berusaha membuat abang sepupunya kesal. Bukan berarti pria itu sungguhan mengajak Raesha kencan!

Pak bosnya memang selalu berhasil membuat Raefal memunculkan urat-urat di dahinya. Bahkan, sekarang Raesha bisa melihat kabut hitam di sekitar wajah abang sepupunya.

Raefal tidak menyukai Anugrah semenjak pertama kali mereka bertemu. Sikap seenaknya dari Anugrah telah membuat Raefal mendecih dalam kepalanya. Dia tidak mau jika Raesha punya pacar macam Anugrah. Amit-amit! Lebih baik, Raefal saja yang menjadi pacar Raesha―

Ampun ....! Gara-gara Anugrah, pikiran Raefal menjadi ke mana-mana, sampai berpikiran untuk mengencani sepupunya sendiri.

Anugrah memang toxic!

"Ayo!" Tangan Raesha ditarik kasar oleh Raefal, membuat gadis itu membalasnya dengan kata-kata kasar. Sementara Anugrah hanya menyaksikannya dengan tenang.

"Nanti saya hubungi," seru Anugrah, sebelum Raesha menghilang ke dalam indekosnya, dan ia bisa mendengar Raefal meneriakkan umpatan untuknya.

***

Anugrah mengiriminya pesan hanya sekadar memberitahukannya bahwa hari ini mereka akan pergi bersama. Sarapan sudah selesai beberapa menit lalu. Raefal tak henti-henti menusuknya dengan tatapan tajam semenjak mendapati Raesha berkutat di dapur.

Sekesal-kesalnya Raefal terhadap Anugrah, tak seharusnya abang sepupunya bersikap seperti itu. Ayahnya bahkan tak sampai berniat menggelindingkan bola matanya ke lantai. Sifat Raefal semacam itu sudah ada sejak kecil. Mata lentiknya sering membuat Raesha bergidik ingin buang air kecil, dan mulut tajamnya selalu berhasil mengusir anak-anak nakal hingga terbirit-birit.

"Aku heran, dia itu sungguhan CEO?" tanya Raefal, sembari mengamati Raesha yang tengah menata bekal ke dalam kotak.

Aktivitas Raesha terhenti, menatap Raefal dengan alis mengkerut. "Iya. Memangnya kenapa? Jelas sekali perbedaannya dengan Abang."

Wah ... wah ... wah .... Raesha telah menghinanya!

"Aku memang nggak punya mobil kayak dia, tapi aku tidak kalah tampan sama dia. Aku bahkan lebih ganteng." Dengan percaya dirinya Raefal berkata seperti itu, membuat Raesha hampir gumoh.

Abangnya memang ganteng. Bahkan gadis-gadis di desa secara terang-terangan tertarik padanya. Ia ingat, beberapa gadis dengan berani menyatakan perasaan kepada sepupunya, dengan berbagai macam sifat yang membuat Raesha guling-guling. Namun, Raefal yang tak punya perikemanusiaan, menolak mereka dengan sadis. Bersikap dingin, dan tak acuh, padahal dalam hati dia membanggakannya.

"Beda, Bang," sergah Raesha, seraya tangannya mengambil gorengan sosis dan memasukkannya dalam kotak bekal. Mendengar itu, Raefal menunda tangannya untuk mencomot sosis goreng. "Dia lebih berkelas, sementara Abang butuh dilas."

"Kampr*t!" Raefal membungkam wajah Raesha dengan sarungnya, hingga gadis itu menjerit dan bergerak heboh.

"Sarung Abang bau!" jerit Raesha, setelah terlepas dari jeratan sarung bau Raefal.

Bagaimana tidak bau? Sarung itu yang menemani Raefal tidur selama beberapa hari ini, terlebih lagi, ia belum mandi. Siapa yang kampr*t di sini?

Ponsel di saku bajunya berdering, mengalihkan atensi mereka berdua dari adu tatap. Kotak bekal yang sudah siap ia angsurkan ke tempat yang lebih aman ketika mendengar Raefal mendengkus.

Mengabaikan abang sepupunya, Raesha menerima panggilan tanpa mau repot-repot berpindah tempat. "Hallo?"

"Saya sudah di depan indekos kamu."

Telepon dimatikan. Meraih kotak bekal dan memasukkannya ke dalam tas makanan. Sekali lagi, dia merapikan rambut sebahunya, lalu berjalan meninggalkan Raefal yang kembali mendengkus keras-keras.

***

Kebun jeruk keluarga Anugrah terdapat di perbukitan dekat desa kecil. Kebun yang luas dengan bangunan semacam rumah kecil yang terbuat dari kayu terdapat di tengahnya. Ada buah naga, stroberi, dan anggur di sana, tetapi sebagian besarnya dipenuhi pohon jeruk yang sedang berbuah. Anugrah bilang, beberapa hari lagi akan panen, jadilah ia datang ke sini di akhir pekan.

Tak hanya mereka berdua yang datang di kebun yang luasnya dua puluh hektar ini, tetapi juga keluarga dari pria itu. Hampir dua minggu menjadi sekretaris Anugrah, dia belum pernah bertemu dengan satupun keluarganya.

Mereka ramah, terkecuali sang kepala keluarga yang hanya memasang wajah datar tanpa senyum ramah. Ibunya Anugrah dengan senang hati memeluknya lalu mencium kedua pipinya. Lalu ada kakaknya Anugrah, namanya Dimas, yang sama ramahnya seperti sang ibu. Diana, istri si sulung, menggendong anak perempuannya yang berusia dua tahun, menyempatkan dirinya untuk memeluk Raesha. Anak dalam gendongan wanita berambut cokelat kehitaman itu, gemasnya minta ampun. Daisy, namanya, yang langsung meminta gendong pada Raesha dan diturutinya.

"Kok, Ibu baru tahu sekretaris barumu." Nike, ibunya Anugrah berkata, mengambil alih Daisy dari gendongan Raesha.

"Memang penting, ya?" Dengan orang tuanya saja, Anugrah minta ditimpuk.

"Ya penting, lah." Beruntungnya Nike termasuk orang yang sabar. Kemudian beralih pada Raesha, lalu memegang bahunya. "Semoga kamu betah, ya." Wanita itu tersenyum padanya.

Nike sudah tahu apa yang terjadi dengan sekretaris putranya terdahulu. Saat tahu ada sekretaris yang masih bertahan selama ini, membuat Nike menjadi tenang. Putranya baru diangkat menjadi CEO perusahaan keluarga, menggantikan Dimas. Mendapat laporan bahwa sekretaris yang dulu bekerja dengan Dimas mengundurkan diri, membuat Nike harus berendam di tengah malam. Sekretaris yang sudah berkompeten saja sudah menyerah dengan sikap dan sifat Anugrah, apalagi sekretaris kemarin sore. Namun, saat tahu ada yang bertahan, Nike benar-benar merasa bersyukur.

Raesha mengangguk seraya tersenyum, tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia pusing dengan bosnya. Namun, tidak mungkin, bukan, dia mengatakannya secara terang-terangan?

"Syukurlah .... Siapa tahu―uhuk!" Nike terbatuk-batuk dan mengedipkan matanya ke arah Anugrah. Mungkin ada dahak atau apa, tetapi Anugrah tetap tak acuh. "Sudah. Sana, sana, ajak Raesha jalan-jalan."

Dan di sinilah mereka berdua, di samping pohon jeruk yang berbuah lebat. Bermenit-menit mereka jalan tak tentu arah dengan keheningan, akhirnya Anugrah berhenti dan memetik satu buah jeruk lalu memberikannya kepada Raesha.

Rasanya manis. Entah jeruk jenis apa itu, Raesha tak peduli. Dia menurut ketika Anugrah menariknya untuk duduk di atas rumput.

"Kamu suka?"

Raesha mengangguk tanpa menghentikan kunyahan pada jeruk di dalam mulutnya. Asli. Sangat enak! Raesha lebih menyukai jeruk ini daripada yang di supermarket.

"Satu buah, harganya sepuluh ribu."

Kunyahan jeruk Raesha menyembur keluar hampir mengenai wajah Anugrah.

***

Buat apa ia membuat bekal jika keluarga Anugrah membawanya? Isinya pun bahkan lebih enak dan terlihat mewah dibandingkan yang Raesha buat. Ada ikan nila bumbu pedas asam manis, rendang, ayam goreng, bermacam tumis, sayur sop, bahkan ada kue mochi, dan berbagai minuman berwarna. Sedangkan bekal yang dibuat Raesha: nasi goreng, sosis goreng, sayur capcay, dan kerupuk yang dibelinya dari warung; minumnya: teh tawar. Raesha meringis melihat perbedaannya.

Lihat! Bahkan Anugrah mengambil semua macam bekal keluarganya ke dalam piring, mengabaikan bekal Raesha yang masih dalam tas. Apakah Anugrah melupakan permintaannya semalam? Bangk*!

Jika tahu begini, lebih baik Raesha tidak perlu repot-repot memasak banyak. Ia harus bangun pagi-pagi pula untuk menyiapkan semuanya.

Sementara memikirkan kekesalannya, sampai-sampai ia tak memperhatikan. Ternyata Anugrah ingat pesanannya semalam, pria itu meraih tas makan milik Raesha, lalu menyuruh gadis itu untuk mengikutinya. Hingga Raesha bisa mendengar kalimat Dimas yang membuat telinga Raesha memerah.

Lagi, duduk di atas rumput dekat pohon jeruk. Raesha berdoa, semoga saja tidak ada ular atau hewan apalah yang membuat ia takut.

"Makanlah." Alih-alih memakan makanan yang diambilnya, Anugrah justru memberikannya kepada Raesha. "Saya makan bekal yang sudah kamu buat saja."

Pipi Raesha menghangat tanpa diperintah. Apakah mendengar kalimat tadi? Itu artinya, Anugrah menyukai makanan yang dibuat olehnya.

Ampun!

Padahal nasi gorengnya hanya terbuat dari nasi, dan gorengan bawang putih, juga garam. Terpujilah panci penggorengannya! []

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel